Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tak Disangka


__ADS_3

Pihak kepolisian, masih sibuk mencari beberapa bukti untuk proses penyelidikan yang mereka lakukan. Sedangkan rombongan Aji, yang tadi datang bersama pihak pelapor, diminta untuk menunggu saja.


"Pak, kalau boleh lihat rekaman CCTV jalan yang mau memasuki area hotel boleh?" tanya Aji, pada salah satu petugas kepolisian. Dia datang mendekat bersama dengan Rio, dengan alasan ingin mengenali wajah-wajah para pelakunya.


"Oh ya, mari-mari silahkan. Ini akan membantu kami untuk proses selanjutnya."


Petugas tersebut, menyetujui permintaan Aji. Dia meminta kepada petugas hotel agar bisa meminjam komputer ataupun laptop, agar bisa memutar rekaman CCTV jalan yang mereka temukan tadi, di area jalanan menuju ke hotel ini.


Aji dan Rio, tampak serius memperhatikan layar komputer yang sedang menyala. Saat rekaman itu menunjukkan pukul sebelas pagi, Aji seperti mengenal satu wajah, yang dengan samar-samar dia ingat.


"Tunggu. Itu wajah seseorang... Aku sepertinya pernah melihatnya, tapi Aku lupa di mana ya..." Aji, mencoba untuk mengingat-ingat kembali wajah orang tersebut.


"Elisa. Panggil Elisa Rio!" perintah Aji pada Rio.


Rio, tanpa banyak bertanya, bergegas menuju ke tempat Elisa berada.


"El," panggil Rio setelah mendekat.


Elisa menoleh, kemudian bertanya, "apa?"


"Lihat saja yuk! Kak Aji, minta Kamu untuk mengenali wajah seseorang." Rio, menarik tangan Elisa, agar ikut dengannya.


"Siapa?" tanya Elisa, sambil berjalan mengimbangi langkah Rio yang lebar.


"Kalau Aku tahu, tidak perlu memintamu untuk melihat juga El," jawab Rio cepat.


"Hehehe... iya juga ya."


Setelah mereka berdua sampai di dekat Aji, Elisa dan Rio, ikut memperhatikan ke layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV.


"El. Coba Kamu perhatian dengan baik. Wajah siapa ini?" tanya Aji, menunjuk pada gambar wajah seseorang, yang tidak begitu jelas untuk dia kenali.


"Itu... itu bukannya Mr Toni?" tanya Elisa, saat mengenali wajah orang yang sedang berada di layar komputer.


"Itu, Aku tadi samar saat melihatnya. Makanya, Aku minta pada Rio, agar memanggil dirimu. Kamu yakin kan, kalau ini adalah Mr Toni?"


Aji, meminta pada Elisa agar bisa memastikan jika dugaannya benar.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita bisa segera tahu, apa maksud dari ulahnya ini!" kata Aji, dengan menahan amarahnya.


"Kalian kenal dia?" tanya petugas kepolisian yang ikut menemani mereka melihat rekaman CCTV.


"Iya. Itu adalah Mr Toni. Manager Club malam, tempat Saya bekerja beberapa minggu yang lalu," jawab Elisa, atas pertanyaan petugas kepolisian.


"Biakkan. Keterangan Anda akan kami catat, dan akan segera kami tindak lanjuti. Semoga, kami bisa menangkapnya hari ini juga."


Akhirnya, penyidikan kasus ini dihentikan sementara waktu. Para petugas kepolisian, mencatat keterangan yang diberikan oleh Elisa, dan meminta pada rekan yang lainnya untuk segera membuat surat penangkapan dan bergerak secepatnya.


"Saya berharap, pihak kepolisian secepatnya menangani kasus ini. Saya tidak mau, ada berita yang tidak benar atas nama calon menantu Saya ini."


Dari arah belakang, papa Gilang datang dengan berkata tegas pada pihak kepolisian.


"Oh, tuan Gilang," sapa petugas kepolisian yang ternyata mengenali siapa papa Gilang.


"Ya. Saya ingin kasus ini bisa bersih," kata papa Gilang lagi.


"Pasti Tuan," kata petugas kepolisian lagi dengan mengangguk.


"Rio. Kamu baik-baik saja?" tanya satu dari orang-orang tadi.


"Yah. Rio baik-baik saja Yah," jawab Rio, kemudian berdiri menyambut ayahnya yang datang.


Ayah Rio, memeluk anaknya dengan wajah lega. "Ayah pikir Kamu kemana saja, tidak ada kabar, handphone mati. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ayah Rio, dengan wajah cemas.


"Kenalkan dulu Yah, ini Om Gilang dan istrinya, Tante Cilla." Rio, memperkenalkan papa Gilang dan mama Cilla, dengan ayahnya.


Mereka pun akhirnya bersalaman dan saling memperkenalkan dirinya masing-masing.


"Yang ini anakku, Aji." Papa Gilang, ganti memperkenalkan Aji, pada ayahnya Rio.


"Yang ini?" tanya ayah Rio, dengan memicingkan mata, melihat ke arah Elisa.


"Ini Elisa Yah. Yang satu daerah dengan kita, teman kuliah Rio. Kemarin itu, yang Rio minta ijin ada teman mau bantu-bantu di armada bus, ya ini Yah, Elisa ini."


"Oh... yang orang-orang pangakalan bilang, kalau Kamu bawa pacar itu ya?" tanya ayah Rio, memastikan dugaannya benar.

__ADS_1


"Dia calon menantu Saya Pak. Calon istrinya anak Saya ini, Aji." Mama Cilla, menjelaskan pada ayahnya Rio, tentang siapa Elisa yang sedari tadi hanya diam dan terus mengamati layar komputer, meskipun sesekali melihat juga ke arah mereka semua, yang sedang berbincang-bincang.


"Oh... maaf, maaf. Saya pikir Elisa itu, pacar anak Saya, Rio. Hehehe..."


Ayahnya Rio, terkekeh geli, menyadari kalau dugaannya itu salah.


Rio, meringis sambil tersenyum canggung melihat ke arah Aji, dan juga mama Cilla.


"El. Ini ayahku," kata Rio, memperkenalkan ayahnya pada Elisa, untuk mengalihkan perhatian.


"Siang Om. Saya Elisa, pegawai baru di pangkalan armada bus yang baru," kata Elisa memperkenalkan dirinya pada ayahnya Rio.


"Ya. Om tahu kok," ucap ayahnya Rio, sambil tersenyum tipis dan mengangguk mengerti.


"Bagaimana kalau kita pergi makan siang. Kita rayakan juga perkenalan kita ini," usul ayahnya Rio, dengan merentangkan kedua tangannya menawari papa Gilang dan mama Cilla.


"Maaf, bukannya kami menolak tawaran ini, tapi kami masih ada urusan yang lain. Mungkin waktu lain, kita bisa pergi untuk makan bersama," kata papa Gilang, menolak dengan halus, usulan dari ayahnya Rio.


Papa Gilang, bukannya menolak begitu saja. Dia memang benar-benar tidak bisa menerima tawaran itu, karena dia harus segera kembali ke kantor. Ada klien yang akan datang nanti, selepas makan siang.


Mama Cilla, hanya tersenyum tipis dan mengangguk sopan. Dia juga tidak mungkin menerima tawaran itu seorang diri.


Oh ya, tidak apa-apa. Waktunya tidak tepat kalau begitu. Mungkin makan siang dengan anak Saya sendiri juga sudah cukup," sahut ayahnya Rio.


"Maaf Om. Saya bisa ikut bersama dengan Elisa juga. Tapi nanti, menunggu pihak kepolisian beres ini dulu." Aji, menawarkan dirinya, sambil melihat ke arah Elisa.


"Oh, tidak masalah. Kita bisa pergi makan siang kapan saja. Saya juga akan ikut menunggu." Ayahnya Rio, akhirnya ikut duduk. Memastikan jika Aji akan ikut juga dengannya.


"Syukurlah. Kalau begitu, papa pergi sekarang ya, mau antar mama juga," pamit papa Gilang pada Aji.


Aji, mengangguk, begitu juga dengan Elisa dan Rio.


"Mari Tuan, kami pamit dulu," ucap papa Gilang berpamitan pada ayahnya Rio.


"Mangga-mangga. Silahkan," jawab ayahnya Rio dengan menganggukkan kepalanya.


Kini, tinggal ada Aji, Elisa, Rio dan ayahnya, yang menunggu hingga pihak kepolisian selesai mengumpulkan bukti-bukti, untuk penangkapan Mr Toni. Manager Club malam, tempat Elisa bekerja saat dia menghilang beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2