
Pintu belum berhasil di buka juga. Aji dan juga Cilla sudah kelelahan dan tangan terasa kaku serta perih, akibat terkena tusukan jarum dan juga kawat yang mereka gunakan untuk berusaha membuka lubang kunci pintu kamar, tempat mereka berdua dikurung.
"Hah, Mama sudah capek Sayang. Sepertinya ini susah," kata Cilla menyerah.
"Iya Ma. Tidak bisa-bisa," jawab Aji sambil menyeka keringatnya yang bercucuran di kening dan juga dahi.
"Terus bagaimana?" tanya Cilla dengan nafas memburu. Dia benar-benar merasa tidak berguna karena tidak mampu melindungi anaknya, Aji dan juga dirinya sendiri.
"Kita tunggu orang jahat itu saja Ma. Paling tidak beberapa menit lagi juga dia akan datang. Mungkin mau memberikan makanan atau minuman atau hanya sekedar menggertak kita agar takut terus menangis dan dikirim ke papa untuk ancaman."
Aji menganalisa jalan cerita penculikan dirinya dan juga mamanya. Cilla yang mendengarnya, mengerutkan keningnya bingung. "Dari mana Aji bisa tahu jika nanti akan begini dan begitu?" tanya Cilla dengan mata memincing.
Aji hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan dari mamanya. Padahal apa yang dia katakan tadi biasa terjadi di adegan film ataupun cerita novel. Masa iya mama Cilla tidak tahu akan hal itu?
"Kita lihat saja nanti sebentar lagi Ma," jawab Aji masih tertawa kecil, sedangkan Cilla hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan anaknya itu.
"Aji tidak mengantuk? Tiduran saja biar tidak capek." Cilla menawarkan pada Aji agar tidur saja. Tapi Aji menjawab dengan mengelengkan kepalanya.
"Ya sudah kita duduk saja di tempat tidur. Kalau penjahatnya datang biar tidak curiga kalau kita berusaha untuk kabur," ajak Cilla sambil beranjak dari tempat tadi. Aji juga mengikuti apa yang dilakukan oleh mamanya. Kini mereka berdua duduk di tepi tempat tidur bersisian.
"Kita harus mencari sesuatu agar bisa menghubungi orang diluar sana Sayang. Tapi... pakai apa ya?" Cilla bertanya-tanya dengan memegang dagunya. Dia berpikir untuk bisa menemukan ide.
"Nanti kalau orang jahat itu datang kita ambil saja handphonenya Ma. Atau kita cari benda atau tongkat untuk memukulnya. Kita lawan saja dia Ma!"
__ADS_1
Aji memberikan beberapa ide, tapi sepertinya Cilla belum bisa membuat keputusan untuk melakukan apa pada penjahat itu nantinya.
Cilla mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melawan penjahat, jika benar apa yang dikatakan oleh Aji, sebentar lagi bisa dipastikan penjahat itu akan datang. Tapi sepertinya tidak ada apa-apa, hanya ada kursi yang mungkin bisa dia gunakan untuk memukul penjahat itu. "Aku kuat gak ya?" Cilla berguman dan menimbang-nimbang.
Aji tak kalah dengan mamanya. Dia juga mencari sesuatu yang bisa dia pakai jika harus membantu ibunya nanti. Tapi Aji juga tidak tahu benda apa yang akan dia gunakan, karena dia tidak menemukan apa-apa.
"Ma. Pakai sepatu Mama," kata Aji tiba-tiba.
"Sepatu?" Cilla mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh anaknya itu.
"Pokoknya sepatu Mama lepas saja. Aku mau pakai untuk memukul penjahat itu. Kan ada hak-nya, pasti sakit kan?"
Kini Cilla menatap kearah sepatutnya. Dia melihat jika sepatunya itu memang ada hak yang tidak terlalu tinggi dan lancip. Tapi jika dipakai untuk memukul tetap saja akan terasa sakit, meski dengan tenaga kecil seperti Aji sekalipun. Akhirnya Cilla menganguk setuju.
Kursi kayu dengan sandaran itu ternyata lumayan berat, tapi Cilla bisa mengangkatnya juga meski sedikit payah. Kini dia tersenyum pada anaknya, kemudian mengerling untuk memberikan kode.
*****
Beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda akan adanya seseorang yang membuka pintu kamar untuk melakukan sesuatu. Cilla dan Aji sudah menyerah dan ingin tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Lagi pula, sepertinya hari sudah mulai gelap.
"Ma. Aji tidur dulu ya," kata Aji meminta ijin.
"Iya Sayang, tidurlah." Cilla membersihkan tempat tidur dan bantal untuk anaknya tidur.
__ADS_1
Aji baru saja ingin memejamkan matanya, tapi segera membuka kembali karena pintu dibuka oleh seseorang dari luar.
"Oh, ini ternyata anak dan calon istrinya Gilang. Aku tidak menyangka jika dia memang benar-benar normal. Hahaha..."
Seorang laki-laki dengan wajah tampan dan klimis masuk bersama dengan seseorang yang mirip bodyguard. 'Apakah dia bosnya yang punya rencana jahat ini?' Pikir Aji dalam hati.
"Maaf. Tadi sore aku memang sudah kesini. Tapi aku belum sempat melihat kalian. Aku hanya mengabari Gilang jika kalian ada bersamaku dalam keadaan baik."
Laki-laki itu sepertinya kenal baik dengan Gilang, itulah yang Cilla tangkap dari kata-kata yang dia pakai untuk menjelaskan tadi.
"Kalian tahu? Aku sudah lama menyatakan cintaku pada Gilang, tapi dia selalu menolakku. Dia bilang jika dia sudah punya anak. Tentu saja aku tidak percaya. Aku pikir itu alasannya saja untuk membuatku jauh darinya. Tentu aku berpikir itu hanya alasan, sebab selama ini dia belum menikah dan aku juga tidak pernah melihatnya dekat dengan gadis manapun setelah putus dengan kekasihnya di Sidney. Apalagi kerjasama perusahaan milikku juga ditolaknya bulan kemarin. Sebenarnya aku ingin menculiknya dan memaksakannya untuk menerimaku, tapi justru suruhanku ini bilang jika dia ada bersama kalian. Akhirnya, target aku pindahkan pada kalian. Hahaha... Dia pasti kalang kabut dengan semua ini!"
Cilla mengeleng mendengar semua penjelasan laki-laki tadi. Jika dia memang punya kelainan, Cilla berpikir jika dirinya aman dari sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi dia beralih pada anaknya. Apakah Aji juga akan aman, jika laki-laki didepannya ini bukan seorang predator anak? Cilla berpikir keras untuk bisa segera lolos dari kamar ini dan juga orang-orang aneh yang ada didepannya.
"Bos. Hajar saja dia. Biar Gilang tahu rasa!" kata bodyguard yang ada disebelahnya. Cilla mengerutkan keningnya bingung, mencerna maksud dari kata 'hajar' ini apa?
"Tidak perlu terburu-buru. Kita tunggu teman kamu yang satunya. Baru kita pesta. Hahaha..."
Laki-laki tadi berbalik, begitu juga dengan bodyguard yang mengikutinya. Mereka berdua bermaksud untuk keluar dari kamar, namun Cilla sudah tidak tahan. Dia segera melakukan rencananya tadi. Cilla dengan cepat mengangkat kursi yang kebetulan ada didekatnya.
Dengan sekuat tenaga Cilla memukul kedua orang tersebut dengan kursi yang dia pegang secara bergantian. Aji segera membantu ibunya dengan memukuli keduanya memakai sepasang sepatu milik mamanya dengan posisi hak yang mengarah pada tubuh laki-laki tadi.
Mereka berdua kesakitan dan Aji segera mencari handphone di saku jas ataupun celana mereka. Sekarang ada dua handphone di tangan Aji. Setelah itu keduanya, Cilla dan juga Aji, segera keluar dari kamar dan menguncinya dari luar. Untung kunci pintu itu masih tergantung di tempatnya. Teriakan kesakitan kedua laki-laki aneh tadi tidak mereka hiraukan.
__ADS_1
Tapi naas, saat mereka hampir keluar dari pintu utama rumah, tampak satu orang laki-laki yang datang dengan membawa jinjingan tas kresek besar. Mungkin itu makanan atau sejenisnya. Cilla dan Aji segera mencari tempat untuk sembunyi agar tidak terlihat oleh laki-laki tersebut.