Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Aji Sudah Ingat Lagi


__ADS_3

Jeny dan Elisa, sampai di rumah hampir malam. Mereka berdua, segera masuk dan menyapa semua yang ada di dalam rumah.


"Sore Ma, Oma!"


Keduanya, Jeny dan Elisa, mengalami mama Cilla dan Oma Rossa yang duduk di ruang tengah.


"Kok sepi Ma?" tanya Jeny pada mamanya.


"Papa belum pulang. Biyan dan Vero ada di dalam kamarnya sendiri," jawab mama Cilla dengan mengupas buah kelengkeng, untuk diberikan pada Oma Rossa.


"Oh..."


Jeny, akhirnya mengajak Elisa untuk masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, "Yuk El! Ma, Oma. Kita masuk kamar dulu ya, mau mandi," pamit Jeny, pada mama dan omanya itu.


"Ya," jawab mama Cilla pendek.


"Ya..a Jen, ru ma..di," jawab Oma Rossa, dengan bahasanya yang tidak jelas.


"Sip Oma," jawab Jeny, dengan mengacungkan jari jempolnya pada Oma Rossa.


"Aku bisa lihat kakak gak ya? takutnya day aku datang, justru Kamu yang cari," tanya Jeny, sebelum dia masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Coba saja Jen. Siapa tahu, dia butuh sesuatu. Kamu bisa bantu lebih dulu. Aku kan mau mandi, biar gak bau pas deket-deket sama kakak Kamu itu," jawab Elisa beralasan, sambil nyengir kuda, seperti biasanya.


"Halah... dasar Kamu! terus alasannya apa?" tanya Jeny lagi, sambil berpikir.


"Hemmm, bilang saja Aku masih capek, baru pulang dari kuliah. Jadi Kamu yang bantu dia dulu. Gimana?"


"Wah, boleh juga tuh! sip deh."


Akhirnya, Jeny menyetujui usulan dari Elisa. Dia segera pergi ke kamar kakaknya, Aji.


Elisa, memandang ke depan, di mana Jeny berjalan ke arah tangga, kemudian naik ke atas untuk bisa masuk ke kamar kakaknya, Aji.


"Semoga saja, semuanya cepat berlalu. Meskipun Aku senang berada di sini, tentu saja Aku tidak merasa nyaman. Apalagi Aku bukan siapa-siapa di sini," kata Elissa dalam hati, berharap jika semua sandiwara ini, akan segera berakhir, dan dia bisa bebas, kemudian menjadi Elisa yang seutuhnya.


"Kak El. Baru datang ya?" sapa Vero dari arah samping.


"Eh, iya Ver."


"Bengong aja," kata Vero menyelidik, kemudian ikut melihat ke arah kamar Aji.

__ADS_1


"Mau ke atas?" tanya Vero ingin tahu.


"Gak. Kakak mau mandi dulu," jawab Elisa dengan cepat.


"Oh... awas, jangan lupa kunci pintu. Entar ada kucing masuk lho!" kata Vero, menakut-nakuti Elisa.


"Hah, kucing. Kayaknya di rumah ini, tidak ada kucing!" sahut Elisa dengan wajah cemas. Dia memang sedikit tidak nyaman dengan hewan imut itu, kucing.


"Hahaha... kucingnya, kucing garong kak!"


Vero, tertawa terbahak-bahak, melihat perubahan warna pada wajah Elisa. Tampak memerah malu tapi juga kesal karena merasa di kerjain.


"Awas ya Kamu Vero!" teriak Elisa mengancam, sebab, Vero sudah berlari ke arah kamarnya lagi, masih dengan suara tawanya yang tertinggal.


"Huhfff... Aku pasti akan merindukan suasana seperti ini," guman Elisa dengan tersenyum, menatap ke arah perginya Vero.


*****


Tok, tok, tok!


Jeny, mengetuk pintu kamar kakaknya, Aji. Tadi, sebenarnya dia mau langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi takut jika kakaknya itu sedang tidak dalam keadaan tidur, dan akan menegurnya karena dinilai tidak punya sopan santun.


"Siapa?" tanya Aji, dari dalam kamar.


"Oh, masuklah."


Jeny, akhirnya masuk juga ke dalam kamar kakaknya. Dia tampak tersenyum, saat Aji melihatnya.


"Apa Kak... maksud Saya, den Aji butuh sesuatu?" tanya Jeny dengan gugup. Dia sedikit cemas, jika keceplosan dan salah sebut dan perkataannya.


"Tidak. Eh iya," jawab Aji tidak jelas, antara tidak dan iya.


Jeny, diam dan tidak bertanya lagi Dia hanya menunggu, kakaknya Aji mengatakan sesuatu.


"Ehmmm, Kamu dari mana, atau mau kemana?" tanya Aji menyelidik, dengan mata memicing.


"Tidak kemana-mana," jawab Jeny sambil menggeleng.


"Kok bawa-bawa tas?" tanya Aji lagi.


Jeny lupa menaruh tasnya terlebih dahulu ke dalam kamar. Dia tadi langsung naik ke kamar kakaknya, jadi tas yang dia bawa sewaktu kuliah tadi, ikut dia bawa juga ke dalam kamar kakaknya itu.

__ADS_1


"Ehmmm, ini tadi tas mau Saya letaknya di meja bawah, malah lupa dan kebawa hingga ke sini. Ya sudah, kalau tidak perlu sesuatu. Saya turun dulu, mau mengerjakan yang lain," pamit Jeny, pada kakaknya, Aji.


"Tunggu!" cegah Aji cepat.


Jeny urung berbalik arah. Dia kembali menghadap pada kakaknya. "Apa perlu sesuatu?" tanya Jeny, mengulang kembali pertanyaannya yang tadi.


"Bisa bantu Saya turun ke bawah. Maksud Saya, tuntun saja. Takutnya jatuh pas turun dari tangga," kaya Aji, meminta bantuan pada Jeny.


Tentu saja Jeny merasa senang. Sekarang, dia ada alasan untuk bisa dekat-dekat dengan kakaknya itu.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Aji, pura-pura tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Jeny.


"Ti... tidak apa-apa. Mari," jawab Jeny gagap, sebab takut jika ketahuan.


Saat di bantu Jeny, turun dari tempat tidur, Aji tersenyum senang, karena dia juga bisa dekat dengan adiknya itu, meskipun hanya sebatas membantunya untuk turun ke lantai bawah, apalagi dia juga belum bisa memenuhi memory ingatnya dengan keberadaan Jeny, adiknya itu.


"Maaf ya, kalau Saya bikin repot dan menyusahkan," kaya Aji dengan sungguh-sungguh.


"Tidak Den. Saya justru merasa senang kok bisa bantu Den Aji," jawab Jeny dengan tersenyum, menyakinkan Aji.


"Nanti, kalau Saya butuh bantuan lagi boleh? Saya takut, menyusahkan Jeny terus.Dia juga memiliki kegiatan dan tugas lain. Aku tidak mau menganggu waktunya belajar dan kuliah juga."


"Tentu Den. Saya justru dengan senang hati membantu Den Aji," jawab Jeny cepat, dengan wajah sumringah.


"Eh Jen.. ehmmm, maksudku Aji!" sapa mama Cilla, ikut gugup seperti Jeny tadi saat berada di kamar Aji.


"Iya Ma. Aji bosan di kamar terus. Lagian nanti malam, ada om Dimas yang datang memeriksa Aji kan?"


"Oh iya, malam ini Dokter Dimas akan datang ke rumah. Kok Mama malah lupa ini," jawab mama Cilla dengan wajah cemas. Dia takut, jika hasil laboratorium terkait racun-racun yang masih ada di tubuh Aji, karena obat yang diberikan paman Ranveer, tidak bisa keluar semua.


"Kenapa Ma?" tanya Aji, saat melihat perubahan wajah mamanya yang tampak cemas.


"Ehmm... tidak apa-apa Sayang. Mama harus telpon papa dulu. Bisa cepat sampai rumah atau tidak ini. Takutnya Dokter Dimas sudah sampai dan papa malah belum ada di rumah."


"Ji, ni... du... Duk."


Oma Rossa, meminta pada Aji, agar duduk di sofa sebelah, dekat dengan dirinya.


"Iya Oma. Oma lebih baik?" tanya Aji, begitu dia mendengar omanya memanggil, dan memintanya duduk di sebelah dirinya.


"Eny. Ka... kam... mu di sa... saja."

__ADS_1


"Iya Oma." jawab Jeny, begitu mendengar perkataan omanya, yang menyuruhnya untuk pergi mandi saja.


Aji, memandang omanya dengan tersenyum. Dia merasa bahagia, sebab, masih dipertemukan dengan omanya itu. Meskipun dalam keadaan yang tidak lagi sehat seperti waktu dulu.


__ADS_2