Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kecurigaan Aji


__ADS_3

Semua orang tertawa lepas, saat selesai mendengar penjelasan dari Elisa tentang tempe kemulan. Mereka berpikir, jika kebiasaan Elisa itu aneh dan tidak biasa terjadi, pada orang Indonesia pada umumnya. Tidak bisa sarapan pagi dengan nasi, tapi bisa masuk dengan makanan yang lainnya. Bukankah itu hal yang sama saja?


"Aneh-aneh saja Kamu El," komentar mama Cilla dengan tersenyum, ditahan.


"Jadi tambah rame ya ada Elisa di rumah ini," kata papa Gilang, dengan tersenyum senang.


"Iya bener banget Pa. Biyan gak perlu cari video lucu untuk bisa tertawa. Hehehe..." kata Biyan tidak mau kalah.


"Eh, eh. Emang Aku lawak ya! Emang itu nama makanan yang ada di daerahku," kata Elisa, membela diri untuk nama makanan yang dia sebutkan tadi.


"Sudah-sudah. Yang lain lanjut makan. Elisa mau tempe kemulan kan? ayok kita bikin!" ajak mama Cilla, dengan berdiri dari tempat duduknya.


"Wah... beneran Tante? gak repot nih?" tanya Elisa, dengan mata berbinar-binar karena senang.


"Ya, Tante juga mau tahu cara buatnya Kamu kayak gimana, bumbunya maksud Tante," jawab mama Cilla, menjelaskan tentang ajakannya tadi.


"Yah... Tante. Elisa gak bisa. Elisa tahunya makan saja," kata Elisa, dengan nyengir kuda. Dia merasa malu, karena tidak tahu bagaimana cara membuat tempe kemulan.


"Halah... dasar tukang makan!" ledek Jeny, sambil mencibir.


"Masa sih Kak?" tanya Vero, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya, Jeny.


"Tanya tuh!" tunjuk Jeny, pada Elisa dengan bibirnya yang maju.


"Ih, Jeny. Jangan buka kartu, kan malu," bisik Elisa dengan meringis.


"Malu? malu-maluin iya! hahaha..."


"Hahaha..."


Tawa Jeny pecah, disusul oleh Vero dan Biyan. Kebahagiaan mereka, benar-benar terlihat hanya dari sekedar ledek-ledekan yang tidak ada artinya. Elisa pun tidak ambil pusing, dan hanya tersenyum malu-malu.


"Sudah-sudah. Minta tolong pada bibi saja Ma," kata papa Gilang, menengahi.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab mama Cilla, kemudian melangkah ke arah dapur untuk meminta bantuan pada bibi pembantu, agar dibuatkan tempe kemulan, seperti yang diinginkan oleh Elisa.


*****


Dari dalam kamarnya, Aji, yang tidak ikut turun untuk sarapan pagi, merasa penasaran dengan kejadian yang ada di lantai bawah. Dia ingin ikut serta, tapi badan dan kepalanya masih terasa sakit, sehingga dia hanya bisa menajamkan pendengarannya sendiri, untuk bisa menangkap suara-suara yang datang dari luar kamarnya.


Aji, semakin merasa penasaran, saat nama Elisa di sebut-sebut. Padahal di rumah ini, tidak ada yang bernama Elisa.


Akhirnya, dengan tertatih-tatih dan berpegangan pada tembok untuk bisa berjalan, Aji sampai juga di ujung tangga. Dari posisi seperti ini, dia akan bisa melihat semua yang terjadi di bawah sana, yaitu ruang tengah dengan meja makan, yang tidak terlalu jauh jaraknya, kemudian ada dapur yang juga menyatu dengan ruang makan.


Dari atas, Aji bisa lebih baik lagi, mendengar dan melihat semua yang mereka perbincangkan sambil menikmati sarapan pagi mereka.


Aji terus menerus memperhatikan dan mendengarkan semua obrolan kedua orang tuanya, dengan orang-orang yang dia anggap sebagai asisten omanya, dan juga pemuda-pemuda yang kemarin dia lihat di rumah sakit.


"Kenapa mereka semua menyebut Jeny dengan nama Elisa? siapa dia? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aji pada dirinya sendiri.


"Lalu, kenapa mereka seakan-akan tidak merasa sungkan, makan bersama dengan papa dan juga mama?" tanya Aji lagi, dengan masih terus memperhatikan keadaan di bawah sana.


"Tante? kenapa Jeny, memangil mama dengan sebutan Tante?" tanya Aji, dengan wajah bingung.


"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Aku tidak mengenali mereka semua? Dan Jeny, kenapa Aku merasa sedikit asing? Ahhhh..."


Aji, memegang kepalanya yang terasa sakit lagi. Dia berbalik dan berjalan lagi, menuju ke kamarnya sendiri.


Dengan memegang kepalanya, Aji mencoba mencari sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Dia ingin tahu, apa yang telah terjadi saat ini.


Semua laci meja dan lemari pakaian, di buka Aji. Dia ingin menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk. Tapi, sepertinya, otaknya yang dia ajak berpikir, tidak bisa lagi diajak untuk bekerjasama. Dia limbung, dan jatuh tidak sadarkan diri, didekat meja, tempat dia biasa belajar waktu dulu.


*****


"El. Kamu ada jam kuliah gak pagi ini?" tanya Jeny, waktu selesai sarapan pagi.


"Gak ada. Agak siang mungkin Aku baru berangkat," jawab Elisa, dengan merapikan rambutnya yang di kucir asal.

__ADS_1


"Aku ada jam pagi ini. Gimana? gak bisa nunggu Kamu, atau Kamu ikut berangkat pagi sama Aku?" tanya Jeny lagi.


"Gak apa-apa, tinggal saja. aku gampang, bisa naik angkot, bemo atau ojek kok!" jawab Elisa, dengan cepat.


"Hah, benaran gak bareng Aku?" tanya Jeny, memastikan.


"Iya," jawab Elisa lagi dengan pasti.


"Hem... ya udah deh."


Akhirnya, Jeny tidak lagi bertanya. Dia langsung pergi ke kamarnya sendiri, untuk bersiap-siap pergi ke kampus.


"Ma. Jeny berangkat ke kampus. Elisa baru akan pergi agak siang nanti. Kalau ada supir yang menganggur, minta tolong antar Elisa ya Ma," kata Jeny, memberitahu pada mamanya, yang sedang mempersiapkan sarapan untuk mami Rossa, mami mertuanya.


"Iya Sayang. Nanti Mama bujuk Elisa, agar mau diantar supir ya! Kamu tahu sendiri kan, temen Kamu Elisa itu kayak gimana," jawab mama Cilla, saat mendengar pesan dan permintaan dari anak gadisnya itu.


"Sip Ma," jawab Jeny, sambil mengedipkan sebelah matanya.


Setelah beberapa menit kemudian, Jeny sudah tidak lagi tampak berada di rumah, karena dia sudah pergi ke kampus. Mama Cilla juga mau pergi ke kamar lain, merawat Oma Rossa, dengan membawa nampan berisi sarapan pagi untuk mami mertuanya itu.


"El, Elisa. Tolong lihat kakaknya Jeny ya, di kamar atas. Jika sudah bangun, tanya, mau sarapan sekarang atau tidak?" panggil mama Cilla, meminta tolong pada Elisa, agar melihat Aji yang masih berada di dalam kamarnya sendiri.


"Iya Tante," jawab Elisa, dengan menganggukkan kepalanya sopan.


"Terima kasih ya El," kata mama Cilla lagi, sambil tersenyum.


"Sama-sama Tante," jawab Elisa, kemudian melangkah ke arah tangga, untuk naik keatas menuju ke kamarnya Aji. Kakaknya Jeny.


"Huh. Aku kok deg-degan banget," kata Elisa pelan.


"Duh, hatiku kenapa jadi gak karuan gini? Ada apa ini?" tanya Elisa dalam hati, dengan wajahnya yang terlihat sangat cemas.


"Hem... tenang El, tenang. Kamu harus bisa dan pasti bisa."

__ADS_1


Elisa menyemangati dirinya sendiri, saat akan pergi ke kamar Aji. Dia berjalan dengan perlahan-lahan, agar tidak menimbulkan suara, yang bisa menganggu istirahat Aji, kakak pura-puranya itu.


__ADS_2