Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Bukan Hal Aneh


__ADS_3

Perjalanan pulang dari resto seperti berada di dalam ruangan pendingin. Semua diam dan tidak ada obrolan yang berarti.


Gilang juga tidak lagi duduk di sebelah Cilla, di kursi penumpang yang biasanya. Tapi dia duduk di depan, di samping pak supir.


Tempat duduknya yang biasa, di tempati mami Rossa dan Aji. Kini Aji sedang merebahkan kepalanya dipangkuan Cilla, mamanya.


"Aji mau tidur?" tanya Cilla pada anaknya itu.


Aji mengelengkan kepalanya, tapi tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia seakan malas untuk berbicara dengan siapapun juga dengan keadaan yang seperti sekarang ini.


Mami Rossa yang menyadari bahwa cucunya itu dalam keadaan yang tidak seperti biasanya, segera mengajaknya berbicara agar bisa melupakan kejadian yang tadi, saat makan siang di restoran.


"Aji mau koleksi kelereng lagi tidak?" tanya mami Rossa pada Aji, cucunya itu.


"Tidak Oma," jawab Aji pendek tanpa melihat ke arah mami Rossa. Dia melihat ke depan, padahal depannya itu adalah punggung kursi yang ditempati pak supir.


"Aji tidak mau beli baju baru? Kita ke mall yuk!" ajak mami Rossa mencoba mencairkan suasana hati Aji.


Gilang yang ada didepan dan mendengarkan semua perkataan mami Rossa, menoleh sebentar ke belakang. Dia ingin tahu, kenapa maminya itu terdengar seperti sedang merayu anaknya, Aji.


Saat matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata Aji, dia melihat tatapan mata yang dingin dan tajam milik Aji. Sama seperti tatapan matanya saat sedang mengintimidasi lawan bicara jika sedang metting dan ada konflik.


Cilla yang diam saja, hanya mengelus rambut Aji sedari tadi. Tanpa melihat ke arahnya.


Mami Rossa terus berusaha membujuk Aji agar tidak ada pada mode marahnya. Tapi sepertinya semuanya tidak ada gunanya. Aji tetap diam dan tidak bersuara.


"Ma. Kita balik ke rumah kita yuk!" kata Aji pelan tanpa mengubah posisinya.


Tapi perkataan Aji itu seperti ledakan petasan yang datang mengagetkan semua orang. Terutama Gilang dan mami Rossa.


"Kenapa Sayang?"


"Jangan Sayang!"


Gilang dan mami Rossa berbarengan mencegah niat Aji yang ingin pulang ke rumah kontrakannya yang dulu.

__ADS_1


Cilla yang lebih paham dengan karakter Aji dan kebiasaan anaknya itu, hanya mengangguk dan tersenyum, namun tidak mengiyakannya. Dia juga masih mengelus rambut Aji seperti tadi.


"Cilla," panggil Gilang saat melihat anggukan kepala Cilla dengan permintaan Aji, anaknya itu.


Mami Rossa hanya diam dan mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh Aji, cucunya itu. Dia merasa ada sesuatu yang ingin Aji katakan, tapi dia tidak bisa mengatakannya.


"Mi. Boleh kami pergi berdua saja?" tanya Cilla pada mami Rossa.


"Mau kemana Cilla?" tanya mami Rossa bingung.


Dia berpikir jika rumah kontrakan milik tuan Adi juga sudah dikosongkan. Bahkan, kunci rumahnya juga baru saja diberikan Cilla pada tuan Adi tadi. Barang-barang miliknya, semuanya ada di apartemen Gilang, yang selama ini mereka tempati. "Lalu mereka mau pergi kemana?" tanya mami Rossa dalam hati.


"Aji butuh ketenangan Mi. Dia memang tidak terbiasa dengan banyak orang. Apalagi dengan situasi yang terjadi tadi. Dia tidak suka jika disudutkan, termasuk melihat mamanya tertekan."


Jawaban yang diberikan oleh Cilla menyadarkan mami Rossa dan juga Gilang. Perjalanan hidup keduanya, Aji dan Cilla tidaklah mudah. Tentu semua itu berdampak besar terhadap pandangan dan sikap mental mereka juga. Apalagi Aji yang terbiasa menyendiri.


Semua ini memberikan pelajaran pada Gilang, jika menang tidak mudah menaklukkan hati mereka berdua. Cilla dan juga Aji. Meskipun Gilang bergelimang harta dan kesuksesan, itu tidak membuat keduanya silau dan buru-buru menerimanya dengan mudah.


"Benar perkataan Adi tadi," kata Gilang, membenarkan perkataan temannya, cacing, dalam hati.


"Tapi kalian mau kemana Sayang?" tanya mami Rossa khawatir.


Cilla berjanji pada mami Rossa, jika mereka berdua hanya ingin menenangkan diri dan pikiran saja.


Tapi belum sempat mami Rossa menjawab permintaan dari Cilla, handphone miliknya bergetar.


Drettt...


Drettt...


Drettt...


Mami Rossa segera mengambil handphone miliknya dari dalam tas dan melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Dari bibi yang tadi Mami minta belanja keperluan ke panti asuhan," kata mami Rossa memberitahu.

__ADS_1


..."Ya halo Bi," jawab mami Rossa begitu sambungan teleponnya terhubung....


..."Belanja sudah selesai Nyonya. Ini juga sudah tertata rapi di dalam mobil. Kami menunggu di mana?"...


..."Oh begitu ya? Baiklah, tunggu di depan gang menuju ke rumah panti asuhan yang biasanya ya Bi!" ...


..."Baik Nyonya."...


Setelah mami Rossa menyelesaikan pembicaraannya dengan bibi pembantu rumah tangga, dia bertanya pada Aji dan juga Cilla.


"Bagaimana Cilla, Aji, ikut pergi ke panti asuhan? Aji bisa belajar dan berkenalan dengan teman-teman di sana. Aji akan tahu bahwa tidak semua orang bisa beruntung, tapi harus tetap melanjutkan kehidupan yang sudah digariskan untuk kita. Kebahagiaan bisa kita ciptakan untuk diri kita sendiri."


Ajakan mami Rossa terdengar menarik ditelinga Aji. Kini dia menatap ke arah mamanya dan mengangguk setuju.


Cilla pun tersenyum saat Aji, anaknya itu tersenyum. Dia tidak ingin yang lain, hanya kebahagiaan dan senyuman Aji, itu sudah cukup baginya.


"Baik Mi. Kami ikut," jawab Cilla dengan mengangguk setuju dengan ajakan mami Rossa.


"Pak. Kita langsung ke panti asuhan yang biasa ya!"


Mami Rossa meminta pada pak supir untuk melajukan mobilnya ke arah panti asuhan yang biasanya mami Rossa datangi.


"Biasanya Aji minta kemana jika sedang ingin menenangkan diri dan pikirannya?" tanya mami Rossa ditengah perjalanan. Dia ingin tahu kebiasaan cucunya itu.


"Biasanya Aji hanya ingin minum susu dan berdiam diri saja mami. Tapi kalau sedang lapar dia minta Burger. Hanya itu saja," jawab Cilla memberitahu.


Gilang yang mendengar perkataan Cilla, menganguk mengerti apa kebiasaan anaknya itu. Meskipun terdengar aneh, tapi itu bisa dimaklumi. Apalagi Aji memang tidak terbiasa dengan keramaian dan banyaknya orang yang tidak dia kenal. Aji termasuk orang yang sulit beradaptasi dan tidak menyukai orang-orang yang baru, apalagi jika orang tersebut banyak bertanya. Itu sudah pernah Gilang buktikan diawal pertemuan mereka di kamar istirahat toko waktu itu.


Tidak terlalu lama, mobil yang menunggu kedatangan mereka sudah terlihat di mulut gang. Pak supir membunyikan klakson untuk memberikan tanda jika mereka sudah datang.


Mobil yang terparkir itu akhirnya berjalan mengikuti dari belakang. Dua mobil beriringan menuju ke rumah panti asuhan yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada sekarang ini.


"Jika kalian mau, besok-besok saat kemari boleh ikut kok," kata mami Rossa memberitahu.


"Dulu, sewaktu masih kecil, Gilang sering ikut. Tapi sejak dia sudah jadi pengusaha dan sibuk sendiri, dia jadi tidak pernah ikut lagi. Hanya nitip saja kerjaannya."

__ADS_1


Mami Rossa melanjutkan ceritanya tentang Gilang sewaktu masih kecil dan tidak seperti sekarang ini.


Aji mendengar cerita dari mami Rossa dengan penuh perhatian. Sedangkan Gilang hanya diam di tempat duduknya di bangku depan.


__ADS_2