
"Biyan, apa Kamu tidak ada yang naksir? yang seusia Kamu Biyan," tanya mama Cilla pada anaknya, Biyan, saat Yeti, pacarnya Biyan sudah pulang.
Biyan, hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari mamanya, mama Cilla. Dia justru asyik berkirim pesan dengan pacarnya, yang masih ada di perjalanan pulang, karena dia tidak bisa mengantarnya pulang.
"Biyan!" teriak mama Cilla, memangil nama Biyan, karena orang yang sedang diajak bicara justru tidak mendengar dan bermain-main dengan handphonenya.
"Hemmm... kenapa Kamu jadi begini? Ahhh, aku tidak habis pikir!" teriak mama Cilla,yang menjadi kesal dan uring-uringan sendiri.
"Aku ke kamar duku Ma," pamit Biyan pada mamanya, tanpa menghiraukan pertanyaan dan panggilan dari mama Cilla.
Biyan yang dulu pendiam dan penurut, sudah tidak tampak lagi. Yang ada, pemuda yang sedang jatuh cinta tanpa memakai syarat dan logika dari akal. Mungkin yang orang bilang bahwa cinta itu buta, sedang dialami oleh Biyan saat ini.
Mama Cilla, jadi tertegun seorang diri di sofa ruang tamu. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Mas, bagaimana ini anakmu?" tanya mama Cilla sendiri dalam hati, mengeluh pada suaminya yang sedang tidak ada di rumah.
"Nya, Nyonya."
Bibi pembantu memangil mama Cilla yang terdiam di tempat. Bibi pembantu pikir, mama Cilla linglung dan tidak sadarkan diri. Apalagi, saat di panggil, mama Cilla juga tetap diam dan tidak menyahut.
"Nya. Nyonya!" panggil bibi pembantu lagi, sambil menggoyang-goyang tangan mama Cilla.
"Eh, iya Bi. Ada apa?" tanya mama Cilla, tergagap. Dia yang baru saja melamun, kaget saat tangannya di goyang-goyang bibi pembantu.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya bibi khawatir.
"Emhhh, tidak apa-apa Bi. Tolong buatkan teh hangat ya Bi," jawab mama Cilla, sambil memijat keningnya sendiri.
Bibi pembantu mengangguk, kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke arah dapur, untuk membuatkan teh hangat pesanan mama Cilla.
Handphone mama Cilla bergetar, karena ada telpon yang masuk. Ternyata, di layar handphone tertera nama suaminya, papa Gilang.
__ADS_1
..."Ya Mas."...
..."Kamu ada di rumah Sayang?"...
..."Iya ada di rumah. Kenapa?"...
..."Bisa ke rumah Jeny sekarang?"...
..."Ada apa dengan Jeny Mas? Dia tidak kenapa-kenapa kan?" ...
Mama Cilla panik, saat papa Gilang meminta dirinya untuk pergi ke rumah Jeny. Dia berpikir, jika anaknya itu sedang dalam masalah.
..."Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin Kamu ke sana saja. Kasihan dia sendiri. Dimas lagi tugas dan sudah tidak ada Elisa yang bisa menemaninya juga kan?" ...
..."Ya Mas. Nanti Aku ke sana."...
..."Tapi jika Kamu capek, tidak usah ke sana tidak apa-apa. Biar Jeny saja yang Aku minta datang ke rumah."...
..."Ya sudah, nanti hati-hati ya."...
..."Ya Mas."...
Klik!
sambungan telpon tertutup. Mama Cilla menghela nafas panjang dan memejamkan mata. Dia pikir, Jeny sedang ada masalah, sehingga menelpon papanya, dan meminta untuk ditemani. Hal ini tidak biasanya terjadi pada Jeny.
"Kenapa permasalahan datang silih berganti?" keluh mama Cilla, sambil menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.
Tak lama, bibi pembantu datang dari arah dapur membawakan teh hangat pesanan mama Cilla. "Ini Nya, teh hangat_nya," kata bibi menawarkan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Bi. Tolong bilang sama pak supir yang ada di paviliun, untuk mengantar Saya ke rumah Jeny."
Bibi pembantu, mengangguk-angguk saja dengan perintah nyonya besarnya itu. Sekarang, dia tidak kembali ke dapur, tapi keluar rumah, kemudian berjalan menuju ke paviliun yang ada di sebelah, untuk memberitahu supir, jika ada tugas untuknya.
Mama Cilla meminum tehnya seteguk demi seteguk. Dia mencoba untuk tenang dan berpikir jernih dalam mengahadapi berbagai masalah yang terjadi saat ini. Terutama masalah anaknya, Biyan, yang dia pikir itu tidak normal.
*****
Di bandara new Delhi, India.
Pesawat pribadi yang ditumpangi oleh Elisa dan Aji, sudah mendarat dengan selamat. Mereka berdua dipersilakan untuk turun dan langsung naik ke mobil yang sudah siap berada di sisi pesawat. Karena waktunya mereka berdua tiba di bandara sudah tengah malam, dan ada perlakuan khusus untuk pesawat pribadi milik tuan besar Sangkoer Singh, jadi pihak bandara tidak ada yang ikut campur dalam urusan pesawat tersebut.
"Kita tidak melakukan prosedur sebagai pendatang, seperti cek paspor dan visa atau yang lain Kak?" tanya Elisa memastikan. Dia pasti heran dengan perlakuan khusus ini.
"Tidak perlu. Semua sudah terekam di laporan khusus pada pihak bandara dari pesawat itu," jawab Aji, sambil mendongakkan wajahnya menunjuk ke pesawat yang tampak sangat gagah pada malam hari.
Elisa, mengangguk paham. Dia merasa sangat kagum dengan pengaruh yang dimiliki oleh ayah angkat dari suaminya itu. Dia pikir, dia akan menemui seorang sultan atau raja di India ini nanti. Tapi, ada ketakutan juga di dalam hatinya. Dia merasa tidak ada apa-apanya, jika sudah berkaitan dengan soal materi.
"Kak. Apa Aku akan diterima di keluarga ayah Sangkoer Singh?" tanya Elisa memastikan. Dia terlihat khawatir, dan itu jelas terlihat dari raut wajahnya.
Aji menggenggam tangan istrinya untuk menenangkan hatinya. Dia juga sebenarnya memiliki perasaan yang sama, karena jika di bandingkan dengan keluarga papa Gilang, tuan besar Sangkoer Singh masih berada jauh di atas.
"Tidak apa-apa. Ayah orang yang baik. Dia tidak akan memandang menantunya sendiri dengan sebelah mata. Apalagi, kita datang ke sini juga karena undangan darinya."
Akhirnya Elisa merasa lebih lega. Dia akan berusaha untuk bersikap baik dan tidak akan membuat malu suaminya, yaitu Aji Putra.
Perjalanan dari bandara ke istana ayah Sangkoer Singh, membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit. Dan sekarang ini, mobil yang mereka tumpangi baru saja memasuki gerbang luar rumah. Masih ada gerbang masuk yang menghubungkan dengan rumah utama.
"Jauh sekali dari gerbang tadi. Apa tidak capek para pembantu, jika harus pergi ke luar rumah dan kembali ke rumah lagi? Pasti membutuhkan waktu lebih dari seperempat jam." Elisa, justru sibuk menghitung waktu perjalanan para pembantu yang ada di rumah besar bak istana ini, jika ada keperluan ke luar. Dia menggeleng sambil bertanya kepada suaminya, "Apa harus seperti ini, rumah-rumah orang kaya di India?"
__ADS_1
"Hai, kenapa Kamu repot berpikir Sayang? Kita tidak tahu, bagaimana budaya mereka. Kita juga tidak tahu, apa yang menjadi alasan utama rumah-rumah besar nan mewah di India seperti ini. Nanti, akan Kamu temukan banyak rumah yang sama seperti rumah ayah di India ini. Bahkan di Indonesia, orang-orang kaya juga sudah banyak yang memiliki rumah seperti punya ayah Sangkoer Singh, dengan gerbang dan pintu yang banyak dan membingungkan para tamunya."
Jawaban yang diberikan oleh suaminya itu, membuat Elisa mengangguk. Dia jadi merasa kampungan karena harus merasa heran, dengan kelakuan orang-orang kaya, yang menghabiskan uangnya untuk membangun sebuah istana. Bahkan, istana itu kadang malah lebih banyak menganggur karena tidak ditinggali.