
Bila rencana yang sudah di buat tak sama seperti yang terjadi, itu bukan kesalahan pada diri kita semata. Ada campur tangan takdir yang selalu ikut dalam setiap kejadian yang ada pada kehidupan. Karena sejatinya, hidup kita ini sudah tergaris. Kita hanya berjalan pada jalur yang akan menuju ke garis takdir tersebut. Entah kapan waktunya, kita juga tidak bisa mengetahui. Hanya Tuhan yang memberikan takdir yang Maha Tahu tentang segala hal.
Semoga, kita termasuk orang-orang yang tetap berpikir positif, apapun yang terjadi pada kehidupan kita ini. Jadi, tetap semangat dan tersenyum tanpa lupa untuk berusaha dan berdoa pada Sang Illahi Rabbi.
*****
Rumah Jeny dan dokter Dimas, sudah ada di depan mata. Aji bersama dengan Elisa, sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Jeny dan bayinya yang baru saja bisa merangkak.
"Kak. El ingin jika kita punya anak, cewek duku ya kayak Jeny."
Tiba-tiba, Elisa membahas masalah anak. Dia juga tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana jika mereka berdua mempunyai anak nanti.
"Kenapa harus cewek?" tanya Aji heran dengan keinginan istrinya itu.
"Ya biar El ada temannya. Bisa dandanin dia seperti cewek manis. Kan baju-baju cewek lebih banyak jenis dan modelnya, dibanding dengan cowok Kak," jawab Elisa, memberikan alasan, kenapa dia menginginkan anak cewek terlebih dahulu.
"Hemmm, biar apa saja. yang penting, sehat dan lengkap kan?"
"Iya Kak. Maaf, El jadi tidak berpikir sejauh itu," kata Elisa lagi, sambil tersenyum tipis mendengar perkataan suaminya itu.
"Kita turun yuk!" ajak Aji, karena sekarang ini, mereka sudah ada di depan rumah Jeny.
Ting tong!
Ting tong!
Elisa, memencet bel rumah Jeny. Tak lama, seorang pembantu rumah tangga membuka pintu untuk mereka.
"Eh, non Elisa, den Aji, mari masuk!" pembantu rumah Jeny, menyambut kedatangan mereka berdua, dengan ramah. Pembantu tersebut, memang sudah mengenal tamunya, Elisa dan Aji, itu dengan baik, sebagai anggota keluarga dari majikannya.
"Terima kasih Budhe," ucap Elisa, yang terbiasa memanggil pembantu di rumah Jeny, dengan sebutan 'Budhe' karena selain dia bersalah dari jawa, umurnya juga jauh lebih tua di banding dengan Mama mertuanya, Mama Cilla.
Elisa dan Aji masuk. Dua bungkus buah-buahan yang dibawa Aji, diserahkan kepada Budhe pembantu. Merasa masuk dan mencari keberadaan Jeny dan bayinya.
"Non Jeny ada di ruang tengah. Dia sedang bermain-main dengan si kecil."
Budhe pembantu, memberitahu keberadaan Jeny dan anaknya, pada Elisa dan Aji.
__ADS_1
"Oh ya, terima kasih Budhe," ucap Elisa lagi sambil tersenyum dan mengangguk.
Aji, hanya mengangguk saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sekarang, mereka berdua langsung berjalan menuju ke arah ruang tengah, untuk menemui Jeny dan bayinya.
"Hai Jen!" seru Elisa, begitu melihat Jeny, yang sedang tertawa-tawa senang, melihat anaknya yang sedang belajar merangkak, satu demi satu.
"Hai El, Kak Aji!"
Jeny, ikut berseru kegirangan saat melihat kedatangan sahabat dan kakaknya, Aji.
Mereka, Elisa dan Jeny, berpelukan dan saling bertanya kabar masing-masing. Sedangkan Aji, meraih keponakannya kedalam pangkuan, agar bisa tenang dan tidak menggangu pertemuan dua sahabat, yang tidak lagi bisa sering bertemu seperti dulu lagi.
"Kok gak kasih kabar kalau mau datang?" protes Jeny, yang memang tidak tahu, jika mereka akan datang ke rumahnya.
"Harus ya, buat janji dulu gitu?" tanya Elisa, dengan wajah seperti orang yang sedang berpikir serius.
"Hahaha.. gak lah. Ngapain juga pakai janji temu, kayak sama pejabat saja," jawab Jeny, sambil tertawa lepas.
Dia merasa sangat senang, karena dikunjungi oleh Elisa dan kakaknya, Aji.
"Wah, terima kasih Tante. Kapan nih nyusul?" ucap Jeny, sambil bertanya untuk menggoda Elisa yang tersenyum malu-malu.
"Udah lembur Jen, tapi kayaknya kita masih diberikan waktu buat jadi pengantin baru terus nih," jawab Elisa dengan tersenyum tipis. Dia jadi tidak bisa lagi berpikir, jika ada yang menyingung soal anak.
"Wah-wah, asyik dong. Bisa... hahaha... tempur terus!"
"Ihsss, apa sih Jen. Jangan keras-keras. Nanti anak Kamu yang masih bayi kaget lihat miminya ngakak."
Elisa, memperingatkan Jeny, agar mengontrol tertawanya sendiri.
"Halah El. Aku kan kangen bisa bebas seperti dulu sama Kamu gini," kata Jeny membela diri.
Aji, hanya diam saja mendengar perbincangan antara adik dan istrinya itu. Dia tahu, mereka berdua bicara dengan bebas, tanpa ada maksud tertentu untuk saling menyudutkan masing-masing.
"Non. Ini ada buah kiwi dari non Elisa. Sudah saya potong-potong juga dengan buah yang lain."
__ADS_1
Budhe pembantu, membawa semangkuk besar potongan buah dari oleh-oleh yang dibawakan Elisa tadi. Budhe pembantu, juga membawa minuman untuk tamu-tamunya itu.
"Terima kasih Budhe," ucap Elisa, saat Budhe pembantu, meletakan dua gelas minuman dan mangkuk buah.
"Wah, terima kasih Budhe." Jeny, yang ikut-ikutan memangil pembantunya dengan panggilan budhe, jadi merasa senang dengan buah kiwi yang dibawakan Elisa untuknya.
"Kamu masih ingat saja El, kalau Aku suka kiwi," kata Jeny, sambil menusuk buah kiwi, dengan garpu yang sudah disediakan oleh budhe pembantunya.
"Masih dong," sahut Elisa dengan cepat.
Aji, sedang mencoba untuk melepas baju keponakannya dan memasang baju yang baru. Ternyata pas dan tidak kesempitan.
"Sayang, pas nih bajunya," panggil Aji, saat baju tersebut sudah dipakai keponakannya, anaknya Jeny.
"Eh, iya Kak. Padahal, tadi sudah kepikiran kalau gak muat ya," sahut Elisa dengan tersenyum melihat anaknya Jeny, memakai pakaian yang dia bawa tadi.
"Bagus El. Kamu bisa milih yang pas gini. Calon mama yang sedang proses ini, hehehe... Padahal, biasanya, baju bayi itu jarang yang bisa pas kalau beli dan tidak bawa anaknya. Biasanya, kalau gak kekecilan ya kebesaran."
Jeny, memberikan penilaiannya terhadap baju yang dipilih Elisa untuk anaknya.
"Kamu katanya, tidak boleh menunda kehamilan lagi ya Jen?" tanya Elisa, saat ingat jika Aji, pernah mengatakan itu kemarin.
"Iya nih, pipi tidak mau menunda. Maklum El, dia kn sudah berumur, jadi tidak perlu ditunda. Ah, Aku sih senang-senang saja, tapi kuliahku jadi tertunda lagi, seandainya program hamil ini berhasil lagi."
Jeny, tampak bahagia dan bersemangat saat bercerita tentang program hamilnya yang kedua. Tapi, dia juga mengeluhkan tentang kuliahnya yang harus terbengkalai karena hamil.
"Tidak apa Jen. Menyenangkan hati suami itu jauh lebih berharga, dibanding keberhasilan di bidang kuliah Kamu itu." Aji, memberikan nasehat pada adiknya.
"Iya Kak. Jeny juga bahagia kok, dengan keluarga Jeny ini. Pipi juga tidak memaksa harus lulus kuliah, yang penting anak-anak keurus dengan baik."
Akhirnya mereka bertiga, berbincang-bincang tentang banyak hal. Tidak hanya sekedar masalah anak dan kuliah saja. Hingga pada akhirnya, Aji menyampaikan tujuannya ke rumah Jeny ini.
"Kami mau pamit untuk pergi ke India dua ke depan Jen," kata Aji pada adiknya.
Jeny, yang tidak tahu jika mereka berencana untuk pergi ke India, merasa kaget. Dia pikir ini hanya rencana kakaknya untuk honeymoon ke sekian, yang tertunda saat ada rencana mau ke India dulu.
"Kakak mau honeymoon lagi?" tanya Jeny dengan mata berbinar-binar senang.
__ADS_1
"Bukan. Kami akan tinggal di India dalam beberapa waktu yang belum bisa kami pastikan," jawab Aji datar.
Jeny lebih kaget lagi, mendengar jika ini bukan hanya sekedar honeymoon atau liburan dalam waktu singkat.