Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Bukan Mahasiswa Biasa


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ke kampus, Elisa dan Jeny duduk di bangku penumpang belakang, jadi Aji mirip supir. Supir yang super keren.


"Kok Aku jadi mirip supir ini," kata Aji pelan, untuk dirinya sendiri.


Tapi ternyata, perkataan Aji yang mirip orang bergumam itu, terdengar oleh Elisa. "Ya bagus kalau ada supir kayak Kakak. Penumpang betah deh," kata Elisa berkomentar.


"Ada apa?" tanya Jeny, yang tidak tahu permasalahan ini.


"Hemmm."


Aji hanya mampu mengelengkan kepala saja. Dia tidak berkata apa-apa lagi, kemudian segera menghidupkan mesin mobil. Tak lama kemudian, melajukannya ke jalan menuju ke kampus adiknya, Jeny.


Elisa yang tidak bisa diam, terus berbicara tentang apa saja, yang dia ingin tanyakan pada Jeny. Tentang kampus, para dosen, teman-temannya, dan terutama Rio.


"Ahhh, Jen. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Rio. Hemmm, tambah tinggi gak tuh anak?"


"Emang Rio kecambah?" jawab Jeny, dengan sebuah pertanyaan yang tidak perlu untuk di jawab.


"Hehehe, siapa tahu saja. Selama Aku tidak muncul, dia kan ada yang ngusilin."


"Justru itu. Dia malah tidak berkembang, karena nutrisinya tidak ada," kata Jeny, dengan tersenyum miring.


"Maksudnya?" tanya Elisa tidak paham, dengan apa yang dikatakan oleh Jeny.


"Ihsss, dasar dodol!" cibir Jeny, pada Elisa.


"Eh, dodol itu enak lho Jen."


"Gak nanya tuh." Jeny, tetap cuek menanggapi perkataan Elisa. Begitu juga dengan Elisa, semua yang mereka perbincangkan, tidak ada sangkut pautnya sama sekali.


"Kalian mau turun, atau tetap berdebat? lama-lama, kuping Kakak bisa konslet ini, mendengar perdebatan kalian yang tidak ada benarnya."


Aji, mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua gadis yang duduk di belakangnya. Meskipun sebenarnya Aji merasa senang, karena mereka berdua saling sayang satu sama lain, walaupunpun cara yang mereka perlihatkan itu berbeda dan tidak bisa di anggap biasa.


"Hehehe, iya Kak. Maaf," ucap Jeny.


"Peace Kak Aji_ku," kata Elisa, dengan menekan kata yang terakhir.


Aji, tidak lagi menyahuti perkataan mereka berdua. Tapi dia ikut turun dari mobil, begitu keduanya sama-sama turun.

__ADS_1


"Lho, Kakak gak langsung pulang?" tanya Elisa sok kaget, karena melihat Aji yang ikut turun dan mengikuti mereka berdua. Padahal tadi dia sudah tahu, jika hari ini, Aji diminta mama Cilla untuk jadi pengawal mereka berdua. Kemanapun mereka pergi.


Aji tidak menjawab pertanyaan dari Elisa. Dia hanya diam dan mengikuti langkah mereka menuju ke gedung kampus.


"El...!" Dari arah belakang, Rio memanggil nama panggilan Elisa.


Elisa cepat berbalik, begitu mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat dia kenal.


"Rio!"


Mereka berdua, berpelukan. Rio, begitu antusias dengan pertemuannya dengan Elisa. Dia mengangkat tubuh Elisa dan berputar-putar sampai Elisa menjerit-jerit.


"Rio, lepas! ihsss, malu."


"Bodo!" sahut Rio dengan cepat dan tidak juga menurunkan Elisa.


"Berat lho!" Elisa memperingatkan.


"Gak nih. Malah tambah enteng. Kamu tidak pernah makan ya?" tanya Rio, kemudian menurunkan tubuh Elisa.


"Wah... klop nih!"


"Wah, rame lagi nih!"


"Apa kabar El?"


"Kamu kawin El, kok gak pernah terlihat dsryi kemarin-kemarin?"


Pertanyaan demi pertanyaan, diajukan teman-teman yang lewat dan berpapasan.


"Kepo!"


Elisa dan Rio, kompak menjawab pertanyaan mereka semua. Keduanya, Rio dan Elisa, saling pandang, kemudian tertawa-tawa senang. Jeny juga ikut-ikutan tertawa karena melihat teman-temannya yang manyun, mendengar jawaban dari Elisa dan Rio.


Teman-teman mereka tahu, jika tidak akan mendapatkan jawaban yang benar dan pasti dari keduanya. Tapi mereka memang suka saja, hanya untuk sekedar bersapa dengan cara yang berbeda.


Elisa dan Rio, masih saling berpegangan tangan. Kini keduanya melompat-lompat, mirip anak-anak yang sedang bermain, atau adegan film kartun yang biasa di putar untuk serial televisi.


"Kamu kemana saja sih El. Kenapa juga kabur gitu? gak gentle!" kata Rio dengan wajah di tekuk.

__ADS_1


"Salah sendiri handphonenya mati," jawab Elisa, dengan jawaban yang tidak sebenarnya, karena berbeda pertanyaan yang diajukan oleh Rio tadi.


"Handphone Aku ketinggalan malam itu. Sebenarnya ada apa?" tanya Rio dengan wajah serius.


"Gak usah sok perhatian deh. Aku gak apa-apa kok," kata Elisa dengan nyengir kuda.


"El. Aku serius, gak sedang bercanda. Kamu kan sudah Aku peringatkan, jika ada masalah itu bicara. Kamu bisa bicara denganku tentang apa saja, termasuk dalam masalah keluarga atau keuangan El. Jangan terlalu sok kuat, jika Kamu memang butuh sandaran atau tempat bercerita. Aku kan siap kapan saja. Jangan ngilang-ngilang lagi ya!"


"Ihsss Rio, kok Aku jadi baper ini, hiks!"


Elisa justru berkata lain, dan tidak menanggapi perkataan Rio yang sedang khawatir dengan keadaannya. Tentu ini membuat Rio gemas dengan melihat tingkah Elisa.


"Ck, dasar Kamu El," kata Rio, menyerah untuk mengorek cerita dari Elisa.


Aji dan Jeny, hanya melihat mereka berdua dengan diam dan tidak ikutan menyahut atau membalas perkataan mereka.


"Ehem!"


"Eh, ada Kakak. Sampai lupa, hehehe..." kata Elisa, saat sadar rasa Aji diantara mereka.


"Kak Aji. Terima kasih ya, sudah bawa si El pulang. Dia ini, gak bakal bisa diam. Ikat saja dia Kak, kalau tidak ingin dia pergi lagi dalam waktu dekat ini." Rio berkata kepada Aji. Dia berterima kasih, karena bisa bertemu lagi dengan Elisa saat ini.


Aji, hanya mengangguk saja tanpa berkata apapun untuk menyahut ucapan Rio.


*****


Rio dan Elisa, pergi ke ruang administrasi, sedangkan Jeny dan Aji, diminta untuk menunggu di kantin kampus saja.


Aji, duduk terlebih dahulu, dan Jeny, memesan minuman untuk mereka berdua. Tak lama, Jeny datang dengan dua gelas jus buah naga.


"Ini Kak, minum dulu," kata Jeny, menawari kakaknya.


Aji, hanya mengangguk. Dia ingin bertanya banyak hal tentang Elisa dan Rio. Dia juga ingin bertanya, kenapa Elisa menolak tawaran mama Cilla, yang ingin membantunya untuk melunasi uang kuliah, dan malah meminta pada Rio untuk membayarnya.


"Jangan kaget ya Kak, soal Rio da Elisa. Meskipun sebenarnya Rio memang ada rasa dengan Elisa, tapi dia cukup dewasa saat tahu jika Elisa itu sukanya sama Kakak. Mereka tetap berteman dan ya begitulah mereka berdua. Semua teman-teman di kampus ini tahu, bagaimana mereka dalam keseharian. Keanehan dan keunikan mereka juga. Dan yang perlu Kakak tahu, Rio yang tidak terlihat 'sangar' sama sekali itu, adalah ketua BEM lho! dan Elisa sendiri, kecil-kecil gitu, jago bela diri. Dia pernah mengikuti beberapa lomba tingkat provinsi sewaktu masih sekolah menengah atas di daerahnya. Makanya, Jeny tidak salah bergaul dengan mereka. Jeny juga nyaman, meskipun mereka tampak aneh dan gak jelas gitu."


Jeny, bercerita banyak hal, soal Elisa dan Rio pada Kakaknya, Aji. Dia juga sebenarnya ingin bertanya pada Kakaknya itu, bagaimana perasaannya pada Elisa selama ini, karena tadi melihat kakaknya yang terlihat seperti orang yang sedang cemburu, ketika melihat keakraban antara Elisa dengan Rio. Tapi sepertinya, Jeny harus mencari waktu yang tepat, sebab, sebelum dia sempat bertanya, kakaknya itu berpamitan untuk pergi ke toilet.


"Kakak mau ke toilet dulu," pamit Aji, sehingga Jeny urung untuk bertanya.

__ADS_1


__ADS_2