Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Rencana Aji


__ADS_3

Lily yang sudah ditahan bersama dengan kakaknya, Candra, merasa sangat menyesal, dengan semua yang telah dia rencanakan kemarin itu. Mereka berada di sel yang berbeda, namun berada di kantor polisi yang sama. Ini untuk memudahkan proses penyelidikan dan juga pengawasan terhadap keduanya.


Sekarang, Lily tidak bisa lagi jalan-jalan dan juga pergi ke salon. Dia juga tidak bisa nongkrong-nongkrong lagi bersama dengan teman-teman satu gengsnya yang lain.


Lily juga merasa takut jika kasus ini naik dan menjadi berita publik. Dia takut jika teman-temannya akan menjauhi dirinya. Apalagi selama ini, teman-temannya di Indonesia tidak banyak dan hanya itu-itu saja. Anak-anak para pejabat yang lebih suka menghabiskan uang dan waktunya di tempat tongkrongan mewah.


"Huh... Kenapa kemarin itu aku bisa punya ide kayak gitu sih! Kan aku juga yang kena apesnya," gerutu Lily sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.


"Argh....!" teriak Lily kesal


Di sel yang lainnya, Candra juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Lily, adiknya itu.


"Mending aku di Amerika saja kemarin dan tidak usah datang ke Indonesia. Cinta ini membuat aku jadi sengsara. Aku ada di balik jeruji besi dan terkena timah panas juga. Sial, sial!" keluh Candra sambil memukul-mukul kakinya yang terkena peluru kemarin itu.


"Tapi aku juga kangen sama kamu Gilang," Candra berkata pada dirinya sendiri.


"Nanti aku jadi daftar hitam tidak ya? Kan susah juga ,kalau mau ada keperluan mengurus sesuatu," tanya Candra pada dirinya sendiri dengan gusarnya.


Candra merasa khawatir dan ketakutan yang amat. Mereka berdua, Candra dan juga Lily, tidak tahu jika papanya, dokter Hendrawan, juga sedang berusaha untuk melakukan sesuatu.


Dokter Hendrawan ingin mendekati Gilang dan meminta maaf. Dia ingin kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan saja, atau setidaknya, Gilang dan juga Cilla bisa meringankan tuntutan hukum untuk kedua anaknya itu.


Entah seberapa besar kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan menutupi dan juga membantunya. Begitu juga dengan Dokter Hendrawan. Dia tidak tega dan merasa sedih dengan keadaan kedua anak-anaknya itu.


*****


Dokter Hendrawan langsung datang ke rumah mami Rossa, begitu mendengar jika hati ini Gilang diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Dia bersiap-siap dan menyerahkan urusan kliniknya pada dokter jaga beserta para perawat yang lain.


"Saya mau ke rumah mami Rossa. Saya harap kalian semua tetap bertugas dengan baik, meskipun sedang tidak ada Saya."


Dokter Hendrawan berpamitan pada para staffnya. Dia segera berkemas, kemudian berangkat ke rumah mami Rossa untuk bertemu dengan Gilang.

__ADS_1


Setelah sekian puluh menit kemudian, dokter Hendrawan tampak ada di depan pintu pagar rumah besar milik mami Rossa. Dia yang memang sudah di kenal baik di antara penghuni rumah itu sebagai dokter keluarga, tentu dengan mudahnya bisa masuk tanpa harus menunggu dan meminta ijin pada Security. Tapi dia memilih untuk keluar dari mobilnya dan berbicara dengan Security yang sedang berjaga.


"Siang Pak. Katanya tuan muda Gilang sudah pulang ya?" tanya dokter Hendrawan pada Security yang ada di pos pintu gerbang.


"Eh pak Dokter. Iya rencana sih begitu. Tapi sampai jam segini belum sampai juga ini. Mungkin ada keperluan yang lain atau sama dokter tidak diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu ya... Nyonya besar juga belum kasi kabar lagi Pak Dokter. Apa pak Dokter tidak bertanya langsung saja melalui handphone?"


Security malah menjawab jika Gilang belum sampai di rumah. Belum ada kabar lagi untuk kepulangan Gilang sampai detik ini.


"Tidak Pak. Saya pikir tuan muda sudah sampai di rumah dan Saya mau menjenguknya. Begitu Pak," jawab dokter Hendrawan kecewa.


"Wah Saya kurang tahu kalau begitu Dok. Atau Dokter mau menunggu di dalam?" tanya Security mengusulkan.


"Boleh juga. Siapa tahu mereka masih ada di jalan dan kena macet juga ya?" Dokter Hendrawan mengiyakan saja tawaran Security rumah. Tidak ada salahnya dia menunggu. Ini demi misinya untuk melakukan pendekatan, yang akan membebaskan kedua anaknya nanti.


Akhirnya dokter Hendrawan kembali ke mobilnya dan masuk ke halaman rumah setelah pintu pagar dibukakan oleh Security.


Dia menunggu dengan sabar di teras depan rumah, sebelum pembantu memintanya masuk ke dalam rumah.


"Mami Rossa tidak memberi kabar Bu?" tanya dokter Hendrawan sebelum mengiyakan tawaran pembantu tersebut.


"Tidak Pak. Dia hanya berangkat ke rumah sakit tadi pagi-pagi sekali karena jadwal tuan muda Gilang untuk pulang. Kami hanya di minta untuk mempersiapkan segala sesuatunya sedari kemarin."


"Padahal ini sudah siang ya Bi. Mereka kok belum sampai juga ini?" Dokter Hendrawan merasa khawatir jika ternyata Gilang batal untuk pulang hari ini.


"Pak Dokter kenapa tidak menelpon saja?" tanya pembantu rumah tangga tadi.


"Eh, Saya pikir tadi langsung datang saja karena mereka sudah sampai," jawab dokter Hendrawan cepat. Sepertinya dia memang benar-benar diuji kesabarannya untuk bisa mendapatkan kebebasan kedua anaknya itu.


"Saya tunggu saja sebentar Bi. Gak apa-apa kan?" tanya dokter Hendrawan meminta ijin.


"Tentu saja tidak. Mari masuk, saya buatkan minuman," ajak pembantu rumah tangga lagi.

__ADS_1


Dokter Hendrawan pun akhirnya ikut masuk ke dalam rumah untuk menunggu kedatangan Gilang dan juga mami Rossa.


*****


Di parkiran rumah sakit.


"Oma. Papa pulang ke mana?" tanya Aji ingin tahu.


"Ke rumah dong. Masa ke kantor polisi?" jawab mami Rossa bercanda.


"Mami. Jawab yang benar, tidak usah berbelit-belit!" Gilang protes pada maminya.


"Hem..." Mami Rossa tidak menghiraukan perkataan anaknya, Gilang.


"Boleh tidak papa pulang bersamaku? Aku kan bisa bantu papa. Mama Cilla juga bisa bantu merawat papa."


Mami Rossa memicingkan matanya melihat ke arah Aji dengan wajah tidak percaya. Dia menoleh cepat ke arah Gilang. Dia pikir, Gilang sudah menyuruh Aji untuk mengatakan semua itu.


"Gilang tidak tahu apa-apa Mi. Jangan menuduh Gilang!" kata Gilang cepat sebelum mami Rossa mengatakan tuduhannya.


"Kenapa Aji tiba-tiba minta papa untuk ikut pulang ke apartemen?" tanya mami Rossa beralih lagi pada Aji.


"Sini Oma!"


Aji meminta mami Rossa untuk menunduk, karena dia ingin menjawabnya dengan cara berbisik di telinganya.


Mami Rossa mengikuti keinginan cucunya untuk menundukkan kepalanya agar aji lebih mudah untuk berbisik di telinganya.


"Aji ingin papa lebih dekat dengan mama. Begitu Oma. Apa Oma bisa bantu Aji? Atau Oma ikut saja tidur di apartemen agar bisa bantu Aji juga." Aji berbisik-bisik pelan di telinga mami Rossa.


"Oh.... Ok. Oma dukung!" jawab mami Rossa dengan wajah senang.

__ADS_1


Keduanya, Aji dan mami Rossa, melakukan TOS untuk semua rencana, yang baru saja akan mereka lakukan nantinya.


__ADS_2