
Dua hari kemudian, ayah Sangkoer Singh datang ke Indonesia sesuai dengan yang sudah dijadwalkan. Sama seperti yang sudah dikatakan oleh Aji pada Elisa, beberapa hari yang lalu.
Saat ini mereka semua, termasuk mama Cilla, ada di mansion Tangerang. Mereka datang bersama-sama, dari bandara, sekalian menjemput tuan besar Sangkoer Singh.
"Wah, perjalanan ke Indonesia ini termasuk yang paling Aku nantikan. Padahal, sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali mungkin, Aku datang ke Indonesia ini. Tapi, yang satu ini terasa sangat berbeda."
Tuan besar Sangkoer Singh, mengatakan semua itu saat mereka sedang berbincang dengan santai di balkon lantai tiga yang luas, dengan pohon-pohon bonsai yang cantik-cantik dan tertata dengan rapi.
Para pelayan di mension ini, semua memakai seragam kerja, layaknya pelayan restoran-restoran mewah.
Mereka, para pelayan, menyediakan berbagai macam jenis makanan dan minuman yang ditata sedemikian rupa sehingga majikannya dan juga para tamunya, tidak kesulitan untuk mengambil hidangan yang mereka inginkan.
Semua tertata dengan baik dan teratur. Ini memang diminta sendiri oleh tuan besar Sangkoer Singh, pada anaknya Aji, supaya mempekerjakan seorang ahli di bidangnya, agar mension ini tampak istimewa dan sama seperti tinggal di hotel bintang tujuh.
Di sini, ada manager yang mengurus semuanya. Jadi, tuan besar Sangkoer Singh dan keluarga Aji, yang ikut datang, serasa ada di sebuah hotel dan bukan rumah biasa.
"Sesuai dengan apa yang Aku inginkan. Terima kasih Aji, Kamu sangat bekerja keras untuk mewujudkan keinginan dan impian Ayah yang satu ini."
Tuan besar Sangkoer Singh, memang memiliki impian bahwa suatu hari nanti, saat dia ingin beristirahat dari dunia bisnis, dia bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman. Namum tetap bisa menikmati keistimewaan dari semua yang dia hasilkan selama ini.
"Iya Yah. Aji hanya melakukan apa-apa yang Ayah inginkan. Yang terbaik tetap Ayah sendiri, yang sangat teliti dan hati-hati dalam memilih semuanya, termasuk seleksi para pegawai di sini."
Semua memang dikerjakan oleh Aji, tapi itu dengan persetujuan dari tuan besar Sangkoer Singh sendiri. Aji hanya sebagai pelaksana, yang mengerjakan tugas dari ayah angkatnya itu.
__ADS_1
Ka Singh tiba-tiba minta turun dari pangkuan omanya, mama Cilla. Dia berlari ke arah tempat duduknya tuan besar Sangkoer Singh.
"Halo jagoan Kakek. cepat besar ya!" sapa tuan besar Sangkoer Singh, pada Ka Singh, yang minta dipangku olehnya.
Dengan senang hati, tuan besar Sangkoer Singh mengangkat Ka Singh, untuk dia pangku.
Wowww... berat juga tubuhmu sekarang. Sehat ya Sayang," kata tuan besar Sangkoer Singh, saat tahu, jika pertumbuhan tubuh cucunya itu sangat baik.
Elisa hanya tersenyum melihat anaknya yang sedang bermanja-manja dengan kakeknya, tuan besar Sangkoer Singh.
Begitu juga dengan mama Cilla dan juga Aji. Mereka semua senang dengan kedekatan mereka berdua, Ka Singh dan tuan besar Sangkoer Singh.
"Oh ya menantu. Apa Kamu tidak ada rencana untuk memberikan adik pada Ka Singh, dalam waktu dekat ini?"
Tiba-tiba tuan besar Sangkoer Singh, bertanya pada Elisa, tentang kehamilannya yang kedua.
"Tenang Yah. Tinggal menunggu waktunya kok. Kita sudah berusaha, doakan saja tidak lama lagi, ada kabar bahagia yang akan datang." Aji yang menjawab pertanyaan ayahnya itu. Dia membantu Elisa, yang kesulitan untuk menjawab dan menjelaskan pada ayah angkatnya, Sangkoer Singh.
Setelah itu, mereka kembali berbincang-bincang lagi tentang banyak hal, yang tidak ada kaitannya dengan soal kehamilan dan anak.
"Maaf, Saya mau pamit untuk pergi ke kamar terlebih dahulu. Mau beristirahat," kata mama Cilla, berpamitan pada tuan besar Sangkoer Singh dan Aji, yang sedang berbincang tentang bisnis mereka yang ada di China.
Aji mengiyakan perkataan mamanya. Begitu juga dengan tuan besar Sangkoer Singh.
__ADS_1
"Ayo Ma. Elisa juga mau beristirahat sebentar. Sepertinya Ka Singh juga sudah mengantuk itu," jawab Elisa, yang melihat ke arah anaknya, yang saat ini masih berada di dalam pangkuan tuan besar Sangkoer Singh.
"Oh iya, sepertinya dia memang sudah mengantuk," sahut tuan besar Sangkoer Singh, saat melihat Ka Singh yang terantuk-antuk tidak beraturan.
Akhirnya, Elisa meminta Ka Singh pada tuan besar Sangkoer Singh. Dia membawa anaknya itu ke dalam kamarnya, yang ada di sebelah kamar mama Cilla.
"Mama mau Elisa temani?" tanya Elisa, sebelum mereka mencapai ke pintu kamar.
"Tidak usah El. Kamu juga istirahat ya. Mama cuma butuh tidur," jawab mama Cilla dengan tersenyum, kemudian membuka pintu kamarnya, dengan kunci yang bentuk mirip sebuah kartu kredit.
"Ma. Terima kasih. Mama capek juga karena jagain Ka Singh kemarin-kemarin," kata Elisa lagi, sebelum mama Cilla menutup pintu kamarnya.
"Tidak El. Bukan masalah itu. Mama memang sudah tua, jadi pasti kesehatan tidak akan sama seperti waktu muda dulu."
Mama Cilla menggelengkan kepalanya, saat mendengar perkataan menantunya, Elisa. Dia memang merasa sedikit kurang enak badan, dari kemarin, tapi ada sesuatu yang menganggu pikirannya sedari tadi. Mungkin selain capek yang dia rasakan, mama Cilla juga merasa tidak nyaman tadi, saat harus berhadap-hadapan dengan tuan besar Sangkoer Singh. Walaupun tuan besar Sangkoer Singh adalah ayah angkat anaknya, Aji, mereka berdua tetaplah dua orang asing yang tidak ada hubungan apa-apa.
Elisa, yang tidak tahu kebenaran tentang perasaan mama Cilla, hanya bisa mengangguk dan tersenyum saja. Setelah itu, dia pun pergi melangkah ke arah kamarnya sendiri, setelah mama Cilla menutup pintu kamarnya.
Di balkon lantai tiga, tempat di mana Aji dan tuan besar Sangkoer Singh masih berbincang-bincang. Ada sesuatu yang dikatakan oleh tuan besar Sangkoer Singh pada anak angkatnya itu. Yang mana perkataan itu, tidak pernah disangka-sangka oleh Aji sendiri.
"Aji. Ayah sudah lama sendiri. Tidak pernah ada niatan Ayah untuk menikah lagi dengan wanita manapun, karena ayah sangat mencintai ibunya Vijay Singh. Aku menghormatinya, memujanya, dan tidak mau ada yang mengantikan posisinya di hati Ayah. Tapi, ini untuk kebaikan kita semua, bagaimana kalau Ayah melamar mamamu, untuk jadi istri Ayah. Ini bukan bermaksud untuk mengkhianati cinta Ayah pada mendiang istri Ayah, atau papa Kamu, tuan Gilang. Ayah juga tahu, jika mama Kamu itu, sangat mencintai papamu. Tapi, ini untuk kebahagiaannya dan juga Ayah, pada masa tua kami. Apakah Kamu tidak keberatan, jika mama Kamu setuju dengan lamaran Ayah nanti?"
Aji terdiam mendengar pertanyaan dari ayah Sangkoer Singh. Dia benar-benar tidak pernah menyangka, jika ayah angkatnya itu, bisa memiliki pemikiran seperti tadi yang dia katakan.
__ADS_1
Dia bingung untuk menjawabnya saat ini. Dia juga tidak tahu, apa yang dirasakan oleh mamanya, mama Cilla, pada tuan besar Sangkoer Singh.
Jadi, Aji hanya bisa terdiam dan belum menjawab apa-apa, yang bisa menjadikan salah satu keputusan, untuk langkah apa yang akan dilakukan ayah angkatnya itu nanti, terkait lamaran yang ingin dia ajukan pada mama Cilla.