
Suasana di dalam mobil, menjadi sedikit canggung karena Gilang dan Cilla yang berbarengan saat menjawab mami Rossa. Mereka berdua, dengan malu-malu saling lirik satu sama lainnya.
Aji, hanya diam dan tidak ada komentar untuk kekompakan papa dan mamanya itu. Dia sibuk memperhatikan jalanan yang mereka lalui dari balik jendela mobil.
"Aji lihat apa?" tanya mami Rossa pada Aji, cucunya.
"Lihat jalan Oma. Aji harus ingat kan, jalur jalan yang Aji lewati. Biar besok-besok tidak lupa dan hafal dengan jalannya."
Mami Rossa mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Aji yang masih saja memperhatikan jalan. Aji menjawab pertanyaan darinya, tanpa menoleh.
"Kenapa Sayang?" tanya mami Rossa lagi. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh cucunya itu.
"Siapa tahu, Aji pengen ke villa tadi sendiri, atau ada apa-apa di jalan. Aji, bisa dengan mudah mengatakan dan memberikan kabar, pada siapa pun yang bisa dimintai tolong atau Aji temui."
Aji memberikan jawaban dengan panjang lebar pada mami Rossa. Tapi sepertinya, mami Rossa tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh Aji, cucunya itu.
Mami Rossa berpikir, jika Aji, memiliki kemampuan untuk berpikir, dan melakukan sesuatu yang belum bisa terjadi juga. Semacam antispasi, yang biasa dilakukan oleh para pembuat ide atau strategi.
"Besok, kalau Aji sudah besar pengen jadi apa?" pancing mami Rossa.
"Aji pengen jadi ilmuwan, atau perancang suatu teknologi yang belum pernah ada Oma," jawab Aji sambil tersenyum lebar. Dia membayangkan bagaimana seandainya sesuatu hari nanti, dia akan menjadi seperti yang dia inginkan.
"Aamiin."
"Aamiin..."
"Ya aamiin."
Gilang, Cilla dan mami Rossa, mengamini harapan Aji, dimasa depan. Mereka semua merasa bangga dengan apa yang diinginkan oleh Aji saat ini.
"Semoga cucu Oma, harapannya bisa benar-benar terwujud suatu hari nanti ya," kata mami Rossa tersenyum dengan bangga. Dia juga memeluk Aji dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Iya Oma. Makanya, Aji belajar terus dan ingin sekolah juga di Jerman Seperti bapak Habibie itu lho!"
"Oh, Aji terinspirasi dan pengen kayak bapak teknologi Indonesia, pak Habibie?" tanya Mami Rossa paham dengan jawaban Aji.
"Iya Oma," jawab Aji cepat dengan wajah tersenyum penuh semangat.
"Bisa-bisa. Yang penting tidak malas, tetap semangat untuk tetap belajar dan terus belajar."
ujar mami Rossa menasehati cucunya, Aji.
"Wah... nasehat kata-kata, Oma saja kayak kata-kata Mama, kalau Aji bilang ingin belajar ke Jerman dan jadi ilmuwan."
Aji jadi teringat kata-kata mamanya juga , saat Omanya menasehati dirinya saat ini.
"Ya memang harus begitu Sayang," kata Cilla menyahut.
Mami Rossa mengangguk, lalu tersenyum melihat Aji yang sedang menatapnya, bergantinya dengan Cilla, mamanya.
*****
Di persidangan, Gilang baru saja datang ke dalam ruangan, setelah mengantar Aji, Cilla dan mami Rossa, untuk menempati ruangan terpisah seperti kemarin.
"Aman?" tanya tuan Adi yang sudah duduk di dalam bersama dengan dokter Dimas dan yang lainnya juga.
Mereka semua yang ikut hadir dalam persidangan ini, adalah orang-orang yang bersimpati dengan adanya kakus penculikan dan pelecehan terhadap anak-anak jalanan, yang dilakukan oleh anak buahnya Candra. Begitu juga banyaknya para pencari berita, yang sudah datang dengan perlengkapan masing-masing. Tapi mereka tidak diperbolehkan oleh petugas keamanan untuk membuat pertanyaan atau membuat kekacauan, sebelum sidang dimulai dan berjalan hingga selesai. Apalagi sidang ini diperkirakan untuk terakhir kalinya bagi Candra dan adiknya, Lily.
Tampak dokter Hendrawan tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pada Gilang. Dia hampir saja berdiri dan mendekati Gilang, tapi tidak jadi, karena hakim ketua dan wakil anggota, sudah masuk kedalam ruangan sidang. Mereka semua duduk di posisi masing-masing.
Di dalam ruangan yang terpisah, Aji memperhatikan keadaan ruangan sidang melalui layar yang ada didepannya. Dia melihat juga satu persatu hakim dan para anggotanya yang baru saja masuk.
"Ma, Oma. Sidang akan segera dimulai," kata Aji, pada mamanya dan mami Rossa, yang masih saja terdengar mengobrol sedari tadi.
__ADS_1
"Iya Sayang," jawab Cilla pendek.
"Sudah mulai ya?" tanya mami Rossa, dengan melihat ke arah layar.
Kini, keduanya, mami Rossa dan Cilla, sama-sama diam dan ikut menyimak jalannya persidangan bersama dengan Aji.
*****
Suasana persidangan sudah tidak lagi tegang. Para hadirin yang mengikuti jalannya sidang, satu persatu mulia meninggalkan tempat.
Tuan Adi berpamitan pada Gilang. "Kami berdua mengucapkan selamat, atas kemenangan sidang ini. Semoga itu bisa membuat mereka berdua jera, dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama seperti ini, di waktu yang akan datang."
Dokter Dimas, mengangguk sebagai tanda bahwa dia juga merasa senang atas berakhirnya sidang ini. Apabila mereka, Candra dan Lily, mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka berdua.
Tadi saat pembacaan keputusan, Lily menangis keras. Tapi dokter Hendrawan, papanya Lily dan Candra, hanya bisa pasrah dan tidak berusaha untuk melakukan banding. Dia takut, jika naik banding yang akan ajukan nantinya, justru membuat keputusan hukuman yang semakin berat untuk kedua anaknya. Apalagi mengingat kelainan yang dimiliki Candra, itu bisa jadi membuatnya mendapatkan hukuman yang lebih besar.
Dokter Hendrawan juga harus bisa menahan diri, mengingat dia adalah seorang dokter yang menangani pasien umum. Dia tidak mau jika pasien-pasien yang sudah menjadi langganan kliniknya pergi satu persatu, jika tahu apa yang dia lakukan untuk membela anak-anaknya yang bersalah.
"Terima kasih Gilang. Kamu tidak menuntut Candra dan Lily lebih dari pada yang seharusnya. Om, sangat berterima kasih untuk itu. Maaf, untuk semua yang terjadi pada waktu kemarin."
Dokter Hendrawan, datang mendekat dan mengatakan semua itu pada Gilang. Tuan Adi dan dokter Dimas, yang berada di dekat Gilang, hanya diam saja tanpa ada yang ikut berkomentar. Apalagi Gilang hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Dimana Mami Rossa? Aku ingin berbicara sedikit pada beliau," tanya dokter Hendrawan.
"Mami sedang beristirahat," jawab Gilang pendek.
"Aku hanya ingin bertanya. Apakah aku masih menjadi dokter untuk keluarga kalian?" tanya dokter Hendrawan, yang masih berharap untuk bisa menjadi dokter pribadi di keluarga Gilang.
"Nanti akan Aku sampaikan pada mami. Tapi Aku tidak bisa menjamin itu."
Gilang mengatakan jika dia tidak bisa meminta mami Rossa, untuk tetap menjadikan dokter Hendrawan sebagai dokter pribadi keluarga mereka. Tentunya, mami Rossa memiliki banyak sekali alasan yang bisa dia berikan untuk tidak mempertahankan dokter Hendrawan lagi. Ini untuk keamanan keluarga mereka juga.
__ADS_1