Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Ternyata Tuan Adi Adalah


__ADS_3

Mobil melaju menuju ke resto, untuk bisa mendapatkan makan siang. Resto bercita rasa Nusantara itu terlihat sangat ramai, di jam-jam tertentu. Seperti sekarang ini, sudah waktunya untuk makan siang.


"Ayo Pak, ikut masuk. Sekalian makan siang kita," ajak mami Rossa pada pak supir yang sedang menutup pintu mobil, setelah semua majikannya keluar.


"Saya nanti saja Nyonya," jawab pak supir.


"Eh, tidak-tidak. Sekalian ayok!" ajak mami Rossa tidak mau tahu dengan alasan pak supir.


Akhirnya, mereka semua, termasuk pak supir, masuk ke dalam Resto untuk makan siang.


Setelah semuanya duduk di kursi masing-masing, mami Rossa memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka semua.


"Ayo, semuanya pilih sendiri-sendiri ya. Tunggu ya Mbak!"


Mami Rossa menyerahkan menu makanan pada masing-masing. Dia juga minta pelayanan restoran untuk menunggu sebentar, agar yang lain bisa memilih sesuai dengan apa yang diinginkan.


"Aji mau makan apa Sayang?" tanya mami Rossa saat Aji terlihat mengelengkan kepala, ketika di tanya oleh mamanya, Cilla.


"Aji mau sate padang saja Oma," jawab Aji, sambil menunjuk pada gambar sate yang ada di buku menu.


"Oh ya. Gak apa-apa. Satu porsi sate padang ya Mbak!" Mami Rossa meminta pelayan untuk mencatat pesanan Aji.


Yang lain ikut memilih menu yang mereka inginkan. Cilla tidak memilih apapun. Dia hanya menurut apa yang Aji, anaknya mau, yaitu sate padang


"Kalau begitu, sate padang tambah satu porsi lagi ya Mbak!" kata mami Rossa meminta pelayan untuk menambah jumlah porsi sate yang dipesan.


"Gak usah Mi. Satu juga cukup nanti," kata Cilla menolak.


"Mana ada cukup? Kamu pikir Aji gak bisa habiskan sate itu sendiri, Iya kan Aji?" tanya mami Rossa beralih pada Aji.


Aji hanya mengangguk setuju saja dengan perkataan mami Rossa, Omanya itu.


"Sudah biar saja!" Gilang mencegah Cilla yang mau protes lagi.


Mendengar perkataan Gilang, akhirnya Cilla diam dan tidak lagi membantah. Dia hanya diam saja, ketika mami Rossa menyebutkan beberapa jenis makanan Indonesia, untuk menu makan siang bersama kali ini.


Beberapa waktu kemudian, saat mereka sedang menikmati makanan yang sudah tersedia, tiba-tiba Gilang di tegur oleh seseorang. "Hai GAS!" Sapa orang tersebut dengan menepuk bahu Gilang dengan keras.

__ADS_1


"Ah!"


Gilang mengeluh karena merasa sakit, tapi yang pasti adalah, rasa kaget, karena tepukan yang ada di bagian bahunya.


"Walah.... Dasar kamu cacing!"


Gilang membalas sapaan akrab orang tersebut dengan menyebut nama tenarnya, cacing?


"Ah, sial kamu! Aku sudah tidak cacing lagi, tapi bosnya cacing! Wkwkkwkw...."


Orang tersebut tertawa-tawa senang, sambil menepuk-nepuk lengannya yang terlihat berisi.


"Siang Tante Rossa," sapa orang yang di sebut Gilang dengan nama cacing.


"Siang juga Adi. Gabung yuk!"


Mami Rossa menjawab sapaan akrab teman Gilang, dengan tersenyum senang, dan memintanya untuk bergabung bersama, menikmati makan siang.


"Wah kebetulan Tante. Adi sedang lapar juga. Hehehe..." jawab orang tersebut dengan terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri, yang tidak terdengar lucu sama sekali.


"Ma. Mama... Itu tuan Adi!"


Aji berbisik pelan pada mamanya, Cilla.


"Hah, mana?" tanya Cilla tidak percaya begitu saja.


Cilla sangat kaget dan juga pucat pasi, saat dia benar-benar melihat orang yang sedang mereka ingin temui nanti, setelah selesai makan siang bersama ini, yaitu tuan Adi, pemilik rumah kontrakan yang dia tempati selama ini, ternyata ada di sini juga.


"Lho, Cilla, aji!"


Tuan Adi ternyata lebih dulu menegur keduanya, Cilla dengan Aji, sebelum Cilla menegurnya terlebih dahulu.


"Iy... iya tuan Adi," jawab Cilla gugup.


"Maksudnya apa ini GAS?" tanya tuan Adi bingung.


"Kalian saling kenal?" tanya mami Rossa sedang mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


"Iya Mi."


"Iya Tante."


Jawaban keduanya, Cilla dengan tuan Adi, berbarengan. Ini membuat Gilang merasa aneh dan juga cemburu. Dia tidak menyangka jika keduanya bisa kenal dan terlihat akrab begitu, "Benarkah?" tanya Gilang tidak percaya begitu saja dengan jawaban kembar mereka, yang dia dengar tadi.


"Begini-begini. Kayaknya aku bisa mengira-ngira apa dan siapa dia?" kata tuan Adi menghalangi Gilang yang ingin bertanya lebih lanjut lagi.


"Maksud kamu?" tanya Gilang cepat karena merasa penasaran. Bagaimana bisa Cilla dengan tuan Adi, temannya ini, bisa saling kenal. Padahal dari pengamatan Gilang, selama beberapa minggu bersama dengan Cilla, dia tidak pernah mendengar nama lelaki lain, kecuali...


"Kamu Adi yang punya rumah kontrakan itu?" tanya Gilang cepat, sebelum tuan Adi mengatakan penjelasannya.


Cilla dan tidak Adi menganguk mengiyakan perkataan Gilang. Mereka berdua dengan wajah ragu melihat ke arah Gilang yang terlihat seperti sedang menahan sesuatu, yang tidak bisa dijelaskan.


"Aji. Benarkah dia yang kalian maksud sebagai tuan Adi itu?" tanya Gilang, beralih pada Aji, anaknya.


Aji hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan papanya, Gilang. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, jika tuan Adi, yang tidak dia sukai itu, ternyata adalah teman papanya, bahkan omanya juga. Apalagi mereka terlihat seperti sudah kenal lama, karena terlihat akrab begitu.


"Wah... kebetulan Di. Kami baru saja mau ke rumah Kamu lho ini. Tapi karena lapar, akhirnya kami pergi makan dulu," kata mami Rossa dengan pandangan berbinar senang, karena akhirnya bertemu dengan orang yang sedang mereka cari.


Tuan Adi yang sudah duduk di dekat mami Rossa memicingkan matanya. Dia tidak mengerti, apa maksud dari perkataan mami Rossa kali ini.


"Ini lho. Cilla dan Aji kan ternyata selama ini ngontrak di rumah kontrakan kamu, jadi mereka mau pamit karena sudah tidak lagi mengontrak di situ. Mereka berdua, akan ikut bersama kami selamanya."


Penjelasan mami Rossa membuat tuan Adi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kini dia sedikit lebih paham apa yang sebenarnya terjadi.


Aji dan Cilla yang masih bingung dan tidak begitu paham, dengan siapa sebenarnya tuan Adi, hanya diam mendengarkan semua pembicaraan mereka. Tapi, mami Rossa segera menjelaskan pada keduanya agar tahu siapa sebenarnya tuan Adi itu.


*****


Tuan Adi adalah tetangga mereka, mami Rossa dan Gilang, saat mereka belum sesukses sekarang ini. Tuan Adi yang tumbuh dengan badan yang tinggi tapi kurus, sering di ejek teman-teman sepermainan dengan sebutan cacing. Sedangkan Gilang lebih sering di panggil dengan nama yang disingkat dari semua namanya, GAS.


Sejak papinya Gilang meninggal dunia, saat itu Gilang sedang merintis usaha, kemudian sukses, Gilang mengajak mami Rossa untuk pindah ke rumah yang lebih besar dan mewah.


Rumah yang ada di daerah tuan Adi, sebenarnya tidak ingin dijual, tapi karena tuan Adi yang memintanya, akhirnya di jual juga, untuk dijadikan salah satu rumah kontrakan, yang sudah menjadi usaha keluarga tuan Adi secara turun temurun.


itulah sebabnya mami Rossa dan Gilang terlihat akrab dengan tuan Adi, yang tetap tidak terlihat baik menurut pandangan Aji, anak Gilang, cucunya mami Rossa.

__ADS_1


__ADS_2