Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Pemeriksaan Mata Aji


__ADS_3

Suasana canggung dirasakan oleh Cilla. Dia hanya bisa diam saja tanpa mampu bergerak untuk melakukan apapun, jadi mirip patung, di mata Gilang, yang ternyata diam-diam memperhatikannya sedari tadi.


"Bisa minta tolong ambilkan camilan itu?"


Gilang berusaha untuk mencairkan suasana yang terasa sangat canggung karena Cilla yang hanya diam dan tidak berani melakukan apapun.


Cilla menoleh kearah Gilang sekilas, kemudian mengangguk samar. Dia membuka bungkusan berisi beberapa camilan kesukaan Gilang, kata mami Rossa tadi, yang masih ada diatas meja.


Cilla menyerahkan satu bungkus camilan yang diminta Gilang. Tapi Gilang tidak segera menerimanya, bahkan dia tetap saja tidak melepaskan tangannya itu, dari laptop yang ada dipangkuannya.


Cilla bingung bagaimana caranya menyerahkan camilan tersebut. Tapi Gilang mengatakan sesuatu yang membuat Cilla merasa gugup lagi. "Tolong buka bungkus camilannya, dan suapi Aku. Kamu tidak lihat? Kedua tanganku sibuk ini," kata Gilang memanfaatkan situasi yang ada.


"Sa... Say... Saya tuan?"


"Iya. Siapa lagi? Mami kan sedang bersama dengan Aji. Kita bisa pacaran kan jadinya," jawab Gilang datar dengan melirik kearah Cilla dengan tersenyum miring. Dia merasa berhasil membuat Cilla merasa serba salah dan juga wajahnya yang kembali memerah.


Tangan Cilla gemetaran, saat membuka kemasan bungkus camilan yang sedang dia pegang saat ini. Apalagi saat tangannya bersiap untuk menyuapkan camilan tersebut ke mulut Gilang. Dia tidak berani menatap wajah Gilang yang sedang melihatnya dengan intens.


"Maaf Cilla. Aku hanya ingin mengajarimu untuk bisa terbiasa denganku nantinya," kata Gilang dalam hati.


Bibi yang sedang berjalan kearah ruang tengah terdiam ditempatnya dan tidak jadi melanjutkan langkahnya. Kini bibi tersenyum ditahan saat melihat adegan yang sedang berlangsung didepannya secara live.


"Nyonya. Nyonya!" panggil bibi pada mami Rossa yang masih sibuk menyuapi Aji, cucunya.


"Apa Bik?" tanya mami Rossa bingung dengan sikap bibi yang sedang diam ditempat.


"Bik. Ada apa?" panggil mami Rossa yang tidak mengerti maksud pembantunya itu.


"Sini Nyonya!" Bibi melambaikan tangannya agar mami Rossa mengikuti apa yang dia lakukan saat ini.


"Aji. Teruskan makannya ya. Oma ada perlu sebentar."


Mami Rossa akhirnya berdiri dari tempat duduknya, dan meminta Aji untuk meneruskan makannya sendiri. Dia berjalan menuju ke tempat pembantunya itu berada.


"Ada apa Bi?" tanya mami Rossa belum tahu apa yang sedang dilihat oleh bibi.

__ADS_1


"Lihat itu Nyonya," jawab bibi dengan menunjuk ke arah sofa.


Di sana, tampak Gilang duduk bersama dengan Cilla, dengan posisi berdampingan. Cilla juga terlihat sedang menyuapi Gilang, dengan camilan yang sedang dia pegang. Camilan yang tadi dibeli oleh mami Rossa bersama dengan Cilla.


"Ada kemajuan ya Bik. Bagus sekali itu!"


Mami Rossa merasa senang dan bahagia melihat mereka berdua, Gilang dengan Cilla, yang terlihat lebih akrab sekarang ini.


"Iya Nyonya," jawab bibi yang merasa ikut senang juga melihat majikan itu tidak lagi bersikap dingin pada wanita.


"Ada apa Oma?" tanya Aji yang sudah berada di dekat mereka berdua, mami Rossa dan bibi pembantu rumah tangga.


"Lihat Aji. Rencana kita sepertinya berhasil!"


Mami Rossa menunjuk ke arah sofa. Aji pun menurut, kemudian melihat apa yang sedang terjadi di sana, dimana papanya Gilang, dengan mamanya Cilla, berada.


"Iya Oma. Tinggal sedikit lagi, rencana kita belum bisa dikatakan berhasil jika mama belum mengiyakan permintaan papa, untuk menjadikan mama sebagai istrinya papa."


Mami Rossa menganguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh cucunya itu. Dia merasa senang bisa merencanakan semuanya bersama dengan Aji. Cucunya itu adalah anak yang pintar, yang kadang-kadang tidak bisa ditebak, bagaimana cara berpikirnya.


*****


Dimana Rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama, saat kejadian penculikan itu juga. Saat pengecekan mata Aji yang pertama kalinya setelah dirawat.


Masih ada sedikit ketakutan yang ada pada Cilla atas kejadian tersebut. Tapi berkat dukungan dari mami Rossa dan juga Gilang, akhirnya Cilla mencoba untuk melupakan semua kenangan yang tidak mengenakkan tersebut.


Hari ini adalah cek kesehatan matanya Aji, untuk yang terakhir kalinya. Tapi tidak hanya itu, selain untuk melakukan test kesehatan matanya Aji, mereka semua juga mau mengambil hasil test DNA yang sudah dilakukan oleh Gilang beberapa minggu yang lalu.


Semua orang merasa deg-degan juga akan hasil tes DNA yang akan segera mereka ketahui nantinya.


"Pak. Bantu bawa tas ya!"


Mami Rossa meminta pada supir yang akan mengantarkan mereka semua ke rumah sakit.


"Baik Nyonya," jawab pak supir dengan patuh..

__ADS_1


"Mami bawa tas besar itu buat apa?" tanya Gilang heran dengan apa yang dibawa oleh maminya itu.


Sebuah tas besar seperti orang yang akan bepergian jauh dan membawa beberapa pakaian yang akan digunakan nantinya.


"Tidak apa-apa. Itu hanya baju Mami. Mungkin saja nanti Mami ingin pulang ke rumah utama."


Jawaban yang diberikan oleh mami Rossa membuat Gilang bingung. Padahal kemarin itu, mami Rossa sendiri yang mengajaknya untuk tinggal di apartemen ini.


"Mami apaan sih. Kok gak bilang-bilang kalau mau pulang! Aku pikir Mami akan terus bersama kami," kata Gilang protes.


"Lhoooo... Kan sama kamu juga nantinya, pulang ke rumah. Cilla sama Aji biar di apartemen di temani bibik."


Gilang mengeryit bingung dengan perkataan maminya itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh maminya.


"Semua sudah siap Nyonya," kata pak supir melapor.


"Ya Pak. Kami juga sudah siap kok!"


Mami Rossa berjalan kearah kamar Cilla dan Aji. Dia segera memanggil mereka berdua. "Aji. Cilla. Ayok berangkat sekarang!"


"Iya Mi," jawab Cilla pendek.


"Yuk Sayang!" ajak Cilla pada Aji, kemudian meletakkannya sisir, ke atas meja yang sedang dia pakai untuk menyisir rambut anaknya itu.


Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi, tampak keluar dari halaman apartemen mewah itu. Sedangkan mobil lainnya masuk tanpa mereka ketahui siapa yang sedang mencari mereka saat ini ke apartemen.


*****


Begitu sampai di rumah sakit tempat Aji dirawat dulu, dan juga Gilang yang sudah melakukan test DNA, mereka menemui Dokter yang dulu merawat Aji. Karena memang sudah jadwalnya, maka mereka tidak perlu mengantri lebih lama lagi.


"Bagaimana Dok, mata anak saya bisa normal lagi kan?" tanya Cilla cemas.


Di sampingnya, Gilang duduk dengan mengenggam tangan Cilla untuk memberikan kekuatan dan kenyamanan. Aji sedang digendong mami Rossa di kursi tunggu yang ada di ruangan dokter tersebut.


"Bisa. Mata anak Ibu bisa normal kok. Ini belum terlalu parah. Tenang ya Bu!"

__ADS_1


Dokter menjelaskan untuk perawatan selanjutnya bisa dilakukan sendiri di rumah. Penjelasan dari dokter tersebut diiyakan oleh Cilla dan juga Gilang.


__ADS_2