
"Duh... yang habis pulang dari honeymoon. Handphone saja mati, gak mau di ganggu," ledek Vero, saat melihat Aji dan Elisa yang baru saja pulang dari villa di Sentul.
"Apa sih Ver," sahut Elisa dengan wajah bersemu merah.
Aji, hanya diam dan melanjutkan langkahnya menuju ke anak tangga. Dia mau langsung naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Kak El, duduk dulu. Cerita-cerita dong!" rengek Vero, meminta Elisa untuk duduk terlebih dahulu dan tidak menyusul Aji ke kamar.
"Vero..." tegur mama Cilla, dengan mengeleng.
"Ih, mama." Vero, cemberut karena di tegur mama Cilla.
"Sudah El, cuekin saja," kata mama Cilla pada Elisa.
Elisa hanya nyengir, karena merasa malu. Dia akhirnya melanjutkan langkahnya ke kamar atas, dimana kamar Aji berada.
"Kamu ini, sukanya ngodain Elisa saja. Ingat ya, sekarang dia itu kakak ipar Kamu. Kamu mau berhadapan dengan kakak Kamu Aji?" mama Cilla, menasehati anaknya, Vero.
Biyan, yang sedari tadi diam, tersenyum miring, mencibir kembarannya sendiri. Vero.
"Ihsss, gitu doang juga Ma. Gak apa-apa kali. Kak El saja, biasa gitu," kata Vero membantah.
"Nyonya... Nyonya..."
Dari arah samping, perawat yang selama ini merawat oma Rossa, berteriak panik.
"Ada apa Sus?" tanya mama Cilla kaget. Begitu juga dengan Vero dan Biyan.
"Oma... Oma..." perawat tidak bisa berkata dengan suara jelas. Dia tidak tahu menjelaskan apa yang sedang terjadi pada oma Rossa.
Akhirnya, mama Cilla segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas ke kamar mertuanya, oma Rossa.
Biyan dan Vero, juga ikut di belakang mamanya. Mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi pada omanya itu.
"Vero, siapkan mobil. Minta supir cepat!" perintah mama Cilla pada anaknya, Vero.
"Biyan, panggil Kakak Kamu Aji. Telpon papa juga ya, minta langsung ke rumah sakit saja," kata mama Cilla lagi, meminta Biyan untuk memberitahu Aji dan juga papanya.
Vero dan Biyan, bergegas melakukan apa yang diminta mamannya.
"Ayo Sus," ajak mama Cilla pada perawat, untuk mendorong kursi roda oma Rossa.
Saat mama Cilla dan perawat sampai di teras depan, tak lama kemudian, Aji dan Cilla juga sampai.
"Oma, bertahan Oma," kata Aji memegang tangan omanya, memberikan semangat agar omanya itu bisa terus bertahan dalam keadaan yang sudah lemas.
__ADS_1
Tak lama, Oma Rossa sudah berhasil di pindahkan ke dalam mobil.
"Ayok Pak cepat. Kita ke rumah sakit biasanya," kata mama Cilla memerintah.
Mama Cilla, meminta supir untuk cepat karena ini untuk keselamatan mami mertuanya. Mami Rossa.
Pak supir, hanya mengangguk dan segera menghidupkan mesin mobil. Dia tahu, jika majikannya itu dalam keadaan panik dan juga khawatir dengan keadaan Oma Rossa.
Aji dan Cilla, menyusul di belakang dengan mobil yang berbeda.
Vero dan Biyan, ikut di dalam mobil yang membawa omanya, bersama dengan mama Cilla dan perawat.
"El, Kamu telpon Jeny, dan tanyakan juga, apakah dokter Dimas sedang ada di rumah sakit atau di rumah. Jika ada di rumah, segera suruh datang ke rumah sakit," kata Aji, meminta kepada Elisa agar menghubungi Jeny, yang sekarang sudah pindah ke rumah suaminya, dokter Dimas.
Elisa menurut. Dia segera mengambil handphone di saku bajunya dan menelpon Jeny. Dalam hitungan detik, Jeny sudah menerima panggilan telpon darinya.
..."Halo pengantin baru!" sapa Jeny, yang belum tahu kabar tentang omanya....
..."Halo Jen. Apa dokter Dimas ada di rumah atau di rumah sakit?"...
..."Eh, kenapa? Apa kamu langsung isi, kilat ya?" tanya Jeny bingung, karena Elisa bertanya tentang suaminya dan rumah sakit. Dia pikir Elisa mau cek kandungan....
..."Bukan Jen. Ini Oma. Dia kritis."...
..."Iya."...
..."Om Dimas ada di rumah sakit, baru saja berangkat. Aku akan segera menyusul ya. Ini sudah ada di mana?"...
..."Masih di jalan Jen."...
..."Baiklah. Aku bersiap-siap untuk datang ke rumah sakit."...
Telpon terputus. Elisa menoleh ke arah suaminya yang sedang menyetir.
"Dokter Dimas, baru saja berangkat ke rumah sakit," kata Elisa, memberitahu Aji.
Aji hanya mengangguk. Dia fokus pada jalanan Jakarta yang tetap padat di waktu apapun.
*****
Di rumah sakit, oma Rossa langsung di tangani oleh tim dokter yang sudah biasa merawatnya. Papa Gilang, datang hampir bersamaan dengan Jeny.
"Mami bagaimana?" tanya papa Gilang pada mama Cilla.
"Mas," panggil mama Cilla, memeluk papa Gilang dengan menangis.
__ADS_1
"Sabar, kita berdoa saja untuk kesehatan mami." Papa Gilang, menepuk-nepuk punggung mam Cilla, supaya mama Cilla tidak lagi menangis.
Aji, datang dari arah samping. Dia baru saja mengurus administrasi untuk perawatan omanya, oma Rossa.
"Bagaimana, sudah selesai?" tanya papa Gilang pada Aji.
Aji hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia mendekat ke tempat duduknya Elisa dan Jeny, yang saling berpelukan sambil menahan tangis.
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, dokter keluar juga, disusul dengan dokter Dimas yang ada di belang.
"Maaf. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, Tuhan lebih sayang dengan mami Rossa," kata dokter, dengan membuka kacamatanya.
Papa Gilang, memejamkan matanya dan menahan nafas, saat mendengar penjelasan dokter.
"Mami..." mama Cilla, menangis dan memeluk papa Gilang lagi.
Aji berdiri, diikuti oleh Elisa yang juga ikut berdiri. Dia mendekat ke arah papanya. "Aji akan mengurus semuanya. Papa tenangkan Mama saja," kata Aji, meminta ijin pada papanya, Gilang.
Papa Gilang mengangguk. Dia membiarkan Aji yang mengurus kepulangan jenasah omanya. Ternyata, papa Gilang juga tidak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba menetes satu persatu.
"Ayok El," ajak Aji, meminta Elisa agar mengikutinya.
Dokter Dimas, mendekat ke arah Jeny. Dia memeluk istrinya yang menangis lagi.
"Sudah Sayang. Tante Rossa, akan merasa sedih, jika Kamu juga terlalu bersedih. Iya doakan saja agar Oma Rossa tenang ya," kata dokter Dimas, menasihati Jeny, istrinya.
Vero dan Biyan yang tadi tertidur di kursi tunggu, terbangun karena mendengar suara tangisan mama dan papanya, begitu juga dengan kakaknya, Jeny.
"Ada apa?" tanya Vero pada kembarannya, Biyan.
"Tidak tahu," jawab Biyan mengeleng.
"Pa, bagaimana oma?" tanya Vero, beralih pada papanya, yang sedang memeluk mamanya, Cilla, yang juga sedang menangis.
"Oma... Oma, sudah tiada."
Jawaban dari papa Gilang, membuat Vero dan Biyan saling pandang. Mereka berdua, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar tadi.
"Maksudnya, Oma meninggal Pa?" tanya Vero ingin kejelasan.
Papa Gilang hanya mengangguk. Dia tidak mampu lagi untuk menjawab pertanyaan dari anaknya, Vero.
"Biyan. Oma Biyan, Oma kita meninggal. Baru saja ada pesta pernikahan kakak, dan sekarang kita berduka. Huwaaa... Oma, Oma..."
Vero, histeris saat mendapatkan kejelasan dari perkataan papanya tadi. Dia tidak menyangka, jika kehidupan ini cepat sekali berubah rasanya. Dia tidak tahu, harus bagaimana protes terhadap kenyataan ini.
__ADS_1