Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tidak Tahu


__ADS_3

Aji, sudah dilarikan ke rumah sakit, dimana dokter Dimas bertugas. Dia di rawat secara intensif di ruang IGD oleh dokter dan juga dokter Dimas yang tadi menunggu mereka, karena sudah diberi kabar Jeny, saat masih dalam perjalanan.


Jeny, Elisa dan Rio menunggu dengan wajah-wajah cemas karena khawatir dengan keadaan Aji.


"Rio. Mobil Kamu jadi masih tertinggal di kampus. Maaf ya," kata Jeny, saat ingat jika mobil yang mereka bawa tadi mobil Aji, sehingga mobil Rio masih ada di kampus.


"Gak apa-apa. Tetap aman di sana, sampai seminggu juga aman. Paling Security yang bingung, kenapa ada mobil ngangur di kampus? hehehe..."


"Iyalah ngangur. Buat apa juga, bus aja banyak kok di punya," kata Elisa dengan datar, kemudian di melanjutkan kata-katanya lagi, "Oh iya, kan Kamu mau ke pangkalan armada. Gak jadi?" tanya Elisa, saat ingat dengan perkataan Rio sebelum kejadian tadi.


"Udah kasih kabar kok," jawab Rio biasa saja.


"Oh, syukurlah."


"Syukur kalau begitu."


Jeny dan Elisa, berbarengan menanggapi jawaban dari Rio.


"Kalian ini, cocok deh jadi saudara meskipun tidak kembar," kata Rio, kemudian duduk di kursi tunggu. Dia merasa capek saat semuanya sudah terlewati.


"Terima kasih ya Rio." Jeny ikut duduk dan berterima kasih pada Rio.


"Buat apa?" tanya Rio dengan wajah bingung.


"Karena sudah membantu mengantar kakakku ke rumah sakit ini," jawab Jeny.


"Ya Rio. Aku juga berterima kasih pada Kamu."


"Buat apaan El?" tanya Rio bingung, karena Elisa ikut-ikutan, mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Karena berkat bantuan dari Kamu, Aku bisa mengatasi permasalahan di kampus. Dan tadi, Kamu juga mintain pada ayah Kamu agar Aku bisa bantu-bantu di armada bus Kamu yang baru."

__ADS_1


"CK. Biasa kali. Kayak sama siapa aja Kamu ini. Tapi ingat, buruan di ganti kalau ada," kata Rio mengingatkan, tapi segera mencubit ujung hidung Elisa dan berkata, "canda El. Jangan dimasukin hati, ke jantung saja ya!"


"Ogah bener. Masukin ke mulut aja, biar kenyang mengingat perkataan Kamu terus!" jawab Elisa dengan mencibir.


"Jen. Bagaimana kakak Kamu?"


Dari arah pintu masuk, mama Cilla dan papa Gilang datang dengan tergesa-gesa. Tadi saat papa Gilang baru saja sampai di rumah, karena sudah ada janji dengan istrinya itu untuk pulang siang, justru mendapat kabar dari dokter Dimas, jika Aji jatuh dan pingsan, dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit diantar oleh temannya Jeny. Akhirnya, papa Gilang langsung mengajak mama Cilla, untuk pergi ke rumah sakit.


"Ma, Pa. Kakak masih di dalam dan di periksa."


"Kok bisa jatuh, bagaimana ceritanya?" tanya mama Cilla dengan khawatir.


"Sayang, sabar ya. Kita duduk dulu," ajak papa Gilang, dengan menegang kedua bahu mama Cilla, kemudian mendudukkannya.


Rio berdiri, begitu juga dengan Elisa. Mereka menepi, agar mama Cilla bisa duduk dengan lebih leluasa untuk membuat dirinya lebih tenang.


"Ma. Tadi kakak tiba-tiba tersandung kakinya sendiri, kemudian terbentur bemper mobil, dan gak tahu tiba-tiba pingsan gitu. Ya kita panik, terus bawa kakak ke rumah sakit ini," kata Jeny menerangkan pada mamanya.


"Ma. Dimas ada di dalam. Jangan khawatir ya," kata papa Gilang lagi, dengan mengusap-usap lengan istrinya itu.


"Aku khawatir Mas. Aji kan masih dalam masa pemulihan dari amnesianya, Aku takut terjadi sesuatu padanya. Hiks, hiks..."


Mama Cilla, justru tersedu saat ditenangkan oleh suaminya. Dia tidak bisa menahan air matanya agar tidak mengalir dari tempatnya.


Setelah beberapa lama kemudian, dokter Dimas keluar ruangan. Dia tampak lelah dan mengusap peluh yang ada di keningnya.


"Dim," sapa papa Gilang, dengan wajah cemas.


"Om, kakak?" Jeny bertanya dengan cepat.


"Dokter Dimas, bagaimana keadaan Aji?" tanya mama Cilla cepat, kemudian berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


Elisa dan Rio, tidak ikut bertanya kepada dokter Dimas. Mereka pikir, nanti dokter Dimas juga akan memberitahu sendiri, bagaimana keadaan Aji sekarang ini.


Dokter Dimas, tersenyum melihat semuanya. Dia terlihat tenang, dengan wajahnya yang tetap terlihat muda, dan tidak menunjukkan usia yang sebenarnya.


"Aji baik-baik saja. Dia hanya terbentur bemper mobil, dan lukanya tidak serius. Tadi agak lama, karena kami, tim dokter, sedang memeriksa beberapa bagian syaraf-syaraf yang berhubungan dengan memory ingatannya. Semoga saja, semuanya baik dan setelah ini, Aji akan mengingat semua kejadian yang tidak dia ingat kemarin-kemarin. Tapi bisa jadi, yang baru dia alami kemarin, saat dia amnesia dan belum pulih benar, tidak dia ingat. Baik nama orang-orang baru, atau kejadian yang baru."


Keterangan dan penjelasan dari dokter Dimas, membuat semua orang menjadi sedikit lebih lega. Tapi, berbeda dengan Elisa. Dia tampak cemas karena bisa jadi, Aji ingat semuanya yang dulu, tapi lupa dengan dia, yang baru di kenal Aji setelah dia amnesia. Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Elisa segara menetralkan kembali raut wajahnya agar tidak terlihat oleh yang lain.


"El. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Rio dengan berbisik, saat melihat perubahan pada wajah Elisa, meskipun hanya sebentar saja.


"Aku... ya, Aku baik-baik saja."


Rio tahu, Elisa merasakan kecemasan pada dirinya sendiri saat ini. Rio juga tahu jika Elisa takut, Aji akan lupa tentang dirinya. Semua tentang mereka berdua.


"Jangan takut. Aku yakin, kakaknya Jeny itu mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Dia tidak akan melupakan dirimu, meskipun dia melupakan semua orang. Kamu tidak ingat, saat dia lupa dengan wajah Jeny, justru dia ingat Kamu." Rio, berusaha untuk menenangkan hati dan pikiran Elisa.


"Ini beda cerita Rio," kata Elisa menyangkal.


"Tidak ada bedanya. Kamu kan tahu, kak Aji itu juga berbeda dengan cowok lain, seperti Kamu yang juga berbeda dengan cewek lainnya."


"Kamu ini menghiburku atau meledekku?" tanya Elisa curiga.


"Keduanya sih, tapi jangan teriak. Bisa-bisa, Kamu di pecat jadi menantu dan iparnya Jeny, sebelum resmi," kata Rio mengingatkan Elisa, agar tetap berbicara dengan berbisik saja.


"Huh. Kamu itu yang aneh Rio," kata Elisa dengan wajah cemberut.


"Jangan cemberut. Nanti, Jeny merasa Kamu tidak ada simpati dan hanya bisa bercanda saja."


"Ya sudah. Diam saja kalau begitu. Jangan ajak Aku bicara lagi!"


Mereka berdua, berbincang-bincang dengan suara pelan dan berisik satu sama lain. Rio ingin menghibur Elisa, agar tidak terlalu cemas dengan keadaan Aji yang belum ketahuan bagaimana setelah sadar nanti. Sedangkan Elisa, ingin membuang rasa cemasnya itu, dengan berbincang dengan Rio. Dia ingin melupakan kekhawatiran yang sedang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2