Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Pembalut Wanita 3


__ADS_3

Cilla yang merasa bingung mau menjawab apa dengan pertanyaan Gilang, hanya mampu terdiam. Tapi berbeda dengan mami Rossa. Dia ingin membantu Cilla untuk menjelaskan tentang barang apa yang sebenarnya ada di tangan anaknya itu.


"Itu roti tawar Sayang," kata mami Rossa menjawab pertanyaan Gilang, sambil menahan senyumnya.


"Roti tawar? Apa ini kemasan baru? Aku baru lihat, tumben tidak dalam plastik transparan seperti biasanya," tanya Gilang penasaran.


Gilang berpikir jika pembalut wanita milik Cilla itu adalah roti tawar yang sebenarnya, seperti yang dikatakan oleh mami Rossa. Dia ingin mencicipi roti tawar yang terlihat gemuk saat dipencet dari luar.


"Sepertinya enak. Boleh dibuka Mi? Aku mau coba," tanya Gilang ingin segera mencicipi roti tawar tersebut.


Cilla melotot mendengar permintaan dari Gilang, sedangkan mami Rossa terkekeh geli melihat wajah Cilla yang sudah memerah karena malu jika sampai pembalutnya itu dibuka oleh Gilang.


"Ja... jangan!" kata Cilla gugup.


Gilang beralih dari bungkusan ditangannya kearah wajah Cilla yang memerah dan terlihat cemas. "Kamu sakit?" tanya Gilang cemas, Dai tidak paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh Cilla sekarang ini.


"Gilang... Gilang... "


Mami Rossa mengeleng mendengar dan melihat sikap Gilang yang tidak memperhatikan tulisan yang ada pada kemasan barang yang dia sangka roti tawar beneran.


"Apa Mi?" tanya Gilang bingung dengan sikap maminya itu.


"Coba deh, kamu baca juga apa yang tertera di kemasan itu!"


Gilang mengeryit heran, tapi dia juga melakukan apa yang dikatakan oleh mami Rossa. Tak butuh waktu yang lama, Gilang melotot dan segera meletakkan bungkus kemasan yang ada ditangannya. Dia melihat kearah Cilla dengan wajah yang canggung karena merasa malu juga.


"Maaf," katanya datar.


Gilang berusaha untuk menetralkan wajahnya yang kaget dan juga malu, dengan kembali pura-pura memperhatikan layar laptop yang sudah dia matikan.


Dengan gerakan cepat, Cilla mengambil barang tersebut, kemudian membawanya ke dalam kamar.


"Hihihi... Dasar kamu Gilang, Gilang..."

__ADS_1


Mami Rossa mengeleng dan terus terkikik geli melihat tingkah laku anaknya. Dia merasa sangat senang dengan kesalahpahaman Gilang tentang barang, yang khusus untuk wanita tersebut. Itu menandakan jika sebenarnya, Gilang tidak tahu banyak tentang wanita. Dia sebenarnya hanya terlihat player di mata orang-orang yang tidak mengenalnya dengan baik.


"Kenapa Mami tidak bilang langsung tadi, dan malah bilang kalau itu adalah roti tawar?" tanya Gilang protes pada maminya yang masih saja terkekeh-kekeh geli.


"Ya bagaimana mami mau menjawab dengan benar, jika Cilla sudah merasa sangat malu tadi saat kamu sudah memegang barang tersebut," jawab mami Rossa memberikan alasannya.


"Tapi kan malah jadi salah paham Gilang nya Mi!"


Gilang masih saja protes. Mungkin dia juga merasa sangat malu di depan Cilla. Dia jadi terlihat bodoh dan tidak tahu apa-apa.


"Hem..."


Mami Rossa tidak tahu harus berkata apalagi kalau sudah diprotes Gilang seperti ini. Dia juga merasa bersalah karena jawaban juga, semua menjadi salah paham lagi.


"Gilang. Kapan-kapan Mami mau ajak Cilla ke psikiater. Biar dia berkonsultasi tentang ketakutannya di masa lalu. Terutama tentang kejadian itu, bersamamu. Kalian mau menikah, Mami tidak ingin jika hubungan antara kalian berdua tidak sehat nantinya. Jadi kamu harus bersabar sampai Cilla benar-benar bisa menerima kenyataan dan menerima kamu juga dari hatinya."


Gilang menganguk mengerti maksud dari perkataan maminya itu. Dia juga tadinya berpikir demikian, tapi takut jika mengajak Cilla ke psikiater malah terjadi kesalahpahaman antara Cilla dengan dirinya.


"Atur saja Mi. Mana yang terbaik menurut Mami, Gilang ikut saja," kata Gilang setuju dengan rencana mami Rossa itu.


Di dalam kamar. Cilla memandang wajah Aji dengan perasaan yang tidak menentu. Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam hati dan juga pikirannya.


"Apa semua ini benar? Apa aku tidak bermimpi?"


Cilla menghembuskan nafas panjang dan memejamkan matanya sambil terus bertanya-tanya. Semua berkecamuk di dalam hatinya. Ada keraguan yang dia rasakan, tapi juga harapan yang dia inginkan demi Aji, anaknya yang butuh pelindung untuk masa depannya juga.


Tidak munafik jika Cilla juga merasa bahagia bisa diperlakukan dengan baik oleh Gilang maupun mami Rossa. Tapi dia masih merasa takut dan juga cemas jika melihat kebelakang dengan semua yang terjadi dulu.


Mungkin apa yang diusulkan oleh mami Rossa untuknya ada benarnya. Mengajak dirinya untuk pergi berkonsultasi ke psikiater adalah salah satu cara untuk membuat keadaan hati dan pikirannya berubah, dan tidak lagi terus-menerus mengalami ketakutan yang sama.


"Ma. Mama..."


Aji terbangun dari tidurnya, dan menyadarkan Cilla dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh, iya Sayang. Mama ada disini," jawab Cilla mengelus rambut Aji yang sudah mulai memanjang.


"Aji lapar," kata Aji sambil memegang perutnya.


"Oh lapar ya? Aji kan memang belum makan sedari pagi. Yuk bangun, Mama suapin!"


Aji menurut dan bangun. Dia mengambil sendiri kacamata yang ada di atas meja, samping tempat tidur, untuk dia pakai. Dia juga turun dari tempat tidurnya tanpa bantuan mamanya, kemudian mengikuti langkah mamanya untuk keluar dari dalam kamar.


"Eh, Aji sudah bangun ya? Makan dulu ya, biar tidak sakit perutnya."


Mami Rossa menyapa Aji yang berjalan di samping mamanya. Gilang mendongakkan kepalanya melihat kearah Aji dan juga Cilla.


Saat mata Gilang bertemu langsung dengan mata Cilla, keduanya sama-sama menoleh, mengalikan pandangan ke tempat yang berbeda. Mungkin keduanya masih teringat dengan kejadian tadi, tentang roti tawar.


"Aji mau Oma yang suapin?" tanya mami Rossa pada Aji.


"Eh, gak usah Mi. Biar Cilla yang suapin. Mami istirahat saja dulu," kata Cilla cepat. Dia tidak mau berada didekat Gilang saat ini.


"Baiklah. Kita tanya Aji saja ya!" kata mami Rossa membuat keputusan untuk bertanya langsung pada Aji.


Sebelum bertanya, mami Rossa mengedip-ngedipkan sebelah matanya untuk memberikan kode pada cucunya yang pintar itu, kemudian setelah Aji juga mengedipkan matanya, membalas kode yang mami Rossa berikan, barulah mami Rossa bertanya, "Aji. Mau disuapin sama mama atau Oma?"


Aji menarik tangan mamanya, kemudian menjawab pertanyaan mami Rossa, "Aji biasa makan sendiri atau disuapi mama. Tapi kali ini sepertinya Aji pengen disuapi Oma."


Mami Rossa tersenyum mendengar jawaban dari cucunya itu. Berbeda dengan Cilla yang kaget dengan jawaban yang diberikan oleh anaknya sendiri.


"Tapi Aji kan biasa makan sendiri. Kenapa sekarang jadi manja?" tanya Cilla bingung dengan keinginan anaknya itu.


"Kan tadi Oma yang nawarin. Aji juga pengen merasakan bagaimana disuapi oleh Oma," jawab Aji memberikan alasannya.


Kini Cilla terdiam dan hanya bisa menghela nafas panjang. Dia ingin ikut pergi ke dapur saat Aji dan mami Rossa melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk Aji.


"Eh... Kamu disini saja Cilla. Ada acara bagus itu di televisi. Kamu lihat saja ya!"

__ADS_1


Mami Rossa mencegah Cilla yang bermaksud mengikutinya dan Aji. Sekarang Cilla hanya bisa duduk diam melihat ke arah televisi, namun tidak dengan pikirannya. Apalagi dengan keberadaan Gilang yang tidak jauh dari tempat duduknya.


__ADS_2