Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kebiasaan Aneh Mr Vijay


__ADS_3

"Selamat sore, Mr Vijay," sapa Dokter Dimas, begitu dia masuk ke dalam kamar pasien dengan fasilitas lengkap bak kamar hotel tersebut.


"Sore Dok," jawab Mr Vijay singkat dan datar.


Asisten Mr Vijay, yang sedang duduk sambil mengerjakan tugas melalui laptop yang ada dipangkuannya, mendongak, begitu ada dokter yang datang untuk memeriksa.


"Selamat sore Dokter," sapa asisten Mr Vijay ramah.


Dokter Dimas, mengangguk sambil tersenyum melihat ke arah asisten Mr Vijay. Dia menilai, jika asisten Mr Vijay ini adalah orang yang berkebalikan dengan atasannya.


"Permisi. Saya mau memeriksa kondisi Mr Vijay. Saya Dokter ahli dalam. Siapa tahu, penyakit kepala yang sering Mr Vijay alami, ada hubungannya dengan bagian organ dalam."


Mr Vijay memicingkan matanya, seakan sedang menyelidik, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Dimas. Dia merasa, jika selama ini tidak mengalami keluhan apa-apa pada tubuhnya, kecuali bagian kepalanya saja.


"Tapi Mr Vijay tidak pernah mengeluh tentang apapun, kecuali bagian kepalanya saja," kata asisten Mr Vijay.


"Ya Saya tahu. Tapi bisa jadi, ada syaraf yang terhubung dengan organ bagian dalam, yang ikut terkena dampak juga. Jika diijinkan, Saya akan mengambil sedikit darah Mr Vijay, untuk test laboratorium, agar bisa jelas apa penyebab dari seringnya Mr Vijay merasakan sakit kepala yang amat sangat."


Penjelasan ringkas Dokter Dimas, membuat asisten Mr Vijay menganggukkan kepalanya mengerti. Tapi berbeda dengan Mr Vijay sendiri. Dia yang tidak suka jika disentuh oleh orang yang tidak di kenal merasa waspada.


Mr Vijay, seakan-akan tidak mau, jika Dokter Dimas, mengambil sampel darahnya untuk test laboratorium yang akan dilakukan.


"Tenang Mr Vijay. Ini hanya pekerjaan Dokter. Dia juga harus membuat laporan terkait pasien yang dia tangani. Bukankah, setiap rumah sakit juga ada peninjauan audit setiap tahunnya, untuk memastikan bahwa, rumah sakit tersebut memang menjalankan prosedur keselamatan dan kesehatan untuk pasiennya?" kata asisten Mr Vijay, menjelaskan pada atasannya yang masih terlihat ragu.


"Tapi Kamu sudah tahu, apa yang menjadi penyebab sakit kepala, yang Aku alami ini," kata Mr Vijay pada asistennya. Dia, masih belum bisa menerima, jika ada orang asing yang ingin menyentuhnya.


"Apa Anda bisa menyuntik diri Anda sendiri, untuk mengambil sampel darah?" tanya Dokter Dimas, menebak.


Perkataan Dokter Dimas itu, membuat Mr Vijay dan asistennya mengerutkan dahi. Mereka berdua, tidak menyangka jika Dokter Dimas tahu akan hal itu. Padahal, tidak banyak orang yang tahu, jika Mr Vijay adalah, seorang ahli laboratorium yang sering mengadakan uji coba obat untuk kecantikan, dan juga pewarna pakaian untuk tekstil perusahaan mereka. Tapi itu dulu, sebelum Mr Vijay mengalami koma. Jadi sekarang, dia sudah tidak lagi melakukannya uji coba dan perkerjaannya di laboratorium pribadi milik mereka di India sana.


"Tidak bisa," jawab Mr Vijay dingin.


"Mr Vijay. jika Anda tidak keberatan, biar Saya yang mengambil sampel darah Anda," kata asisten Mr Vijay, menawarkan diri.

__ADS_1


"Ya," jawab Mr Vijay pendek.


Dokter Dimas, menghela nafas panjang. Dia merasa lega, karena akhirnya, berhasil membuat Mr Vijay, mau memberikan darahnya, untuk kepentingan test, yang dia rencanakan bersama dengan Jeny.


*****


Tadi, sebelum Jeny pulang, setelah menerima obat untuk omanya, mereka terlebih dahulu membuat rencana bersama agar bisa melakukan test DNA secepatnya.


"Jika Mr Vijay sudah kembali ke India bagaimana?" tanya Dokter Dimas bingung.


"Itu tugas Om, untuk menyakinkan dia agar tetap berada di Indonesia untuk pengobatannya," jawab Jeny dengan tersenyum miring.


"Lho, kok Om lagi yang repot?" tanya Dokter Dimas bingung. Dia merasa jika Jeny sedang memberinya tugas berat.


"Om... demi Jeny. Please!"


Jeny, meminta kepada Dokter Dimas, dengan wajahnya yang dibuat seimut mungkin. Dia tahu, jika Dokter Dimas mempunyai perasaan lain padanya. Itulah sebabnya, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Jen. Jangan pasang wajah imutmu. Om bisa khilaf," kata Dokter Dimas dengan menatap ke arah Jeny secara intens.


Dokter Dimas, memang belum menikah sampai sekarang. Sedangkan abangnya, tuan Adi, sudah menikah dua kali.


"Baiklah. Om akan coba secepatnya mendapatkan darah dan rambutnya Mr Vijay. Semoga saja, ini ada hasilnya. Aku akan minta imbalan padamu, jika berhasil. Awas saja kalau Kamu kabur!" ancam Dokter Dimas pada Jeny.


"Idihhh... kapan Jeny kabur? Itukan karena mama yang gak boleh. Hehehe..." jawab Jeny cengengesan.


"Sudah sana pulang! Nanti, mama Kamu marah lagi, dikira kita lagi kencan," perintah Dokter Dimas pada Jeny.


"Di usir nih? Beneran?" tanya Jeny tidak percaya, jika Dokter Dimas akan memintanya untuk segera pulang.


"Kalau Kamu ada di sini terus, kapan Om akan pergi ke kamar Mr Vijay?" jawab Dokter Dimas, dengan sebuah pertanyaan juga.


"Jeny pikir, Jeny akan di ajak ke kamar Mr Vijay, agar bisa melihat dia secara dekat," jawab Jeny, dengan nada kecewa.

__ADS_1


"Tidak-tidak. Aku tidak mau, jika ternyata dia bukan Aji, dia malah akan merebutmu dariku!"


"Ihsss..."


Jeny tidak lagi membantah. Dia hanya mencibir perkataan Dokter Dimas. "Ya sudah. Jeny pulang kalau begitu. Sini obatnya oma!" pinta Jeny, sambil mengulurkan tangannya, untuk mendapatkan obat untuk oma Rossa.


"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya! Ini obat oma, dan bilang sama Mama, dapat salam dari calon menantunya. Hehehe..." kata Dokter Dimas, memberi pesan.


"Hemmm..."


Jeny, hanya mengangguk dan tersenyum miring, mendengar perkataan Dokter Dimas, yang tidak pernah putus asa, untuk bisa mendapatkan ijin dari mama Cilla.


Bukan tanpa alasan. Mama Cilla memang tidak suka jika Dokter Dimas, mendekati Jeny. Mereka berdua, Dokter Dimas dan Jeny, mempunyai selisih umur yang sangat jauh. Meskipun, wajah Dokter Dimas tetap terlihat muda, diusianya yang tidak lagi muda.


Tapi sepertinya Jeny tidak merasa risih, jika Dokter Dimas berusaha mendekatinya. Dia merasa nyaman dan aman berada di dekat Dokter Dimas. Selian sopan, Dokter Dimas juga suka bergurau. Dia bisa menghidupkan suasana, dan menghibur Jeny selama ini. Apalagi saat Jeny sendiri dan tidak ada Aji di sampingnya. Tapi, Jeny sendiri belum merasa yakin, dengan perasaan yang ada di dalam hatinya sendiri.


*****


"Terima kasih," kata Dokter Dimas, saat asisten Mr Vijay, menyerahkan suntikan berisi darah Mr Vijay yang dia ambil tadi.


"Sama-sama," jawab asisten Mr Vijay, sambil tersenyum ramah.


"Maaf. Jika tidak keberatan, boleh saya memeriksa kondisi kepala Anda?" tanya Dokter Dimas pada Mr Vijay.


"Buat apa lagi?" tanya Mr Vijay dingin.


"Jika tidak diperiksa, bagaimana Saya bisa tahu, kondisi kepala anda seperti apa?" jawab Dokter Dimas memberikan penjelasan.


"Lalu, untuk apa Anda masuk ke rumah sakit, jika Anda tidak mau diperiksa juga? kalau hanya untuk beristirahat, Saya yakin, hotel atau apartemen mewah Anda pastinya akan lebih nyaman," kata Dokter Dimas lagi.


"Baiklah. Lakukanlah dengan cepat, kemudian pergi. Aku mau istirahat!"


Akhirnya, Mr Vijay memberi ijin juga pada Dokter Dimas, untuk memeriksa kepalanya secara langsung.

__ADS_1


Tentu saja, ini adalah kesempatan yang baik dan tidak akan disia-siakan oleh Dokter Dimas.


__ADS_2