Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Rencana Ke India


__ADS_3

Elisa, yang tadi sempat mengantuk saat menunggu suaminya, Aji, kini kembali terang matanya. Dia tidak lagi mengantuk, karena akan mendapatkan oleh-oleh dari Aji, yaitu martabak telur kesukaannya.


Hal sederhana seperti ini, bisa membuat Elisa merasa sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya.


"Kamu perhatian sekali Kak. Aku yang belum bisa mengimbangi, semua yang sudah Kamu berikan ke Aku selama ini." Elisa, berkata seorang diri, di sofa ruang tengah, tempat biasa dia bercengkrama dengan Aji, suaminya.


Sekarang, dia mencari-cari sebuah hadiah yang kira-kira cocok untuk diberikan kepada Aji. "Kira-kira apa ya yang unik dan tidak makan tempat?" tanya Elisa, bertanya dan berpikir seorang diri.


Tapi, dia tidak juga menemukan apa yang dia rasa cocok untuk suaminya itu. Akhirnya, dia merebahkan kepalanya di sofa dan mencoba memejamkan mata, agar bisa mendapat ide. Tapi, karena posisi duduknya yang nyaman, malah membuat Elisa kembali mengantuk dan akhirnya tertidur sebelum Aji sampai di apartemen.


Aji, keluar dari pintu lift dan masuk ke dalam apartemen dengan melihat ke sekeliling. Dia mencari-cari keberadaan Elisa, yang katanya akan menunggu.


"Lho, malah tidur lagi."


Aji, menggeleng, saat mendapati istrinya itu, tertidur di sofa ruang tengah. Dia meletakkan kotak yang dia bawa, berisi martabak telur, di meja, yang ada di depan Elisa.


"Sayang. El, bangun. Ini martabaknya sudah datang," panggil Aji, berusaha untuk membangunkan Elisa.


"Emhhh..."


Elisa, hanya menggeliat sebentar, kemudian mengubah posisi tidurnya. Dia tidak mendengar panggilan suaminya, yang berusaha untuk membangunkan dirinya.


"Sepertinya dia sangat kecapekan," guman Aji, memandang Elisa dengan tersenyum tipis.


Akhirnya, Aji berinisiatif untuk memindahkan tubuh istrinya itu ke dalam kamar, dengan membopongnya.


"Ehmmm..."


Elisa, kembali menggeliat dalam gendongan Aji. Tapi, karena posisinya yang sedang berada dalam gendongan, tentu saja membuat Elisa tidak bebas untuk mengubah posisi tidurnya lagi. Dia membuka mata dan terbelalak, karena ada dalam gendongan suaminya yang tadi sedang di tunggu-tunggu.


"Kakak, kok Aku di gendong. Mau di bawa ke mana?" tanya Elisa dengan bingung.

__ADS_1


"Hemmm..."


Aji, tidak meneruskan jalannya menuju ke arah kamar. Tapi berbalik lagi ke tempat yang tadi, sofa tengah.


"Kakak, kok balik lagi?" tanya Elisa, yang masih merasa bingung dengan kelakuan suaminya itu.


"Kamu, mau tidur di kamar apa makam martabak telur dulu?" tanya Aji, pada Elisa, yang sekarang ini terbelalak lagi, tapi dengan bibir yang tersenyum senang.


"Ah, kenapa tidak dibangunkan tadi, malah mau dipindah ke kamar?" tanya Elisa, protes.


"Kamu yang tidak mendengar Kakak, saat tadi dibangunkan," jawab Aji, dengan mendudukkan tubuh istrinya itu ke sofa lagi.


Aji, juga ikut duduk di samping Elisa. Dia mengambil kotak yang tadi dia letakkan di meja.


Saat kardus di buka, Elisa mencium aroma martabak yang lezat. Dia tersenyum lebar dan tidak sabar ingin mencicipi martabak tersebut.


"Wah, untungnya Aku bangun tadi, coba kalau tidak, martabaknya sudah gak enak lagi, besok pagi. Terima kasih Kakak Sayang!"


"Bagaimana rasanya?" tanya Aji, yang merasa geli, saat melihat wajah Elisa saat makan dengan mu mulut penuh. Istrinya itu, jadi tidak bisa menjawab pertanyaan darinya.


"Emhhh, emhhh yam-yam. Mantap rasanya!" jawab Elisa, masih dengan menguyah.


"Pelan-pelan Sayang. Besok Kakak ajak Kamu ke Mall, di mana ada penjual Burger kesukaan Kakak waktu kecil dulu. Tapi agak jauh dari sini. Mau gak?"


"Oh iya, Kakak kan suka sekali dengan makanan itu ya. Wah, jangan sampai anak kita nanti, sama kayak Kakak juga. El, bisa darah tinggi kalau harus nuruti kemauan dia, sama seperti mama Cilla dulu, sewaktu Kakak masih kecil." Elisa, jadi ingat dengan cerita mama mertuanya, mama Cilla.


"Tapi Aku gak pernah bikin mama repot," elak Aji, tidak mau mengakui jika dia dulunya merepotkan juga.


"Masak sih?" tanya Elisa tidak percaya.


"Iya. Aku kan sabar nunggu mama pulang kerja dan membawakan Burger itu untukku," jawab Aji, mengingat waktu masih hidup berdua dengan mama Cilla saja.

__ADS_1


"Tapi, kalau sudah ada kemauan, tidak bisa di tunda-tunda kan? Maunya dapat saat itu juga, dan tidak mau Burger di pinggir jalan, maunya yang ada di Mall itu," todong Elisa, dengan tersenyum miring melihat Aji yang melongo karena tahu semua cerita tentang dirinya waktu kecil dulu.


"Kamu dengar cerita dari mama ya?" tanya Aji, menebak siapa yang sudah bercerita pada Elisa tentang kebiasaannya waktu kecil.


"Iya dong. Mama kan gak pengen lihat El kaget, saat kelakuan Kakak kumat. Hahaha... padahal sekarang justru El yang punya kelakuan begitu. Habisnya, punya suami baik banget sih!" jawab Elisa, sambil memainkannya kedua pipi Aji, dengan gemas.


Aji, ikut tertawa lepas melihat Elisa yang tertawa lepas juga. Dia merasa senang karena bisa membuat Elisa ceria lagi, dan tidak merasa sedih karena kehilangan bapaknya kemarin itu.


Sekarang, dia tinggal mencari alasan, untuk mengajak Elisa tinggal di India. Negara yang belum pernah Elisa bayangkan, untuk bisa tinggal di sana. Tempat yang asing, dengan makanan dan kebiasaan masyarakatnya yang berbeda dengan Indonesia juga.


"Lagi?" tanya Aji, sambil menunjuk martabak telur yang ada di meja. Dia ingin menyuapi istrinya lagi.


Elisa menggeleng. "Gak, sudah kenyang Kak," jawab Elisa, masih dengan mengunyah martabak yang terakhir di suapi Aji.


Saat Elisa, sudah tidak lagi mau dia suapi, karena sudah kenyang, Aji menyampaikan keinginannya untuk pergi ke India.


"Kita ke India mau tidak? Dia sana, Kita bisa belajar banyak. Kita tinggal di rumah ayah Sangkoer Singh."


Elisa, menatap wajah suaminya itu dengan serius. Dia tidak yakin dengan pendengarannya barusan.


"Kakak ngajak El, untuk tinggal di India, menetap begitu?" tanya Elisa memastikan.


Aji menggeleng. Bukan begitu maksudnya Aji. "Kita di sana sementara kok, bantu ayah Sangkoer Singh, yang sedang sakit dan Vijay Singh juga baru saja operasi ginjal, jadi tidak bisa melakukan pekerjaan seperti biasanya. Ayah memintaku untuk bisa datang ke sana. Itu juga kalau Kamu mau ikut. Kalau tidak, Kakak tidak akan pergi dan meninggalkan dirimu sendiri di sini."


Elisa mencerna semua jawaban yang diberikan oleh suaminya itu. Kata demi kata yang diucapkan Aji, sepertinya ada yang tersembunyi. Elisa, bisa merasakannya.


"Bukan karena sebab lain?" tanya Elisa memastikan.


"Tidak. Kakak hanya ingin berkunjung ke sana saja, sekaligus membantu ayah. Kakak kan juga tidak mungkin bisa menolaknya dengan mudah. Ayah banyak berjasa juga pada Kakak."


Aji, tidak mungkin mengatakan pada Elisa juga, apa alasan yang sebenarnya, karena dia juga ingin menyelidiki efek obat yang diberikan paman Ranveer, untuk kesuburan benihnya. Dia tidak ingin, Elisa tahu tentang hal itu. Nanti, Elisa bisa kecewa dan tidak mau ikut pergi ke India, sesuai dengan rencana yang sudah dia persiapkan dari kemarin-kemarin.

__ADS_1


__ADS_2