Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Berita Dari Jeny


__ADS_3

Suasana di rumah, menjadi ramai dengan kedatangan Jeny dan Elisa. Mereka semua, asyik bercengkrama dengan wajah penuh dengan kebahagiaan.


Tadi, saat Elisa baru datang dan masuk ke dalam ruang tengah, dia di sambut hangat oleh mama Cilla. Mama mertuanya itu, memeluknya erat karena merasa sudah lama tidak berjumpa dengan dirinya, dan juga kangen dengan celoteh Elisa yang ramai.


"Kamu ini sibuk apa? sampai lupa tidak datang-datang ke rumah ini," tanya mama Cilla dengan wajah cemas. Dia merasa kehilangan banyak anaknya, karena Jeny dan Aji tidak terpaut lama meninggalkan rumah untuk memulai kehidupan baru mereka.


Elisa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari mama mertuanya itu.


"Sibuk bikin keponakan buat Vero Ma!" teriak Vero dari tempat duduknya.


Elisa melotot ke arah Vero yang cengengesan dengan perkataannya sendiri. Sedangkan Biyan, menepuk pundak kembarannya, agar tidak ngomong sembarangan. Dia takut jika kakaknya Aji dengar, dan marah besar kemudian mengajak istrinya itu kembali, dan tidak mau lagi datang ke rumah ini.


"Apa sih?" ucap Vero kaget, karena tepukan di bahunya yang terasa sakit.


"Berisik!" kata Biyan cuek, sambil tersenyum miring.


"Kamu tuh yang kayak kulkas. Tidak pernah ada hawa panas-panasnya sama sekali."


Perdebatan antara Vero dan Biyan, baru berhenti saat Aji datang. Meskipun Aji, tidak mendengar dan melihat tingkah mereka berdua, mereka tetap saja merasa takut.


Jeny, memeluk kakaknya, Aji. Meluapkan rasa kangen dan rindunya, karena mereka sekarang sudah tidak lagi sering bertemu. Tempat tinggal mereka juga tidak bisa di bilang dekat, sehingga waktu untuk bertemu sangat sulit karena kesibukan dan tanggung jawab masing-masing.


"Kakak tidak kangen dengan Jeny?" tanya Jeny dengan wajah cemberut, karena Aji hanya menanggapi dengan datar.


"Kangen," jawab Aji pendek.


"Ihsss, masak kangen cuma begitu saja?" rengek Jeny manja.


"Kamu itu, sudah ada om Dimas. Buat apa manja-manja sama Kakak? Kakak juga sudah ada yang di manja sendiri," jawab Aji, dengan melihat ke arah Elisa, yang sedang mengobrol dengan mamanya.


"Oh gitu ya, mentang-mentang sudah nikah, jadi adiknya dilupakan. Begitu?" tanya Jeny lagi dengan wajah kesal.


"Jeny," tegur mama Cilla, pada Jeny yang tetap ingin bermanja-manja dengan kakaknya itu.

__ADS_1


Jeny, melirik mamanya yang mengeleng melihatnya. Tapi tak lama, Jeny memeluk kakaknya lagi sambil berbisik-bisik pelan, "Jeny sudah ada calon keponakan untuk Kakak. Sekarang, Jeny tanya ke Kakak, sudah berhasil belum buat keponakan untuk Jeny?"


Tadinya, Aji tidak paham dengan bisikan adiknya itu. Dia melihat ke wajah Jeny, memastikan jika, apa yang dia pikirkan saat ini itu adalah yang dimaksud oleh Jeny.


Jeny, mengangguk sambil tersenyum senang, sat Aji paham dan melihat ke arah perutnya yang rata.


"Benarkah? apa yang lain sudah tahu?" tanya Aji dengan curiga. Dia tidak yakin, karena sedari tadi, mamanya tidak mengatakan apa-apa, begitu juga dia banyak bicara, Vero, tidak menyingung soal bayi dan hamil.


"Baru om Dimas, sama Kakak. Tadinya mau ke apartemen buat kasih tahu, tapi Kakak bilang Elisa ngajak ke sini, ya sudah, Jeny ikut."


"Selamat ya. Jaga kesehatan dan keselamatan, juga istirahat yang cukup. Tidak usah sering-sering pergi karena itu bisa membuat Kamu capek juga." Aji, memberikan ucapan selamat dan juga beberapa pesan pada adiknya Jeny, yang sedang hamil muda.


"Apa, kok ada selamat-selamat segala?" tanya mama Cilla, yang secara tidak sengaja mendengar perbincangan mereka berdua.


Aji diam saja, kemudian menyusul istrinya untuk duduk. Dia tidak mau menjawab pertanyaan mamanya, biar adiknya saja yang menjawab, karena dia yang mempunyai kabar gembira itu.


"Ada apa Kak?" tanya Elisa ingin tahu.


"Ehemmm... Jeny mau kasih pengumuman, tapi... Vero, tolong panggil papa dan dokter Dimas ya!" pinta Jeny pada Vero, adiknya.


"Ihsss, kenapa mesti Vero?" gerutu Vero, tapi beranjak juga dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke ruang tamu, dimana tadi papa Gilang dan dokter Dimas sedang mengobrol.


"Pa. Di panggil kak Jeny."


Vero datang mendekati papanya, kemudian menyampaikan pesan dari kakaknya, jeny.


"Ada apa? kenapa tidak kemari saja dia?" tanya papa Gilang, dengan kening berkerut. Dia merasa heran, jika butuh dirinya, biasanya anak perempuannya itu tidak meminta kepada orang lain untuk menyampaikan pesan, tapi datang mencarinya sendiri.


"Tidak tahu. Om Dimas juga diminta ke sana juga tuh!" Vero, kembali menyampaikan pesan dari Jeny, untuk suaminya, dokter Dimas.


"Oh... Ya sudah Pa, kita ke sana saja. Mungin ini adalah permintaan orang yang..."


Dokter Dimas, tidak melanjutkan kalimatnya, karena ingat pesan dari Jeny, agar tidak mengatakan pada siapapun, tentang kehamilannya itu. Jeny ingin, semua tahu dari mulutnya sendiri yang memberitahu mereka.

__ADS_1


Papa Gilang semakin bingung, dengan sikap anak dan menantunya itu. Akhirnya, dia hanya ikut apa kemauan Jeny, pergi ke ruang tengah bersama dengan dokter Dimas. Vero sudah kembali terlebih dahulu tadi.


"Apa ada sesuatu hal yang terjadi?" hanya papa Gilang pada menantunya, saat mereka berdua berjalan menuju ke ruang tengah.


Dokter Dimas tidak menjawab. Dia tetap diam dan tidak ingin mendapati istrinya marah, karena pesan dan keinginannya itu dilanggar olehnya.


"Ada apa Jen?" tanya papa Gilang dengan tidak sabar, begitu dia sampai di ruang tengah dan melihat Jeny yang sedang tersenyum-senyum sendiri, saat di tanya-tanya sama mamanya, mama Cilla.


"Papa!" panggil Jeny, meminta kepada papanya itu untuk lebih mendekat lagi, sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Meminta papa Gilang agar segera duduk didekat dirinya.


Jeny, juga menarik tangan suaminya, dokter Dimas, agar duduk juga di sebelahnya juga. Jadi, dia diapit oleh papanya dan suaminya.


"Aneh-aneh saja Kamu ini Jen. Ada apa sebenarnya?" tanya mama Cilla dengan tidak sabar, apalagi melihat tingkah putrinya yang tidak biasanya seperti ini.


"Ih, Mama. Sabar sebentar," kaya Jeny menenangkan namanya.


Vero dan Biyan, hanya mengamati tingkah kakaknya, Jeny yang sedang mencari perhatian semua orang. Mereka berdua, berpikir jika kakaknya itu, tertekan karena hidup berdua di rumah besar milik dokter Dimas. Apalagi dokter Dimas, juga kadang harus bertugas di rumah sakit pada malam hari.


"Ehmmm... Jeny mau kasih pengumuman untuk semuanya. Ada yang ingin dengar tidak?" tanya Jeny, sebelum mengatakan berita yang ingin dia sampaikan.


Tapi Jeny tidak menunggu mereka menjawab lagi, karena dia segera melanjutkan kata-katanya, "Akan ada anggota keluarga baru, untuk sembilan bulan ke depan."


Mama Cilla dan papa Gilang, saling berpandangan untuk sesaat, kemudian saling berpelukan mendengar berita bahagia itu.


"Wah, selamat Sayang," kata mama Cilla dan papa Gilang bersamaan.


"Yes... Vero dapat keponakan!" teriak Vero dengan senang. Dia sampai berdiri dan berjoget-joget sangking senangnya.


Biyan hanya tersenyum senang, melihat kebahagiaan semua orang, terutama untuk kakaknya, Jeny bersama dengan dokter Dimas.


Aji, memeluk Elisa, kemudian berbisik di telinga istrinya itu, " pokoknya kita harus segera menyusul mereka."


Elisa menjadi tersenyum malu. Dia mengangguk sambil melirik ke arah Jeny, yang sedang memeluk mama Cilla. Menyalurkan kebahagiaan untuk semua yang ada di rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2