Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kesal


__ADS_3

Jeny, sudah selesai dengan jam kuliah paginya. Dia menuggu temannya, Elisa, yang tadi sudah menghubungi dirinya, mengabarkan jika dalam perjalanan ke arah kampus.


"Mana dia?" tanya Jeny bingung, sebab Elisa, tidak muncul-muncul juga.


"Ini sudah satu jam, sejak dia memberi kabar, tapi mana?" gerutu Jeny, dengan wajah kesal.


Jeny, kembali melihat handphone yang ada ditangannya, untuk memeriksa, apakah ada kabar lagi dari Elisa atau tidak.


"Huh! Kemana dulu sih dia ini?"


Dengan berbagai macam perasaan, Jeny mencoba untuk menghubungi Elisa lagi.


Tut...


Tut...


Tut...


Panggilan teleponnya tidak tersambung. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Elisa di jalan.


"Hai Jen!" panggil Rio, dari arah samping.


"Hemmm," jawab Jeny datar.


"Talenan ya?" tanya Rio, dengan mata membulat.


"Apa?" tanya Elisa, yang tidak mengerti apa maksud pertanyaan dari temannya itu.


"Gak apa-apa," jawab Rio cuek, dengan menaikkan kedua bahunya.


"Hufhhhh..."


"Ada apa? kok kayak kesel gitu?" tanya Rio, ingin tahu, apa yang sedang terjadi pada Jeny.


"Ini Elisa. Tadi bilang udah di jalan, dan itu sudah satu jam yang lalu. Tapi kenapa belum sampai juga dia?"


"Lah, tadi dia masuk ke ruang administrasi aku lihat!" jawab Rio, dengan menunjuk ke arah gedung, yang ada ruang administrasi kampus, tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Eh, iyakah? Kapan?" tanya Jeny, bingung juga kaget, tapi merasa lega juga.


"Sekitar dua puluh menit yang lalu, kalau ga salah lihat," jawab Rio, dengan gayanya yang sedang berpikir.


"Ughhhh, kenapa handphonenya tidak aktif. Aku telpon tidak nyambung tadi," gerutu Jeny kesal.


"Gak tahu."


"Kebiasaan tuh anak, bikin cemas saja. aku pikir ada apa-apa di jalan," kata Jeny, masih dengan wajah kesalnya.


"Kita tunggu kantin saja yuk!" ajak Rio.


"Ya deh. Eh, tapi dia tahu tidak?"


"Tahu apa?" tanya Rio bingung.


"Kalau di tunggu di kantin," jawab Jeny, menjelaskan.


"Ck, gak perlu. Nanti, kakinya akan menuntun dirinya menemukan kita!" ucap Rio dengan yakin.

__ADS_1


"Gitu ya," jawab Jeny ragu.


"Iyalah. Pastinya, dia akan cari makan, minum kalau otaknya panas!"


"Oh ya, Elisa gitu! hahaha..."


"Nah itu, hahaha..."


Keduanya, Jeny dan Rio, sama-sama tertawa, saat ingat kebiasaan temannya yang bertubuh mungil itu.


"Wehhh... Jen, Rio, tumben kompak tertawa?"


"Ciehhh... kayaknya ada yang happy nih, baru jadian ya?"


"Wah, kurang satu nih. El mana?"


"Gak komplit!"


Teman-teman yang mengenal mereka bertiga, menegur keduanya, sambil meledek, Jeny dan Rio, yang sedang tertawa-tawa, mengingat Elisa yang sekarang ini, sedang tidak bersama dengan mereka berdua.


"Ihsss, kepo!" balas Jeny, dengan tersenyum miring.


"Pengen tahu bulat apa tahu aci" tanya Rio tidak jelas, membalas ledekan teman-teman yang tadi menegurnya.


"Mana aja deh Rio!"


"Tahu campur sajalah!"


"Tahu mercon!"


"Tahu bakso!"


"Kripik tahu!"


"Waduh, kenapa jadi semua jenis makanan dari tahu disebutkan?" tanya Rio bingung.


"Hahaha....!"


Teman-teman yang tadi, tertawa-tawa senang, melihat Rio yang kebingungan, mendengar jawaban mereka yang menyebutkan jajanan yang terbuat dari bahan tahu. Dan itu tidak pada topik pembicaraan mereka tadi.


"Dasar tukang makan!" balas Rio mendelik.


"Gak kebalik ya? Eh, si El deh yang tukang makan!" balas temannya tadi.


"Sudah-sudah. Ayok!"


Jeny, meminta pada Rio, untuk tidak meladeni ledekan demi ledakan dari teman-temannya itu. Dengan menyeret tangan Rio, Jeny berjalan dengan cepat, menuju ke kantin kampus.


"Jen. Kalau mau gandeng yang benar dong!"


"Apa?" tanya Jeny datar, mendengar permintaan dari Rio.


"Pegang tanganku dengan benar, jangan diseret kayak emak-emak, lagi narik tangan anaknya yang pergi main dan gak pulang-pulang!" Rio memprotes perlakuan Jeny terhadap dirinya.


"Ck, protes aja sih!"


"Yah, kan bener. Ini gak layak, dan nanti, orang-orang akan mengira jika Aku ketahuan selingkuh, sehingga akan Kamu hajar," kata Rio mengomel.

__ADS_1


Akhirnya, Jeny melepas pegangan tangannya pada Rio, dan berjalan melangkah sendiri tanpa menoleh lagi ke arah belakang.


Rio, meringis sendiri, melihat tingkah temannya, Jeny. Dia tahu, jika saat ini Jeny sedang dalam keadaan yang kesal. Mungkin ini ada hubungannya dengan Elisa atau kakak kesayangannya, Aji, yang belum juga mengingat dirinya.


Keduanya sampai di kantin kampus yang sedang lumayan rame, sebab waktunya sudah mendekati jam makan siang. Mereka kesulitan mendapatkan tempat duduk, yang nyaman untuk berbincang-bincang.


"Dimana?" tanya Rio, sambil mencari-cari tempat, yang ternyata sudah penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengisi perut mereka, sebelum memulai jam kuliah lagi.


"Gak ada yang cocok," jawab Jeny datar.


"Terus?" tanya Rio bingung.


"Cari tempat lain yuk!" ajak Jeny dengan melihat sekeliling. Ternyata memang penuh semua.


"Kemana?" tanya Rio lagi.


"Ehmmm... "


"Hoiii!'"


Dari arah belakang, Elisa datang mengagetkan mereka berdua.


"Ehhh, dasar toa masjid!" gerutu Rio, dengan menutup kedua telinganya, karena terasa mendengung, saat mendengar suara Elisa.


"Hehehe..."


"Dari mana saja, terus kenapa handphone mati, dan satu lagi. Kenapa sudah sampai gak bilang-bilang malah pergi ke kantor administrasi tanpa memberikan kabar?" tanya Jeny, beruntun, dan itu membuat Elisa kerepotan untuk menjawabnya.


"Satu-satu Jen," minta Elisa dengan cemberut.


"Jawablah!" kata Jeny kesal.


"Yang kesal siapa sih?" tanya Rio bingung, dengan kedua teman ceweknya itu.


"Kamu!" jawab Jeny dan Elisa, bersama-sama dengan menunjuk ke arah Rio.


"Kenapa cowok selalu salah di mata cewek? padahal ceweknya yang gak jelas gitu," gerutu Rio tidak jelas, karena menjadi kambing hitam di antara mereka berdua, Jeny dan Elisa, yang kompak menyalahkan dirinya.


"Tuh kan kesel!" tunjuk Elisa ke dada Rio.


"Tau tuh!" kata Jeny, dengan mencibir.


"Kan, yang kesel siapa yang disalahkan siapa, hadehhh!"


Rio, mengelengkan kepalanya pusing, mengahadapi kedua temannya itu. Padahal tadi, Jeny yang merasa kesal saat menunggu Elisa. Dan Elisa? gak tahu kesel sama siapa dan kenapa. Yang jelas sekarang ini, mereka berdua, kompak tanpa komando menunjuk dirinya yang dianggap kesal, padahal dia tidak merasa kesal, bahkan senang, karena masih bisa bersama-sama dengan keduanya, yang gak jelas tapi tetap asyik. "Lah, kok jadi ikut gak jelas?" batin Rio bingung.


"Kamu ada kelas siang?" tanya Jeny pada Elisa.


"Gak ada," jawab Elisa dengan cepat.


"Terus, ngapain datang ke kampus?" tanya Jeny bingung, dengan tingkah temannya itu.


"Pengen aja. Lagian Aku kangen, kalau sehari saja tidak ngerjain si Rio!" bisik Elisa pada Jeny, tapi tetap dengan suara di tekan, agar Rio bisa mendengarnya.


"Halah... bilang saja kangen Aku yang ganteng seantero jagat ini. Pake malu-malu lagi," kata Rio narsis, saat mendengar perkataan Elisa pada Jeny.


"Hahaha... nah kan itu Jen!"

__ADS_1


"Dasar kalian! Gak jelas, bikin kesel lagi!"


Jeny, merasa kesal sendiri, menghadapi tingkah kedua temanya itu.


__ADS_2