
Mama Cilla menjadi sedikit over protektif terhadap istrinya Aji, Elisa. Apalagi saat ini, Elisa sedang hamil dan tidak ada di Indonesia. Dia jadi semakin merasa khawatir, apalagi jika membayangkan Elisa yang ngidam, sesuatu yang tidak ada di India sana, misalnya makanan-makanan khas Indonesia atau camilan-camilan yang hanya ada di Indonesia dan tidak ada id negara manapun.
Dia lupa, jika tuan besar Sangkoer Singh, ayah angkat anaknya, Aji, bukan orang biasa. Jika ada yang dia inginkan, pasti akan bisa mendapatkan meskipun harus dengan membayar mahal untuk hal yang sepele.
Bahkan, dia bisa saja mendatangkan tukang masak dari Indonesia, jika menantunya itu ingin makan makanan Indonesia yang tidak bisa dibuat oleh para pelayan di rumah besarnya.
"Elisa. Kamu ingin makan apa Sayang? Jangan di tahan ya jika mau sesuatu. Itu hal yang wajar. Jika tidak bisa mendapatkan di India sana, Kamu tidak perlu khawatir, Mama akan mengirimkan dari Indonesia kok."
Begitu pesan yang di kirim mama Cilla pada Elisa. Padahal, Elisa tidak mengeluhkan tentang kehamilannya atau keinginan khusus khas wanita hamil pada umumnya. Elisa juga tidak mengalami morning sickness, atau rasa mual dan muntah pada pagi hari, yang sering dikeluhkan banyak orang.
"Huwek, huwek...!"
Tiba-tiba, Aji yang baru saja bangun tidur berlari-lari ke kamar mandi menuju wastafel. Dia merasa mual tanpa sebab. Wajahnya jadi terlihat pucat, dan ini membuat Elisa jadi merasa khawatir.
"Kakak. Kakak kenapa? apa Kakak masuk angin, atau sedang merasa tidak enak badan?" tanya Elisa dengan meringis karena merasakan kekhawatiran yang sangat.
"Tidak tahu Sayang. Kakak tidak merasakan apa-apa. Kakak juga tidak mencium bau-bau aneh. Tapi kenapa tiba-tiba ingin muntah ya?" Aji menjawab dengan heran atas apa yang dia rasakan pagi ini.
Elisa jadi bingung dan mengerutkan keningnya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu. Apa mungkin, suaminya yang mengalami ngidam, yang biasanya dirasakan oleh wanita hamil. Dia pernah membaca artikel yang menceritakan tentang ngidamnya seorang suami. "Apa sekarang ini Kakak benar-benar sedang ngidam ya?" tanya Elisa dalam hati.
"Nanti kita periksa ke dokter ya, atau biar dokter yang datang ke rumah?" tanya Elisa meminta pendapat pada Aji.
"Tidak perlu Sayang. Mungkin ini hanya asam lambung atau magg saja. Kakak tidak tahu pasti," jawab Aji, dengan menggeleng. Dia memang tidak merasakan apa-apa tadi, tapi entah kenapa dia tiba-tiba jadi aneh dan muntah tanpa sebab.
Aji, meminum air putih yang disodorkan Elisa untuknya. Sekarang, dia merasa lebih baik daripada tadi saat bangun tidur.
Tapi ternyata itu tidak berlangsung lama. Aji tampak memegang keningnya sendiri, karena merasakan pusing yang tiba-tiba datang tanpa sebab juga. Ini membuat Elisa semakin panik dan keluar dari dalam kamar, kemudian berteriak memanggil ayah angkatnya, tuan besar Sangkoer Singh.
__ADS_1
"Ayah. Ayah Sangkoer Singh!"
Teriakan Elisa yang keras, ternyata tidak sampai juga di kamar tuan besar Sangkoer Singh, yang ada di lantai dasar. Kamar ayahnya itu, tidak ada tanda-tanda jika pintunya akan segera terbuka.
"Nyonya. Nyonya ada apa?" tanya bibi Lasmi, yang mendengar teriakan Elisa.
"Nyonya sedang hamil. Jangan berlari-lari turun tangga, apalagi sambil berteriak-teriak seperti tadi. Nanti bisa-bisanya kepleset dan akan menganggu kehamilan Anda Nyonya," kata bibi Lasmi, menasehati istri dari tuan mudanya, Aji.
"Itu Bi, emhhh... suami Saya, dia... dia sakit kepala dan tadi muntah-muntah juga!" kata Elisa, dengan terbata-bata karena panik.
Bibi Lasmi kaget dan segera berlari ke arah dapur. Entah apa yang ingin dia lakukan, setelah mendengar cerita dari Elisa tentang Aji.
Dengan langkah cepat, Elisa berjalan ke arah kamar ayah Sangkoer Singh. Dia mengetuk pintu kamar tersebut, hingga ada suara batuk-batuk dari arah dalam kamar.
Tok, tkk, tok!
"Ayah. Yah!" panggil Elisa dengan mengetuk pintu kamar.
Elisa, tidak jadi mengetuk pintu kamar itu lagi m Dia berpikir jika ayah Sangkoer juga sedang tidak enak badan, karena terdengar suara batuk dari dalam kamar.
"Ayah. Ayah tidak apa-apa?" tanya Elisa, sambil mendekatkan telinganya ke daun pintu. Dia ingin mendengar suara ayah angkat suaminya itu.
"Iya, sebentar menantu."
Clek!
Pintu kamar terbuka. Dari dalam, tampak wajah tuan besar Sangkoer Singh yang terlihat pucat. Elisa jadi semakin merasa khawatir dengan keadaan ayah Sangkoer Singh juga.
__ADS_1
"Ayah tidak apa-apa?" tanya Elisa memastikan keadaan Sangkoer Singh.
"Ayah tidak kenapa-kenapa menantu. Ada apa?" jawab tuan besar Sangkoer Singh, kemudian menanyakan tentang maksud dari Elisa yang tadi berteriak membangunkan dirinya.
"Elisa panggilkan dokter ya Yah, sekalian kakak juga sedang tidak enak badan. Dia pusing dan juga muntah-muntah tanpa sebab."
Tuan besar Sangkoer Singh, mengerutkan keningnya heran. Dia tidak tahu, bagaimana mungkin dia juga merasakan hal yang hampir sama dengan Aji, anak angkatnya itu. Padahal, dia dan Aji, tidak ada hubungan darah sama sekali. Hal yang seharusnya dia rasakan pada anaknya sendiri, yaitu Vijay Singh.
"Ayok! Ayah juga ingin lihat keadaan suamimu. Nanti, Ayah yang akan meminta dokter untuk datang ke rumah. Kamu tidak perlu merasa khawatir."
Elisa mengangguk. Dia tidak mau membantah apa yang sudah diputuskan oleh tuan besar Sangkoer Singh. Apalagi, dia tidak mungkin bisa berbuat apa-apa di India ini. Jadi, dia pasrahkan saja semuanya pada orang yang lebih paham dan menguasai lingkungan sekitarnya.
"Aji, Kamu tidak apa-apa?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, begitu dia memasuki kamar anaknya.
Aji tampak menggeleng di atas tempat tidur. Ada bibi Lasmi yang membawa gelas berisi teh hangat yang baru saja diminum Aji. Tapi, tetao saja, Aji terlihat tidak bertenaga dan hanya bisa berbaring di tempat tidurnya.
"Apa yang Kamu rasakan?" tanya ayah angkatnya Aji, Sangkoer Singh.
"Tidak ada Yah. Aku juga tidak mengerti, karena tadi saat bangun tidur sudah muntah-muntah dan sekarang jadi pusing," jawab Aji, sambil sesekali memejamkan matanya, menahan rasa pusing yang dia alami.
"Baiklah. Ayah akan minta dokter datang dengan segera. Ini tidak boleh terlalu lama. Takutnya ada apa-apa. Tapi, kok aneh ya? Biasanya yang muntah-muntah pagi hari itu orang hamil dan seharusnya itu terjadi pada Elisa. Tapi kenapa justru Kamu yang mengalami Aji?" tanya ayah Sangkoer Singh heran. Dia merasa ini adalah hal yang aneh dan langka terjadi.
"Tidak tahu juga Yah. Aji juga baru merasakan pagi ini."
Elisa, ikut berpikir jika ini memang aneh. Dia yang sedang hamil, baik-baik saja dan tidak merasa mual sama seperti Aji. Dia juga tidak merasa pusing-pusing sama seperti yang dia rasakan Aji, suaminya itu.
"Apa mungkin, ngidamnya ganti Kakak yang merasakannya?" Elisa, bertanya dalam hati, serta menduga-duga apa yang sebenarnya sedang dialami oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Jika itu benar, Aku tidak bisa manja dong dengan alasan ngidam dan ingin dipeluk terus-menerus. Ahhh... kenapa justru Aku yang tidak ngidam?" Elisa merasa kesal sendiri, karena tidak bisa bermanja-manja dengan suaminya, dengan alasan ngidamnya.
"Tapi apa benar, kakak yang ngidam ya?" tanya Elisa lagi dalam hati. Dia masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia alami saat ini bersama dengan suaminya, Aji.