Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Over Protektif


__ADS_3

Elisa, yang tidak pernah tahu akan rencana Rio untuk pindah ke luar negeri, tentu merasa kaget. Dia seakan-akan tidak percaya dan itu hanya bualan temannya saja.


"Kamu hanya bercanda kan? Rio lagi sibuk saja di ruangan senat kan?" tanya Elisa dengan menggeleng, karena tidak percaya dengan berita tadi.


"Beneran El. Kemarin, Aku kebetulan jemput Om di bandara. Tidak sengaja lihat dia, bawa-bawa koper gitu. Aku mau tegur, sedang apa, karena Aku pikir dia juga sedang jemput saudara atau temannya. Tapi, saat aku lihat dia melakukan pengecekan surat-surat paspor dan lainnya ke petugas, kemudian memeluk ayahnya, dan masuk ke ruang tunggu untuk naik pesawat, Aku baru sadar jika dia yang akan pergi. Setelah beberapa menit kemudian, Aku beranikan mendekat ke arah ayahnya yang mau pulang, menanyakan tujuan Rio. Ayahnya bilang, kalau Rio akan melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Tapi negaranya aku lupa bertanya."


Jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh temannya itu, membuat Elisa merasa pusing. Dia tidak pernah tahu rencana Rio ini. "Kenapa dia pergi tanpa memberitahu Aku? kenapa dia menghilang, mengikuti jejakku yang kemarin itu? Kenapa Rio?"


Berbagai macam pertanyaan Elisa utarakan, tapi hanya dalam hati. Dia tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi.


"El, masak dia tidak pamit sama Kamu sih?" tanya temannya yang tadi memberitahu.


"Tidak," jawab Elisa pendek, dengan mengeleng samar.


"Wah, patah hati kayaknya dia. Jeny kawin, Kamu juga kawin. Dia sendirian," kata temannya yang lain.


Elisa jadi bertambah pusing, mendengar perkataan mereka semua, yang seolah-olah menyalahkan dirinya, sebagai penyebab perginya Rio keluar negeri.


"Coba cek pesan email atau sosial media kamu El. mungkin dia gak enak mau telpon atau pesan lewat handphone, kan Kamu sudah punya suami, jadi dia tidak mau dekat-dekat lagi sama Kamu seperti dulu lagi."


Perkataan temannya itu ada benarnya juga. Apalagi, Rio tahu jika, Aji tidak begitu suka Jiak dia dekat-dekat dengan Rio.


"Ya sudah, terima kasih ya semua. Nanti Aku Coba cari informasi yang lebih akurat deh, biar lebih jelas lagi. Hehehe..." Elisa pamit dan pergi ke arah tujuan awalnya, yaitu taman kampus, sebelum masuk jam kuliah.


"Nah, itu baru bener!"


"Ya begitu saja El, atau Kamu bisa tanyakan langsung pada ayahnya atau anak buahnya di pangkalan bus juga."


"Oh ya, benar juga. Ok deh, Aku duluan ya!"


Elisa, berjalan dengan melamun, memikirkan tentang Rio yang pergi ke luar negeri, tanpa pamit atau memberikan kabar terlebih dahulu kepada dirinya.


"Ah, dia balas dendam nih, mengunakan cara yang sama seperti Aku kemarin. Aku gak suka gaya kamu ini Rio. Kamu kenapa sih sebenarnya?" gerutu Elisa dalam hati dan terus melangkah.


Jeny yang baru saja datang, mencari keberadaan Elisa. Tapi karena tidak ketemu juga, akhirnya dia menelpon, dan bertanya sedang ada di mana Elisa saat ini.


..."Woiii El. Ada di mana Kamu?" tanya Jeny, begitu telponnya diangkat Elisa....


..."Aku baru saja datang Jen. Ini saja belum sampai di taman. Kamu sendiri ada di mana?"...

__ADS_1


..."Masih ada di parkiran. Ini lihat mobil Kakak ada, tapi kalian sudah gak ada."...


..."Oh..."...


..."Tunggu di taman ya!"...


..."Iya."...


Jeny, tersenyum senang karena sudah mengetahui keberadaan Elisa sekarang. Dia melangkah menuju tempat dimana Elisa berada sekarang, sesuai yang dia katakan tadi.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Jeny bertemu juga dengan Elisa, sahabat sekaligus kakak iparnya juga sekarang. "Eh iya, sekarang dia kan kakak ipar Aku. Masak Aku masih manggil dia El? bisa-bisa Aku diprotes mama juga, kayak kemarin, waktu ketahuan aku manggil ayang Dimas dengan sebutan Om. Hehehe... aneh ya memang!"


Jeny, berdialog sendiri di dalam hatinya. Dia baru sadar, jika hubungannya dengan Elisa bukan sekedar teman kuliah saja sekarang ini, tapi sudah menjadi satu keluarga juga.


"Hai El, kangen!" panggil Jeny, begitu melihat Elisa yang sedang duduk seorang diri di taman kampus.


"Hai. Aku juga kangen. Kau sih, agak mau berkunjung ke apartemen!"


"Loh, Kamu dan kakak jadi pindah ke apartemen?" tanya Jeny kaget.


"Iya, hehehe..."


"Wah-wah... pasti jadi bebas ya, mau apa saja. Hahaha..." Jeny, justru membayangkan kegiatan Elisa dengan kakaknya, saat ada di apartemen.


"Tuh... kan, kan..."


Jeny, terus saja menggoda Elisa. Dia juga tidak tahu tentang kabar Rio yang sudah tidak lagi kuliah di kampus mereka ini.


"Kamu tahu kabar Rio? dia pamit gak sama Kamu?" tanya Elisa pada Jeny.


"Rio? kenapa, ada apa dengan dia? Aku tidak tahu kabarnya juga. Cuma, tadi pagi-pagi Aku coba kirim pesan, tapi sampai sekarang belum masuk tuh."


Elisa menghela nafas panjang, sebelum akhirnya bercerita tentang Rio, sesuai yang dia dengar tadi dari teman-temannya.


"Apa? keluar negeri?" Jeny, bertanya dengan kaget.


Elisa mengangguk. Dia juga sama kagetnya tadi, saat mendengar berita ini.


"Kenapa dia tidak pamit pada kita?" tanya Jeny bingung.

__ADS_1


"Tidak tahu Jen," jawab Elisa pendek. Dia memang tidak tahu, apa alasan yang sebenarnya.


"Coba nanti kita tanya lewat email saja. Kita kan tidak tahu, nomer handphonenya yang ada di sana." Jeny, memberikan usulan.


"Iya, ini Aku baru saja mau cek email, Kamu keburu datang." Elisa, memperlihatkan layar handphone miliknya pada Jeny.


"Ya udah ayok buka!"


Tapi, di saat Elisa mau membuka email, layar handphone miliknya memberikan notifikasi jika ada panggilan yang masuk.


"Sebentar, kak Aji telpon," kata Elisa, memberitahu Jeny.


"Huh, kakak. Takut banget kamu ilang!" gerutu Jeny, dengan kelakuan kakaknya yang over protektif terhadap istrinya, Elisa.


Elisa hanya tersenyum saja mendengar gerutuan Jeny, tentang kakaknya, yaitu suaminya, Aji.


..."Ya kak."...


..."Ada di nama Sayang?"...


..."Di taman sama Jeny."...


..."Oh, ada Jeny di sana?"...


..."Iya."...


..."Sama siapa lagi?"...


..."Hanya dengan Jeny saja."...


..."Ya sudah, Aku ke sana."...


Telpon di tutup. Elisa melihat ke arah Jeny dengan tersenyum canggung. Dia tidak enak hati, karena Aji seakan-akan tidak percaya jika apa yang dia katakan tadi tidak benar.


"Kakak perlu di cuci otaknya El. Kamu harus bisa membuat hatinya itu tidak curiga terus ya!" kata Jeny kesal, karena merasa kasihan pada Elisa.


"Tidak apa-apa Jen. Dia kan cuma merasa khawatir jika miliknya ada yang rebut. Hehehe..." Elisa, justru mempunyai pikiran yang lain, tentang bagaimana sebenarnya sikap Aji itu ditujukan.


"Iya sih, tapi Aku takut jika Kamu jadi merasa tertindas," kata Jeny dengan wajah cemas karena merasa tidak nyaman situasi yang dihadapi oleh Elisa pada kakaknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Jen. Aku pikir itu cara kakak Kamu, menunjukkan rasa cintanya kepadaku."


Untungnya, Elisa tetap berpikir positif dan tidak terpengaruh dengan pemikiran Jeny tadi.


__ADS_2