Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Permasalahan Yang Ada


__ADS_3

Ruangan yang ada di lantai atas, tidak begitu luas di banding dengan ruangan yang berada di lantai bawah. Hanya ada sofa ukuran besar untuk keluarga, yang jarang juga di pakai untuk berkumpul.


Mereka, keluarga papa Gilang, lebih suka berbincang-bincang di ruang tengah yang ada di lantai bawah. Selain ukurannya yang lebih besar, letaknya juga strategis. Lebih dekat dengan dapur dan ruang tamu. Lenih dekat juga dengan teras samping, sehingga bisa melihat dengan jelas keluar rumah.


Itulah sebabnya, ruang tengah yang ada di lantai bawah, menjadi ruang favorit untuk berbagai kegiatan, terutama untuk berbincang-bincang, bagi semua anggota keluarga di rumah ini.


Sekarang, Aji melihat ke sofa yang ada di lantai dua. Di sana, ada mama Cilla, kedua adik kembarnya, Vero dan Biyan. Tapi tidak ada istrinya, Elisa.


Mereka bertiga, tidak menyadari kalau Aji sudah datang, dan ada di antara mereka juga. Aji, tidak menyapa mereka semua, tidak bersuara dan tidak juga memangil satu diantara mereka. Dia hanya diam, di anak tangga yang ke tiga sebelum sampai di lantai atas.


Aji, masih berusaha untuk mengamati dan mendengar perbincangan antara mama dan kedua adik kembarnya itu. Dia ingin tahu, apa yang sedang mereka bahas, karena ini tidak biasanya. Mereka, biasa berbincang dan membahas sesuatu di ruang tengah.


"Biyan, katakan pada Mama, apa yang Kamu rasakan saat ini? Mama tidak mau ya, kalau ini sampai ketahuan kakak kalian, Aji."


Mama Cilla kembali berkata, dan juga bertanya pada anaknya, Biyan. Vero, hanya diam dan menunduk tanpa berani berbicara seperti biasanya.


"Ma. Ini tidak salah. Apa yang salah? Perasaan ini muncul begitu saja, mana Biyan tahu?" jawab Biyan panjang.


Aji, mengerutkan keningnya, melihat dan mendengar adiknya, Biyan, menjawab pertanyaan mamanya. Dia tidak pernah mendengar perkataan panjang Biyan selama ini, karena adiknya yang satu itu, memang pendiam dan jarang sekali berbicara seperti saat ini.


"Tapi ini salah Biyan. Kamu tahu sendiri, bagaimana over protektif_nya kakak Kamu Aji, pada istrinya, Elisa. Bisa-bisa, Kamu di hajar nanti," kata mama Cilla dengan khawatir, melihat kelakuan anaknya, Biyan.

__ADS_1


Aji, yang mendengar namanya dan nama istrinya di sebut-sebut, menjadi semakin penasaran. Dia berusaha untuk menajamkan pendengarannya, agar lebih jelas lagi, mendengar perkataan mamanya dengan Biyan.


"Besok pulang sekolah, kita ke psikiater. Mama ingin Kamu berkonsultasi agar bisa mengatasi perasaan Kamu ini," kata mama Cilla lagi, pada Biyan.


"Tidak mau. Ini normal Ma. Kak Jeny juga, dia mencintai laki-laki yang jauh lebih tua, dari pada Mama sendiri. Jika sekarang Biyan mempunyai rasa yang sama, kenapa harus disalahkan, dan dianggap mempunyai kelainan Oedipus complex. Berarti, kak Jeny, juga memiliki kelainan Electra complex."


Biyan, masih berusaha untuk membela diri. Dia tidak ingin disalahkan hanya karena menyukai kakak iparnya sendiri, yaitu Elisa.


"Tapi dokter Dimas masih sendiri, dia lajang dan itu tidak salah. Kamu? Elisa itu istrinya kakakmu Aji, dia kakak iparmu, itu yang salah!


untungnya, saat ini Elisa sedang ke kampus, diantar supir tadi, coba kalau ada di rumah, dia pasti akan telpon kakakmu Aji, untuk bisa kembali ke apartemen atau entah kemana, yang penting tidak ada di rumah ini lagi. Dia pasti merasa bersalah, karena menjadi penyebab kelainan kalian berdua," kata mama Cilla, dengan marah. Padahal selama ini, dia orang yang sabar dan tidak pernah terlihat marah pada siapapun.


"Vero gak Ma. Vero cuma iseng saja suka usil ke kak El, dan itu bukan karena perasaan yang sama seperti yang dimiliki Biyan. Diam-diam ternyata..."


Sekarang, Aji bisa menyimpulkan permasalahan apa yang sedang mereka bicarakan. Dia turun lagi ke bawah, tanpa menimbulkan suara.


"Ternyata, apa yang aku curiga salah. Aku berpikir jika yang selama ini memata-matai Elisa itu Vero yang banyak tingkah, malah Biyan yang tidak ada suaranya yang melakukan semua ini. Aku harus bisa membantu mama untuk penyembuhan Biyan. Meskipun mereka tidak tahu, jika Aku sudah mendengar semua pembicaraan mereka tadi," batin Aji, dengan melangkah lagi menuju ke garasi mobil, dan pura-pura baru saja datang, dengan membunyikan klakson.


*****


Kelainan Biyan ini, diketahui oleh Vero. Tadi, saat dia sedang mencari keberadaan kembarannya itu. Saat dia masuk ke dalam kamar, Vero melihat Biyan yang sedang berada di balkon, dengan handphone yang ada di tangannya, sedang menampilkan gambar video, antara Elisa dengan Jeny, kakak mereka berdua.

__ADS_1


Dari layar handphone yang di lihat Vero, kembarannya itu, sedang menonton video Elisa, yang sedang berbincang-bincang dengan kakaknya, Jeny.


Foto-foto Elisa, yang ada di galeri handphone milik Biyan juga ada banyak. Foto-foto itu diambil, jauh sebelum Elisa menjadi istri Aji. Bahkan, ada juga beberapa yang masih terlihat imut, dan itu bisa dipastikan jika waktunya lebih dari empat atau lima tahun yang lalu, yang berarti adalah waktu dimana Aji belum kembali ke Indonesia. Jadi bisa dipastikan jika, Biyan sudah memiliki rasa pada Elisa sedari dulu.


Aji tidak habis pikir, jika umur Biyan yang waktu itu masih anak-anak SMP, sudah memiliki rasa pada Elisa, yang notabene adalah teman kuliah kakaknya, Jeny. Berarti benar kata mamanya, jika Biyan ada kelainan.


Jika Jeny di anggap memiliki kelainan, masih bisa di maklumi dan dianggap normal sebagian masyarakat, karena dokter Dimas masih sendiri dan belum berkeluarga. Tapi Biyan, dia jatuh cinta dengan kakak ipar sendiri, istri dari kakaknya, Aji.


Tapi, Aji kembali berpikir jika Biyan juga tidak bisa disalahkan begitu saja. Perasaan yang dia miliki ada, sejak dulu, jauh sebelum Elisa menjadi istri Aji.


Sekarang Aji hanya ingin melihat keluarganya rukun dan sehat, dari segi fisik maupun psikis. Aji, akan mengajak Elisa untuk menjauh dari adik-adiknya itu, agar bisa menjalani proses penyembuhan terapinya secara maksimal.


"Aji, baru datang?" mama Cilla muncul, saat Aji baru saja membuka pintu mobil, seakan-akan baru saja datang dari tugasnya.


"Iya Ma. Kok sepi, pada kemana?" Tanya Aji, begitu dia sudah turun dan menyalami mamanya, kemudian mencium kedua pipi mama Cilla seperti biasanya.


"Pada dibelakang mungkin. Kalau Elisa, tadi berangkat ke kampus, diantarkan supir, sedangkan Vero dan Biyan, ada di kamar. Ayo masuk, Kamu pasti capek kan? mama buatkan minuman," ajak mama Cilla, pada Aji.


"Tidak Ma, terima kasih. Kalau begitu, Aji nyusul Elisa saja ke kampus. Mungkin, malam ini kita akan langsung pulang ke apartemen kok," jawab Aji, menolak tawaran mamanya, dengan halus.


"Lho, baru juga datang, pasti capek. Nginep dululah, semalam apa dua malam. Kami kan juga kangen pengen ngobrol-ngobrol dengan Kamu," ucap mamanya, dengan tenang. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu saat ini.

__ADS_1


"Iya Ma. Nanti Aji bicara dulu dengan Elisa ya. Sekarang Aji pamit ke kampus," jawab Aji, kembali menyalami mamanya, untuk berpamitan menyusul istrinya, ke kampus Elisa, sekarang juga.


__ADS_2