
Hari ini cuaca mendung sedari pagi, tapi hujan tidak mau turun juga. Udara jadi adem, membuat suasana terasa nyaman untuk tidak melakukan apapun, dan kembali lagi ke tempat tidur.
Berbeda dengan Elisa, yang pagi ini harus segera ke kampus. Ada tugas dari dosen yang harus dia kumpulkan, apalagi siangnya, dia harus sudah berada di kantor armada bus milik Rio.
Elisa bergegas ke kamar mandi, memaksakan diri untuk tidak bermalas-malasan. Ini demi masa depan yang dia impikan, tanpa harus berpangku tangan.
Setelah selesai, Elisa dengan cepat menyiapkan segalanya dan bergegas ke kampus. Dia juga tidak mempedulikan getar handphone miliknya yang berada di dalam tas. Dia berjalan kaki menuju ke kampus, dengan langkah cepat.
"Buru-buru amat El!" tegur teman yang kebetulan melihatnya.
"Iya, lagi buru jodoh biar gak tertukar," jawab Elisa asal.
"Hahaha... ada aja Kamu El," kata temannya tadi tertawa-tawa, kemudian berkata lagi, "Kamu bisa aja bikin ngakak pagi-pagi El."
"Syukurlah kalau Kamu masih bisa tertawa, dari pada manyun aja pagi-pagi," ucap Elisa, sambil tersenyum miring.
"Woiii... pelan-pelan jalannya, Aku gak bisa ngimbangi langkah kaki Kamu ini!" teriak temannya, yang tertinggal beberapa langkah di belakang.
"Ck, cerewet!" sahut Elisa dengan cepat.
"Bukannya Kamu yang cerewet El?" tanya temannya lagi, setelah bisa mengejar Elisa, yang memelankan langkah kakinya.
"Aku cerewet, tapi Kamu lebih cerewet! Mau bareng ke kampus saja berisik," jawab Elisa dengan mengeleng.
"Hehehe... kan kalau ada teman jalan gak kayak orang ilang El."
"Kamu itu yang ilang. Udah, Aku mau ke kantor dulu," kata Elisa pada temannya, kemudian melambaikan tangan dan melangkah menuju ke arah ruang kantor, dimana ruangan dosen berada.
"Ok, thanks ya El!"
Elisa hanya mengangguk tanpa menoleh lagi Dia tetap pada posisi, melangkah menuju ke ruangan dosen.
Di parkiran kampus, Rio baru saja datang. Dia tidak menuju ke kelas, tapi menuggu Elisa mengangkat telponnya, tapi sepertinya, Elisa sedari tadi tidak memegang handphone miliknya, sehingga tidak tahu jika Rio sedang menghubunginya.
"Kebiasaan nih anak. Kalau di perlukan malah ngilang. Udah sampai belum sih dia?" gerutu Rio, masih dengan menatap layar ponselnya.
Tiba-tiba, ganti handphone milik Rio yang bergetar. Ternyata, Jeny menelpon dirinya.
"eh, Jeny? sudah pulang dia dari honeymoon?" tanya Rio, pada dirinya sendiri sebelum mengangkat telpon dari Jeny. Baru pada getaran ke tiga, Rio menerima panggilan telponnya.
..."Halo Jeny cantik, apa kabar yang pulang honeymoon?" ...
..."Tidak usah memuji, tidak ada oleh-oleh buat kamu."...
__ADS_1
..."Idihhh..."...
..."El ada gak sama Kamu?" ...
..."Tidak, ada apa?" ...
..."Telponku tidak dia angkat sedari tadi."...
..."Ah, itu sih sama. Elisa juga tidak mengangkat telpon dariku juga."...
..."Memang tidak barengan tadi ke kampus?" ...
..."Gak. Semalam dia kirim pesan, katanya mau ada perlu sama dosen pagi. Jadi dia pergi sendiri. Kamu ada perlu apa sama dia?"...
..."Pengen jitak. Kamu juga. Kalian berdua harus bertanggung jawab!" ...
..."Kok kami berdua? bukannya yang melakukan itu dokter Dimas, kenapa kami yang harus bertanggung jawab?" ...
..."Rio!"...
..."Hehehe..."...
..."Pokoknya, nanti pulang dari kampus ke rumah ya, ajak Elisa!"...
..."Iya sudah tidak apa-apa. Tapi harus datang ya?" ...
..."Siap cantik!"...
..."Tidak usah ngerayu, udah punya gandengan!"...
..."Truk kali Jen, gandengan. Hehehe..."...
Telpon terputus. Rio kembali mencoba menelpon Elisa, tapi tetap saja tidak diangkat. Akhirnya, Rio berjalan ke arah kelas tanpa menunggu Elisa lagi.
Setelah sampai di kelas, justru Elisa sudah duduk dengan buku tebal di depannya.
"El, kenapa tidak angkat telponku atau Jeny?" tanya Rio menepuk pundak Elisa.
"Eh, maaf. Sedari tadi tidak lihat handphone Aku. Silent juga tuh handphone," jawab Elisa nyengir.
"Mana pernah headphone Kamu bunyi?" tanya Rio kesal.
Elisa, tidak lagi menjawab. Dia hanya menampakkan senyuman khas miliknya, nyengir kuda.
__ADS_1
"Ada apa Jeny?" tanya Elisa, beberapa saat kemudian, sambil memeriksa handphone yang ada di tas.
"Nanti pulang dari pangkalan bus, kita ke rumah Jeny. Dia yang minta."
Elisa hanya mengangguk saja, tanpa menyahut lagi. Dia juga mengetik sesuatu pada handphone miliknya.
"Bisa kan? atau Kamu ada acara lain?" tanya Rio lagi.
"Acara apa?" tanya Elisa menjawab pertanyaan Rio.
"Mana Aku tahu, sama kak Aji mungkin," jawab Rio datar.
Elisa, menoleh mendengar jawaban dari Rio yang berdengar berbeda di telinganya, saat menyebut nama Aji. Tapi Elisa tidak lagi bertanya. Dia kembali lagi pada layar handphone dan mengeleng samar.
Rio, hanya memperhatikan gerak tubuh Elisa, dan sudah tahu jawabannya tanpa Elisa mengeluarkan suara.
*****
Rumah papa Gilang, tampak lebih ramai. Mungkin karena kedatangan Jeny dengan dokter Dimas, yang baru saja pulang dari Bali.
Tentunya keluarga papa Gilang, merasa sepi kemarin-kemarin, karena tidak ada teriakan-teriakan Jeny jika sendang bercanda dengan Vero atau panik karena ulah dia sendiri.
"Kamu sudah menelpon Elisa Jen?" tanya mama Cilla pada Jeny, yang sedang membantunya menyiapkan makan malam.
"Sudah Ma. Tapi dia tidak angkat. Tapi dia sudah kirim pesan kok, kalau bisa datang sama Rio juga. Mereka langsung dari kantor bus miliknya Rio," jawab Jeny dengan wajah cerah. Dia tentu membayangkan, pertemuannya dengan Elisa nanti. Sudah terasa lama sekali, dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu.
"Jeny gemes sama dia Ma. Awas saja kalau ketemu, Jeny pasti jitak dia dan Rio. Dulu sudah di bilangin, suruh nginep disini saja, tapi tidak mau, malah ngilang kan jadinya."
"Jen. Itu kan di luar rencana. Mereka di culik, dan itu tentunya membuat mereka ada trauma tersendiri. Mama pernah mengalami hal itu, dengan kakak kamu Aji." Mama Cilla, jadi teringat dengan kejadian masa lalunya bersama Aji. Waktu dia diculik bersama dengan Aji, karena salah sasaran oleh Chandra. Cowok yang menyukai papa Gilang, suaminya yang sekarang.
"Benarkah Ma. Mama dan kakak pernah diculik, kapan? terus bisa bebas gitu?" Jeny, justru tertarik dengan cerita tentang penculikan mama dan kakaknya, Aji.
"Sudah lama itu Jen. Sekarang, orangnya sudah bebas dan tidak lagi ada di Indonesia. Mereka juga kenal baik dengan papa Kamu. Sama kayak kasusnya Elisa. Ternyata yang menculik dia dan Rio, juga mengenal Elisa. Dia manager Club malam, tempat Elisa bekerja dulu. Dia merasa diabaikan oleh Elisa."
Cerita mama Cilla, membuat Jeny merasa cemas. Dia pikir, kejadian kejahatan yang sering terjadi, ternyata dari orang-orang yang kita kenal, bahkan terhitung dekat.
"Berarti benar kata orang-orang ya Ma. Kejahatan bisa saja terjadi, dari orang yang dekat dengan kita. Bukan hanya sekedar kejahatan biasa, tapi ada unsur lain yang tidak kita tahu penyebabnya."
"Iya Jen, makanya kita wajib berhati-hati, bukan dengan orang luar saja, tapi lebih pada berhati-hati untuk diri kita sendiri."
Mama Cilla, menasehati Jeny, anaknya yang akan memulai kehidupan barunya itu, dalam berumah tangga.
"Bagaimana dokter Dimas? jago tidak?" tanya mama Cilla, setelah diam beberapa saat. Dia menggoda Jeny, untuk mengalihkan perhatian tentang kejahatan yang terjadi pada Elisa dan Rio.
__ADS_1
"Mama apa sih..." jawab Jeny malu-malu.