
Dengan menunduk malu, Elisa tersenyum sendiri. Dia jadi sedikit melupakan kejadian yang sedang menimpanya dengan Rio.
"Aku akan aktif kuliah lagi bulan depan. Aku juga akan ikut bekerja di perusahaan papa. Nanti, Aku akan melamarmu secepatnya ke rumah. Kalau bisa sih, langsung nikah saja kayak Jeny."
Elisa, menoleh ke arah Aji, yang sedang berbicara, tapi tidak melihat ke arahnya. Aji, masih fokus pada setir mobil dan jalanan.
"Kakak..."
"Aku tidak menerima penolakan."
Elisa, tidak meneruskan kalimatnya karena dipotong oleh Aji. Dia akhirnya, hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Dia juga merasa sangat bahagia, mendengar perkataan Aji tadi.
Aji, melirik sekilas, kemudian tersenyum sambil tetap menatap ke arah depan. Dia tahu, Elisa hanya akan mengajaknya berdebat, tentang apa yang dia katakan tadi. Itu akan membuatnya menjadi gemas dan bisa-bisa, dia tidak berkonsentrasi pada setir dan malah fokus pada Elisa saja.
"Kakak sudah memberikan kabar pada Jeny, jika Kamu sudah kembali. Dia tadinya mau pulang, tapi Kakak melarangnya. Kasihan om Dimas, masa baru sampai dan belum sempat Honeymoon, Jeny minta pulang."
"Pffftt..."
Elisa, menahan tawanya saat mendengar penjelasan Aji, tentang Jeny, adiknya yang sedang berbulan madu bersama dengan suaminya, dokter Dimas.
"Kenapa?" tanya Aji memancing.
Elisa tidak menjawab. Dia hanya mengeleng beberapa kali dan mengunci mulutnya sendiri.
"Dasar. Pikirannya kemana-mana!"
"Siapa?" tanya Elisa dengan cepat, sambil memajukan bibirnya.
"Kamu," jawab Aji, dengan menunjuk kening Elisa.
"Tidak," kaya Elisa membantah.
"Tidak salah," sahut Aji dengan gemas. "Sudah-sudah. Jangan mengajakku bicara lagi. Bisa-bisa, Aku akan menghentikan mobil ini dan memakanmu nanti."
Elisa mengerutkan keningnya bingung, dengan perkataan Aji yang tidak dia mengerti. Dia hampir saja bertanya lagi, tapi tidak jadi, karena ternyata saat ini, mereka sudah sampai di depan kantor polisi.
Papa Gilang, mama Cilla dan Rio, sudah menunggu mereka berdua di depan pintu masuk. Elisa dan Aji, segera mendekat, kemudian masuk kedalam bersama-sama.
Mereka disambut oleh petugas kepolisian yang berjaga. Dari keterangan mereka, pihak kepolisian sudah mengirim beberapa penyidik untuk melakukan penyelidikan ke hotel.
"Saat ini, rekan kami pasti sedang berada di sana. Jika ingin tahu lebih lanjut, anda bisa datang ke hotel dan ikut menyaksikan sendiri. Tapi jika bersabar, anda bisa menunggu hasilnya nanti."
__ADS_1
"Aku mau ke hotel," kaya Aji pada petugas. Yang lain, ikut mengangguk sebagai tanda, jika mereka semua mau ikut ke hotel juga.
"Jangan terlalu banyak. Ini bisa menghambat penyelidikan yang sedang berlangsung. Sebaiknya Anda menunggu hasilnya saja," kata petugas memberikan penjelasan dan alasannya.
"Baiklah. Kami akan pulang saja dan menunggu hasilnya." Papa Gilang, akhirnya setuju dengan usulan petugas tadi.
Mereka semua, kembali keluar dari kantor polisi.
"Bagaimana?" tanya mama Cilla dengan wajah bingung.
"Kita ke hotel ya Om. Aku mau ambil mobil juga," kata Rio meminta kepada papa Gilang agar bisa mengantarkannya juga.
"Iya. Begitu juga baik. Jika kita di sana di minta untuk pulang, ya kita pulang, tapi setidaknya, kita bisa tahu, apakah mereka benar-benar melakukan tugasnya dengan baik atau hanya sekedar membuat laporan dan kasus menguap begitu saja."
Rio, tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh papa Gilang. Dia hanya ingin mengambil mobil dan meminta bantuan pada beberapa orang pekerjanya untuk membantu mengurus semua ini, bersama dengan Aji nantinya, sesuai apa yang sudah mereka berdua bicarakan tadi.
Aji, mengangguk samar ke arah Rio. Dia tahu, apa yang dipikirkan Rio saat ini.
Akhirnya dua mobil tadi, meninggalkan halaman depan kantor polisi. Mereka semua menuju ke hotel, dimana Rio dan Elisa di sekap kemarin malam.
*****
"Oh iya, ini," jawab mama Cilla, dengan menyerahkan handphone miliknya pada Rio.
"Terima kasih Tan. Rio mau telpon ayah dulu. Takutnya, ayah nyariin. Soalnya, kemarin itu kasih kabar jika beberapa hari lagi akan ke Jakarta. Siapa tahu sekarang ini sudah sampai. Bisa-bisa, ayah kebingungan mencari Rio."
Mama Cilla, menyerahkan handphone miliknya pada Rio. Dengan tersenyum, Rio menerimanya, "Terima kasih Tante."
"Oh ya Rio, Jeny pernah bilang kalau ayah Kamu pengusaha armada bus yang sukses di daerah Kamu. Malah sudah buka cabang-cabang juga di kota-kota lain ya. Selamat ya, yang ada di Jakarta Kamu yang pegang sekarang." Papa Gilang, memberikan ucapan selamat untuk Rio.
"Terima kasih Om. Pengusaha sukses apa ya? tapi Rio aamiin saja. Hehehe... cuma ke usaha kecil-kecilan Om."
Rio malu menjawabnya, dia hanya terkekeh kecil dan mengeleng mendengar ucapan papa Gilang.
"Maaf ya Om, mau telpon ayah sebentar," kata Rio lagi, sambil mengangguk sopan, untuk meminta waktu.
"Ya-ya, silahkan!"
Rio, menekan beberapa angka untuk menelpon ayahnya. Telpon segera di angkat oleh ayahnya.
..."Halo, siapa ini?"...
__ADS_1
..."Yah, ini Rio."...
..."Hai, bagaimana bisa Kamu menghilang begitu saja. Bahkan, teman Kamu yang katanya mau ikut bantu, juga tidak datang. Kenapa nomer Kamu ganti?"...
..."Aku... Aku di sekap Yah. Tengah malam Aku batu sadar. Ini nomer handphone milik mamanya teman Rio."...
..."Apa di sekap? dimana Kamu sekarang?"...
..."Sekarang menuju ke hotel *** karena ada penyelidikan di sana."...
^^^"Maksudnya, ngapain Kamu di sekap di hotel?"^^^
..."Ayah datang saja. Nanti Rio bisa cerita banyak."...
..."Baiklah. Kirim pesan alamatnya, biar ayah bisa ke sana secepatnya, dan tidak usah mencari-cari lagi."...
..."Ya Yah."...
Telpon di tutup. Rio mengetik pesan untuk ayahnya, memberitahu alamat hotel yang dia tuju sekarang ini.
"Terima kasih Tan," ucap Rio, setelah selesai dan mengembalikan handphone milik mama Cilla.
"Ya, sama-sama."
Tak lama, mobil yang datang bersamaan itu, masuk beriringan ke area parkir hotel.
"Ayuk turun, atau Aku harus gendong juga?" tanya Aji menantang Elisa, untuk turun dari mobil.
Elisa, hanya diam dengan wajahnya yang memerah, karena perkataan Aji barusan. Dia turun, kemudian langsung berjalan ke arah mobil yang ditumpangi mama Cilla. Dia maju, jika nanti Aji akan menggodanya lagi.
"Tan," sapa Elisa, saat mama Cilla baru saja menutup pintu mobil.
"El. Kamu baik-baik saja kan?" tanya mama Cilla, yang melihat wajah Elisa bersemu merah.
Elisa mengelengkan kepala beberapa kali. Tapi, mana Cilla langsung paham, begitu Aji datang mendekat. "Kamu Spain Elisa?" tanya mama Cilla menodong Aji dengan tatapan menyelidik.
"Tidak. Aji tidak ngapa-ngapain Elisa. Memangnya apa?" jawab Aji, balik bertanya.
"Itu, kenapa wajahnya memerah?" tanya mama Cilla, dengan menunjuk Elisa dengan arah lirikan matanya.
Elisa, semakin menunduk malu dengan pertanyaan yang diajukan oleh mama Cilla pada anaknya, Aji.
__ADS_1