
Semua kasus yang menimpa Biyan, menjadikannya berpikir lebih dewasa lagi. Dia tidak lagi pergi ke mana-mana jika hari sudah malam. Dia hanya akan pergi, jika ada acara sekolah atau diajak oleh mama ataupun saudara-saudaranya yang lain.
Acara perpisahan sekolah Biyan dan Vero, juga sudah selesai dilaksanakan dua hari yang lalu. Dan hari ini, semua orang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke India mengantar Biyan, termasuk Vero juga. Dia belum ada panggilan dari universitas di Jepang, jadi masih ada waktu untuk bersama dengan kembarannya terlebih dahulu.
Pesawat tuan besar Sangkoer Singh akan tiba di Jakarta sore nanti. Itu artinya mereka harus sudah siap di bandara selepas magrib, karena awak pesawat, perlu beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Mereka berangkat ke India pada malam hari, dan diperkirakan akan tiba di India pada pagi harinya.
Aji dan Elisa, juga bersiap untuk acara Ka Singh di sana. Apalagi, acara ini sudah termasuk terlambat untuk usianya yang sudah berbulan-bulan dan bukan lagi bayi yang baru lahir.
Tuan besar Sangkoer Singh, sudah menerima kabar dari Aji. Dia juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara tersebut. Dia juga sudah menyediakan pekerjaan dan pendidikan yang dirasa cocok untuk Biyan di India sana.
Biyan akan ditempatkan di sebuah pelatihan miliknya. Pelatihan ini dibuat khusus untuk para bodyguard yang akan di sewa orang-orang kaya, atau para petinggi perusahaan dan negara. Jadi, mereka pastinya di didik secara baik untuk kedisiplinan dan juga tata cara kehidupan sehari-harinya.
Papa Gilang dan mama Cilla, juga menyetujui pendidikan untuk Biyan itu. Mereka berpikir, jika ini untuk kebaikan anaknya juga, karena ada penanaman nilai kedisplinan yang tinggi di dalam pendidikan semi militer tersebut. Mereka percaya dengan keputusan yang diambil oleh tuan besar Sangkoer Singh, untuk kebaikan Biyan.
"Nanti di sana kita berapa lama Kak?" tanya Elisa pada Aji yang baru saja selesai memakai jas. Dia akan menghadiri acara GAS bersama dengan papa Gilang dan kedua adik kembarnya itu.
"Tergantung Ka Sing," jawab Aji asal.
"Maksudnya?" sahut Elisa cepat. Dia bertanya seperti itu tadi, karena kandungan Jeny sebentar lagi akan lahir. Dia ingin menunggui pada saat Jeny melahirkan anaknya yang ke-dua juga, sama seperti yang pertama dulu.
"Kita tidak tahu juga, kan tergantung Ka Singh serta ayah di sana. Yang penting, Biyan bisa sampai di sana, dan acara untuk Ka Singh bisa dilaksanakan juga. Ini kalau kita balik ke Indonesia, bisa dipastikan ayah Sangkoer Singh juga akan ikut serta, karena Mension milik ayah sudah selesai dikerjakan. Tinggal mengisi perabotan yang sudah dipesan saja. Ada beberapa perabotan, yang didatangkan langsung dari India oleh ayah. Jadi memang tergantung dari ayah. Kalau papa dan mama tidak bisa lama-lama, karena pekerjaan di sini tidak bisa ditinggal pergi dalam waktu yang lama."
Mendengar jawaban dari suaminya itu, Elisa tersenyum lebar. Dia berpikir jika sudah ada gambaran seperti itu, bisa dipastikan jika mereka tidak akan terlalu lama ada di India. Sama seperti waktu pertama datang ke India, dan berakhir dia hamil serta melahirkan di sana juga.
Bukannya Elisa tidak betah ada di rumah ayah Sangkoer Singh di India, tapi seenak-enaknya ada di negara orang lain, tentu saja masih lebih enak berada di negara sendiri. Apa-apa, sudah kita kenal dan tidak terlalu rumit untuk ukuran lidah serta kebiasaan sehari-hari. Begitulah pemikiran Elisa yang sederhana.
"Kenapa?" tanya Aji curiga, karena melihat senyuman lebar pada wajah istrinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Senang saja Kak," jawab Elisa sambil nyengir kuda.
"Kamu gak seneng hidup di India?" tanya Aji. Dia ingin tahu, apa yang dirasakan oleh istrinya itu. Elisa, jarang mengemukakan sisi hatinya yang lain, termasuk soal tempat tinggal. Dia hanya mengikuti kemauan Aji.
"Seneng kok Kak. Asalkan sama Kakak, Elisa selalu senang. Hehehe..."
"Bener?" tanya Aji, memastikan jawaban dari Elisa itu keluar dari dalam hati.
Elisa mengangguk cepat. Dia tidak ingin membuat Aji salah paham, dengan pertanyaan dan juga jawabannya yang tadi.
"Oh, ya sudah. Ayok kita keluar. Ka Singh ada dimana?" ajak Aji, pada Elisa. Dia juga menanyakan tentang keberadaan anaknya, Ka Singh, yang sekarang sudah ada pengasuhnya sendiri.
"Sudah. Tadi sama mbak_nya kok. sepertinya mereka berdua sedang berjemur di halaman depan atau samping," jawab Elisa menenangkan hati suaminya.
Mereka berdua pun keluar dari kamar. Di ruang tengah, Biyan dan Vero sudah siap menunggu. Mereka berdua juga mengenakan pakaian formal, karena ini acara kantor. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh papa Gilang kemarin.
Tak lama kemudian, papa Gilang muncul. Dia juga sudah siap dan mengajak ke tiga anaknya itu untuk berangkat sekarang juga, supaya tidak terlambat datang.
"Hati-hati ya!" kata mama Cilla, berpesan pada keempat laki-laki yang menjadi kebanggaannya. Keempatnya, adalah orang yang begitu dekat dengannya selama ini. Suami dan juga anak-anak yang selalu ada di dalam hatinya.
Aji mengendong Ka Singh sebentar, sebelum masuk ke dalam mobil. Dia menciumi anaknya, seperti seorang ayah yang tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya.
Papa Gilang juga melakukan hal yang sama. Vero dan Biyan, tidak mau ketinggalan. Keduanya ikut juga mengendong dan mencium keponakannya itu. Anaknya Aji dengan Elisa.
Elisa jadi tertawa senang melihat kejadian yang ada di depannya ini. Dia merasa sangat bahagia karena ini adalah hal yang langka dan jarang terjadi.
Setelah selesai, Mama Cilla dan Elisa mengantar keempatnya hingga masuk mobil. Ada keharuan yang dirasakan oleh mama Cilla, melihat keempatnya yang tampak selalu gagah dimatanya. Dia ingin, semua ini tidak akan berakhir. Dia ingin, bisa melihat mereka selalu sehat dan hidup dalam kebahagiaan dan rukun selalu.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, mama Cilla masih diam saja ditempatnya yang tadi. Dia juga masih memandang ke arah mobil yang sekarang ini sudah tidak terlihat lagi. Dia sepertinya tidak mau mengalihkan pandangannya dari tempat itu.
"Ma," panggil Elisa, sambil menepuk pundak mama Cilla dengan pelan.
"Apa yang sedang Mama pikirkan?" tanya Elisa ingin tahu, apa yang saat ini mama mertuanya itu pikirkan. Pasti ini ada kaitannya dengan keempat laki-laki yang baru saja mereka antar tadi.
"Tidak ada yang Mama pikirkan El. Mama hanya merasa bahagia, melihat papa Kamu dan suami Kamu, serta adik kembar Kamu tadi. Mereka berempat gagah ya? Mama jadi seneng banget lihat mereka seperti tadi," jawab mama Cilla, dengan wajah berbinar-binar, tapi matanya tampak berembun. Dia menangis haru, tanpa dia sadari sendiri. Haru karena merasa bahagia.
Elisa memeluk mama Cilla. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh mama mertuanya itu. Kebahagiaan yang terasa sempurna.
"Ayo masuk Ma," ajak Cilla seraya mengandeng tangan mama Cilla.
"Mbak, Ka Singh di bawa masuk saja. Matahari sudah semakin panas." Elisa meminta pada baby sitter untuk membawa Ka Singh, masuk ke dalam rumah.
"Iya Bu," jawab baby sitter Ka Singh, yang memang sudah berada di teras dan tidak lagi ada di halaman rumah.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah, dan melanjutkan perbincangan mereka di dalam rumah saja.
*****
Dalam perjalanan menuju ke kantor GAS, papa Gilang membicarakan tentang acara yang akan mereka ikuti nanti.
Dalam acara tersebut, papa Gilang akan memperkenalkan Aji dan kedua anak kembarnya, Vero dan Biyan, sebagai penerus GAS selanjutnya. Tapi dengan catatan, jika Vero dan Biyan sudah bisa dipastikan untuk bisa menjadi seseorang yang mampu untuk ikut menjalankan tugasnya sebagai penerus GAS, pada waktunya nanti.
Biyan hanya diam dan tidak menanggapi terlalu serius dengan perkataan papanya itu. Dua hanya ingin belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik di India nantinya.
Begitu juga dengan Vero, yang belum pernah berpikir sejauh itu. Dia masih merasa terlalu muda untuk bekerja dan berpikir jauh ke depan sana. Dia ingin mengejar mimpi-mimpinya di negara sakura, Jepang.
__ADS_1
Aji juga sama. Dia sudah terlalu banyak tugas dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya saat ini. Belum lagi usaha-usaha dari ayah Sangkoer Singh, yang diserahkan kepadanya, karena berada di Indonesia.
Sebenarnya, Aji meminta pada papa Gilang untuk tidak mengumumkannya hari ini. Aji merasa masih belum saatnya. Tapi ternyata, pendapat Aji tidak diterima oleh papanya, karena papa Gilang ingin, semua pegawai dan kliennya tahu, jika akan ada penerus GAS yang jauh lebih baik dari kepemimpinannya di waktu yang akan datang.