Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Harus Bisa


__ADS_3

Perjalanan mami Rossa dan Cilla ke rumah sakit ternyata tidak lancar dan mudah seperti biasanya. Kali ini ada saja hambatan dan rintangan yang terjadi di jalan.


Saat baru keluar dari kompleks perumahan, sudah ada kecelakaan yang terjadi di depan mereka. Tukang sayur yang membawa gerobak dorong dengan angkot yang kebetulan lewat dan tak bisa menghindar tabrakan tersebut karena remnya ternyata bermasalah.


Lima belas menit berlalu dan pak supir serta yang lain ikut membantu evakuasi korban. Untungnya tidak begitu parah, sehingga tidak perlu ke rumah sakit, hanya pergi ke klinik kecil, yang berada tidak jauh dari tempat kejadian di sekitar kompleks perumahan itu.


Di jalan raya yang menuju ke rumah sakit, mereka harus terkena macet lagi saat melintasi jalur kereta api. Ada kecelakaan yang terjadi, antara metromini yang sedang parkir di senggol truk pasir yang melaju kencang.


"Hari ini ada apa ya? Kok ada saja yang terjadi. Dari pagi mendapat berita tentang GAS, perjalanan kita sudah dua kali melihat adanya kecelakaan."


Mami Rossa bertanya-tanya, dengan semua kejadian yang terjadi dan dia rasakan saat ini.


"Tenang Mi. Semoga tidak terjadi apa-apa, dan semuanya bisa menjadi perhatian kita untuk selalu hati-hati."


Cilla berusaha menenangkan mami Rossa, meskipun dalam hatinya, juga merasakan kekhawatiran yang sama.


"Maaf Nyonya. Saya tidak tahu jika jalanan yang kita lalui akan terjadi kecelakaan. Seandainya Saya tahu, bisa ambil alternatif jalan yang lain."


Pak supir merasa tidak enak hati karena membuat majikannya itu Tidka nyaman hari ini.


"Tidak apa-apa Pak. Saya tidak menyalahkan Bapak kok, cuma ini apa ada hubungannya ya?"


Mami Rossa masih kepikiran dengan semua rentetan kejadian yang dialami dari pagi hingga siang ini dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia berpikir jika ini adalah firasat yang tidak baik.


"Kita berpikir positif saja Mi. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Nanti Mami malah menjadi parno sendiri," kata Cilla mengingatkan pada mami Rossa.


"Hem... Iya. Mami lupa itu. Sebaiknya kita berdoa saja, semoga semuanya baik-baik saja."


Akhirnya mami Rossa merasa tenang lagi. Dia merasa bersyukur karena ada Cilla yang menenangkan diri dan pikirannya. Kini dia tersenyum memandang ke arah Cilla agar calon menantunya itu juga tidak kepikiran lagi karenanya.


*****


Gilang, yang juga sedang berada di perjalanan menuju ke rumah sakit, terhalang oleh operasi lalu lintas di jalan. Operasi yang diadakan oleh pihak kepolisian lalu lintas ini, bertujuan untuk mengingatkan para penguna jalan agar tetap patuh para peraturan dan marka jalan. Tapi tetap saja kemacetan akhirnya terjadi.


"Tidak ada jalan alternatif lain yang lebih cepat Pak?" tanya Gilang pada supirnya.


"Maaf Tuan. Kalau mau memutar sudah terlewat satu kilometer tadi. Saya pikir lewat jalan utama, biasanya jam segini lancar dan tidak ada kemacetan."


"Ya sudah, tidak apa-apa."

__ADS_1


Akhirnya Gilang mencoba untuk tetap bersabar. Dia mencoba menghubungi mami Rossa atau Cilla, untuk mengabarkan jika dia sudah ada di perjalanan dan terjebak kemacetan lalu lintas.


Tak butuh waktu lama, panggilan yang dia lakukan pada mami Rossa segera terhubung, dan di terima oleh mami Rossa.


..."Halo Mi."...


..."Ya Gilang. Kamu sudah sampai di rumah sakit?"...


..."Belum Mi. Ini masih ada di jalan. Ada kemacetan."...


..."Kok sama. Tapi ini ada kecelakaan di jalur rel kereta api."...


..."Bilang sama supir untuk hati-hati Mi. Mungkin Gilang tidak bisa tepat waktu sampai di rumah sakit."...


..."Iya, tidak apa-apa. Kamu juga hati-hati."...


..."Salam buat Cilla Mi. Sampaikan untuk menunggu dengan sabar."...


..."Halah. Bilang saja sendiri."...


..."Ihs, Mami!"...


..."Hehehe..."...


..."Hehehe..."...


*****


Mobil Gilang justru sampai di rumah sakit terlebih dahulu. Tapi, dia belum juga turun dari dalam mobil, karena belum melihat mobil yang ditumpangi oleh mami Rossa dan Cilla, berada di area parkir rumah sakit.


"Apa mereka masih terjebak macet ya?" tanya Gilang dalam hati.


"Coba telpon lagi saja kalau begitu," kata Gilang dengan tersenyum sendiri.


Kali ini dia tidak menghubunginya nomer mami Rossa, tapi nomer handphone milik Cilla. Dia ingin mendengar suara wanita yang dia rindukan saat ini.


Panggilan teleponnya terabaikan untuk beberapa saat, tapi di saat hampir saja dia memutuskan panggilan tersebut dan menggantinya dengan panggilan yang baru, suara Cilla terdengar samar.


..."Halo."...

__ADS_1


..."Eh, halo Honey!"...


..."Kami sudah hampir sampai di rumah sakit."...


Cilla memberikan kabar sebelum di tanya oleh Gilang. Mungkin Cilla berpikir jika Gilang pasti akan menanyakan keberadaannya saat ini. Tapi Cilla tidak berani menyapa Gilang terlebih dahulu dengan sebutan Sayang, seperti yang dilakukan oleh Gilang.


..."Iya, tapi sapaan sayangnya mana?" ...


..."Kita sudah berbelok ke arah rumah sakit."...


..."Ihsss... Honey, jangan mengalihkan pembicaraan, sapa dulu sayangnya ini!" ...


Permintaan Gilang yang aneh, menurut Cilla, tidak didengarkan oleh Cilla. Bahkan hubungan telepon mereka, Cilla putus terlebih dahulu, sebelum Gilang sempat memintanya lagi, untuk menyapa Gilang dengan sebutan sayang.


"Hah! Selalu saja dia mengelak. Malu sih malu, tapi dibiasakan juga nanti gak akan malu lagi."


Gilang terus mengerutu sendiri sambil melihat ke arah handphone miliknya, yang layarnya sudah kembali gelap sedari tadi.


Tak lama, sebuah mobil masuk ke area parkir rumah sakit. Gilang langsung mengenali mobil itu. Dia segera turun dari mobil dan menghampiri mobil tersebut.


"Capek Mi?" tanya Gilang pada mami Rossa yang mengantar Cilla.


"Iya nih, macet lama gitu sih!"


"Mami mau nunggu apa langsung pergi arisan?" tanya Gilang mengingatkan jadwal maminya itu.


"Oh iya, lupa!" kata mami Rossa dengan menepuk keningnya sendiri.


"Honey. Ayo turun! Mami mau langsung pergi ke tempat arisan. Iya kan Mi?"


Gilang mengulurkan tangannya untuk menuntun Cilla keluar dari dalam mobil. Dia mengatakan semua itu untuk mendapatkan dukungan dari maminya.


"Iya Cilla. Mami sudah terlambat ini," kata mami Rossa mengangguk mengiyakan perkataan anaknya, Gilang.


Cilla mengangguk dan tersenyum dengan canggung. Dia mengabaikan uluran tangan Gilang, dan berusaha untuk turun sendiri.


Tapi keberuntungan mungkin memang ada di pihak Gilang. Saat kaki Cilla hampir menjejak tanah, dia terbentur pingiran atap mobil dan sempoyongan.


Dengan sigap, Gilang segera menarik tangan Cilla, dan dengan gerakan reflek, memeluk tubuh Cilla agar tidak terjatuh ke tanah. Cilla diam di dalam pelukan Gilang. Dia tidak berani bergerak, bahkan mungkin, Cilla juga tidak berani untuk mengambil nafas.

__ADS_1


Mami Rossa yang melihat kejadian itu, tersenyum sendiri, sambil mengelengkan kepalanya. Dia segera menutup pintu mobil, dan meminta pada supir untuk segera berlalu dari hadapan mereka berdua. Biarlah mereka berdua membiasakan diri untuk tidak lagi merasa canggung satu dengan yang lainnya.


"Ayo Pak! Antar saya ke Kemang. Arisannya ada di daerah sana."


__ADS_2