Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tentang Rasa


__ADS_3

Aji datang tak lama kemudian. Dia tampak tersenyum tipis, melihat keberadaan Elisa, istrinya dan Jeny, adiknya.


"Hai Jen!" sapa Aji pada Jeny.


"Hai Kak. Jadi bodyguard nih?" tanya Jeny, sambil mencibir kelakuan kakaknya itu.


"Kenapa? mau juga kayak Elisa?" tanya Aji, tanpa menjawab pertanyaan yang bernada cibiran dari adiknya sendiri.


"Idihhh... ogah. Om Dimas cintanya gak kayak Kakak juga kali. Lagipula, dia ada banyak sekali pekerjaan, jadi tidak bisa mengikuti kemanapun Aku pergi. Memangnya Kakak?" Jeny, menjawab pertanyaan kakaknya dengan wajah tidak suka, karena menyingung soal suaminya, yang berprofesi sebagai seorang dokter. Karena kesibukan suaminya itu, jadi tidak bisa mengantar Jeny ke kampus hari pertamanya masuk kuliah.


"Sudah Jen. Kamu kan tahu sendiri, dokter Dimas juga sibuk di rumah sakit. Kamu kan bisa nyetir mobil sendiri juga. Kalau Aku, kebetulan saja, Kak Aji, melanjutkan kuliahnya di sini juga. Tapi kan itu juga gak tiap hari, orang dia ambil kelas karyawan juga. Ada kerja juga kan di kantor papa," kata Elisa, menengahi keduanya, yang sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


Suasana di taman yang seharusnya santai dan nyaman, jadi sedikit panas karena cek-cok antara Jeny dan Aji. Tapi, tak lama kemudian, keduanya tertawa bersama-sama sambil menggeleng.


"Tidak. Ini tidak seperti yang Kamu cemaskan El. Tenang saja," kata Jeny, menenangkan Elisa yang terlihat seperti orang yang sedang khawatir.


"Ck. Biasa dia Sayang. Sensinya over dosis," kata Aji, dengan memeluk Elisa, kemudian menyuruhnya agar duduk kembali, "duduklah, supaya Kamu tidak capek."


"Tidak usah pamer romantis-romantisan deh!" cibir Jeny pada Elisa dan kakaknya Aji.


Aji hanya diam tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Elisa, tersenyum malu-malu, karena Aji memperlihatkan kemesraan mereka, di taman kampus, sehingga ada beberapa teman yang melihat kejadian itu.


"Widih... mau dong mesra juga!"


"Wah, yang pengantin baru!"


"Asyekkk..."


Beberapa teman, berkomentar macam-macam. Kebanyakan dari mereka, adalah orang-orang yang kenal dan ikut hadir juga dalam pesta pernikahan mereka berdua.


"Wah, untung ya Elisa. Dapat kakaknya Jeny yang ganteng dan romantis gitu."


"Aku juga mau kali!"


"Pamer saja!"

__ADS_1


"Jangan kebanyakan ngiri, mending nganan kalau mau cepat!"


Yang lain, ada juga yang berkomentar tidak suka. Mungkin itu adalah deretan orang-orang yang sedang patah hati atau tidak bisa meraih cinta mereka.


"Tidak usah dengar apa kata orang. Fokus sama Kakak saja." Aji, memegang tangan Elisa, agar tidak terpengaruh dengan komentar-komentar dari beberapa teman-temannya itu.


Elisa, tersenyum malu-malu. Dia melirik ke kanan dan kiri. Melihat teman-temannya yang melihat ke arah keberadaannya saat ini. Dia merasa tidak enak, karena menjadi pusat perhatian.


"Kakak, jangan gitu jugalah. Elisa ini, terbiasa cuek dan tidak pernah menunjukkan bagaimana sisi hatinya yang lain. Kalau Kakak kayak gini, Elisa bisa-bisa alergi dekat-dekat dengan Kakak, saat berada di luar rumah."


Aji, tidak mendengarkan perkataan adiknya, Jeny. Dia masih saja, mengenggam tangan Elisa, bahkan sekali-kali, mencium tangan tersebut.


Elisa jadi bertambah malu. Wajahnya juga memerah dan tidak lagi sanggup untuk melihat sekeliling. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tentu saja, sudah seperti udang rebus.


"Kakak," panggil Elisa, karena Aji tidak mendengarkan nasehat dari Jeny.


"Hemmm..." sahut Aji tanpa menoleh.


"Malu," kata Elisa memberitahu.


"Pulang saja yuk, biar tidak malu," kata Aji, yang membuat Elisa terbelalak.


"Diam Jen!" kata Aji, memperingatkan adiknya, Jeny.


"Aku hanya memberitahu pada yang lain, agar tidak lagi mencoba untuk mendekati Elisa. Dia sudah menjadi milikku," kata Aji, memberikan penjelasan, tentang tingkah lakunya itu.


"Sudah pada tahu kali Kak. Lagian, Kamu kenapa sih El, kok tidak seperti biasanya?" Jeny bertanya dengan cepat, dengan perbedaan sikap Elisa sekarang ini, dibanding dengan dulu, sebelum menikah dengan kakaknya, Aji.


Elisa, hanya diam tanpa berkeinginan untuk menjawab pertanyaan dari Jeny.


"Tapi siapa tahu, masih ada yang nekad seperti Rio," sahut Aji, mengingat jika Rio adalah teman cowok Elisa, yang paling dekat.


"Rio sudah tidak kuliah di sini. Dia pindah ke luar negeri, karena patah hati. Gadis yang dia cintai sudah kakak ambil. Jadi, Kakak tidak perlu merasa khawatir lagi." Jeny, menjelaskan tentang Rio, pada kakaknya.


Aji, menoleh ke arah adiknya, memastikan bahwa apa yang dia katakan tadi adalah benar adanya.

__ADS_1


"Iya. Aku juga baru tahu barusan dari Elisa." Jeny, memberitahu pada kakaknya itu, dari mana dia tahu kabar tentang Rio yang telah pindah ke luar negeri.


Sekarang, Aji berganti melihat ke arah Elisa. Tatapannya, menuntut penjelasan, apa yang sebenarnya terjadi, saat dia sedang berada di kantor pendaftaran. Meskipun Aji tidak mengeluarkan suaranya untuk bertanya secara langsung, Elisa sudah paham jika dia diminta untuk menjelaskan.


"Egh... El... El tahu dari teman juga. Barusan juga."


Elisa menjawab tatapan mata suaminya yang berarti bertanya. Dia tidak ingin Aji, marah hanya karena berita tentang Rio, di dengar oleh Elisa hari ini.


Aji, benar-benar tidak suka dengan semua yang berkaitan dengan Rio.


"Kak. Selama habis nikah, Elisa kan lebih sering mematikan handphonenya, mungkin karena itu juga dia tidak tahu kabar Rio. Aku juga kan sama, hehehe..." Jeny, terkekeh kecil saat memberikan penjelasan dan alasan pada kakaknya itu.


Aji tetap diam dan tidak berkata apa-apa lagi.


*****


Di apartemen, menjelang makan malam.


"Sayang. Kamu tidak merasa tertekan dengan sikap dan perilakuku yang tadi, saat ada di kampus kan?"


Tiba-tiba, Aji bertanya pada Elisa tentang bagaimana perasaannya, saat berada di kampus dan membahas tentang Rio.


Elisa menoleh dan memperhatikan suaminya itu dengan intens. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Aji. Tapi, dia ingin tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh suaminya saat ini.


"Aku hanya tidak ingin, Kamu bersikap seperti dulu. Yang tidak memperhatikan banyak hal, sehingga lebih sering ceroboh."


Aji, menjelaskan pada Elisa, maksud dari semua yang dia lakukan.


"Kamu harus belajar untuk hati-hati Sayang. Usahakan tetap waspada, dan juga tidak hanya diam jika sedang ada masalah. Kita hidup bersama, jika ada masalah, bilang, jangan hanya diam dan menanggungnya sendiri. Kita bisa berpikir bersama-sama. Kamu bisa kan tidak seperti dulu, sewaktu belum menjadi istriku?"


Elisa, menghela nafas panjang. Dia tahu, maksud dari perkataan Aji ada benarnya. Dia yang terbiasa hidup semaunya, kini harus bisa menyesuaikan diri dan tidak lagi semaunya juga.


"Ini untuk keselamatan dan keamanan Kamu juga. Aku tidak tahu, sampai kapan kebersamaan kita ini ada. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu kedepannya."


Perkataan Aji, yang terakhir, membuat Elisa tertegun dan berpikir. Tapi, dia tidak menemukan jawabannya, sehingga Elisa bertanya juga, "maksud Kakak apa, bicara seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ini hanya seumpama saja," jawab Aji, sambil memeluk Elisa.


Berbagai macam perasaan, kini ada di dalam hati Elisa. Tapi dia tidak juga menemukan titik temu, dari semua perkataan suaminya.


__ADS_2