
Elisa bangun dari tempat duduknya. Dia menatap ke arah Aji, dengan wajah cemas. Dia takut, jika Aji berpikir yang tidak-tidak tentang dia dan Rio.
"Kakak," sapa Elisa, dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Rio dan papa Gilang, ikut menoleh ke arah datangnya Aji bersama dengan mama Cilla, yang membawa minuman untuk mereka.
"El, minum dulu. Ayok Rio, di minum," kata mama Cilla menawari.
"Terima kasih Tante," ucap Rio dengan tersenyum tipis. Dia juga merasa khawatir, jika kedatangannya bersama dengan Elisa pagi ini, membuat mereka berpikir yang tidak-tidak, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Elisa, masih berdiri. Dia menatap ke arah Aji, meminta maaf dari sorot matanya.
Aji, memeluk Elisa tanpa banyak bicara. Dia merasa bersyukur, karena ternyata Elisa dalam keadaan sehat dan selamat.
"Kakak. Maaf..."
"Sudah. Tidak apa-apa. Aku tahu, semua hanya rekayasa."
Perkataan Aji, membuat Elisa kaget. Dia yang masih berada dalam pelukan Aji, berusaha untuk melepaskan diri.
"Maksud Kakak apa?" tanya Elisa bingung.
"Duduklah," kata Aji, meminta Elisa untuk duduk kembali, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Aku mau ambil handphone dulu ke kamar."
Papa Gilang dan mama Cilla, saling pandang satu sama lain. Begitu juga dengan Elisa dan Rio. Mereka semua, belum tahu, apa yang akan dilakukan oleh Aji. Jadi mereka hanya bisa menunggu sampai Aji datang lagi.
Tak lama, Aji sudah kembali dari kamar, dengan membawa handphone dan juga laptop. Dia duduk di samping Elisa, kemudian menyambungkan kabel antara laptop dengan handphone yang dia bawa tadi.
Setelah semuanya menyala, Aji memperlihatkan kepada Elisa, pesan apa yang dia terima.
Elisa sangat terkejut melihat ke layar laptop di depannya. Mama Cilla dan papa Gilang, akhirnya mendekat, untuk ikut melihat apa yang sedang dilihat oleh Elisa.
"Apa ini?" tanya papa Gilang dengan geram. Dia merasa sangat marah, karena melihat pose Elisa dan Rio yang tidak biasa di tempat tidur.
Mama Cilla, menutup mulutnya sendiri. Dia juga terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.
Elisa, tampak mengeleng. Dia menatap ke arah Rio, agar Rio menjelaskan tentang apa yang mereka alami kemarin itu.
"Tenang Pa, Ma. Ini hanya rekayasa." Aji, berkata dengan tenang.
__ADS_1
"Maksud Kamu?" tanya mama Cilla bingung, saat mendengar perkataan Aji.
"Mama perhatikan. Jika ini seperti yang sedang mama pikirkan, mana mungkin mereka dengan sengaja mendokumentasikan kejadian ini, dan mengirimkannya ke ponsel Aji. Mereka juga masih memakai pakaian lengkap. Jika memang iya, terus siapa yang membuat foto ini? jangan hanya terkecoh karena melihat sekilas saja."
Mama Cilla, masih merasa bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh Aji. Dia melihat ke arah suaminya, untuk mendengarkan pendapatnya.
"Apa papa juga berpikir yang sama denganku, atau Papa berpikir seperti Mama saat ini?" tanya Aji, pada papanya, yang terlihat tenang tanpa banyak bicara.
Papa Gilang, mengeleng. Dia tahu, apa yang dikatakan Aji benar. Tidak mungkin benar, jika Elisa dan Rio melakukan semua itu, dan meminta orang untuk mendokumentasikannya.
Aji, memberikan handphonenya pada Rio. Dia meminta penjelasan dari Rio, tentang apa yang ada pada foto tersebut.
Rio, menerima handphone dari Aji. Dia tidak terlalu kaget dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Aku tahu, dan karena ini juga, pelipisku terluka. Aku pingsan dalam waktu yang cukup lama. Jadi Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu."
Elisa tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam dan menghela nafas panjang. Dia tidak pernah berpikir sejauh ini, jika apa yang terjadi padanya dan Rio bisa sejauh ini.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian. Dan kami juga sudah melakukan visum. Pihak hotel, ikut mendampingi saat kami berobat ke rumah sakit terdekat dan melaporkan kejadian ini juga. Sekarang, pihak kepolisian sedang menyelidiki ke hotel dan minta keterangan dari beberapa petugas yang ada. Mungkin, mereka juga akan memeriksa beberapa cctv jalan atau toko yang menuju hotel, sebab, cctv hotel sudah di rusak. Bahkan, petugasnya ikut disekap diruangannya sendiri."
"Aku bisa melacak keberadaan handphonemu jika Aku tahu nomer seri atau barkotnya."
"Aku tidak ingat Kak. Tapi aku ingat nomer sandi rahasia, jika handphone sampai hilang untuk melacaknya. Aku sudah mengaktifkannya, sebulan yang lalu."
Tidak menunggu lama, Aji segera melakukan pencarian dimana keberadaan handphone milik Rio sekarang ini.
"El. Sebaiknya Kamu mandi dan beristirahat dulu ya. Biar mereka yang melakukan semua itu," kata mama Cilla, meminta kepada Elisa, dengan memegang pundaknya.
"Tapi Tan..."
"Mandilah. Kakak akan berusaha mencari tahu siapa mereka," kata Aji, agar Elisa menurut apa yang dikatakan oleh mamanya.
Papa Gilang, mengangguk. Begitu juga dengan Rio. Dia tidak ingin, Elisa tambah kepikiran dengan kejadian ini.
Akhirnya, Elisa menurut. Dia ikut ajakan mama Cilla, saat digandeng menuju ke kamar tamu.
"Kamu mandi dan beristirahat ya. Tante mau bangunkan Vero dan Biyan dulu."
"Iya Tan. Terima kasih."
__ADS_1
Elisa masuk ke dalam kamar. Mama Cilla, melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Vero dan Biyan.
*****
Sekitar pukul delapan pagi, mobil papa Gilang meninggalkan rumah. Begitu juga dengan mobil sport warna merah, milik Aji, yang mengikuti mobil papanya dari arah belakang.
"Kak. Apa Jeny marah kemarin?" tanya Elisa yang sedang duduk di sebelah Aji. Dia ikut di mobil Aji, yang hanya bisa di tempati dua orang saja.
"Ya. Tapi dia pasti akan sedih, jika tahu, apa yang Kamu alami dan ini," jawab Aji, dengan menoleh ke arah Elisa, meskipun hanya sekilas.
"Maaf," kata Elisa dengan menunduk.
"Makanya, kalau dikasih handphone itu mau. Kan bisa secepatnya kasih kabar jika ada sesuatu yang terjadi, dan tidak jadi seperti ini," kata Aji, menasehati Elisa.
"Iya maaf," kata Elisa lagi, dengan wajah sedih.
Aji, menghela nafas panjang untuk meredam kekesalannya.
"Awas kalau sampai mereka tertangkap. Aku ingin menghajar mereka dulu!" kata Elisa dengan kesal.
Aji, mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Elisa yang terdengar sangat geram
"Yakin bisa?" tanya Aji ragu. Apalagi dia melihat memar yang ada di kening Elisa.
"Bisa Kak. Tapi jangan main keroyokan kayak kemarin," jawab Elisa dengan percaya diri.
"Ini!" tunjuk Aji, ke kening Elisa.
"Iya ini karena mereka main keroyokan saja. Coba satu-satu, El pasti bisa menjatuhkan mereka semua."
Aji, tersenyum geli, mendengar jawaban Elisa yang menggebu-gebu. Dia tahu, jika Elisa bisa beladiri, tapi tidak pernah melihat Elisa, yang sedang berantem. Kalau berdebat sih sering lihat, seperti sekarang ini.
"Kapan-kapan, Kakak mau buktikan jika Kamu jago juga berkelahi," kata Aji menantang.
"Kapan Aku berkelahi?" tanya Elisa dengan cepat.
"Tadi?"
"Tidak. Aku tidak pernah bilang, jika Aku bisa berkelahi." Elisa tetap tidak mau mengaku.
__ADS_1
"Terus ini apa?" tanya Aji dengan menunjuk ke arah mulutnya sendiri.
Tentu saja, ini membuat Elisa terbelalak saat tahu apa maksud dari perkataan Aji yang sekarang.