Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Adek Bayi Atau Bayi Besar?


__ADS_3

Aji diam di dalam mobil, yang di kemudikan oleh papanya sendiri, yaitu Gilang. Dia mengantuk, tapi juga tidak bisa memejamkan matanya. Dia sudah mencoba untuk tidur dipangkuan mamanya, tapi tetap saja tidak bisa terpejam.


"Aji kenapa Honey?" tanya Gilang, dengan melihat ke arah spion yang ada diatasnya.


Mami Rossa yang duduk di bangku depan, samping Gilang, menoleh ke arah belakang. Dia melihat cucunya yang tidak tenang dan terlihat gelisah.


"Aji mau duduk didepan sama Oma?" tanya mami Rossa menawari Aji.


Aji hanya diam dan tidak menjawab. Dia hanya melihat sekilas, pada papanya dan juga omanya.


Cilla juga ikut mengeleng melihat kearah mami Rossa dan juga Gilang. Dia sendiri tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada anaknya itu.


"Sayang. Aji mau apa nak?" tanya Cilla mengelus rambut Aji dengan penuh kasih sayang.


"Ma. Aji mau susu hangat," kata Aji memberitahu.


"Eh. Dimana dapatnya? Kita sedang dalam perjalanan Sayang," kata Cilla memperingatkan Aji.


"Tapi Aji haus," rengek Aji.


"Apa?" tanya Gilang meminta penjelasan. Dia tidak begitu jelas, mendengar permintaan Aji, anaknya itu.


"Aji haus. Tapi mau susu hangat," jawab Cilla dengan suara cemas. Dia merasa takut, jika permintaan Aji, anaknya itu, menganggu perjalanan pulang mereka.


"Oh. Ada di tenda-tenda pinggir jalan yang jualan. Tapi susunya tidak seperti di rumah. Aji mau?" tanya Gilang memberitahu pada Aji.


"Tidak mau," jawab Aji cepat.


"Sayang. Jangan rewel ya. Nanti kalau sampai rumah, Mama buatkan buat Aji. Susu hangat yang manis."


Cilla mencoba merayu anaknya. Dia juga merasa heran, kenapa sekarang ini, Aji sering bertingkah laku tidak seperti biasanya.


"Wah... Kayaknya Aji butuh adik tuh! Siapa tahu dia bosan tidak ada temannya."


Mami Rossa mengomentari tentang tingkah aneh Aji belakangan ini.


Tentu saja Cilla merasa tidak enak dilihat oleh Gilang dari kaca spion yang ada diatasnya. Apalagi Gilang tersenyum senang mendengar perkataan mami Rossa.


"Bagaimana Cilla? Bisa kan dipercepat?" tanya mami Rossa meminta pendapat Cilla.


"Mami. Ada-ada saja," kata Cilla dengan menundukkan kepalanya karena merasa malu.

__ADS_1


"Hehehe... Kan jadi rame nantinya. Rumah sudah terlalu lama sepi. Tidak ada tangisan dan tawa bayi. Aji juga setuju kan?" tanya mami Rossa, dengan meminta pendapat dari Aji.


"Aji juga mau Oma. Adek bayi bisa gak beli di Mall? Atau buat gitu di dapur, biar bibi bisa bantu bikin?"


Aji membayangkan jika adek bayi itu semacam makanan atau mainan anak-anak. Makanya dia menyahut perkataan omanya dengan wajah berseri-seri.


"Adek bayi Sayang, bukan kue," kata Gilang mengingatkan Aji.


"Adek bayi," kata Aji, mengulang kembali kalimat yang sama.


"Yang bisa nangis dan ngompol?" tanya Aji melihat ke arah mereka semua, secara bergantian, meminta penjelasan tentang istilah Adek bayi.


"Iya. Kayak adek bayi yang pernah Aji lihat, saat Bu RT melahirkan," kata Cilla mengingatkan Aji.


Dulu, sewaktu masih berada di rumah kontrakan, Cilla dan Aji pernah menjenguk istri pak RT yang baru saja melahirkan. Saat itu, Aji melihat Adek bayi yang sedang menangis, dan ternyata saat diperiksa, adek bayinya sudah basah akibat ngompol.


"Tapi Aji tidak mau dia ngompol. Nanti dia nangis terus, kan berisik!"


Aji mengeleng dengan cepat, saat membayangkan, jika dia akan terganggu dengan suara tangisan adek bayi yang akan ada nantinya.


"Hahaha... Tidak menangis terus-menerus Sayang. Dulu Aji, waktu masih bayi juga nangis kok!" Cilla memberitahu anaknya, Aji.


"Masa sih Ma?" tanya Aji tidak percaya.


"Tidak tahu," jawab Aji cepat, dengan mengelengkan kepalanya.


"Oek... Oek... Oek...!"


Cilla menirukan suara tangisan bayi. Padahal suara tangisan bayi, ya memang begitu-begitu saja. Tidak ada bedanya.


"Masa sih Ma?" tanya Aji tidak percaya.


Mami Rossa dan Gilang yang ada di depan, hanya tersenyum saja, mendengar dan melihat cara Cilla mengalihkan perhatian Aji, yang sedang rewel, karena tidak mendapat susu hangat seperti yang dia inginkan. Perjalanan menuju ke rumah, sudah tidak terlalu jauh lagi.


Beberapa menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah. Pintu gerbang otomatis terbuka dan mobil segera masuk.


"Nah, kita sudah sampai!" kata mami Rossa mengering pada Aji.


Aji melihat ke arah luar. Ternyata memang benar. Kini dia sudah berada di depan rumah besar milik papanya, Gilang.


"Ayuk turun!" ajak mamanya, Cilla.

__ADS_1


Aji menurut. Dia turun terlebih dahulu sebelum mamanya. Dia juga terus berlari kecil menuju ke arah dapur, tanpa menunggu yang lainnya. Aji duduk di kursi makan, menuggu kedatangan mamanya yang akan membuatkan susu hangat manis untuknya.


"Mi, Honey. Aku langsung balik ke kantor ya! Ada tamu yang akan datang," kata Gilang berpamitan pada kedua wanita yang dia cintai itu.


"Iya. Hati-hati ya!" kata mami Rossa mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Cilla yang masih berdiri dan belum berjalan menyusul mami Rossa dan juga Aji, segera menunduk karena Gilang sedang menatapnya.


"Honey. Tidak ada pesan untukku?" tanya Gilang memancing Cilla, agar mau berbicara dengannya.


"Ha... Hati-hati," kata Cilla dengan gugup.


"Hem. Begitu saja?" tanya Gilang memicingkan matanya melihat ke wajah Cilla.


"Aku... Aku tidak tahu," jawab Cilla terbata.


"Panggil Aku Sayang. Sedari tadi Aku belum mendengarnya," kata Gilang meminta.


"Sekali saja Honey. Buat semangat Aku ya!" kata Gilang memelas.


"Iya Sayang," kata Cilla singkat, kemudian berjalan dengan cepat, masuk ke dalam rumah.


"Hahaha... Terima kasih Honey!" Gilang berteriak senang dengan hasil yang dia dengar.


"Aku akan membuatmu bahagia dan tidak bisa lepas dariku Honey. Ingat itu!"


*****


Di ruang makan. Aji masih menunggu mamanya yang belum juga masuk ke dalam rumah.


"Oma. Mama mana?" tanya Aji heran, karena melihat omanya sudah masuk, tapi mamanya belum terlihat.


"Sedang mengurus bayi besar," jawab mami Rossa, dengan mengedip-ngedipkan matanya pada Aji.


"Bayi besar?" tanya Aji bingung.


"Iya. Papamu kan bayi besar. Makanya, tinggal Adek bayi yang belum ada," kata mami Rossa menjelaskan pada Aji.


"Memang tidak apa-apa, kalau adek bayi dan bayi besar ada semuanya?" tanya Aji ingin tahu.


"Hahaha... Tidak apa-apa Sayang. Justru akan lebih baik, terutama dengan bayi yang besarnya," jawab mami Rossa dengan tertawa-tawa senang. Dia membayangkan, jika Cilla akan repot mengurus kedua bayinya, apalagi bayi besarnya.

__ADS_1


Aji berpikir dengan mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak paham dengan perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh omanya. Dia tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan reportnya mengurus bayi yang sudah besar, karena menurut Aji, akan lebih mudah untuk mengurus bayi yang sudah besar dibandingkan dengan Adek bayi.


__ADS_2