
Sore harinya, Aji, yang ternyata ikut tertidur pulas dengan memeluk istrinya, Elisa, terbangun. Dia melihat istrinya masih dalam keadaan tertidur.
Aji, memeriksa suhu tubuh istrinya, dengan meletakkan tangannya di kening Elisa. "Sudah tidak panas," guman Aji dengan tenang.
Kini, dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin mandi terlebih dahulu, sebelum Elisa terbangun dan mencari keberadaannya nanti.
Elisa menggeliat dan meraba-raba ke samping, mencari keberadaan suaminya. "Kak. Kakak," panggil Elisa, saat tidak menemukan keberadaan suaminya.
Cklek!
Elisa menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dari balik pintu, tampak Aji baru saja keluar setelah selesai mandi.
"Sudah bangun Sayang?" tanya Aji, saat melihat Elisa yang sudah terbangun dari tidur.
Elisa tersenyum. Dia menatap ke arah suaminya itu dengan tatapan yang tidak biasa.
Aji yang tahu, jika sedang diperhatikan oleh Elisa, mendekat ke tempat tidur. Dia duduk di pinggir ranjang, kemudian bertanya kepada istrinya itu, "apa ada yang Kamu inginkan saat ini?"
Elisa menggeleng sambil tersenyum-senyum malu-malu. Dia melihat Aji, sambil menunjuk ke bagian dada, karena Aji memang belum sempat memakai pakaian dan hanya memakai celana pendek saja.
"Hemmm... mau obat mujarab juga ya?" tanya Aji, dengan tersenyum nakal.
Elisa mengangguk tapi segera menggeleng juga. Aji jadi bingung dengan keinginan istrinya itu.
"Mau apa tidak?" tanya Aji memastikan, tapi dia juga bergerak mendekat ke tempat Elisa yang masih berbaring.
Elisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa malu, karena menginginkan suaminya sendiri.
"Tidak usah ditutupi. Ini kan milik Kamu, kenapa malu?" tanya Aji menggoda Elisa, dengan bergeser agar lebih dekat dengan istrinya itu.
Elisa menggeser posisi tidurnya, tapi Aji sudah keburu menguasai dirinya. "Jangan kabur jika ingin. Ini juga obat lho, sama seperti Kakak kemarin kan? Ayok kita mulai," kata Aji, dengan mengecup kening Elisa, kemudian turun dan terus melanjutkan kegiatan mereka berdua, supaya Elisa kembali sehat karena sudah mendapatkan obat yang mujarab.
*****
Sore harinya, Elisa bangun dengan tubuh yang lebih ringan. Sakit di kepala juga sudah tidak dia rasakan lagi.
__ADS_1
"Kok aneh ya, apa memang benar apa yang dikatakan oleh Kakak. Jika orang yang sudah berpasangan dan sedang sakit ringan tidak perlu obat, tapi hanya perlu kasih sayang yang..."
"Bangun-bangun kok melamun, mau lagi ya?"
Tiba-tiba, Aji sudah bangun dan membuyarkan lamunan Elisa. Sekarang, Aji sedang menyentuh kening Elisa dan juga lehernya.
"Tuh kan, adem. Gak perlu panggil Om Dimas juga sembuh," kata Aji, dengan tersenyum menatap Elisa yang sedang mengerutkan keningnya memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Mikir apa sih, sampai ada lukisannya begini?" tanya Aji, sambil menunjuk ke kening Elisa yang sedang berkerut.
"Ihsss, Kakak. Tapi, apa benar itu?" tanya Elisa memastikan.
"Apa?" tanya Aji ikut bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Elisa.
"Obat mujarab," jawab Elisa dengan cepat.
"Hahaha... Kamu sudah membuktikan keampuhannya kan Sayang, gak cuma hari ini, tapi kemarin waktu kakak sakit juga," jawab Aji, mengingatkan lagi, saat dia sedang sakit kemarin.
Elisa, hanya menarik nafas panjang dan ingin turun dari tempat tidur. Dia ingin membersihkan dirinya, karena terada lengket juga akibat keringat yang mereka hasilkan tadi.
Saat Aji masih berbaring di tempat tidur, pintu kamar di ketuk dari luar.
Tok... tok... tok!
Aji, turun dari tempat tidur, setelah memakai koas dan celananya. Dia berjalan untuk membuka pintu kamar, karena ingin tahu, siapa yang datang.
"Ma," sapa Aji, begitu pintu kamar terbuka dan tampak mama Cilla yang berdiri di depan pintu.
Mama Cilla, merasa khawatir dengan keadaan menantunya, apalagi seharian ini, sejak datang tadi pagi, Elisa hanya berada di dalam kamar saja. Aji, tidak mengijinkan mamanya, untuk ikut melihat Elisa yang katanya sedang pusing.
"Bagaimana Elisa, dia masih merasa pusing?" tanya mama Cilla dengan melongok ke dalam kamar. Aji, tidak mempersilahkan mamanya untuk masuk ke dalam.
Tapi, mama Cilla tidak melihat keberadaan Elisa. Dia juga tidak mendengar ada suara Elisa dari dalam dan menyapanya seperti biasa.
"Dia sedang mandi," kata Aji, seakan-akan tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh mamanya.
__ADS_1
"Tapi masih pusing tidak? apa dia masuk angin?" tanya mama Cilla dengan wajah yang terlihat jelas jika sedang khawatir.
"Tidak tahu. Tapi dia sudah baik-baik saja."
"Ya sudah, nanti kalian turun ya, ikut makan malam bersama. Papa masih ada di jalan sekarang. Tidak lama lagi juga akan sampai." Mama Cilla, memberikan pesan pada Aji.
"Kalian menginap kan?" mama Cilla, kembali bertanya pada Aji.
"Tidak tahu Ma. Tergantung bagaimana keadaan Elisa nanti."
Mama Cilla, akhirnya diam dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia pamit dan kembali berpesan kepada Aji, "jika bisa usahakan bisa menginap. Kami rindu ingin berbincang-bincang dengan kalian seperti dulu. Nanti, sehabis makan malam, Kamu juga bisa meminta ijin pada papa tentang rencana ke India."
Aji hanya mengangguk, kemudian mama Cilla memutar badan, untuk kembali ke lantai bawah. Dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Aji. Tapi, dia juga tidak tahu, apa itu.
Tak lama kemudian, saat mama Cilla sudah pergi turun lagi, Elisa keluar dari kamar mandi. Dia terlihat lebih segar dan tidak pucat seperti tadi.
"Hemmm... terlihat lebih segar dan..."
Aji, mendengus aroma tubuh istrinya, dengan harumnya sabun mandi yang dipakai istrinya. Dia jadi tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana tadi Elisa yang sedang berwajah pucat dan tidak terlihat segar seperti sekarang, namun masih bisa bersemangat saat bercinta untuk mendapatkan obat yang mujarab.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Elisa, yang merasa curiga dengan tingkah suaminya itu.
"Tidak apa-apa. Kakak hanya ingin mandi bareng, mau gak?" tanya Aji, menggoda Elisa dengan tersenyum miring.
"Ihsss, baru juga selesai mandi ini Kak," sahut Elisa dengan wajah meringis.
"Yah... lagi kan gak apa-apa. Gak ada yang larang juga," ucap Aji, masih melihat Elisa yang sedang menyisir rambut basahnya.
"Kakak, geli Ihsss!" rengek Elisa, karena Aji malah ikut menyisir rambutnya dengan jari tangan dan merembet ke bagian lehernya juga.
"Hehehe... habisnya punya istri kok bikin..."
"Sana mandi!" teriak Elisa, sambil mendorong tubuh suaminya itu ke arah kamar mandi, kemudian segera menutup menutup pintunya dari luar.
"Sayang-sayang, jangan dikunci dari luar ya!" teriak Aji dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Elisa, hanya tertawa-tawa senang karena sudah bisa membalas kenakalan suaminya itu. Dia segera berbenah diri dan siap untuk turun ke lantai bawah, bertemu dengan anggota keluarga yang lain.