
Hari yang ditunggu sudah semakin dekat. Aji, sibuk mempersiapkan diri dengan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Acara dan keperluan wedding, memang diserahkan pada pihak EO, tapi dia yang sedang aktif lagi di dunia kampus dan kerja iuga, menjadi semakin sibuk dengan persiapan sebelum pernikahan dia dan Elisa.
Elisa juga sama. Dia semakin sibuk dengan pekerjaan dan tugas-tugas kuliahnya. Dia tidak mau jika ada yang belum terselesaikan saat acara pernikahannya berlangsung.
"Wah, yang mau nikah. Sibuk bener, sampai-sampai ada yang lewat juga tidak terlihat," tegur Rio, saat melihat kesibukan Elisa di dalam perpustakaan kampus.
"Eh, Rio. Maaf, ini lagi konsen cari bahan untuk tugas. Kamu sudah selesai?" tanya Elisa, yang tahu, jika Rio juga punya tugas yang sama.
"Ini, mau cari bahan juga. Memangnya, Aku ke perpus cuma mau lihat Kamu saja?" jawab Rio dengan tersenyum tipis, kemudian melanjutkan lagi kata-katanya, "tapi emang iya juga sih. Kangen Aku dengan tingkah Kamu yang aneh."
"Rio..." tegur Elisa dengan wajah cemberut.
"Nah itu. Aku takut gak bisa lihat lagi, jika Kamu sudah di kuasai kakaknya Jeny. Pasti, Kamu di larang buat dekat-dekat sama Aku deh..."
Rio, menunjuk ke bibirnya sendiri, untuk menjelaskan tentang perkataannya itu. Dia juga terlihat sedih, karena membayangkan jika dia tidak akan bisa dekat-dekat lagi dengan Elisa, jika sudah menikah dengan Aji, kakaknya Jeny.
"Apaan sih!" seru Elisa kesal, karena sikap Rio yang aneh hari ini.
"El. Kamu pasti dilarang pergi kuliah sendiri, pergi kemana-mana sendiri, dan yang pasti, Kamu juga akan dilarang untuk kerja di tempatku lagi. Aku yakin, kak Aji bisa membahagiakan Kamu dalam segala hal. Tapi, Aku tetap merasa sedih. Tidak ada hiburan dan teman untuk berbincang-bincang santai tanpa ada beban."
Perkataan Rio, diakui Elisa jika benar adanya. Dia juga tahu, Aji tidak begitu suka, jika dia berada di dekat Rio. Aji, terlalu cemburu pada Rio, yang memang memiliki perasaan terhadap Elisa sedari awal.
"Maaf ya Rio. Aku harap, Kamu akan menemukan gadis yang lebih baik dari pada Aku dalam segala hal."
Rio tersenyum tipis, mendengar harapan yang diucapkan oleh Elisa untuknya. Dia tidak yakin, bisa mendapatkan gadis yang dia inginkan seperti Elisa ini.
Rio, bahkan sudah berencana untuk pindah kuliah ke luar negeri, begitu tugas akhir semester ini selesai. Dia juga sudah meminta ijin pada ayahnya untuk itu semua.
Rio, ingin melupakan perasaan hatinya pada Elisa, dengan belajar jauh ke luar negeri. Mungkin, jarak yang jauh bisa mengobati hatinya sendiri. Rio, harap dia bisa melakukan semua itu.
*****
__ADS_1
Hari yang dinanti telah tiba. Pernikahan Aji dan Elisa akan segera berlangsung hari ini.
Akad nikah Aji dan Elisa, akan di laksanakan di rumah papa Gilang, setelah itu, mereka akan langsung menuju ke tempat resepsi. Ini dikarenakan waktunya yang sudah mendesak, dan mereka ambil yang paling mudahnya, agar tidak terlalu ribet dalam pelaksanaan acara.
Semua orang tampak bahagia, saat acara akad nikah berlangsung. Baik mempelai pria maupun wanita, sama-sama tersenyum dan terlihat bahagia dengan acara yang akan meresmikan hubungan mereka berdua.
"Saudara Aji Putra, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak Saya, Elisa Mawarni binti Ahmad Mawardi, dengan mas kawin berupa emas dengan berat *** dan juga uang sebesar *** tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Elisa Mawarni binti Ahmad Mawardi, dengan mas kawin tersebut, tunai!"
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah..."
"Alhamdulillah, mari kita berdoa untuk kedua mempelai agar bisa membina hubungan rumah tangga dengan sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiin..."
Doa dipanjatkan oleh semua orang, untuk kehidupan baru bagi Aji dan Elisa. Mereka berdua, kini sudah resmi sebagai suami istri yang sah.
Prosesi akad sudah selesai. Saatnya melanjutkan acara resepsi, yang akan dilaksanakan di gedung yang sama, saat acara pernikahan Jeny beberapa bulan yang lalu.
Gedung yang disewa, sudah tertata rapi dengan dekorasi pelaminan yang megah. Tempat prasmanan yang disediakan, juga sudah ditata bersama dengan hidangannya, menunggu untuk dinikmati oleh para tamu undangan yang akan datang nanti.
Beberapa petugas EO, terlihat wira-wiri, memeriksa apakah masih ada kekurangan dalam acara yang mereka tangani. Mereka tidak mau, jika ada kekurangan yang bisa menjatuhkan nama baik EO mereka, yang sudah menjadi langganan keluarga papa Gilang. Ini untuk kelangsungan usaha mereka juga, memberikan pelayanan yang terbaik untuk klien.
Beberapa saat kemudian, rombongan pengantin sudah datang. Waktu acara resepsi akan segera dimulai.
Pembawa acara juga sudah naik ke atas panggung. Membacakan beberapa kalimat pembuka dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai serta selamat datang untuk para tamu undangan yang sudah hadir.
Rio, datang bersama dengan ayahnya. Dia juga tampak bahagia, melihat Elisa yang sedang berbahagia dengan pernikahannya bersama dengan Aji.
__ADS_1
"Rio, harusnya Kamu yang ada di sebelah mempelai wanita itu. Kenapa Kamu bisa kalah sih?" tanya ayahnya Rio dengan wajah cemas. Dia tidak mau, anaknya itu menjadi patah hati, karena di tinggal nikah oleh Elisa.
"Yah. Aku tidak mau memaksakan perasaan ini padanya. Lagi pula, kami ini sahabat Yah. Aku sudah merasa bahagia, melihatnya bahagia seperti sekarang ini."
Ayahnya Rio, justru tersenyum miris, mendengar jawaban dari anaknya sendiri. Dia tidak percaya, dengan semua yang dikatakan oleh Rio.
"Mulut boleh berkata seperti itu. Hati? ahhh, sudahlah. Ayah tidak mau membahas lagi, tapi jika Kamu menyukai gadis, segera bilang pada Ayah. Tidak usah menunggu terlalu lama, Ayah pasti akan melamarnya untukmu, dan segera menikahkan kalian."
Rio tersenyum tipis, mendengar perkataan ayahnya. Dia tahu, ayahnya juga bisa merasakan hal yang sama seperti dirinya. Mungkin diwaktu mudanya dulu, ayahnya ini pernah merasakan hal yang sama seperti yang Rio rasakan sekarang. Kecewa, karena gadis pujaan telah menikah dengan orang lain.
"Kamu mau nangis?" tanya ayahnya Rio, ketika melihat Rio yang tersenyum samar.
"Tidak Yah," jawab Rio, mengelengkan kepala.
"Kalau mau menangis, ya nangis saja. Tidak ada yang melarang seorang laki-laki menangis. Itu akan lebih baik, daripada harus menyimpan dendam."
Rio mengangguk, mendengar nasehat dari ayahnya. Dia menghela nafas panjang, membuang sesak yang ada di dalam dada sedari tadi.
Mungkin, tidak semua orang merasakan hal yang sama seperti yang Rio rasakan saat ini. Dia berharap, tidak ada lagi cinta yang harus bertepuk sebelah tangan pada waktu yang akan datang.
"Rio. Rio sini!"
Panggilan Elisa, membuyarkan lamunan Rio tentang perasaan yang dia rasakan.
"Apa El?" tanya Rio mendekat ke arah tempat Elisa berada.
"Kita foto-foto. Kan acara untuk keluarga sudah selesai. Kamu, dari tadi Aku liatin, malah tidak pernah melihat ke arahku."
Elisa, mengajak Rio untuk foto-foto bersama dengannya dan Aji.
"Ayok Kak!" ajak Elisa, kemudian mengandeng tangan Aji, saat foto bertiga dengan Rio.
"Itu, kenapa mempelainya malah ngajak foto bertiga begitu? katanya kan pamali ya, kalau foto bertiga?"
__ADS_1
"Ah, itu hanya mitos. Tidak usah dipikirkan."
Beberapa tamu yang hadir, memperbincangkan Aji, Elisa dan Rio.