Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kembali Beraktivitas


__ADS_3

Satu hal yang kadang terlupakan oleh banyak pasangan suami istri adalah, sering kali mereka lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan hidup dengan bekerja dan bekerja. Mereka tidak lagi mempedulikan perasaan pasangan, karena berpikir jika kebutuhan hidup terpenuhi, bahkan bisa berlebih, maka kehidupan keluarga mereka akan baik-baik saja.


Mereka melupakan satu hal yang sebelumnya kadang mereka puja, yaitu perasaan cinta yang ada di hati. Mereka tidak lagi membicarakan tentang 'cinta' karena pada kenyataannya, kehidupan yang mereka lalui ini tidak hanya sekedar 'cinta' juga.


Mungkin itulah yang dipikirkan oleh Aji. Dia tidak ingin, istrinya merasa terabaikan karena dia lebih sibuk dengan urusan pekerjaan dan dunia usaha yang dia jalani saat ini.


"Sayang, kita pulang besok pagi saja ya, sekalian Kakak berangkat kerja, dan Kamu Kakak antar," kata Aji, di saat mereka menikmati makan malam romantis berdua di dalam apartemen.


Ditemani lilin-lilin aroma terapi, lampu di ruang makan yang dibuat temaram, Aji ingin membuat Elisa tetap memiliki perasaan yang sama seperti dulu, dan tidak akan ada perubahan. Begitu juga dengan dirinya sendiri.


Elisa hanya mengangguk sambil tetap tersenyum ke arah Aji. Dia selalu bersyukur, karena merasa beruntung, mendapatkan suami yang sangat perhatian seperti Aji ini. Jadi, dia tidak tahu lagi, harus berkata apa untuk menggambarkan perasaannya sekarang. Tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan lagi, untuk menggambarkan perasaannya sendiri.


"Kita dansa yuk Sayang!" ajak Aji, kemudian berdiri dan mendekati tempat duduknya Elisa.


Elisa terbelalak mendengar perkataan suaminya itu. Selama ini, Aji tahu jika Elisa tidak bisa berdansa. Apalagi, di apartemen ini tidak ada musik klasik yang bisa di pakai untuk mengiringi gerakan dansa mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Aji, saat dilihatnya Elisa masih terdiam di tempat duduknya, dan hanya melihat dirinya dengan mata menyipit.


"Kakak tidak lupa kan, jika El tidak bisa berdansa? Apalagi, di sini tidak ada musik klasik yang bisa mengiringi gerakan dansa kita juga," jawab Elisa sambil nyengir kuda.


"Tenang, Kakak akan ajari Kamu pelan-pelan."


Setelah berkata demikian, Aji berjalan ke arah kamar dan membawa handphone miliknya yang sedari siang tidak aktif.


Elisa tetap duduk diam di tempatnya. Dia mengamati bagaimana Aji mengutak-atik layar handphone miliknya, begitu sampai di dekatnya. Tak lama terdengar musik klasik yang indah dari speaker handphone Aji.


"Ayok," ajak Aji, dengan mengulurkan tangannya agar Elisa menyambut ajakannya.


Elisa dengan ragu, menyambut uluran tangan suaminya, Aji. Meskipun dia tidak yakin, jika bisa ikut gerakan yang akan dilakukan oleh suaminya itu.


Musik mengalun merdu dari pengeras suara di handphone milik Aji, memberikan efek yang sangat mendukung dengan suasana yang ada.


Aji mengajari Elisa bagaimana mengerakkan kaki ke samping kanan dan kiri. Begitu juga untuk gerakan maju dan mundur. Tapi karena memang tidak bisa dan belum pernah belajar, Elisa jadi kaku dan kagok.

__ADS_1


Kaki Elisa menginjak kaki Aji, karena terlalu cepat saat melakukan gerakan ke depan. Ini membuat Elisa tidak percaya diri, dan menggeleng cepat.


Tapi ternyata, Aji juga melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Elisa tadi. Saat gerakan ke samping, kakinya menginjak kaki Elisa yang terlambat melangkah.


Akhirnya, mereka berdua tertawa-tawa menyadari kesalahan mereka berdua, sambil berpelukan dan diam tanpa melakukan gerakan dansa lagi.


"Kita sama kan? sama-sama gak bisa maksudnya! hahaha..."


Aji tertawa senang, setelah mengatakan maksud dari ajakannya tadi.


"Ternyata Kakak tidak bisa juga? El pikir Kakak bisa," sahut Elisa sambil nyengir kuda, melihat ke arah wajah suaminya yang tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan darinya.


Padahal yang sebenarnya adalah, Aji melakukan kesalahan dengan menginjak kaki Elisa tadi, karena kesalahan dari Elisa, yang terlambat melangkah ke arah samping.


Tapi Aji tidak menyalahkan Elisa. Dia justru menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak ingin melihat Elisa bertambah malu lagi, karena memang tidak bisa melakukan gerakan dansa.


"Kita lanjut makan saja yuk!" Elisa mengajak suaminya itu, untuk melanjutkan acara makan malam mereka, yang tadi tertunda karena Aji mengajaknya berdansa terlebih dahulu.


Aji mengangguk mengiyakan dan melepaskan pelukannya pada Elisa. Menuntunnya untuk kembali duduk, kemudian dia juga kembali duduk di tempatnya yang tadi, di depan Elisa.


*****


Sekitar pukul setengah sembilan pagi, Aji sudah mengantar Elisa ke rumah. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan menuju ke arah kantor, karena aktivitas kerja tetap berjalan dengan normal.


Aji berangkat ke kantor dengan tersenyum dan penuh semangat. Ibarat sebuah handphone, baterainya sudah penuh kembali setelah di cas.


Dan apa yang dirasakan oleh Aji, juga dirasakan oleh Elisa di rumah. Tapi, Elisa merasa beruntung, karena di rumah sedang tidak ada siapa-siapa.


Mama Cilla dan anaknya, Ka Singh, masih berada di rumah Jeny, bersama baby sitternya Ka Singh juga.


..."Halo Ma. Apakah Ka Singh rewel?" ...


Elisa menghubungi mama Cilla, menanyakan tentang keadaan Ka Singh, selama dia tinggal bersama dengan ayahnya, Aji, sejak kemarin pagi.

__ADS_1


..."Hai El, Ka Singh tidak rewel kok. Dia justru betah di sini. Dari tadi Mama tawari untuk pulang tidak mau ini."...


..."Masak sih Ma?" ...


..."Iya, coba lihat ya?" ...


Mama Cilla mengalihkan panggilan telepon tersebut menjadi video call. Dia memperlihatkan bagaimana Ka Singh menolak ajakannya untuk pulang ke rumah.


Ka Singh, tampak asyik bermain dengan anaknya Jeny yang lebih besar dua tahun dari Ka Singh sendiri, bersama dengan kucing kesayangan anaknya Jeny.


..."Hai Sayang, Ka Singh! apa tidak kangen dengan Mama?" ...


Ka Singh tampak melambai-lambaikan tangannya, saat melakukan melihat wajah Elisa yang ada di layar handphone omanya, yaitu mama Cilla.


Tapi karena dia tidak mengerti apa maksud dari panggilan video call dari mamanya itu, akhirnya dia kembali bermain-main dengan kucing saudara sepupunya itu.


..."Wah, Mama di cuekin nih!" ...


Elisa kaget, karena Ka Singh tidak memperhatikan dirinya, tapi lebih memperhatikan kucing yang ada di sebelahnya.


..."Hahaha... kasihan Kamu El. Kalah sama kucingnya. Coba Kamu nunjukin adik bayi, mungkin dia langsung minta pulang sekarang. hahaha..."...


Elisa, kembali terbelalak saat mendengar perkataan mama Cilla yang sangat berharap agar dia bisa segera hamil lagi.


..."Mama ini, bagaimana bisa langsung jadi? memangnya pesan boneka di online shop?" ...


Dan akhirnya, keduanya sama-sama tertawa karena kekonyolan yang mereka ciptakan bersama.


..."Ya sudah, biarkan saja dia main-main sebentar lagi. Kamu istirahat saja dulu, biar tidak langsung capek lagi dengan Ka Singh. Nanti mama pulang agak siangan, biar Vero yang jemput, sekalian dia pulang dari kampus."...


Elisa pun akhirnya hanya bisa mengangguk. Dia juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya kepada mama Cilla, supaya mengajak anaknya, Ka Singh, untuk segera pulang ke rumah.


Dia tidak mau, menyingung perasaan mama mertuanya itu, yang sudah begitu banyak membantunya.

__ADS_1


Tak lama, Elisa masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat sebentar, sebelum mama Cilla dan Ka Singh pulang ke rumah nanti siang.


__ADS_2