
Aji, yang selama ini selalu memperhatikan adiknya, Jeny, jika sedang berbicara dengan mamanya, tentang Elisa, jadi ikut merasa khawatir. Tapi, karena kesehatannya yang belum pulih benar, dia jadi tidak bisa kemana-mana, dan tidak bisa berbuat apa-apa juga.
"Ada apa dengan dia, kenapa menghilang dan tidak pernah memberi kabar? atau kemarin itu, Aku yang keterlaluan dengan sikapku padanya?"
Aji, bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, dengan menghilangnya Elisa. Padahal, hampir setiap hari, selama dua minggu kemarin, dia bersamanya. Dia merasa kehilangan sosok Elisa yang ceria dan apa adanya.
"Kemana kamu El, kenapa tidak bilang, jika ada masalah?" Aji, kembali bertanya kepada dirinya sendiri.
"Kak!"
Tiba-tiba, datang Jeny dengan memangil dirinya. Aji yang sedang melamun, menjadi terkejut. "Iya Jen. Ada apa?" tanya Aji, setelah menetralkan kembali, wajahnya yang kaget.
"Elisa."
"Kenapa Elisa?" tanya Aji, dengan memicingkan matanya.
"Ternyata dia sedang mengajukan cuti kuliah. Ada permasalahan dengan pembayaran semester juga. Apa malam itu, waktu dia bilang mau menelpon bapaknya itu ya Kak?" tanya Jeny, mengingatkan kakaknya, Aji.
Aji, diam mendengarkan Jeny, yang sedang mengatakan hasil pencariannya tadi, di kampus bersama dengan Rio.
"Kamu cek tadi di kampus?"
"Iya Kak. Aku sama Rio, bertanya langsung kepada petugas administrasi kampus. Dan Aku juga minta alamat lengkap rumahnya, yang ada di kampung."
Aji, mengerutkan keningnya, berpikir jika dia bisa saja datang ke rumah Elisa, dengan di antar oleh supir.
"Tadi, Rio sudah Aku minta, agar meminta bantuan pada orang rumah atau teman-temannya, untuk mencari tahu tentang Elisa. Rumah mereka satu daerah, meskipun tidak dekat."
Penjelasan dari adiknya, membuat Aji, sedikit lebih lega. Meskipun sebenarnya, dia ingin sekali datang untuk memeriksanya sendiri.
"Apa Rio, sudah menyanggupi?" tanya Aji, memastikan apakah rencana adiknya, bersama dengan temannya Rio, benar-benar sudah matang.
"Iya," jawab Jeny pendek.
__ADS_1
Keduanya, Aji dan juga Jeny, menghela nafas panjang. Mereka, terdiam dan berpikir dengan asumsi masing-masing.
Jeny, berpikir jika Elisa sedang berada di kampungnya, sedangkan Aji berpikir jika, karakter Elisa, tidak mungkin menyerah dan pulang begitu saja ke kampung halamannya.
"Dia pasti masih ada di Jakarta. Tapi entah di sebelah mana?" batin Aji yakin.
*****
Musik klasik mengalun merdu dari tempatnya. Musik yang biasanya mengalun keras, belum waktunya untuk diputar, sebab, hari belum begitu malam.
Beberapa pengunjung, sibuk dengan pasangan masing-masing. Ada yang sedang bersenandung bersama-sama, ada yang sedang berbicara dengan serius, ada juga yang bercanda dan tertawa-tawa dengan wajah ceria.
"Mis. Satu minuman lagi, sama seperti yang tadi ya!"
Dari tempat duduk nomer tujuh, pelanggan memangil waiters, untuk memesan minuman yang sama, seperti yang tadi dia pesan.
Waiters yang kebetulan tidak jauh dari tempat itu, dan merasa di panggil, menganguk mengiyakannya pesanan tersebut. Dia tampak berjalan menuju ke meja bar.
"Mas. Pelanggan meja nomer tujuh, minta satu minuman lagi, yang sama seperti tadi. Coba lihat catatannya saja ya!"
"Oh berarti, yang biasa datang ke sini udah pada paham ya Mas? Maksudnya, Mas udah hafal gitu," tanya Elisa dengan menganggukkan kepalanya.
Ternyata, waiters yang tadi, adalah Elisa. Dia baru bekerja di Club ini tiga hari, atas rekomendasi pemilik mini market, tempatnya bekerja.
Pemilik mini market tempat Elisa bekerja, bertanya, kenapa hanya mau bekerja pagi hari, dan tidak mau malam. Elisa bilang, dia ingin menambah kerja malam hari untuk bekerja di tempat lain. Dan secara kebetulan, adik dari pemilik mini market tersebut, adalah pemilik Club. Jadi, dia menawarkan pada Elisa, agar bekerja saja di tempat adiknya itu.
"Ya sudah. Kamu kerja di Club adik Saya saja, jadi Kamu tidak perlu repot-repot lagi mencari kerjaan malam hari."
Tentu saja, Elisa merasa senang, karena tidak perlu riwa-riwi, hanya untuk mencari sampingan kerja pada malam harinya.
"Terima kasih Bos!"
"Eh, Kamu bisa bela diri tidak? Di sana diutamakan yang bisa bela diri lho!"
__ADS_1
"Dikit-dikit bisa Bos. Asal tidak keroyokan, masih bisalah..." jawab Elisa dengan nyengir kudanya.
"Bagus kalau begitu. Soalnya, tahu sendiri kan, Club itu banyak masalah yang menyangkut keselamatan diri, jadi kalau bisa para pekerja mempunyai dasar bela diri, untuk berjaga-jaga saja."
"Siap Bos. Elisa paham!"
"Ok. Nanti biar adikku, Aku hubungi terlebih dahulu ya? soalnya dia belum tentu terima karyawan dengan asal juga."
Dan begitulah, akhirnya, dua hari setelah dia bekerja di mini market, malam harinya, Elisa kerja di Club ini.
Elisa merasa beruntung, sebab, dimudahkan dalam mencari pekerjaan, meskipun tidak di kantor atau tempat yang mewah.
*****
Di sebuah kost sangat sederhana.
Elisa masuk ke dalam kamar kosnya. Dia sudah tampak lelah karena harus bekerja pagi dan malam harinya.
"Ternyata, cari uang itu susah juga ya. Kalau sudah begini, baru sadar, untuk berhemat dan tidak menghambur-hamburkan uang," kata Elisa, pada dirinya sendiri, sambil merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Tapi, mau bagaimana lagi. Aku juga haru bisa bertahan. Kalau harus berhenti kuliah juga tak apa, dari pada harus menjadi beban bapak terus menerus. Kalau Aku pulang, sama saja. Aku, akan tetap menjadi beban bapak juga, mending kerja di sini sajalah. Siapa tahu, keberuntungan bisa berpihak padaku, dan Aku bisa melanjutkan kuliah lagi. Kamu pasti bisa El!"
Elisa, berkata kepada dirinya sendiri. Dia juga menyemangati dirinya, agar bisa tetap bertahan hidup di kota besar seperti Jakarta ini.
"Oh iya, gimana kabar Jeny ya? minggu ini, dia ada acara lamaran dengan Dokter Dimas. Tapi, sayangnya, Aku tidak bisa ikut hadir. Pasti, dia akan banyak mengajukan pertanyaan, karena selama seminggu lebih, Aku menghilang. Ah... Aku jadi kangen Jen."
Elisa, tampak sedih mengingat, jika dia tidak bisa hadir di acara temannya itu.
"Semoga, acara kamu lancar hingga hari pernikahan nanti. Maaf ya Jen. Aku tidak bisa hadir," kata Elisa, seperti sedang berbicara dengan Jeny.
"Rio. Kamu pasti kebingungan ya cari Aku. Hiks, maaf. Aku tidak memberikan penjelasan tentang panggilan yang tidak bisa Kamu terima juga malam itu. Hiks, hiks.. Aku kangen kalian!"
Elisa, menangis seorang diri. Dia merasa bersalah, karena yakin, jika saat ini, teman-teman itu, pasti sedang kebingungan mencari-cari keberadaannya yang tidak berkabar.
__ADS_1
"Maaf Jen, Rio. Aku tidak mau merepotkan kalian berdua. Meskipun Aku tahu, bahwa kalian tidak akan merasa direpotkan jika Aku bercerita dan pasti, kalian akan membantuku juga. Tidak, Aku tidak mau melihat kalian ikut merasakan kesedihan, yang saat ini aku rasakan. Aku janji, jika waktunya tiba nanti, Aku akan menemui kalian lagi. Maaf ya!"