
Malam hangat yang diinginkan mama Cilla, dengan obrolan-obrolan ringan seperti biasanya di ruang tengah, tidak juga terasa. Sudah lama keluarga papa Gilang, tidak berkumpul lagi seperti dulu. Sejak Jeny dan Aji menikah, berkurangnya anggota keluarga di rumah ini, membuat suasana yang biasa rame jadi tidak ada lagi.
Mereka, terutama mama Cilla dengan papa Gilang, merindukan suara anak-anak yang ramai dan saling bertengkar, meskipun nantinya, akan kembali akur lagi. Hal biasa yang terjadi pada dunia anak-anak.
"Coba Jeny anaknya sudah besar ya, Kita suruh dia tinggal di sini. Biar rame dan ada yang di godain sampai gemes," kata mama Cilla, dengan wajah yang penuh dengan harapan.
Papa Gilang, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis tanpa berkomentar banyak. Dia menunggu Aji atau Elisa yang bicara, karena tadi dia sudah mendapat bocoran dari mama Cilla, istrinya, jika Aji ingin meminta ijin untuk tinggal sementara di India.
Tapi, Aji ternyata tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam saja. Dia juga tidak berkomentar tentang anak-anak, yang tadi di singgung mamanya.
Elisa, yang biasanya rame bersama dengan Vero, tidak juga melakukan obrolan yang biasa dulu sering mereka lakukan. Suasana menjadi canggung dan tidak sama seperti dulu lagi. Tidak lagi sama.
Akhirnya, Aji berinisiatif untuk memulai pembicaraan mereka dengan bertanya tentang keadaan kantor GAS pada papanya. Dia sudah lama tidak pergi berkunjung ke kantor GAS, karena mengerjakan pekerjaan dari kantornya sendiri, yang dia lakukan di apartemen.
"Seperti biasanya. Semua aman terkendali. Kamu bisa sesekali datang, biar karyawan juga tahu jika sistem keamanan ada yang pegang, meskipun tidak dilakukan di kantor GAS."
"Iya Pa. Nanti kapan-kapan. Tapi wajah Aji sudah di kenali kan? Takutnya, Aji diusir karena dikira orang luar yang tidak ada kaitannya dengan GAS," jawab Aji, yang teringat dengan security kantor, yang mencegahnya untuk masuk karena tidak tahu, jika dia adalah anaknya bos pemilik GAS.
"Sudah, tapi kan cuma sebagian juga," ucap papa Gilang, sambil menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Biarlah. Aji lebih suka mengerjakan tugas dari rumah saja."
"Hemmm, terserah Kamu. Bagaimana nyamannya saja." Papa Gilang, menyerahkan keputusan pada Aji, apa yang menurutnya baik dan nyaman saja.
"Pa, Aji mau minta ijin untuk pergi ke India."
Akhirnya, Aji membicarakan niatnya itu pada papa Gilang. Dia ingin meminta ijin agar bisa secepatnya melaksanakan keinginannya itu.
__ADS_1
"Kenapa? apa tuan besar Sangkoer Singh memintamu?" tanya papa Gilang, yang tidak dihubungi sendiri oleh tuan besar Sangkoer Singh.
"Iya. Ayah memintaku untuk bisa datang ke sana dan membantunya untuk memegang kantor untuk sementara waktu. Dia sedang sakit dan Vijay Singh baru saja selesai menjalani operasi ginjal."
Aji, menceritakan tentang keadaan ayah angkatnya yang ada di India sana. Dia ingin meminta pendapat papanya.
Papa Gilang, tidak langsung menyahut. Dia diam sambil berpikir untuk kebaikan anaknya, Aji.
"Papa pikir, itu baik juga untuk pengalaman Kamu di dunia bisnis. Tapi, ini hanya untuk sementara kan?" tanya papa Gilang memastikan.
"Iya," jawab Aji pendek.
"Apa Kamu juga ingin memproses pembuatan cucu Papa di sana? hahaha..." tanya papa Gilang, sambil terkekeh saat menebak pikiran anaknya itu.
"Oh iyakah? wah, bisa-bisa jadi artis India nanti Mas cucu kita," sahut mama Cilla, dengan wajah takjub.
Elisa, menyahut tidak enak hati karena perkataan mama mertuanya.
"Hehehe... siapa tahu El," ucap mama Cilla dengan wajah tersenyum.
"Enggaklah. El gak pernah berpikir seperti itu. Ini El bisa hamil nantinya saja, sudah sangat bersyukur. El, minta maaf ya Ma, Pa. El belum bisa kasih cucu hingga saat ini," kata Elisa dengan wajah sendu.
Aji, menarik tangan Elisa, untuk di genggamnya. Mengisyaratkan bahwa, dia tidak masalah dengan semua itu. Ada dan tidaknya anak untuk saat ini, masih belum terpikirkan lebih serius dibanding dengan kesehatan mereka berdua.
"Lho El. Mama tidak meminta secepatnya. Biar itu urusan yang di atas. Kita kan tidak tahu, waktu yang lebih baik. Mama tidak memaksa Kamu untuk segera hamil kok.
"Aku dan Elisa, sudah berusaha Ma, Pa. Kami tidak tahu, dari faktor apa yang membuat kami belum juga bisa mendapatkan hasil. Bisa jadi ini karena Aji."
__ADS_1
Mama Cilla dan papa Gilang menatap ke arah Aji dengan wajah tanda tanya. Dia tidak tahu, apa maksud dari perkataan anaknya itu.
Vero dan Biyan, yang ikut mendengarkan perkataan kakaknya, juga merasa heran karena tidak pernah menyangka jika kakaknya yang bermasalah dengan kesuburannya.
"Maksudnya Kamu sudah periksa ke dokter?" tanya mama Cilla memastikan.
"Belum. Aji rasa itu tidak perlu. Kami belum terhitung lama menikah. Banyak kegiatan dan itu pasti menguras tenaga dan pikiran. Aji juga berpikir, mungkin saja ini ada kaitannya dengan obat-obatan yang dulu paman Ranveer kasih ke Aji. Bukankah Vijay Singh juga gagal ginjalnya karena efek samping dari obat tersebut?"
Akhirnya, Aji mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini. Dia tidak mau, jika mama dan papanya, mengira ini kesalahan Elisa, yang tidak bisa cepat memiliki anak.
"Oh, jadi Kamu mau ke India, karena mau mencari obat juga, yang bisa menetralisir efek samping dari obat-obatan itu?" pada akhirnya, papa Gilang bisa menarik kesimpulan dari keinginan Aji untuk tinggal di India sana.
Aji hanya mengangguk, begitu juga dengan mama Cilla. Dia tadi berpikir jika suaminya akan menolak permintaan ijin dari Aji ke India, tapi saat mendengar alasan utama dari Aji, akhirnya dia sadar dan tidak keberatan jika anak dan menantunya itu pergi meninggalkan Indonesia ke India. Dia juga ingin, kehidupan keluarga anaknya, Aji, bisa bahagia dengan kehadiran anak-anak mereka nanti.
"Kamu yakin jika obat itu berefek samping pada kesuburanmu?" tanya papa Gilang memastikan.
Aji hanya mengangguk agar papanya tidak lagi banyak bertanya lagi. Dia tidak mau, jika papanya tahu, ada alasan yang lain lagi yang berkaitan dengan anak kembarnya, Vero dan Biyan.
"Baiklah. Papa ijinkan Kamu dan Elisa ke India. Kapan itu?" tanya papa Gilang memastikan waktunya.
"Jika Papa dan Mama sudah kasih ijin, secepatnya ayah Sangkoer Singh akan mengirim pesawat untuk menjemput kami. Dia juga tidak sabar menunggu kedatangan kami di sana."
"Hemmm... Papa tidak keberatan. Kamu juga sudah menjadi anaknya untuk beberapa tahun yang lalu. Mau tidak mau, Papa juga tidak bisa mencegah perasan sayang yang ada di antara kalian. Semua ini juga untuk kerukunan kita semua. Papa malah yang tidak busa melaksanakan rencana yang dulu sempat ada. Yaitu ke India bersama-sama dengan semuanya. Semoga saja nanti ada waktunya yang tepat."
Akhirnya, ijin dari papa Gilang sudah didapatkan dengan mudah. Mama Cilla juga dengan ikhlas melepas mereka berdua ke India, supaya bisa melihat mereka memiliki anak nantinya.
Aji, tersenyum tipis mendengar papa dan mamanya yang sudah memberinya ijin. Dia akan tetap diam untuk alasan yang sebenarnya agar semua baik-baik saja.
__ADS_1