Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Jeny Salah Paham


__ADS_3

Elisa muncul dari dalam kamarnya, menuju ke arah ruang tengah. Dia tidak melihat adanya Aji, yang sedang duduk di sofa, bersama dengan Oma Rossa. Dia justru berjalan dengan tidak beraturan, sambil melompat-lompat kecil dan bersenandung tidak jelas.


"Nanana... lalala... emmm. Eh, kakak, Oma!"


Elisa menjerit kaget, kemudian kembali berlari ke dalam kamar sambil menutup wajahnya karena malu.


"Kenapa dia?" tanya Aji, heran dengan tingkah Elisa yang aneh-aneh.


"Oh, mungkin malu karena ketahuan sedang bersenandung. Dasar gadis kecil itu," guman Aji lirih.


"Sa... nak aik. Luc... u da... an emas ya," kata Oma, menilai Elisa yang lucu dan menggemaskan.


"Aneh dia Oma. Masa sih, bisa-bisanya Aji punya adik kayak dia?" tanya Aji, dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Dik, ka... amu, En... ny," jawab Oma menjelaskan pada Aji, jika adiknya itu Jeny, bukan Elisa.


Oma Rossa, memang tidak tahu, jika kemarin-kemarin, Elisa dikira Jeny, oleh Aji. Tapi kerena perkataan Oma Rossa yang tidak jelas, membuat semua orang di rumah, tidak memberitahu Oma Rossa juga, dan membiarkan berjalan wajar, seperti yang diketahui Oma Rossa, selama ini. Jika Jeny tetap Jeny, dan Elisa adalah temannya Jeny.


"Ya Oma," jawab Aji, sambil menepuk-nepuk punggung tangan Oma Rossa.


Dari arah ruang tamu, mama Cilla muncul, dengan memegang handphone miliknya. Dia sedang menghubungi suaminya, papa Gilang.


..."Papa sudah di jalan? Syukurlah."...


..."Iya. Nanti kan ada Dokter Dimas yang datang."...


..."Iya Pa, makanya Mama telpon. Memastikan bahwa papa sudah ada di rumah, saat Dokter Dimas datang."...


..."Iya. Paling tidak sampai setengah jam sudah sampai rumah kok."...


..."Baiklah. Hati-hati ya Pa!"...


Mama Cilla, ikut duduk bersama dengan Oma Rossa dan Aji.


"Bagaimana Ma, Papa sudah pulang? " tanya Aji, setelah mamanya duduk.


"Iya. Papa sudah ada di jalan kok. Paking setengah jam lagi sudah sampai," jawab mama Cilla dengan tersenyum.


"Ma..."


Jeny, yang berteriak dari arah samping, segera menutup mulutnya sendiri, sebab melihat adanya Aji yang sedang duduk diantara omanya, dan juga mamanya.


Jeny lupa, jika tadi dia sendiri yang membantu Aji, kakaknya itu, duduk di sofa ruang tengah.


Kini, Jeny hanya bisa tersenyum canggung ke arah Aji. Dia tidak tahu, harus menjelaskan bagaimana dengan panggilannya tadi, pada mama Cilla.

__ADS_1


Mama Cilla juga sama. Dia terlihat pucat, saat mendengar panggilan dari Jeny, padahal ada Aji yang sedang bersamanya.


Oma Rossa, terlihat bingung dengan sikap mana Cilla dan Jeny, yang seperti orang yang sedang terkejut.


"Pa... apa?" tanya Oma Rossa bingung.


"Oh, tidak apa-apa Mi."


"Oma. Mau masuk ke kamar lagi tidak?" tanya Jeny, pura-pura tidak terjadi apa-apa.


"A... ak... ku ngu Pa... Pa mu," jawab Oma Rossa terbata-bata, tidak jelas.


Aji, yang belum terbiasa dengan kalimat-kalimat yang diucapkan Oma Rossa, masih belum bisa mengartikan dengan baik. Jadi, dia hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.


"Maaf Nyonya. Tadi Saya mau bertanya tentang non Jeny. Dia di mana?" tanya Jeny, pada mama Cilla, tentang keberadaan Elisa.


"Oh, gadis kecil itu. Tadi dia masuk lagi ke dalam kamarnya."


Aji, yang justru menjawab pertanyaan dari adiknya Jeny. Mama Cilla, mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban dari Aji, tentang Elisa, yang disebutnya dengan 'gadis kecil' itu. "Apa maksudnya?" tanya mama Cilla dalam hati.


"Oh, terima kasih Den."


Jeny, segera berbalik dan melangkah menuju ke arah kamar Elisa. Dia merasa lega, karena kakaknya itu, tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lain, terkait panggilan pada mama Cilla.


"Huhfff, Aku pikir Kakak tidak begitu memperhatikan. Makanya dia tidak bertanya-tanya tadi," pikir Jeny dalam hati.


Tok, tok, tok!


Tok, tok, tok!


Sekali lagi, Jeny mengetuk pintu.


"Masuk Jen," jawab Elisa dari dalam kamar.


Ceklek!


"Kok tahu, kalau itu Aku?" tanya Jeny bingung, karena Elisa tahu, jika dia yang sedang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa lagi?" Elisa balik bertanya.


"Ada apa?" tanya Jeny, dengan menyelidik. Sebab, Elisa tampak seperti sedang bingung dan duduk tidak tenang di tempat tidur.


"Tidak apa-apa. Tadi hanya aku ketahuan sedang berjingkrak-jingkrak sambil bernyanyi tidak jelas."


"Maksudnya, ketahuan siapa?" tanya Jeny bingung.

__ADS_1


"Kak Aji," jawab Elisa dengan wajah memerah.


"Lah terus?"


"Ya... Aku kabur lah ke kamar. Malu!" jawab Elisa dengan bibir cemberut.


"Pefff, tumben punya urat malu?" tanya Jeny menahan tawanya.


"Eh, bukan begitu juga..."


Elisa, tidak melanjutkan kalimatnya, yang ingin mengatakan jika Aji, sudah tahu kalau di bukan adiknya, Jeny. Tapi dia adalah teman adiknya, Elisa.


"Bukan apa?" tanya Jeny, ingin tahu alasan Elisa.


"Tidak apa-apa. Meskipun Aku berperan sebagai Kamu, bukan berarti Aku tidak punya malu juga, apalagi dengan cowok yang Aku suka."


Elisa, segera menutup mulutnya sendiri, sebab keceplosan bilang pada Jeny, jika dia menyukai kakaknya, Aji. Bahkan, jauh sebelum dia bertemu secara langsung dengan Aji, seperti sekarang ini.


"Maksud Kamu, Kamu suka dengan Kakak. Cinta gitu?" tanya Jeny, menekan kata 'cinta' karena dia tidak percaya begitu saja, dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.


Elisa tidak menjawab pertanyaan Jeny. Dia hanya mengangguk saja.


"Kamu yakin?" tanya Jeny pada Elisa lagi.


Elisa kembali mengangguk sebagai jawabannya.


"Sejak kapan?"


"Sejak Aku melihat foto yang Kamu tunjukkan," jawab Elisa, dengan wajah yang tidak bisa diartikan oleh Jeny.


"Sejak dulu berarti, sejak kita jadi terbiasa cerita-cerita?"


Elisa kembali mengangguk, mengiyakan perkataan Jeny.


"El. Kamu yakin?" tanya Jeny, tidak percaya dengan jawaban dari Elisa.


"Aku tidak tahu Jen. Tapi, sejak Aku melihat foto kakak kamu itu, entah kenapa, Aku begitu yakin saja. Dan Kamu tahu kan, Aku selalu menolak cowok-cowok yang mendekati dan mengajak pacaran. Aku memang beralasan hanya fokus kuliah. Tapi Aku juga punya keyakinan yang sama seperti Kamu, jika kak Aji, itu masih hidup. Entahlah, Aku juga tidak tahu, kenapa perasaan ini ada di hatiku."


Jeny, tidak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Elisa. Dia hanya tahu, jika selama ini, Elisa memang banyak menolak cowok-cowok yang menyatakan perasaan padanya. Dia hanya dekat dengan Rio saja selama ini. Dan Jeny, tahu betul, bagaimana pertemanan mereka berdua.


"Aku akan membantu kakakmu, untuk segera ingat dengan Kamu dan juga kedua adik kembarmu itu. Biar Aku bebas, dan bisa kembali ke kost dengan tenang."


"Kamu tidak suka di sini?" tanya Jeny cepat Dia merasa tersinggung, dengan perkataan Elisa barusan.


"Bukan begitu Jen."

__ADS_1


"Kamu tidak ikhlas ya, membantu kakak dan keluargaku?"


Jeny, menjadi salah paham dengan penjelasan yang diberikan oleh Elisa. Dia berpikir, jika Elisa merasa terganggu dan terpaksa harus berpura-pura menjadi dirinya, untuk menenangkan pikiran Aji, kakaknya yang belum ingat dengan kehidupan lamanya, terutama dengan dirinya dan juga kedua adik kembarnya, Vero dan Biyan.


__ADS_2