Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Melamar Elisa


__ADS_3

Malam telah datang. Reo dan Elisa, benar-benar datang memenuhi undangan Jeny tadi pagi.


"Malam semua..." salam Elisa, begitu masuk ke dalam rumah dan melihat penghuni rumah yang sedang duduk-duduk di ruang tengah.


"Malam Om, Tante, semuanya," sapa Rio, dengan mengangguk sebagai buat semuanya.


Mereka berdua, Elisa dan Rio, menyalami mama Cilla dan papa Gilang bergantian.


Jeny, datang dari arah kamar, dan langsung berteriak memanggil nama Elisa.


"Elisa! Ihsss... kangen tahu!"


Jeny, memeluk Elisa dengan erat, begitu sampai dihadapan Elisa.


"Iya... iya, Aku juga kangen Jen." Elisa, menyahut dengan tergagap, karena merasa sesak dipeluk dengan erat oleh Jeny.


"Eh, Kamu kenapa jadi gagap?" tanya Jeny bingung.


"Ini, terlalu erat."


"Oh... hehehe, maaf."


Kini, semua orang duduk di sofa ruang tengah, sambil menunggu waktu untuk makan malam tiba. Menunggu Vero dan Biyan, yang belum selesai mengerjakan tugas sekolah mereka.


"Aku ada oleh-oleh buat kalian berdua," kata Jeny pada Elisa dan Rio.


"Wah, Aku dapat jatah juga ya?" tanya Rio, dengan wajah berbinar senang.


"Dapat kok, meskipun cuma celana kolor. Hahaha..." Jeny, tertawa lepas karena jawaban sendiri.


Elisa, ikut tersenyum terkikik geli mendengar jawaban dari Jeny, "hihihi... kolor buat renang Rio."


"Haduh... bagaimana bisa, oleh-oleh dari Bali hanya kolor buat renang?" tanya Rio, dengan tersenyum miring.


"Masih untung, Aku kasih kan? padahal, kamu bisa saja beli sekalian yang jual juga," jawab Jeny, yang merasa yakin, jika Rio juga mampu segalanya, secara dia juga pengusaha sukses, tidak hanya ayahnya saja.


"Ada apa ini? kok ada kolor-kolor segala di sebut," tanya dokter Dimas, yang datang dari arah kamarnya.


"Eh, pak dokter. Malam pak dokter," sapa Rio, dengan meringis.


"Dok, gimana honeymoon_nya?" tanya Elisa ingin tahu.


"El, apaan sih!" Jeny, melarang Elisa yang sedang bertanya pada suaminya, dokter Dimas.

__ADS_1


"Lah... apa emang?" tanya Elisa, bingung dengan perkataan Jeny.


"Besok juga Kamu merasakan sendiri jika Sudja nikah sama kakak," jawab Jeny dengan berbisik-bisik pelan di telinga Elisa.


"Eh, emang apa?" tanya Elisa lagi.


"Sudah-sudah. Kalian ini, bisa saja bikin heboh. Hehehe..." mama Cilla menengahi keduanya, Elisa dan Jeny, agar tidak lagi berdebat.


"Itu Vero dan Biyan sudah datang. Kuta tinggal menunggu Aji," kata papa Gilang memberitahu.


"Oh iya, kak Aji kemana?" tanya Elisa, yang baru sadar jika Aji tidak ada di antara mereka semua.


"Kamu ini calon istrinya, tapi tidak tahu, jika kakak tidak ada di sini sedari tadi." Jeny, protes pada Elisa.


"Hehehe... udah ketemu Kamu, jadi lupa segalanya," jawab Elisa beralasan.


"Huh, alasan saja!"


Rio, mencibir jawaban dari Elisa yang memang tidak pernah terlihat perhatian pada sekitarnya, jika sedang sibuk dengan urusannya sendiri.


*****


Rio, sudah pamit pulang terlebih dahulu setelah selesai makan malam. Elisa, tidak ikut bersamanya, karena akan diantar oleh Aji nanti.


"Iya, sama-sama Rio. Hati-hati ya di jalan!"


Mereka bersalaman, dan Rio juga berpamitan pada Elisa bersama dengan yang lainnya juga.


"El, Aku duluan ya. Kamu segera diresmikan saja. aku takut, jika lama-lama, bisa-bisa Aku yang akan mendahului kak Aji, karena ayahku, sudah suka sama Kamu sebagai menantunya nanti."


Elisa, kaget mendengar perkataan Rio, yang berpamitan dan berbisik pelan di telinganya.


"Tidak usah kaget. Aku hanya ingin Kamu bahagia, jadi jangan kelamaan," kata Rio lagi, kemudian ganti pamit pada Jeny.


"Jen. Terima kasih ya oleh-olehnya. Cepat kasi Aku keponakan, hehehe..."


"Iya. Gampang itu," jawab Jeny dengan tersenyum malu.


"Rio duluan Kak," pamit Rio pada Aji.


"Ya," jawab Aji pendek. Dia tidak tahu apa yang tadi dibisikkan oleh Rio pada Elisa, tapi dia merasa tidak suka melihat sikap Rio yang terlalu dekat dengan Elisa.


"Aku akan melamarmu besok ke rumah. Jika papa tidak bisa, Aku akan datang sendiri ke kampungmu El," kata Aji dalam hati.

__ADS_1


Dia tidak ingin, jika ada orang lain yang mendahuluinya terlebih dulu untuk mendapatkan Elisa dengan memintanya pada bapaknya di kampung. Aji juga takut, karena rumah Rio, masih satu daerah dengan Elisa. Siapa tahu, ayahnya Rio, sudah berencana untuk mendahului, dengan datang ke rumah Elisa terlebih dahulu.


Setelah Rio pulang, Aji segera meminta pada papanya, Gilang, untuk melamar Elisa secara resmi pada bapaknya.


"Pa. Aji mau minta Papa datang ke rumah Elisa di kampung. Untuk melamar Elisa." Aji berita dengan wajah serius, meskipun terkesan datar.


Papa Gilang, dan semua yang ikut mendengar permintaan Aji, kaget. Mereka tidak menyangka, jika Aji akan mengatakannya secepat itu.


"Besok?" tanya Papa Gilang, tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi.


"Ya," jawab Aji cepat.


"Kan harus ada persiapan Sayang," kata mama Cilla membuat Aji menoleh kearahnya.


"Ma. Kita melamar Elisa, hanya untuk memastikan niat Aji ini tidak hanya main-main. Nanti, sebulan lagi, Aji ingin resmi menikah. Lamaran bisa dilakukan sama dengan yang Jeny lakukan. Jadi satu, karena kita juga tinggalnya jauh dan butuh persiapan."


Aji mengatakan rencananya. Dia tidak ingin menunda lebih lama lagi, untuk mendapatkan Elisa sebagai istrinya.


"Apa kak Aji mendengar perkataan Rio ya?" tanya Elisa bingung, dalam hatinya sendiri.


Dia menatap Aji, yang juga sedang melihat kearahnya.


"Kamu siap kan El?" tanya Aji pada Elisa, yang tentu saja jadi gagap dan tidak bisa menjawab pertanyaan darinya.


"Diam artinya mau," kata Vero memecah keheningan. "Iya kan Kak El?" tanya Vero, melanjutkan kata-katanya yang tadi.


Elisa menunduk. Dia tidak bisa menjawab dengan cepat, sehingga ini diartikan sebagai jawaban 'ya' atas permintaan Aji padanya.


"Besok aku akan datang ke rumahmu. Kita pulang, dan bilang pada bapakmu, jika kita akan segera menikah bulan depan."


"Aji. Tidak seperti itu juga Nak. Kita silaturahmi pada keluarga Elisa juga harus ada pemberitahuan." papa Gilang memberikan penjelasan pada Aji.


"Dulu Papa tidak begitu. Papa juga mendesak Mama untuk menerima lamaran Papa kan?"


Papa Gilang dan mama Cilla diam, saat Aji mengingatkan mereka pada kejadian saat itu. Mereka tahu, jika Aji tentu masih ingat betul, bagaimana kisah mereka dimulai.


"Baiklah. Kita akan berangkat besok pagi. Elisa, kamu bisa mengabari bapakmu malam ini."


Akhirnya, papa Gilang menyerah dan ikut kemauan Aji. Dia tidak mau, jika keinginan anaknya itu, akan membawa dampak yang tidak baik jika tidak dia turuti.


"Asyik... besok Vero ikut ke rumah kak El di kampung!" teriak Vero kegirangan.


"Tidak ada yang ikut. Cuma Aku, Papa dan Mama, serta Elisa yang akan berangkat."

__ADS_1


Keputusan yang diambil oleh Aji, membuat semuanya terdiam, termasuk Jeny yang baru saja ingin mengatakan keinginannya untuk bisa ikut serta. Begitu juga dengan Vero, yang tadi sudah kegirangan. Dia merasa kecewa dengan keputusan yang diambil kakaknya itu.


__ADS_2