Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Martabak Telur


__ADS_3

Suka, duka silih berganti, dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada duka yang abadi, dan tidak ada juga suka yang selalu datang, tanpa ada duka yang mengiringi. Mereka, selalu seiring sejalan, tanpa bisa kita minta, tanpa bisa kita tolak juga.


Sama seperti yang Elisa rasakan, saat kepergian bapaknya, dia sudah menyelesaikan kuliahnya dan tinggal menunggu waktu wisuda saja. Tapi, takdir ternyata berkata lain. Bapaknya, harus pergi terlebih dahulu, sebelum bisa melihat dirinya lulus dan wisuda, menjadi seorang sarjana, seperti yang dia mimpikan bersama dengan bapaknya dulu.


Sebulan kemudian, tiba waktunya Elisa wisuda. Dia tampak bahagia meskipun kesedihan tidak bisa dia sembunyikan dari pancaran sinar matanya yang terlihat sendu.


Ada Aji, suaminya, yang mendampingi saat acara tersebut berlangsung. Tapi, dia tetap merasa ada yang kurang, karena tidak ada bapak yang ikut dalam acara ini. Acara, yang sudah di nanti-nanti oleh dirinya dan juga bapaknya sejak dulu, saat dia masih belum menjadi istri dari seorang Aji Putra.


Aji, memeluk istrinya, Elisa, agar tenang dan tidak merasa sedih terus saat acara wisuda ini.


"Jangan nangis terus ah, nanti riasan di wajah Kamu luntur dan tidak cantik lagi, pas di foto," ledek Aji, dengan maksud menghibur Elisa.


Wajah Elisa jadi merenggut, dengan bibir yang mengerucut. Dia merasa di ledek oleh suaminya. Tapi, akhirnya dia tersenyum juga, karena tahu, jika Aji, hanya ingin menghiburnya dengan cara menggoda.


"Nah, gitu kan jadi cantik," kata Aji lagi, tapi dengan sebuah pujian.


"Selama ini tidak cantik ya?" tanya Elisa cepat. Dia merasa masih di ledek oleh suaminya itu.


"Cantik dong, kalau gak cantik, mana mungkin Kakak suka sedari awal melihat Kamu, bahkan yakin jika kita berjodoh," sahut Aji, sambil menyentil hidung Elisa dengan gemasnya.


"Ihhh genit!"


"Hehehe... biarin, yang penting cinta kan?" ledek Aji, sambil menaik turunkan alisnya. Dia juga tersenyum-senyum sendiri melihat Elisa yang menjadi kesal karena ulahnya itu.


"Ihhh..."


Elisa bertambah gemas, dan tidak sadar, jika sudah melupakan kesedihannya untuk sejenak.


Aji, tersenyum tipis melihat Elisa, yang sedang salah tingkah, karena ulahnya. Dia merasa senang, karena berhasil membuat Elisa ceria lagi di hari bahagia ini. Hari wisuda yang sudah dinantikan oleh mereka berdua.


"Kak, mama dan juga papa ikut datang kan?" tanya yang Elisa, saat ingat untuk moment foto nanti.


"Iya, mereka ada di luar, menunggu kita." Aji, mengangguk mengiyakan.


"Kasihan Jeny. Dia harus menunda kelulusan karena melahirkan. Tapi dia pasti merasa bahagia, karena ada bayi cantik yang membuat rumahnya jadi rame," kata Elisa, sambil membayangkan bagaimana keadaan Jeny, yang sedang berbahagia sekarang ini.


Jeny, sengaja mengambil cuti untuk kuliahnya, karena waktu dia hamil dan melahirkan, bersamaan dengan pembuatan skripsi. Jadi, dia harus bersabar lagi, untuk kelulusannya tahun depan.


"Halah, gitu saja, om Dimas minta Jeny gak menunda kehamilan lagi, biar langsung katanya. Hahaha... alasan saja itu Om Dimas. Biar Jeny anteng di rumah."


Aji, menggeleng sendiri, saat mengatakan semua itu. Dia ingin, nanti Elisa juga sama seperti Jeny. Bisa hamil, dan mengasuh anak-anak mereka berdua nanti.

__ADS_1


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Elisa, menyelidik, saat Aji terlihat jelas sedang tersenyum tapi tidak tahu alasannya.


"Gak. Gak ada apa-apa kok," jawab Aji, mengelak.


"Pasti ngayal deh, nanti malam saja langsung gak usah pakai ngayal Kakak!" bisik Elisa, yang terdengar tegas di telinga Aji.


Aji, tentu jadi melotot kaget, saat mendengar perkataan Elisa. Dia merasa senang, karena istrinya itu, bisa juga genit dan menggoda dirinya, di saat yang tidak tepat.


"Coba bilangnya pas di rumah. Pasti, langsung deh. Gak perlu basa-basi lagi," sahut Aji, kemudian mencuri kecupan di pipi Elisa.


Elisa, celingak-celinguk melihat ke sekeliling. Dia merasa takut, jika ada orang yang ikut mendengarkan perkataan suaminya itu.


"Kamu lihat apa Sayang?" tanya Aji, yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Elisa, yaitu melihat ke sekeliling.


"Kakak, tertawa dan bicara keras-keras. Siapa tahu, ada yang ikut mendengar tadi, kan malu Kak," jawab Elisa sambil memanyunkan bibirnya.


Akhirnya, Aji terdiam. Acara juga akan segera di mulai, sehingga Elisa mempersiapkan diri untuk segera maju ke depan.


*****


Langit malam terlihat tidak bersahabat. Aji, yang baru pulang dari urusannya, segera masuk ke dalam mobil dan berusaha untuk secepatnya bisa pulang. Dia tidak ingin kehujanan di tengah jalan. Ada sedikit trauma dengan suasana seperti sekarang ini. Mengingatkan pada kejadian, dimana dia dikejar-kejar segerombolan mafia saat ingin kabur dari markasnya.


Aji, mencari-cari uang receh yang biasa ada di kotak dasbor. Tapi ternyata, yang ada hanya receh ribuan saja. Akhirnya, dia mengambil dompet di dalam tas.


"Ini Pak."


Pengemis melongo. Orang yang ada di dalam mobil tersebut, memberinya tiga lembar merah, dan tidak berupa uang receh seperti biasanya.


"Tuan, ini banyak sekali. Apa tuan tidak tahu, berapa uang ini?" tanya pengemis itu. Dia mengira jika Aji adalah orang pendatang baru, karena wajahnya yang terlihat tidak seperti orang Indonesia pada umumnya.


"Iya tahu," jawab Aji pendek sambil tersenyum.


"Kenapa Tuan tidak tahu, jika ini bukan uang receh?" tanya pengemis itu lagi.


"Bapak belikan saja, makanan dan yang lain, untuk teman-teman bapak yang di sana juga," jawab Aji, menunjuk pada segerombolan pengemis atau gelandangan yang ada di emperan toko pinggir jalan, yang sudah pada tutup semua.


"Oh begitu. Terima kasih Tuan, semoga tuan selamat sampai di rumah."


Aji, mengangguk sambil tersenyum tipis, dan kembali menjalankan mobil, saat lampu kembali menyala hijau.


"Elisa sudah tidur belum ya?" tanya Aji pada dirinya sendiri. Dia ingin membelikan nasi goreng atau sekedar makan malam untuk Elisa. Dia yakin, meskipun Elisa sudah makan sebelumnya, dia pasti akan merasa senang, jika mendapat makanan lagi sebagai oleh-oleh darinya.

__ADS_1


"Itu ada penjual martabak. Aku akan beli dulu.Oh iya, Elisa lebih suka martabak telur dari pada martabak Bandung. Mungkin dia takut tersaingi dengan manis_nya martabak, hehehe..." Aji, bergumam seorang diri dalam mobil. Dia juga terkekeh, saat ingat jika Elisa, benar-benar tidak mau mencicipi martabak manis, saat dia bawa waktu dulu.


"Pak, martabak telur special satu ya," pesan Aji, dari dalam mobil. Dia hanya membuka jendela kaca saja.


..."Halo Sayang."...


Aji menelpon Elisa, saat sedang menunggu pesanan martabak telur.


..."Kakak belum pulang?"...


..."Sudah."...


..."Sudah ada di dalam lift?"...


..."Belum."...


..."Terus?"...


..."Beli martabak Bandung yang manis ya?"...


..."Ah, gak mau. El gak mau pokoknya!"...


Elisa, sudah berteriak-teriak menolak martabak manis, padahal belum juga ada di depan mata.


..."Biarin, kakak suka yang manis."...


..."Ah, pokoknya yang telur saja. Gak mau manis!"...


..."Kenapa?"...


..."Karena El, sudah manis! Hahaha..."...


..."Huh, istriku kok narsis sekali."...


..."Biarin. Cepat ya, El tunggu pokoknya, yang telur!"...


Klik!


Aji, menggeleng cepat saat mendengar suara istrinya, yang dengan tegas menolak martabak manis yang dia tawarkan.


"Ada-ada saja Elisa," kata Aji, mengomentari jawaban dari istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2