Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Jangan Minta Bulan


__ADS_3

Elisa, sudah keluar dari kamar mandi. Dia juga membawa tespeck yang tadi diberikan oleh dokter. Dia berjalan dengan wajah lesu, dan seperti tidak ada semangat sama sekali.


Aji, mengerutkan keningnya melihat ke arah istrinya, yang sedang berjalan ke arahnya. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak saat melihat wajah Elisa yang di tekuk. Akhirnya, Aji menghela nafas panjang, dan membuangnya kasar, untuk membuang perasaan yang tidak mengenakkan di hatinya saat ini. "Hufh..." dan itu, terdengar jelas di telinga Elisa, yang sudah berada di depannya Aji.


Ada senyuman tipis yang tersungging di bibirnya Elisa, tapi segera di sembunyikan agar suaminya itu tidak melihatnya.


"Kak," panggil Elisa dengan nada sedih.


"Tidak apa-apa, mungkin memang belum rejeki kita Sayang," ucap Aji, tanpa melihat tespeck yang disodorkan Elisa di depannya. Dia sudah tidak fokus karena ada rasa kecewa yang datang di hati, meskipun mulutnya menghibur istrinya, Elisa.


"Kak," panggil Elisa lagi. Masih dengan nada pelan. Sekarang justru terdengar lebih sendu, seakan-akan, Elisa ingin menangis.


Aji segera berdiri dan memeluk Elisa, tanpa bertanya lebih dulu. Dia hanya merasa yakin jika ada kabar yang kurang baik saat mendengar suara Elisa tadi.


"Sabar ya Sayang. Masih ada banyak waktu untuk kita," kata Aji, mencoba untuk menenangkan hati istrinya itu. Dia tidak tahu, jika ada yang direncanakan Elisa saat ini.


"Kakak, lihat dulu."


Elisa, menyerahkan tespeck yang dia pegang ke tangan Aji, yang sedang merangkulnya. Dia ingin, suaminya itu melihatnya terlebih dahulu dengan jelas, agar tidak menyimpulkannya dengan terburu-buru.

__ADS_1


Dokter, yang ada di depan mereka, hanya tersenyum tipis melihat drama pendek dari pasangan tuan mudanya itu. Dia pikir, istri dari taun muda, hanya ingin membuat kejutan untuk suaminya saja, sehingga dia hanya diam saja sedari tadi tanpa ingin meminta tespeck itu terlebih dahulu. Dia yakin, jika menantu tuan besar Sangkoer Singh, bukankah wanita bodoh yang tidak bisa membaca hasil tespeck tersebut.


Aji, menerima tespeck yang diberikan oleh Elisa. Dia melepaskan pelukannya dan melihat apa yang ada di tangannya sekarang ini. Dia meneliti dan mencoba untuk memahaminya. Tak lama, Aji melihat tespeck tersebut dengan mata membola. Dia seakan-akan tidak percaya dengan apa yang terlihat di tangannya itu.


"Sayang. I... ini be... benar? Ap... apa Kakak ti... tidak salah lihat?" tanya Aji, dengan terbata-bata. Dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dia lihat.


Elisa mengangguk. Dia tersenyum bahagia melihat suaminya itu kaget dengan kejutan yang dia berikan sekarang.


"Aarghhh... Sayang, ini kejutan yang luar biasa untuk Kakak. Ini... ini luar biasa Sayang!" Aji, benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat bahagia dengan keberhasilan kali ini.


"Selamat Tuan muda, Nyonya. Kalian berdua bisa datang ke ruangan dokter kandungan sekarang, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan Nyonya, sukses ya memberikan kejutan untuk tuan muda, hahaha... tetap jaga kesehatan dan keselamatan karena sekarang ini, Nyonya tidak hanya sendiri, tapi ada bayi yang ada di kandungan juga." Dokter tersebut, tertawa senang karena pasangan muda di depannya ini, adalah pasangan yang sama-sama saling mendukung. Rasa humor dari istri tuan mudanya itu, juga menunjuk bahwa mereka adalah pasangan yang serasi.


"Tidak perlu Tuan muda. Dokter kandungan selalu ada setiap hari. Kalau kemarin kita harus membuat janji terlebih dahulu, karena memastikan kira-kira waktu subur nyonya jatuh pada tanggal berapa, tapi ternyata kita tidak perlu melakukan apa-apa. Nyonya justru sudah berhasil terlebih dahulu. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua, Tuan, Nyonya." Dokter, kembali mengucapkan selamat pada Aji dan Elisa.


"Terima kasih Dok. Kami benar-benar merasa bersyukur karena usaha kita ini ada hasilnya. Aku sendiri, sebenarnya sudah merasa takut. Aku khawatir jika obat-obatan yang diberikan paman Ranveer dulu, mengakibatkan efek samping yang tidak bisa membuat benihku subur. Tapi ternyata, Tuhan tetap memberikan karunia_Nya untuk kami berdua. Sekali lagi, terima kasih Dok. Kami akan langsung ke ruangan dokter kandungan sekarang." Aji berpamitan pada dokter tersebut, setelah mengucap terima kasih sekali lagi. Dia merasa sangat bahagia, karena tidak lama lagi, dia akan menjadi seorang ayah untuk anak mereka berdua.


Saat berada di ruangan dokter kandungan, Elisa langsung diperiksa oleh dokter yang ada. Dokter tersebut juga melakukan USG 4D untuk calon bayi mereka, agar keduanya bisa melihat bagaimana bayi mereka saat ini secara langsung dan juga lebih jelas.


Aji merasa haru, karena bisa melihat anaknya yang masih berupa gumpalan daging yang belum terbentuk secara sempurna. Tapi, semua itu sudah membuat Aji takjub. Dia merasa senang bisa melihat Elisa hamil. Dan ini, sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Elisa bisa hamil saat tidak lagi disibukkan dengan kegiatan kuliah dan skripsi. Dia hamil saat sudah bebas dan tidak banyak pikiran lagi. Jadi Elisa bisa fokus pada kehamilannya saja. Aji benar-benar bersyukur untuk semua karunia yang dia terima bersama dengan Elisa, istrinya itu.

__ADS_1


"Terima kasih Sayang. Kamu sudah mau menjadi mama untuk anak-anakku. Aku... Aku tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata, untuk menggambarkan bagaimana rasa hatiku saat ini." Aji, terus menciumi punggung tangan Elisa yang dia genggam. Dia tidak tahu lagi, bagaimana mengungkapkan perasaannya sekarang ini. Mungkin, sekedar teriakan saja tidak cukup baginya.


Elisa juga merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh suaminya itu. Bahkan, dia sampai menitikkan air mata haru, karena bahagia yang dia rasakan sekarang ini. Dia akan menjadi seorang ibu, dan ini adalah anaknya Aji, suaminya, dan juga cinta pertamanya selama ini.


"Kak. Apa kita akan memberikan kabar ini pada mama di Indonesia sekarang, atau nanti-nanti?" tanya Elisa, saat mereka berdua baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan.


"Nanti, kalau kita sudah ada di rumah. Kita bicara dengan mama melalui video call saja. Kakak sudah kangen juga, beberapa hari ini tidak melihat wajah mama. Dia pasti akan merasa bahagia jika kita memberi kabar ini langsung dan melihat bagaimana ekspresi kita juga."


"Iya Kak. El juga pikir begitu. Semoga anak kita tumbuh sehat dan lahir dengan selamat juga nantinya." Elisa, berdoa untuk kesehatan dan keselamatan anak yang masih berada di dalam kandungannya saat ini.


"Aamiin. Kakak juga berdoa untuk semua itu Sayang. Pokoknya, mulai hari ini, Kamu harus banyak istirahat dan makan. Biar anak kita sehat dan tidak kekurangan gizi," kata Aji, yang mulia lagi pada sifat over protektif_nya pada Elisa. Dia akan betul-betul menjaga agar Elisa tidak ceroboh.


Elisa, menghembuskan nafas panjang dan terkesan kesal. Dia yakin, setelah ini, suaminya itu akan banyak mengatur dan menjaganya dengan ketat. Kalau soal makan sih, Elisa dengan senang hati menerima, tapi untuk kegiatan lain yang Elisa inginkan, entah di ijinkan atau tidak oleh suaminya itu.


"Kamu ingin apa sekarang? Maksudnya Kamu ngidam apa?" tanya Aji, dengan antusias. Dia ingin merasakan bagaimana melayani seorang istri yang sedang hamil dan ngidam, sama seperti yang dialami oleh adik iparnya, dokter Dimas.


"Hah, ngidam kok di tanya sih kak. Belum waktunya mungkin, hehehe..." jawab Elisa dengan sambil terkekeh geli dengan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu.


"Yah... minta apa kek sekarang. Kan kakak pengen Kamu ngidam yang aneh-aneh, biar Kakak tahu rasanya repot melayani istri yang sedang ngidam. Tapi jangan minta bulan ya, Kakak gak bisa terbang untuk mengambilnya. Nanti, Kakak di kutuk sama penghuni bumi karena mereka tidak bisa melihat bulan lagi. hahaha..."

__ADS_1


Kebahagiaan yang sedang dirasakan Aji, membuatnya bisa membual juga. Dia jadi ingin banyak berkata-kata, yang bisa membuat Elisa ceria dan selalu tersenyum, agar anak mereka berdua bisa tetap tenang dan tumbuh baik di dalam kandungan istrinya.


__ADS_2