Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Nama Yang Cocok


__ADS_3

Oek... oek!


Oek...oek!


Pintu ruang bersalin terbuka. Semua orang yang sedang menunggu di luar, papa Gilang, mama Cilla dan tuan besar Sangkoer Singh segera berdiri. Mereka menyambut Aji yang keluar dengan menggendong bayinya. Sedangkan Elisa, masih ditangani di dalam ruangan.


"Wah... sudah lahir cucu Oma. Cewek apa cowok Sayang?" tanya mama Cilla pada Aji. Mama Cilla juga meminta pada Aji, untuk menyerahkan bayi tersebut untuk dia gendong. "Sayang sini, biar Mama yang gendong. Ahhh, sini-sini, sama Oma ya Sayang," ucap mama Cilla, menyambut bayi yang diserahkan Aji kepadanya.


Papa Gilang juga begitu antusias, melihat cucunya yang sekarang sudah ada di gendongan istrinya.


Tuan besar Sangkoer Singh, memeluk Aji dengan haru. "Selamat ya Aji. Sekarang Kamu sudah menjadi seorang Ayah," ucap tuan besar Sangkoer Singh, memberikan ucapan selamat pada Aji.


"Terima kasih Yah. Aji akan menjaganya dengan baik," sahut Aji. Mereka berdua, masih saling berpelukan. Sama-sama tersenyum, penuh haru dan rasa yang bahagia.


"Bagaimana rasanya?" tanya papa Gilang, yang sekarang ganti memeluk anaknya, Aji.


"Tidak bisa diungkapkan Pa. Apalagi tadi, saat Aji ada di dalam menemani Elisa. Tegang, melebihi saat ikut test beasiswa ke Jerman," jawab Aji, yang membuat papa Gilang dan tuan besar Sangkoer Singh tertawa-tawa senang.


"Hahaha... begitulah kira-kira. Papa juga dulu begitu, iya kan Ma?" kata papa Gilang, yang mengingat kembali saat dia menunggui mama Cilla melahirkan Jeny, dan kedua anak kembarnya, Vero dan Biyan.


Mama Cilla menggangguk dan juga tersenyum, mendengar perkataan suaminya itu. Dia juga menitikkan air mata kebahagiaan, yang sedang dirasakan saat ini.


Tak lama, Elisa di dorong oleh seorang perawat, dengan kursi roda. Dia tidak mau di bawa bersama dengan brangkar untuk wanita melahirkan, karena merasa sehat dan tidak lemas, seperti wanita yang melahirkan sebelum dirinya tadi.


Mereka semua, mengucapkan selamat pada Elisa. Mama Cilla juga memperlihatkan bayinya di depan Elisa. Dia ingin membantu Elisa, supaya bisa dengan jelas melihat wajah dan keadaan bayinya. Tadi, Elisa belum sempat melihat lebih lama bayinya itu, karena harus segera di tangani terlebih dahulu oleh dokter. Sedangkan bayinya di ajak keluar Aji, menemui oma dan opa_nya.


"Muach... muach! Semoga sehat dan jangan rewel-rewel ya Sayang," ucap Elisa, setelah mencium kedua pipi anaknya itu.

__ADS_1


"Oh ya El, tadi Kamu sudah tahu belum, jenis kelamin bayi Kamu ini?" tanya mama Cilla, memastikan bahwa Elisa sudah tahu jenis kelamin anaknya sendiri.


"Tahu dong Ma. Bahkan, sebelum dia lahir, Elisa sudah yakin jika dia akan berjenis kelamin cowok. Meskipun Elisa selalu bicara dengan Kakak kalau ingin anak cewek, tapi saat hamil, Elisa justru punya keyakinan bahwa anak yang Elisa kandung adalah cowok. Maka dari itu, Elisa tidak mau bertanya pada dokter, tentang jenis kelamin bayi saat USG. Elisa juga meminta pada dokter, supaya tidak menyebutkan jenis kelaminnya juga. Ini untuk memastikan ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak, termasuk waktunya melahirkan juga. Sayangnya saat ini, kebanyakan wanita mendahulukan USG dari pada ikatan batin yang dia miliki. Itulah sebabnya, anak-anak sekarang, jarang yang nurut pada ibu apalagi pada ayahnya, karena sedari masih berada di dalam kandungan, ibunya tidak melatih kepekaan dan ikatan batinnya. Padahal itu bisa jadi modal utama untuk mendidik anak-anak di kemudian hari. Untungnya, Elisa benar-benar bisa merasakan semua itu. Elisa berharap, Anka ini akan menjadi seseorang yang cerdas, sekaligus berakhlak baik."


Elisa, menjawab semua pertanyaan dari orang-orang yang kemarin menilainya aneh, karena tidak mau di USG, hanya untuk mengetahui kapan waktunya melahirkan dan jenis kelamin bayi yang dia kandung.


Tuan besar Sangkoer Singh, yang tidak begitu paham dengan perkataan Elisa, hanya mengangguk saja. Tapi dia tahu, jika perkataan Elisa itu ada benarnya, seperti yang dikatakan oleh dokter kandungan, kemarin itu.


Aji, berjongkok di depan Elisa. Dia menggenggam kedua tangan istrinya itu, kemudian berkata, "terima kasih Sayang. Tengah malam ini, Kamu memberikan kebahagiaan untuk kita semua. Dan Kamu, sudah berjuang keras dengan melahirkan anak kita ini. Aku, yang ikut di dalam saja ngeri melihat semuanya. Ah, Aku jadi makin cinta dan Sayang sama Kamu, Elisa Mawarni."


Aji, mencium kedua tangan Elisa yang dia pegang. Dia juga mengecup kening istrinya, dan memeluknya sambil berjongkok, karena posisi Elisa yang sedang duduk di atas kursi roda.


Mendapat perhatian khusus dari Aji, Elisa jadi merasa bertambah lagi kebahagiaan yang dia rasakan. Dia jadi terisak dalam keharuan.


Mama Cilla dan papa Gilang, tersenyum dan ikut merasakan keharuan itu, disaat melihat anaknya, Aji,, memperhatikan dan memperlakukan istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mereka berdua berharap, keluarga anaknya, akan terus di selimuti dengan cinta dan kebahagiaan, sampai akhir hayat. Sama seperti harapan mereka, untuk kehidupan mereka berdua kedepannya nanti.


"Semoga, anak-anak kita yang lain juga mempunyai kehidupan berkeluarga yang bahagia dan penuh cinta ya Mas," kata mama Cilla, pada papa Gilang, dengan penuh harap. Dia selalu berdoa dan meminta pada Tuhan, agar anak-anak yang lainnya, Jeny dan juga anak kembarnya, Vero dan Biyan, memiliki keluarga yang sama seperti Aji dan Elisa. Berbahagia dan saling mendukung dalam situasi apapun.


Elisa hanya mengangguk. Dia masih menggenggam tangan suaminya, yang juga sedang menggenggam_nya juga.


Akhirnya, semua ikut serta berjalan menuju ke ruangan pasien, yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit, untuk kenyamanan Elisa bersama dengan bayinya juga. Termasuk untuk orang-orang yang ikut menungguinya nanti.


Beberapa saat kemudian, setelah semua selesai dan bayinya juga tidur dalam box bayi, yang berada tidak jauh dari tempat tidur Elisa, papa Gilang dan tuan besar Sangkoer Singh, saling berdebat, mengenai nama untuk bayi Aji dan Elisa tersebut. Mereka berdua ingin, nama keluarga besar masing-masing, ikut di cantumkan pada nama anaknya Aji.


"Dia itu anakku Tuan. Jadi seharusnya, 'Saka' adalah nama yang tersemat di akhir nama bayi," kata papa Gilang, saat tuan besar Sangkoer Singh meminta kepada Aji, supaya nama 'Singh' ada di belakang nama bayinya.


"Tapi, anaknya Aji dan Elisa ini nantinya, akan menjadi ahli waris kekayaan keluarga Singh." Tuan besar Sangkoer Singh, tidak mau mengalah. Dia berharap agar Aji bisa memerhatikan permintaannya kali ini. Begitu juga dengan papa Gilang, yang notabene adalah opanya yang asli.

__ADS_1


"Tapi Tuan, Aji memiliki nama keluarga Saya, karena dia anak Saya. Dia hanya anak angkatnya Tuan. Bisa jadi, keluarga Anda yang lain, tidak akan menerima keinginan Anda ini Tuan. Ini akan jadi lebih repot lagi untuk anaknya Aji dan Elisa."


Papa Gilang merasa khawatir, jika suatu saat nanti, ada gugatan dan tindakan yang dilakukan, pada cucunya, anaknya Aji dengan Elisa.


Tuan besar Sangkoer Singh, menghela nafas panjang. Dia tidak pernah menyangka, jika papa Gilang akan mengatakan hal itu sekarang.


Akhirnya, tuan besar Sangkoer Singh, mengatakan sesuatu, yang tidak akan bisa dibantah oleh siapapun.


"Aji adalah anakku. Statusnya di India ini adalah Aji Putra Singh, yang artinya dia juga anggota keluarga dari Singh yang terhormat."


Tuan besar Sangkoer Singh juga mengatakan, jika status Aji ini legal secara hukum di India. Apalagi, tuan besar Sangkoer Singh juga tahu, bagaimana Aji yang tidak memiliki hak waris dari keluarga Gilang. Karena statusnya yang lahir tanpa ikatan pernikahan kedua orangtuanya dulu.


Ternyata, tuan besar Sangkoer Singh paham dengan hukum di Indonesia. Dia juga sudah menyelidiki seluk beluk tentang keluarga Raden Aji Saka, ayahnya papa Gilang.


Itulah sebabnya, dia begitu khawatir jika papa Gilang akan menuntutnya suatu hari nanti.


Aji dan papa Gilang, kaget dengan penuturan yang disampaikan oleh tuan besar Sangkoer Singh. Aji tidak pernah menyangka, jika ayah angkatnya itu, akan melakukan semua ini.


Tapi Aji tetap terlihat tenang. Ini membuat papa Gilang tidak merasa khawatir jika akan kehilangan Aji dan juga keluarganya, Elisa dan cucunya itu. Papa Gilang yakin, jika Aji pasti sudah memiliki pemikiran yang matang untuk semua tindakan ayah angkatnya itu.


"Bagaimana kalau dua nama keluarga besar digabung?" tanya Aji tiba-tiba, di saat ayah dan papanya tidak lagi berdebat.


"Maksud Kamu?" tanya papa Gilang.


"Aji ada ide lain?" tanya ayah Sangkoer Singh, yang hampir bersamaan dengan pertanyaan dari papa Gilang.


Mama Cilla dan Elisa, hanya mendengar dan memperhatikan ketiga laki-laki itu berunding. Mereka berdua yakin, jika semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Author, "kira-kira siapa nama yang cocok untuk anaknya Aji dan Elisa?"


Yuk ikut dipikirkan dan coba kasih saran ya gaess. Terima kasih semuanya...


__ADS_2