
Mami Rossa sudah mengomel sepanjang jalan menuju ke rumah. Dia terus mengalahkan anaknya, Gilang, atas semua kejadian yang terjadi pada Cilla dan juga Aji.
"Bagaimana jika ini terjadi pada setiap gadis atau wanita yang kamu ajak bercinta? Apa kamu akan menampung mereka semua dan menikahinya juga? Lalu, sebenarnya berapa banyak anakmu yang tidak diketahui keberadaannya?"
"Mami bicara apa?" Gilang tidak mengerti arti perkataan maminya itu.
"Jangan coba-coba untuk pura-pura tidak tahu apa yang Mami maksud Gilang!" kata mami Rossa mengancam.
"Gilang kan sudah menceritakan tentang semuanya Mi! Apa dan bagaimana cara Gilang bercinta. Bahkan aku lebih sering tidak memakai senjataku ini untuk kepuasan mereka. Aku tidak pernah membuat mereka puas Mi, karena aku tidak mau jika dirasakan oleh para wanita dan gadis-gadis itu. Sama seperti kedua orang brengsek yang dulu. (Mantan kekasih dan sahabatnya sewaktu di Sidney) Jadi tidak mungkin ada yang bisa menuntut Gilang. Semua hanya permainan dendam Gilang. Tapi entah kenapa, malam itu Gilang tidak bisa mengontrol diri dan melakukan semuanya secara benar. Itulah sebabnya, setelah kejadian itu Gilang tidak pernah lagi bermain-main. Gilang mencari-cari keberadaan Cilla tapi tidak juga ketemu. Dan setelah sekian lamanya waktu berlalu, tahun juga berganti, justru Gilang ketemu Cilla ada di toko mami. Dan dia adalah karyawan lama mami!"
Ada nada kecewa dan juga penyesalan yang mendalam pada diri Gilang. Dia tidak menduga, jika permainan nasibnya akan menjadi seperti ini.
"Kamu sih, kalau diajak Mami ke toko tidak pernah mau. Coba dari dulu kamu mau antar Mami jika pergi ke toko. Sudah dari dulu mungkin kalian bertemu. Eh, tapi belum tentu juga ya, kan nasib sudah ada yang atur begitu juga perjalanan dan lika likunya."
Mami Rossa menyayangkan semuanya, baik kelakuan anaknya, garis takdir dan perjalanan nasib yang mereka jalani. Semuanya seperti tidak masuk akal jika tidak mengalami sendiri. Seperti dongeng ataupun cerita dalam novel saja.
*****
Selama ada di apartemen Gilang, Aji dan Cilla tidak pernah kemana-mana. Cilla hanya fokus pada merawat mata Aji agar tidak banyak terkena udara luar juga.
Gilang sering datang ke apartemen untuk melihat keadaan keduanya dan juga membawakan apa saja yang mereka butuhkan untuk sehari-hari. Meskipun ada jasa antar lewat petugas khusus dari pihak apartemen, tapi Gilang tidak percaya begitu saja dengan mereka. Dia lebih memilih untuk datang sendiri. Atau itu hanya sebagai alasan saja, karena Gilang ingin bertemu Aji? eh maksudnya Cilla?
"Ini Papa bawakan Burger. Aji suka kan?" tanya Gilang saat datang berkunjung. Padahal jadwalnya, besok pagi dia juga akan datang untuk mengantar Aji ke rumah sakit, untuk pemeriksaan ulang matanya.
"Wah... suka Pa, terima kasih!" Teriak Aji senang.
Aji langsung melahap Burger yang ada di hadapannya. Dia makan dengan lahap. Saos dan mayonaise sampai belepotan kepipinya.
__ADS_1
"Pelan-pelan Sayang!" kata Cilla memperingatkan.
"Hati-hati makannya!" kata Gilang memberitahu.
Dia bersamaan dengan Cilla yang juga bermaksud mengambil tissue untuk membersihkan pipi Aji. Tangan kedua saling bersentuhan tanpa sengaja. Gilang dan Cilla saling pandang dan sama-sama tidak jadi mengambil tissue tersebut. Keduanya menarik tangan dari kotak tissue secara bersamaan. Aji bingung melihat tingkah keduanya yang saling lirik tanpa ada yang bersuara.
"Ma. Tolong tissue Ma!" kata Aji meminta pada Cilla.
"Eh, iya ini Sayang!" Cilla pun menyodorkan kotak tissue pada Aji agar bisa mengambilnya sendiri. Sedangkan Gilang hanya diam dan menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa sambil menghela nafas panjang.
"Papa tidur disini untuk semalam boleh?" tanya Gilang pada Aji. Dia ingin bisa merasakan tidur bersama dengan anaknya, Aji.
"Aji. Kamu tidak ingin tidur bareng Papa lagi Sayang, seperti kemarin itu?" tanya Gilang lagi sebelum Aji sempat menjawab pertanyaannya yang tadi. Gilang juga mengedip-ngedipkan mata untuk memberi kode pada Aji, agar diijinkan untuk bisa tidur di apartemen ini untuk semalam saja.
"Memang boleh? Kan kata Oma Papa dilarang tidur di sini!" Aji mengingatkan perkataan Omanya, mami Rossa.
"Lebih baik Tuan pulang sekarang. Dari pada nanti lebih malam, dan bertambah lagi alasannya jika sudah larut dan tidak berani untuk pulang sendiri."
Tiba-tiba Cilla ikut berkata untuk mencegah niatnya, padahal saat ini, Gilang sedang berpikir untuk mencari alasan yang lebih baik dan bisa di terima akal. Hilang sudah harapan Gilang sekarang. Dia memejamkan matanya dan mengambil nafas panjang, kemudian segera berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah aku pulang!" Akhirnya Gilang mengalah juga. Dia pamit dengan wajah masam karena merasa kecewa.
Setelah Gilang pamit dan keluar dari apartemen, Cilla melakukan tos bersama dengan Aji, anaknya itu. Mereka berdua berhasil membuat Gilang salah tingkah dan merasa tidak dibutuhkan.
"Pinter banget anak Mama!" kata Cilla memuji Aji, anaknya yang memang pintar itu.
Di tempat parkir apartemen.
"Huh... kan gagal maning, gagal maning. Persis seperti sinetron waktu aku kecil dulu. Selalu gagal dalam menjalankan misi dan juga tugas."
__ADS_1
Gilang mengerutu sendiri karena gagal dalam melaksanakan rencananya kali ini. Padahal dia ingin bisa lebih dekat dengan Aji, ataupun dengan Cilla juga. Tapi sepertinya dia memang harus lebih bersabar. Dia juga maklum jika Cilla bersikap seperti itu. Tentu saja Cilla masih merasa takut jika berdekatan dengannya. Cilla pasti ada trauma tersendiri atas kejadian waktu itu. Gilang berjanji tidak akan memaksanya lagi, dan pelan-pelan saja mendekatinya, meskipun itu butuh waktu yang lama dan juga kesabaran yang tinggi.
"Sabar Gilang, sabar! Waktumu masih kurang lama untuk menebus kesalahan dan membawa mereka dalam hati serta kehidupanmu," kata Gilang menyemangati dirinya sendiri.
Setelah itu, Gilang menghidupkan mesin mobilnya dan melaju pelan, keluar dari area parkir apartemen mewah miliknya itu.
*****
Sekitar pukul setengah sembilan pagi.
Gilang sudah sampai di pelataran parkir apartemen. Dia bersiap untuk menjemput Aji yang akan melakukan pemeriksaan ulang pada matanya.
..."Aku sudah ada dibawah. Aku naik dulu atau kalian yang turun?" tanya Gilang melalui telpon genggamnya....
..."Kamu sudah siap. Sebaiknya tunggu di situ saja. Biar kami yang akan turun," jawab Cilla dengan telpon genggamnya juga....
..."Baiklah. Aku tunggu di pintu lift bawah!" Sahut Gilang cepat....
Tidak menunggu lama, Cilla dan juga Aji sudah tampak keluar dari dalam lift kamarnya. Aji segera memeluk tubuh Gilang dengan manja. "Papa..." teriak Aji histeris.
"Hallo jagoan Papa, sudah siap ya!" tanya Gilang pada Aji yang sudah berada dalam gendongannya.
"Siap dong!" jawab Aji mengacungkan jari jempolnya.
"Wiehhh, keren anaknya Papa!"
Aji tertawa senang dalam gendongan Papanya. Cilla pun ikut tersenyum melihat keduanya yang terkuat semakin dekat.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada dua orang yang sedang mengintai dan mencari kesempatan untuk melakukan sesuatu pada Aji. Anak mereka berdua.