Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Gagal Perijinan


__ADS_3

Hari ini jadwal kedua untuk kunjungan Cilla ke psikiater. Dia akan dijemput Gilang sekitar jam sebelas siang karena jadwal ketemu dokter sekitar jam setengah satu siang.


Mami Rossa meminta Gilang yang ikut menemani dan ikut masuk ke dalam ruangan nantinya, agar Gilang juga bisa ikut berpartisipasi dalam masa pemulihan trauma Cilla. Menurut mami Rossa, ini akan mendukung karena Gilang adalah sosok utama yang membuat trauma di hati dan pikiran Cilla selama ini.


Gilang sudah berangkat ke kantor pagi tadi. Mami Rossa menemani Aji yang sedang bermain air, di kolam renang yang ada di samping rumah. Sedangkan Cilla duduk menunggu mereka berdua di tepi kolam sambil membaca beberapa artikel dan berita melalui handphone yang dia pegang.


"Aji. Nanti Oma mau ada arisan di rumah teman Oma. Apakah Aji mau ikut?" tanya mami Rossa pada Aji.


"Tidak Oma. Aji di rumah saja," jawab Aji menolak ajakan omanya itu.


"Tapi di rumah tidak ada orang Sayang, hanya ada bibi pembantu dan yang lain?"


Mami Rossa merasa khawatir karena meninggalkan Aji sendiri di rumah tanpa dirinya ataupun mamanya, Cilla.


"Apa kamu ikut papa dan mama Kamu saja?" tanya mami Rossa lagi pada Aji, cucunya itu.


"Tidak. Aji kan sudah bilang, tidak mau ikut ke rumah sakit," jawab Aji sambil mengelengkan kepalanya.


"Tapi, Oma merasa khawatir Sayang."


"Tidak apa-apa Oma. Aji sudah biasa sendiri. Nanti jika Aji perlu sesuatu, Aji pasti minta tolong pada bibi, atau yang lain yang ada di rumah ini."


Aji yang menyakinkan omanya agar tidak terlalu khawatir dengan dirinya saat berada di rumah ini.


"Aji kan sudah besar Oma. Lagipula, Aji ada di rumah ini tidak kemana-mana kan?"


"Baiklah. Oma percaya kalau Aji akan baik-baik saja. Apa Oma perlu meminta papa untuk mengambil satu pengasuh khusus untukmu?"


Mami Rossa meminta pendapat Aji, untuk memberikan pengasuh khusus untuknya. Tapi Aji tentu menolaknya, dia bukan lagi bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa. " Tidak Oma. Aji akan merasa terganggu dengan kehadiran pengasuh tersebut, nantinya pasti dia akan memperlakukan Aji seperti bayi." Tolak Aji untuk usulan omanya itu.


"Hehehe... Begitu ya," kata mami Rossa terkekeh geli mendengar jawaban cucunya yang sok dewasa.

__ADS_1


"Mi. Mami, lihat!"


Cilla memangil mami Rossa dengan panik. Dia menunjukkan berita yang sedang dia baca pada mami Rossa.


Mami Rossa naik ke atas dan meminta Aji untuk berhati-hati, "Oma naik dulu. Itu mama kamu sedang memperlihatkan apa ya? Kamu hati-hati ya, jangan ke sebelah sana, soalnya disana dalam, untuk renang orang dewasa!"


"Iya Oma," jawab Aji patuh.


Mami Rossa naik dan melangkah menuju ke tempat duduknya Cilla. "Ada apa Cilla?" tanya mami Rossa bingung dengan apa yang ditunjukkan oleh Cilla.


"Mi. Ini ada berita tentang perusahaan GAS. Dalam berita itu dikatakan jika PT Sekar Jagad, mengajukan permohonan kerja sama seminggu yang lalu, tapi karena masih proses ijin dari dinas terakit, GAS tidak bisa menerima tawaran untuk kerjasama tersebut. Tapi pagi ini diberitakan jika PT Sekar Jagad ditolak permohonan ijinnya, karena ternyata pendirinya adalah seorang mafia heroin yang baru saja di tangkap di Amerika Serikat."


"Wah, benarkah?" Mami Rossa kaget mendengar berita yang dibacakan oleh Cilla untuknya.


"Coba lihat!"


Mami Rossa merasa khawatir, dengan pemberitaan media tentang semua itu. Dia takut jika perusahaan GAS akan dilibatkan juga.


Tapi ternyata berita ini belum diketahui siapa pemilik perusahaan tersebut, dan kenapa bisa sampai membuat perusahaan di Indonesia, dengan nama yang familiar untuk rakyat Indonesia juga. Berita ini belum diketahui secara pasti, jadi hanya diberitakan agar semua pihak berhati-hati dalam melakukan pekerjaan, yang bisa jadi sudah pernah dihubungi oleh pihak PT Sekar Jagad ,untuk melakukan kerjasama seperti yang dialami oleh perusahaan GAS.


"Untungnya GAS belum menyetujui permintaan kerja sama tersebut. Jika sudah bisa bahaya! Apalagi ini kejahatan yang dilawan semua negara, tidak hanya di Amerika Serikat saja. Seandainya GAS sudah melakukan kerjasama tersebut, bisa jadi GAS akan ikut terkena dampaknya, dan ikut dipanggil untuk menjadi tersangka kejahatan internasional. Heroin dan kawan-kawannya itu sangat berbahaya!"


Mami Rossa merasa lega, karena perusahaan GAS milik anaknya, Gilang, menolak kerjasama yang ditawarkan. Meskipun PT Sekar Jagad ada di Indonesia, tapi jika pendirinya adalah penjahat internasional seperti itu, bisa jadi GAS akan ikut dilibatkan juga, atau setidaknya akan menjadi sorotan pihak intelijen Amerika, FBI, karena dicurigai sebagai komplotan penjahat tersebut.


"Coba Mami telpiyn Gilang dulu ya?"


Cilla mengangguk mengiyakan atas usulan mami Rossa. Taka lama sambungan telpon yang dilakukan oleh mami Rossa terhubung. Tapi sepertinya Gilang sedang sibuk atau tidak memegang handphonenya, karena panggilan tersebut tidak ada yang mengangkatnya.


"Coba telpon ke kantornya ya!"


Usul mami Rossa lagi. Cilla hanya mengangguk lagi dengan wajah cemas. Dia juga merasa khawatir dengan keadaan seperti sekarang ini.

__ADS_1


..."Selamat Pagi. Dengan perusahaan GAS di sini. Ada yang bisa saya bantu?"...


Resepsionis menjawab telpon mami Rossa.


..."Tolong hubungkan ke ruangan bapak Gilang. Ini Mami Rossa. Tadi menelpon ke handphone tapi tidak ada yang menjawabnya."...


..."Maaf Mami. Bapak sedang ada tamu penting dari dinas pemerintah, dan ada beberapa Intel juga. Ini terkait pemberitaan PT Sekar Jagad."...


..."Oh begitu ya, baiklah. Terima kasih!"...


..."Sama-sama. Apakah ada pesan untuk beliau?"...


..."Tidak ada. Nanti Saya kirim pesan melalui handphone miliknya saja."...


..."Baik Mami. Selamat pagi!"...


..."Selamat pagi. Selamat bekerja."...


Mami Rossa mengakhiri hubungan telepon dengan resepsionis perusahaan GAS. Dia menatap Cilla dengan wajah tegang.


"Ada apa Mi?" tanya Cilla ikut merasa khawatir karena melihat wajah mami Rossa yang cemas.


"Gilang sedang ada tamu Intel dan dinas terkait dari pemerintahan. Mungkin ini ada hubungannya dengan kasus PT Sekar Jagad yang di cekal ijin pendiriannya."


"Kalau begitu tidak usah pulang dan mengantar Cilla Mi. Biar Cilla berangkat sendiri saja nanti," kata Cilla dengan wajah cemas.


Cilla merasa khawatir, jika waktu dan juga konsentrasi Gilang akan terganggu, karena harus menepati janjinya, untuk menemani Cilla ke rumah sakit. Mengantar Cilla untuk jadwal pemeriksaannya ke psikiater.


"Kita tunggu saja berita selanjutnya. Mami akan mengirimkan pesan untuk Gilang. Jika dia sibuk dengan urusan kasus ini, biar Mami yang akan mengantar Kamu. Arisan mami tidak penting juga."


Cilla mengangguk. Dia menurut saja apa yang dikatakan oleh mami Rossa. Dia tidak mau membuat semuanya menjadi bertambah bingung, dengan adanya kasus yang membawa nama GAS.

__ADS_1


__ADS_2