Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Melapor


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ke rumah Jeny.


Di dalam mobilnya, Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil bersenandung, karena dia berpikir jika masih ada banyak waktu untuk acara Jeny.


Di saat melewati jalanan yang tidak begitu ramai, mobil Rio disalip oleh mobil lain dengan kecepatan tinggi. Mobil Rio, hampir saja terserempet. Dengan cepat, dia membanting setir mobil, sehingga kecelakaan bisa di hindari.


Tapi ternyata, mobil yang tadi menyalip Rio, berhenti dengan mendadak.


Rio, keluar untuk melihat keadaan, apakah yang sebenarnya terjadi. Dia pikir, ada yang kena dan lecet, sehingga penumpang mobil tadi berhenti.


Tapi diluar dugaan, justru mereka, ada tiga orang, mendekati Rio. Salah satu dari mereka, membiusnya hingga tidak sadarkan diri.


Elisa, yang masih berada di dalam mobil, kaget dan segera keluar. Dia ingin menolong Rio.


Orang yang tadi membius Rio, beralih pada Elisa. Dia juga ingin membius Elisa. Sayangnya, Elisa yang bisa ilmu beladiri, melawan mereka semua.


Tapi, kekuatan Elisa, yang seorang cewek dan di keroyok tiga orang, dengan perawakan bodyguard semua, tentu tidak seimbang. Dia, tumbang dan ikut dibius juga, sehingga dia tidak sadarkan diri. Dia tidak tahu, apa yang terjadi selanjutnya, hingga sadar tadi dan dalam keadaan terikat.


*****


Petugas hotel yang menemani Elisa di rumah sakit, mendapatkan telpon dari Security, yang tadi dia minta untuk mengecek rekaman CCTV.


..."Halo Pak. Bagaimana?" ...


..."Maaf pak. Ini justru petugas cctv terikat dan mulutnya di plester."...


..."Maksudnya?" ...


..."Sepertinya, ada yang sengaja masuk dan melumpuhkan dia, kemudian merusak rekaman kamera cctv hotel. Ini tidak ada tangkapan kamera, dari pagi hingga saat ini."...


..."Terus, pengawas cctv bagaimana keadaannya?" ...


..."Dia baik-baik saja. Tapi dia ingat betul, jika ada dua orang yang datang dengan tiba-tiba, dan langsung membiusnya. Jadi dia juga tidak tahu apa-apa setelah itu." ...


..."Baiklah, terima kasih Pak."...


Petugas hotel, menutup sambungan teleponnya. Dia menoleh kearah Elisa, yang menunggu untuk bisa mendengarkan kabar yang akan disampaikan.

__ADS_1


"Maaf Mbak. Sepertinya, kita hanya bisa melaporkan kepada polisi, tanpa ada bukti dari rekaman CCTV hotel."


Elisa, mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi di hotel itu.


"Lalu, bagaimana dengan resepsionis yang pastinya ada di depan. Dia pasti melihat saat ada tamu masuk dan mendaftar. Atas nama siapa, dan berapa orang yang datang." Elisa, jadi geregetan, saat mendengar penjelasan dari petugas hotel tadi.


"Kita tunggu beberapa saat, biar teman Mbak sadar dan pulih dulu. Baru kita akan melapor ke polisi."


Elisa, mengangguk setuju dengan pendapat petugas hotel. Dia tidak mungkin meninggalkan Rio seorang diri di rumah sakit ini.


"Boleh pinjam handphonenya? Saya mau menghubungi seseorang."


"Silahkan Mbak," jawab petugas tersebut, dengan memberikan handphone miliknya pada Elisa.


Elisa, menerimanya dan mencoba mengingat-ingat nomer handphone milik pegawai armada bus milik Rio. Tapi karena dia anak baru, jadi dia juga tidak hafal nomer mereka.


Elisa, mencoba untuk menelpon Jeny, tapi sepertinya handphone Jeny tidak aktif.


"Telpon siapa lagi ya?" tanya Elisa panik.


"Ah ya, kak Aji. Tapi, Aku tidak yakin dengan ingatanku dengan nomer dia," kata Elisa, sambil mengetuk-ngetuk keningnya sendiri dengan jari telunjuk.


"Ayo angkat, angkat!" kata Elisa dengan tidak sabar.


Tapi, dua kali panggilan terabaikan. Aji, tidak menerima panggilan darinya.


"Kemana semuanya?" tanya Elisa pada dirinya sendiri.


"Terima kasih Mas. Tapi sepertinya, mereka semua sedang beristirahat." Elisa, mengembalikan handphone yang dia pinjam tadi.


Tak lama kemudian, Rio sadar dari pingsannya. Dia menoleh ke arah Elisa yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.


"El," panggil Rio, sambil berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


"Rio! Syukurlah, Kamu sudah sadar," ucap Elisa bersyukur karena Rio, akhirnya sadar juga dari pingsannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rio pada Elisa. Wajahnya tampak jelas, jika dia sedang mengkhawatirkan keadaan Elisa.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Kamu kenapa bisa pingsan!" tanya Elisa ingin tahu.


Rio meringis, merasakan pelipisnya yang tadi berdarah, dan sekarang sudah diperban. Sepertinya, itu karena pukulan benda tumpul, yang sengaja dilakukan oleh mereka.


"Handphone Aku di ambil mereka. Tas Kamu dan juga punyaku, dibawa mereka juga. Aku tidak tahu, siapa mereka bertiga, tapi ada satu lagi yang mereka panggil dengan sebutan bos."


Rio, menceritakan apa yang dia lihat sebelum dia jatuh pingsan tadi.


"Apa ini kasus perampokan? tapi kenapa harus membawa kita ke hotel? sebenarnya, apa maksud dan tujuan mereka semua?" tanya Elisa dengan wajah bingung.


Rio dan petugas hotel, tentu saja sama bingungnya dengan Elisa. Jika mereka berniat untuk merampok, kenapa harus membawa mereka berdua ke hotel. Mobil Rio, ada di parkiran hotel. Cuma tas dan dompet serta handphone milik Rio saja, yang mereka ambil.


"Kita harus cepat melaporkan kejadian ini kepada polisi. Aku takut, jika mereka menyalah gunakan identitas kita, dan nomer handphone Kamu Rio," kata Elisa, memberikan usulan.


Rio, mengangguk setuju. Petugas hotel, yang masih menemani mereka berdua, juga mengangguk setuju dengan pendapat Elisa.


"Baiklah. Kita pergi ke kantor polisi sekarang juga," ajak petugas hotel.


Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, mereka bertiga pergi menuju ke kantor polisi, guna melaporkan semua kejadian yang terjadi pada Elisa, dan juga Rio.


"Hotel Anda kurang pengamanan Pak. Seharusnya, bisa lebih diperketat, agar hal semacam ini tidak akan terjadi."


Pihak kepolisian, menerima laporan Rio dan Elisa, tapi juga akan menyelidiki hotel tersebut.


"Tolong, kamar tempat kejadian, tidak di bersihkan terlebih dahulu. Kita kan segera mengusut dan menyelidiki. Pastinya, ada salah satu sidik jari pelaku yang tertinggal di sana. Begitu juga dengan beberapa barang yang dirusak diruangan CCTV."


Polisi, sudah menerima laporan dari Elisa dan Rio. Mereka akan segera datang ke hotel, untuk melakukan penyelidikan secepatnya.


"Baik Pak. Saya akan memberikan kabar ke hotel sekarang juga."


Elisa dan Rio, mengangguk sebagai tanda terima kasih pada pihak kepolisian.


"Apa kami bisa mendapatkan jaminan keamanan, untuk identitas diri kami yang hilang?" tanya Elisa dengan khawatir.


"Bisa. Disini dilaporkan, jika anda kehilangan semua indentitas diri dari pukul setengah sebelas pagi. Jadi, setelahnya, kalian bisa memberi keterangan, seandainya ada kejahatan yang melibatkan Anda, karena adanya identitas diri Anda dalam kasus yang lain, anda bisa mempunyai alibi, jika itu bukanlah Anda." Petugas kepolisian memberikan penjelasan pad Elisa dan Rio.


"Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


Elisa dan Rio, mengucapkan syukur, meskipun sebenarnya mereka tetap merasa tidak enak hati. Sudah bisa dipastikan, jika saat ini, mereka sudah tidak bisa menghadiri acara pernikahan sahabatnya, yaitu Jeny.


__ADS_2