Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Masa Kritis


__ADS_3

Ninu...


Ninu...


Ninu...


Suara sirine ambulans terdengar memecah kesunyian malam. Dari perumahan Delima kearah rumah sakit terdekat, dua mobil ambulans bergerak cepat dengan tim dokter yang terus berkerja di dalamnya, berusaha untuk menghentikan pendarahan sementara pada korban.


Aji dan Cilla ikut dengan mobil komandan polisi. Mereka ikut ke rumah sakit, mengikuti laju kendaraan ambulans yang bergerak dengan kecepatan tinggi.


"Semoga Gilang bisa tertolong. Maaf kami terlambat datang tadi," kata komandan polisi pada Cilla dan Aji.


Cilla dan Aji tidak menyahuti permintaan maaf dari komandan polisi. Cilla sibuk menenangkan diri dan anaknya Aji. " Tuhan. Beri keselamatan pada tuan Gilang." Cilla terus berdoa di sela-sela kesibukannya menenangkan Aji, anaknya.


"Ma. Papa gak kenapa-kenapa kan Ma?" Aji terus bertanya kepada Cilla tentang papanya. Cilla hanya bisa mengangguk dan mengelus rambut Aji agar lebih tenang.


"Papamu tidak akan kenapa-kenapa. Dia orang yang kuat Aji. Berdoa saja ya!" sahut komandan polisi tanpa menoleh. Dia harus tetap berkonsentrasi pada kemudi karena mengikuti laju mobil ambulans di depannya yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Sirine polisi di mobilnya juga dia hidupkan, agar bisa terbebas dari kemacetan jalan ibu kota Jakarta yang selalu padat.


Sesampainya di rumah sakit, dua brangkar pasien keluar dari mobil ambulans langsung disambut oleh beberapa tim kesehatan untuk dibawa ke ruang operasi. Gilang dan juga Candra dioperasi di ruangan yang sama. Gilang sudah tidak sadarkan diri sejak masih di tempat kejadian. Sedangkan Candra masih meraung kesakitan menahan timah panas yang menembus kaki kanannya.


Cilla dan Aji menunggu dengan cemas di luar ruangan operasi. Begitu juga komandan polisi. Sedangkan anak buah Candra di bawa tim kepolisian ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Selang beberapa waktu kemudian, mami Rossa datang dengan beruarai air mata. Dia langsung memeluk Aji dan Cilla dengan wajah cemas.


"Kalian tidak kenapa-kenapa?" tanya mami Rossa memeriksa keadaan keduanya.


"Ka... kami ba... baik-baik saja Mi," jawab Cilla tersendat karena menahan tangisannya.


"Kaki kamu Cilla!" Mami Rossa kaget melihat keadaan kaki Cilla yang berdarah dan penuh luka.


"Kamu kenapa tidak membawanya juga ke IGD biar diobati?" tanya mami Rossa, menyalahkan komandan polisi yang tidak tahu keadaan kaki Cilla.


"Oh. Saya tidak tahu Tante. Maaf!" jawab komandan polisi dengan wajah terlihat tidak enak hati karena merasa tidak perhatian pada kondisi korban.

__ADS_1


Bukankah Aji dan Cilla korban penculikan? Tapi kenapa dia tadi tidak memperhatikan kondisi mereka? Hanya fokus pada Gilang dan Candra yang terkena tembakan saja.


Mami Rossa mengeleng mendengar jawaban dari komandan polisi, teman sekolah Gilang yang sudah cukup dia kenal dengan baik juga.


"Biar Mami yang antar mereka!" Mami Rossa mengajak Cilla dan Aji untuk diperiksa.


"Tidak apa-apa Mi. Nanti saja," jawab Cilla meringis. Menahan perih luka dikakinya yang sebenarnya sudah dia rasakan sedari tadi.


"Nanti kapan?" tanya mami Rossa mengeleng. "Ayo!" ajaknya lagi.


"Tuan Gilang..."


"Tim dokter masih lama. Ada Komandan polisi yang menunggu. Lagipula, mengobati luka kakimu tidak menghabiskan waktu sepanjang malam ini," kata mami Rossa tidak mau dibantah lagi.


"Tapi Mi... Ini masa kritis tuan Gilang," jawab Cilla lagi berusaha mengingatkan.


"Aku tahu. Tapi membiarkan lukamu itu juga akan menjadi masa kritis yang lainnya. Siapa tahu ada yang serius," kata mami Rossa memberikan alasan.


"Kita berdoa saja, semoga tim dokter berhasil mengangkat peluru dari perut Gilang. Bukankah tadi dokter juga bilang jika peluru itu tidak mengenai organ lain diperutnya?"


"Gilang kenapa bisa ceroboh dan terkena tembakan Candra? dan... ah, kenapa juga Candra senekad ini?" Mami Rossa terus bertanya dengan heran, sepanjang lorong menuju ruang IGD.


Cilla dan Aji diam saja tanpa ingin menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan yang mami Rossa tanyakan, sebab mereka memang tidak tahu motif utama Candra melakukan semua itu. Yang pasti tidak hanya sekedar cinta yang tak terbalas, dan juga kerjasama perusahaan yang ditolak oleh Gilang saja.


*****


Proses operasi pengambilan peluru diperut Gilang sudah selesai. Sekarang dia ada diruang pasien, tapi belum sadarkan diri. Keadaannya juga masih terus dipantau oleh tim dokter. Mungkin siang atau sore, Gilang baru sadar dari pengaruh obat biusnya.


Operasi Candra juga sudah berhasil. Tapi dia yang tidak di bius total dan dosis yang berlebih bisa merasakan rasa sakit. Kini dia terus merasakaan kesakitan. Bahkan saat sekarang sudah ada di ruang pasien juga terus berteriak minta tolong.


Pagi hari, sekitar pukul setengah enam dokter Hendrawan, papanya Candra datang karena memang baru diberi kabar setelah proses operasi selesai.


"Maafkan Candra jeng Rossa. Saya benar-benar tidak tahu jika Candra bisa berbuat sesuatu yang berakibat fatal seperti sekarang ini."

__ADS_1


Dokter Hendrawan datang meminta maaf pada mami Rossa. Dokter keluarga Gilang ini tidak tahu sama sekali dengan semua yang dilakukan oleh anaknya itu. Dia berpikir jika Candra datang ke Indonesia memang berniat untuk memulai usahanya saja tanpa embel-embel niat lain.


"Ini bukan salah Dokter. Dan semuanya sudah terjadi. Biar menjadi urusan polisi saja. Saya tidak tahu apa-apa." Mami Rossa memang sudah menyerahkan semua urusan ini pada komandan polisi dan pengacara keluarganya.


"Mi. Mami Rossa. Bagaimana keadaan Mas Gilang?" Lily yang baru saja datang langsung bertanya pada mami Rossa tanpa mempedulikan keberadaan papanya.


"Tidak apa-apa," jawab mami Rossa datar.


"Mi. Lily khawatir Mi," kata Lily dengan wajah cemas.


"Khawatir? Bukankah kamu yang mengusulkan penculikan ini pada kakakmu Candra?" tanya mami Rossa lepas kendali.


"Mami. Kok aku?" tanya Lily bingung.


Dokter Hendrawan juga bingung. Dia melihat kearah mami Rossa, kemudian berganti pada anaknya sendiri, Lily.


Mami Rossa menghela nafas panjang dan memejamkan mata untuk meredakan emosi yang memenuhi dadanya. Dokter Hendrawan kaget mendengar perkataan mami Rossa, sedangkan Lily mengeleng beberapa kali.


"Biar pihak polisi saja yang mengusutnya. Aku tidak mau memperkeruh situasi yang tidak pernah aku bayangkan akan seperti ini," kata mami Rossa, menolak untuk bicara lebih banyak lagi.


"Sudahlah. Kalian pergi ke kamar Candra saja. Diamkan dia agar tidak berteriak terus!"


Setelah itu, mami Rossa pergi ke arah kamar pasien, dimana Gilang tertidur dan belum sadarkan diri. Dia ditunggui oleh Aji dan juga Cilla yang juga mendapatkan perawatan pada kakinya yang terluka. Mereka sengaja di satukan kamarnya agar mami Rossa mudah mengawasi. Begitulah alasannya pada pihak rumah sakit, dan siapa juga yang berani menolak keinginan mami Rossa jika sudah didukung oleh pihak kepolisian karena terkait dengan keamanan saksi dan korban.


"Aji mau mandi Sayang? Ini sudah pagi lho!" Mami Rossa menawarkan pada Aji yang baru saja bangun dari ranjang lainnya, yang sengaja disediakan untuknya dan Cilla.


Aji terdiam. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mungkin dia masih belum sepenuhnya sadar jika sedang berada di kamar rumah sakit.


"Papa belum bangun?" tanya Aji begitu melihat Gilang yang masih tertidur.


"Belum. Mungkin nanti siang papa sudah bangun," jawab mami Rossa. "Jadi Aji mau mandi dulu?" tanya mami Rossa lagi.


"Aji tidak ada baju gantinya Oma," jawab Aji melihat kearah mamanya.

__ADS_1


Cilla tersenyum dipaksakan. Dia sendiri merasa tidak nyaman dan lengket karena belum mandi dari kemarin. Tapi dia juga tidak punya baju untuk ganti setelah mandi.


"Ada kok. Tadi ada orang yang datang membawa baju buat Aji dan mama Aji juga," jawab mami Rossa menenangkan Aji, cucunya.


__ADS_2