Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Jangan Ikut


__ADS_3

Aji tersenyum tipis, saat sadar jika sedang berada di kamar kost Elisa. Bahkan, sekarang ini, Elisa juga sedang tidur di sampingnya. memeluk satu kakinya.


Aji membiarkan kakinya diam agar, tidur Elisa tidak terganggu. Tapi, lama-lama diam saja, kakinya terasa kram juga. "El. El, bangun," panggil Aji pelan.


Sayangnya, Elisa justru semakin erat memeluk kakinya. Bahkan sambil senyum-senyum sendiri.


"Ini dia beneran tidur apa ngerjain Aku ya?" tanya Aji, dalam hati.


Akhirnya, Aji mencari-cari keberadaan handphone miliknya. Untung handphone itu ada di saku celananya yang sebelah, jadi waktu mengambilnya, tidak menggangu tidur Elisa. Aji segera melakukan aksinya.


Setelah beberapa menit berlalu, Aji berusaha untuk menarik kakinya dari pelukan Elisa. Tapi, perbuatannya itu membuat Elisa mengeliat beberapa kali, bahkan menguap lebar dengan bersuara keras juga.


"Hoammm...!"


Elisa berguling ke sebelah, tapi kembali tertidur lagi dengan pulas.


Aji terkejut dengan cara tidur Elisa yang asal. Dia juga mengeleng, mendengar suara Elisa yang menguap lebar. "Dasar gadis aneh," kata Aji dengan tersenyum tipis.


Aji melihat jam di tangannya, ternyata sudah jam setengah delapan malam. Berarti dua jam lebih dia tertidur. "Hemmm... ternyata butuh energi juga mencari keberadaanmu El. Aku sampai tertidur pulas di tempat yang tidak biasanya juga, atau ini karena keberadaanmu? ah, tidak-tidak. Ini pasti karena Aku tidak tidur siang tadi," guman Aji pelan, kemudian memegang perutnya sendiri yang terasa lapar.


"El. bangun. Ada makanan tidak, Aku lapar," panggil Aji, membangunkan Elisa. Tapi, Elisa tidak bangun-bangun juga.


"Wah, kebo juga dia kalau tidur," kata Aji lagi, dengan mengeleng melihat ke arah Elisa.


"El, Elisa. Bangun woiii! Aku lapar ini. Masa iya tamu tidak di suguhi apa-apa!" panggil Aji dengan suara agak keras, agar Elisa cepat bangun dari tidurnya.


"Elisa, El!"


Sekarang, bukan hanya suaranya yang dikeraskan, tapi Aji juga menepuk-nepuk pipi Elisa, berusaha untuk membangunnya.


"Hemmm... El masih ngantuk, capek. Entar saja bangunnya," jawab Elisa, masih dengan mata terpejam. Sepertinya, dia sedang tidak sadar jika yang membangunkan tadi adalah Aji. Mungkin dia sedang bermimpi.


"Bangun El...!"


Aji menarik-narik tangan Elisa agar cepat bangun. Dia berusaha mendudukkan Elisa, dengan disandarkan ke dinding, agar tidak kembali tidur.


Akhirnya Elisa duduk juga dengan posisi menunduk. Ternyata, dia belum bangun juga!


"Aku siram juga Kamu El, kalau tidak bangun-bangun!" kata Aji mengancam. Dia sekarang duduk di depan Elisa sambil memperhatikan posisi tidur Elisa yang aneh.


"Perlu buat dokumentasi juga kalau sudah begini," kata Aji, untuk dirinya sendiri, kemudian berkata lagi, "awas saja. Kamu bakal kaget dengan apa yang Aku lakukan ini!" Aji pun tersenyum miring memikirkan hal yang akan dia lakukan saat ini.


"Hoammm...!"


Tiba-tiba, Elisa menguap lagi dengan keras. Dia membuka matanya perlahan-lahan, tapi segera terbelalak dan menutup matanya lagi, saat melihat keberadaan Aji di depannya.

__ADS_1


Dengan takut-takut, Elisa membuka sebelah matanya, untuk memastikan jika penglihatannya tadi tidak salah, dan dia tidak sedang bermimpi.


Ketika Elisa yakin jika ini bukan mimpi, dia benar-benar membuka matanya dengan lebar. "Kak Aji!" teriak Elisa memastikan lagi.


"Apa? dasar kebo!"


"Ngapain Kakak di sini?" tanya Elisa bingung.


"Ngapain? Kan Kamu yang jadiin kaki Kakak guling tadi!"


"Hah, kapan?" tanya Elisa. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aji.


"CK. Dasar kebo. Eh, ada makanan tidak? Kakak lapar nih," tanya Aji, sambil mengelus-elus perutnya sendiri.


"Makanan? Elisa belum beli. Ada juga camilan doang, mau?" jawab Elisa menawari.


"Gak kenyang dong... Kakak belum makan ini dari tadi."


"Salah sendiri!" kata Elisa dengan wajah cemberut.


"Eh, ini gara-gara Kamu ya!" kata Aji, dengan mencubit ujung hidung Elisa.


"Ihsss, kok gara-gara Aku?" tanya Elisa bingung.


"Hemmm... sudah, beli makanan sana!" perintah Aji, menunjuk ke arah luar dengan dagunya.


"Delapan," jawab Aji pendek.


"Hah, beneran jam delapan?" tanya Elisa dengan berteriak kaget, kemudian segera berdiri dari duduknya.


"Kenapa?" tanya Aji bingung dengan sikap Elisa.


"Kenapa Kakak tidak bangunkan Aku dari tadi?"


Dengan gerakan cepat Elisa menyambar handuk yang ada di gantungan baju.


"Mau ngapain?" tanya Aji lagi, karena pertanyaannya yang tadi belum di jawab oleh Elisa.


"Mandilah, mau ngapain bawa handuk masuk kamar mandi?" jawab Elisa, dengan sebuah pertanyaan yang tidak perlu di jawab.


"Tadi Aku nyuruh apa?" tanya Aji, sambil merentangkan kedua tangannya, menghadang Elisa. Tentu saja sikap Aji ini, membuat Elisa tidak bisa masuk ke dalam kamar mandi.


"Kakak, Aku sudah telat!" rengek Elisa, dengan wajah cemas.


"Telat?" tanya Aji curiga. "Aku tidak ngapa-ngapain tadi, kenapa sudah telat?" lanjut Aji, bertanya dengan bingung.

__ADS_1


"Ihsss, bingung. Entar sajalah, yang penting sekarang Kakak minggir! Aku mau mandi," kata Elisa memaksa Aji, untuk pergi dari hadapannya, dengan cara menarik tangan Aji agar menjauh dari pintu kamar mandi.


Elisa, segera berlari ke dalam kamar mandi, begitu tubuh Aji berhasil dia tarik ke pinggir. Aji jadi mengeleng, melihat tingkah Elisa yang tidak sopan itu. "Wow El, gak sopan bener. Kakak lapar ini, bisa pingsan di sini lho!" kata Aji, dengan berteriak, supaya Elisa bisa mendengarkannya dari dalam kamar mandi.


"Beli saja sendiri, atau pulang sana!" jawab Elisa, dari dalam kamar mandi, dengan berteriak juga.


"Huh, dasar gadis aneh!" gerutu Aji dengan mengeleng-gelengkan kepalanya lagi.


"Duh lapar bener ini."


Akhirnya, Aji keluar dari kamar Elisa dan berjalan menuju gang depan, tanpa berpamitan dengan Elisa.


Beberapa menit kemudian, Elisa keluar dari kamar mandi dengan mengintip lebih dulu. Dia curiga, karena Aji sudah tidak bersuara lagi. "Dia pulang beneran ya?" tanya Elisa dalam hati. "Syukurlah, Aku bisa segera berangkat kerja, tanpa harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dia juga," lanjut Elisa bersyukur, karena dia berpikir, jika Aji benar-benar sudah pulang.


Tapi, saat Elisa baru saja selesai berganti pakaian, Aji masuk tanpa permisi.


Ceklek!


"Eh!" teriak Elisa kaget.


"Kenapa?" tanya Aji bingung, karena melihat Elisa yang terkejut dengan kedatangannya.


"Kakak, ngagetin tahu! datang dan pergi tanpa undangan, kayak jelangkung saja."


"Lah, kan tadi Kamu yang minta Kakak beli makanan. Nih, Kakak sudah beli!" ucap Aji, menjelaskan apa yang dia lakukan sekarang ini.


"Elisa buru-buru. Kakak saja yang makan."


"Buru-buru mau kemana?" tanya Aji, dengan menyelidik.


"Kerja."


"Kerja? kan tadi udah?" Aji bertanya lagi pada Elisa, yang sedang sibuk menyiapkan tasnya


"Beda. Ini di Club," jawab Elisa menerangkan.


"Club? maksudnya Club malam?" tanya Aji, menyakinkan bahwa apa yang dikatakan Elisa, sesuai dengan apa yang sedang dia pikirkan.


"Ya."


"CK. Sudah, tidak usah berangkat lagi mulai malam ini!" kata Aji dengan tegas.


Elisa, mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan dan sikap Aji yang seenaknya memerintah.


"Apa hak Kakak? sudahlah, Kakak gak usah ikutin Elisa. Mending pulang saja."

__ADS_1


Aji, segera menarik tubuh Elisa, kemudian menutup mulutnya, Elisa, dengan bibirnya sendiri, agar tidak lagi bicara terus menerus.


__ADS_2