
"Mami Rossa," Cilla kaget dan menyebut nama mami Rossa.
"Iya. Mami mendengar semua perbincangan kalian berdua. Mami harap, kamu tidak lagi ragu untuk menerima Gilang Cilla." Mami Rossa menyakinkan Cilla.
"Tuh dengar. Mami saja mendukung kok," kata Gilang menyahut.
"Kamu ini bisa tidak sih, meyakinkan Cilla saja susah gitu. Padahal menyakinkan para pengusaha saja kamu mampu." Mami Rossa mengelengkan kepala melihat ke arah anaknya, Gilang, yang tersenyum masam karena dikritik olehnya.
"Baru juga Gilang mau bicara. Mami kan keburu datang," kilah Gilang menghindar dari kesalahan yang dituduhkan maminya itu.
"Alasan saja kamu," Mami Rossa mencibir perkataan anaknya yang sedang membela diri.
Ketiganya terdiam, kemudian mami Rossa menghela nafas panjang sebelum memanggil Cilla untuk diajak bicara tentang ibu kandungnya.
Mami Rossa ingin segera bertanya mumpung Aji, cucunya, sudah tertidur dan tidak mendengar pembicaraan mereka ini.
"Cilla, boleh Mami tahu nama ibumu?" tanya mami Rossa terdiam beberapa saat.
Cilla terdiam dan memejamkan matanya, mengingat-ingat masa suramnya yang dulu.
"Dian Anita," jawab Cilla dengan suara bergetar. Dia menahan air matanya yang hampir saja menetes dari tempatnya.
"Mami. Jangan bertanya tentang ibunya itu," kata Gilang mencegah mami Rossa bertanya-tanya tentang ibu tirinya Cilla, Dian Anita. Gilang takut jika itu akan membuat Cilla kembali merasakan kesedihan yang dialaminya selama ini.
"Mami bertanya ibu kandung kamu, bukan ibu tiri kamu yang jahat itu Cilla," kata mami Rossa menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
Gilang mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan maminya itu. Dia tidak tahu apa maksud dari pertanyaan dan keingintahuan maminya, dengan bertanya-tanya pada Cilla tentang ibu kandungnya, yang sudah lama meninggal. Ibu kandung Cilla memang sudah lama meninggal, sejak Cilla masih kecil dulu.
"Aryani Sukmajaya," jawab Cilla menyebutkan sebuah nama.
Mami Rossa memeluk Cilla dengan erat. Dia berbisik di telinga Cilla dengan suara parau karena terharu dan ingin menangis. "Kamu anak sahabat mami sewaktu masih sekolah dulu Cilla."
Cilla kaget saat mendengar perkataan mami Rossa. Dia melihat dengan mata tidak percaya saat pelukan mami Rossa terlepas.
"Iya Cilla. Kamu anak teman Mami sewaktu Mami masih usia sekolah dulu, zaman kami masih SMA. Aryani Sukmajaya."
Mami Rossa menceritakan tentang sahabat yang dulu, semasa sekolah. Dia ternyata ibu kandung Cilla, Aryani Sukmajaya.
__ADS_1
"Ini kan ibu kandungmu?"
Mami Rossa menunjukkan layar handphone miliknya pada Cilla. Di layar handphone itu, terdapat foto ibunya Cilla semasa sekolah SMA.
Cilla menangis melihat foto ibunya semasa muda dulu. Dia tersedu dan sedih mengingat semua kebahagiaan yang dulu dia rasakan saat ibunya masih ada.
"Maafkan Mami yang tidak mengenalimu Cilla," kata mami Rossa, kemudian memeluk Cilla sekali lagi.
Gilang menghembuskan nafas lega. Dia sudah berpikir yang bukan-bukan tadi. Dia berpikir jika maminya akan berubah pikiran saat mendengar nama Dian Anita, ibu tiri Cilla yang membuatnya melakukan semuanya pada Cilla malam itu.
"Mami senang Cilla. Mami bahagia, meskipun bukan sahabat mami, Aryani Sukmajaya, yang mami temui. Tapi setidaknya kamu bisa mengobati rasa rindu Mami padanya. Apalagi sebentar lagi kamu akan jadi menantu Mami."
Mami Rossa tidak bisa menahan air matanya yang mengalir. Dia menangis penuh haru.
Cilla juga sama. Dia menangis dalam pelukan mami Rossa. Dia meluapkan semua rasa yang dia rasakan saat ini.
"Jangan membuat alasan lagi untuk menolak permintaan Gilang yang ingin menikahimu. Biarkan dia berusaha menebus kesalahannya yang dulu," kata mami Rossa menyakinkan Cilla.
*****
"Ma. Aji bosen," kata Aji dengan muka masam.
Aji merasa bosan berada di dalam kamar pasien rawat rumah sakit selama seminggu ini. Padahal kemarin sewaktu dia di rawat, saat matanya sakit, juga sudah bosan. Apalagi sekarang ini, bukan dirinya sendiri yang dirawat.
"Aji mau apa?" tanya Cilla bingung.
"Boleh main handphone?" tanya Aji. Mungkin dia kangen karena sudah lama tidak membuka handphone maupun laptopnya.
"Aji kan masih masa penyembuhan Sayang," jawab Cilla sambil tersenyum.
"Sebentar saja Ma," kata Aji merajuk.
"Hem..." Cilla tidak menjawab tidak jelas.
"Ma..." Aji merajuk lagi dan wajah memelas.
"Ada apa?" tanya Gilang penasaran saat terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Aji bosen Pa," kata Aji mengadu.
"Oh..." kata Gilang menganggukkan kepalanya mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya itu.
"Boleh ya Pa?" tanya Aji memastikan.
"Tanya mama," jawab Gilang menyerahkan keputusan pada Cilla, mamanya Aji. Dia tidak ingin disalahkan Cilla jika mengijinkan Aji bermain handphone saat masih masa penyembuhan matanya.
"Ihs..." Aji mendesis kesal. Dia berlari ke tempat tidur dan berbaring dengan kesalnya, kemudian membelakangi mamanya, menghadap kearah tembok.
"Eh, anak Mama kok merajuk begitu. Apa tidak malu dengan sebutan bos kecilnya?" tanya Cilla mengingatkan Aji, dengan julukan yang diberikan Cilla saat Aji masih aktif dengan jualan online miliknya.
"Gak. Aji sudah bukan bos lagi!" kata Aji ketus.
"Itukan sementara Sayang. Besok kalau sudah sembuh, bisa kok jadi bos lagi. Kan Aji sudah boleh beraktifitas seperti biasanya. Bahkan Mama akan menemani Aji sepanjang hari," kata Cilla menjelaskan pada Aji.
Pelan-pelan, Aji membalikkan badannya. Dia melihat kearah mamanya yang menatapnya dengan penuh kasih sayang. Aji masih merasa ragu dengan perkataan mamanya tadi.
"Iya. Mama gak bohong," kata Cilla menyakinkan.
"Bener Pa?" tanya Aji pada papanya, Gilang.
Gilang yang tidak menyangka akan dimintai jawaban atas perdebatan antara Cilla dan anaknya, Aji, merasa senang. Dia merasa senang karena dilibatkan dalam keadaan seperti sekarang ini. Dia merasa sudah bisa diterima Aji sebagaimana mestinya.
Gilang mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan anaknya itu. Dia tersenyum untuk menyakinkan Aji yang tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
"Baiklah. Aji tidak akan minta bermain handphone dulu. Tapi kalau Aji sudah sehat, jangan larang Aji lagi ya!" Aji meminta jawaban untuk kepastiannya.
"Iya Sayang," jawab Cilla sambil tersenyum.
"Iya. Iya, terserah Aji saja." Gilang ikut menjawab agar Aji tidak lagi protes.
Akhirnya Aji tersenyum dan tidak lagi protes. Dia turun dari tempat tidur, kemudian berjalan kearah meja. Dia mengambil jeruk yang ada di meja, kemudian menyerahkannya pada mamanya. "Aji mau jeruk Ma," kata Aji meminta mamanya, Cilla, untuk mengupas jeruk yang ingin dia makan.
"Gitu kan pinter anaknya Mama," kata Cilla memuji.
Gilang tersenyum melihat interaksi antara Cilla dengan anaknya, Aji. Dia berjanji dalam hati untuk bisa membahagiakan keduanya pada hari-hari berikutnya nanti, disepanjang hidupnya.
__ADS_1