Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tidak Bertemu


__ADS_3

Kepanikan yang terjadi di dalam penthouse Gilang, karena Cilla tidak menemukan Aji ataupun mami Rossa di mana-mana, berbanding terbalik dengan keceriaan yang Aji rasakan bersama mami Rossa di resto bawah.


Mereka berdua, Aji dan mami Rossa, sedang makan di resto yang ada di bangunan bagian bawah gedung apartemen mewah ini. Mereka berdua ada di sana, sebab tadi belum sempat makan dari siang. Tapi karena kelamaan menunggu Gilang dan juga Cilla yang belum juga datang, akhirnya mami Rossa mengajak Aji untuk makan terlebih dahulu di resto bawah.


Mami Rossa sempat menengok ke dalam mobil, tapi keduanya, Gilang dan juga Cilla, masih tertidur pulas dalam keadaan duduk berdampingan dengan tangan saling bergenggaman tangan.


Akhirnya, mami Rossa mengajak Aji sendiri dan tidak jadi membangunkan mereka berdua, Gilang dan juga Cilla.


"Oma. Kita bungkus buat papa dan mama juga?" tanya Aji saat selesai makan.


"Iya. Nanti kita bungkus makanan buat mama dan papa ya, mereka juga pasti lapar saat bangun tidur nantinya," kata mami Rossa mengiyakan.


Saat mereka hampir memesan makanan untuk di bungkus, pihak resto yang sudah mengenal siapa mami Rossa dan juga Gilang, mengkonfirmasi pesanan yang Gilang pesan melalui telepon tadi.


"Mas. Pesan untuk dua porsi, di bungkus ya!" Mami Rossa memberikan pesanannya.


"Nyonya Rossa. Kami mendapatkan pesanan makanan untuk empat porsi dari taun muda Gilang. Apakah Nyonya mau menambah lagi dua porsi, jadi totalnya ada enam porsi?"


"Eh. Gilang sudah pesan ya?" tanya mami Rossa menyakinkan pendengarannya sendiri.


"Iya Nyonya, baru saja. Ini kami sedang menyiapkan makanan yang dipesan."


"Ya sudah tidak jadi. Biar itu saja yang tadi di pesan anak Saya saja," kata mami Rossa membatalkan niatnya untuk memesan makanan.


"Berarti Gilang sudah bangun dan berpikir jika Aku dan juga Aji belum makan. Makanya dia memesan makanan dengan porsi empat," kata mami Rossa dalam hati.


"Eh, tapi kok empat? Dia belum sampai di atas dan memesan saat masih didalam mobil ya?" tanya mami Rossa lagi dalam hati.


"Oma. Kita jadi pesan makanan tidak?" tanya Aji memastikan.


Aji bertanya, karena mendengar jika mami Rossa membatalkan pesanannya. Dia tidak tahu jika papanya, Gilang, sudah memesan makanan terlebih dahulu.


"Jadi kok. Tapi biar nanti diantar saja ke kamar. Kita balik saja dulu yuk!" Mami Rossa mengajak Aji untuk kembali ke atas setelah membayar makanan dan juga pesanan Gilang sekalian.


"Saya tunggu di atas ya Mas! Permisi, selamat sore," kata mami Rossa berpamitan pada pengurus resto.


"Ya Nyonya. Terima kasih, selamat sore juga."

__ADS_1


Saat berjalan menuju lift untuk naik keatas, Aji bertanya pada mami Rossa. "Oma, kita tidak membangunkan mama terlebih dahulu?"


"Mereka pasti sudah ada diatas Sayang. Kita lihat saja dulu ya?" Mami Rossa menjawab pertanyaan Aji sambil tersenyum untuk menenangkan hati cucunya itu.


Drettt...


Drettt...


Drettt...


Handphone milik mami Rossa bergetar di tas yang dia bawa. Dengan segera, mami Rossa mengambilnya dan melihat, siapa yang sedang menghubunginya. "Gilang?" tanya mami Rossa begitu layar handphone miliknya tertera nama anaknya itu.


..."Iya Gilang, ada apa?" ...


..."Mami ada dimana?" tanya Gilang yang terdengar panik....


..."Oh... Sebentar lagi kami sampai ke atas," jawab mami Rossa datar....


..."Ya sudah kalau begitu," kata Gilang, kemudian menutup sambungan teleponnya....


Akhirnya, mereka berdua, Aji dan juga mami Rossa, berjalan dengan cepat kearah lift untuk bisa naik ke atas dengan cepat.


*****


Di kediaman mami Rossa.


Dokter Hendrawan yang masih menunggu kedatangan Gilang dan juga mami Rossa, merasa jenuh juga, karena waktunya yang terbuang untuk menunggu mereka berdua.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, bahkan lebih seperempat jam. Sepertinya dokter Hendrawan sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Dokter Hendrawan meneguk minuman yang disediakan oleh pembantu rumah tangga sampai habis. Tak lama, dia berdiri dan berjalan kearah dapur untuk berpamitan.


"Bi. Saya pulang dulu. Sepertinya mereka tidak jad pulang hari ini. Nanti akan Saya hubungi saja melalui telepon. Terima kasih ya, minumannya," kata dokter Hendrawan.


"Oh ya Pak Dokter. Tidak apa-apa. Nyonya juga belum memberikan kabar sampai jam segini. Nanti Saya sampaikan kepada Nyonya kalau pak Dokter datang," kata Pembantu rumah tangga, kemudian berdiri untuk mengantar dokter Hendrawan yang mau pulang.


"Tidak usah diantar Bi. Lanjutkan saja perkerjaannya. Saya permisi dulu ya!"

__ADS_1


"Ya. Monggo Pak Dokter," jawab bibi pembantu rumah tangga.


"Ada apa ya, kok mereka belum sampai?" tanya dokter Hendrawan di dalam hati.


"Sebaiknya aku telpon mami Rossa tidak ya?" tanya dokter Hendrawan lagi di dalam hatinya.


Dokter Hendrawan bertanya-tanya dalam hati, dan juga menimbang, segala sesuatu yang ingin dilakukannya. Dia tidak ingin semua yang sudah dia rencanakan gagal dan membuat hubungan baik dengan keluarga mami Rossa akan menjadi lebih buruk lagi, setelah kasus kedua anaknya itu.


"Sebaiknya menunggu bertemu secara langsung. Aku pergi ke rumah sakit saja. Sekalian menjenguk lagi."


Akhirnya dokter Hendrawan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, untuk mengetahui apakah Gilang memang tidak jadi pulang, dan harus menjalani perawatan lagi dengan lukanya kemarin itu.


Hampir jam empat sore mobil dokter Hendrawan baru keluar dari gerbang rumah mami Rossa. Dia melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit tempat Gilang dirawat kemarin.


Tak lama setelah dokter Hendrawan berpamitan dengan pembantu rumah tangga, mami Rossa menelpon ke rumah. Dia mengabarkan bahwa tidak pulang ke rumah dan pulang ke apartemen saja.


..."Bi. Saya sama Gilang ada di apartemen. Kami sudah pulang tadi siang. Tapi tidak jadi ke rumah. Besok kirim satu orang untuk ikut beres-beres di apartemen ya!" ...


..."Baik Nyonya." ...


..."Ada kabar apa di rumah?" ...


..."Tidak ada Nyonya. Tadi hanya ada Dokter Hendrawan datang ke rumah. Dia menunggu lama juga." ...


..."Dia berkata apa?" yang mami Rossa penasaran....


..."Tidak ada Nyonya. Dokter Hendrawan bilang, nanti saja kalau bertemu langsung dengan Nyonya."...


..."Oh, ya sudah. Tidak apa-apa. Jangan lupa ya pesan saya tadi. Sekalian bawa makanan juga dari rumah. Masak makanan yang disukai tuan muda," kata mami Rossa mengingatkan pada pembantu rumah tangganya....


..."Baik Nyonya."...


Setelah itu, mami Rossa menutup sambungan teleponnya. Pembantu rumah tangga mengeleng, karena menyayangkan kepergian dokter Hendrawan tanpa tahu kejelasan dimana sebenarnya mami Rossa dan juga Gilang, tuan mudanya itu.


"Masalah orang-orang kaya seperti tidak ada habisnya saja. Ada saja permasalahan yang datang."


Pembantu rumah tangga yang sudah lama ikut bekerja di rumah mami Rossa, tentu tahu lebih banyak permasalahan yang terjadi di rumah itu. Tapi seperti kebanyakan pembantu yang baik, dia juga selalu diam dan tidak ikut campur dalam urusan dan permasalahan yang ada pada majikannya itu.

__ADS_1


__ADS_2