
Area parkir rumah sakit menjadi saksi bisu antara Gilang dan Cilla, yang sedang berbicara dari sorot mata masing-masing. Tidak perlu banyak kata dan kalimat rayuan, jika hati dan mata sudah terpaut.
Cilla belum berani bergerak, dia masih ada di dalam pelukan Gilang. Begitu juga dengan Gilang yang tetap diam, menikmati suasana siang hari yang panas, tapi terasa sejuk di dalam hati dan perasaannya. Dia tidak ingin semuanya itu segara berakhir.
"Ehem!"
Suara deheman seseorang menyadarkan mereka berdua, jika mereka sedang berada di tempat umum, bukan area pribadi yang tidak mungkin dilihat oleh orang lain.
Cilla segera sadar dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Gilang. Tapi justru Gilang memegang tangannya, baru kemudian melepaskan pelukannya pada Cilla.
"Ayo!"
Gilang yang sedang memegang tangan Cilla, menariknya agar mengikuti langkahnya untuk pergi dari area parkir. Mereka berdua masuk untuk menemui psikiater sesuai jadwal yang sudah di janjikan pada Cilla.
"Kamu pasti bisa melalui semua ini Honey," kata Gilang saat mereka berdua berjalan di lorong rumah sakit. Gilang tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Cilla.
Cilla berjalan sambil menunduk. Dia terus terdiam dan mengikuti langkah Gilang yang menuntunnya. Pikirannya masih berkecamuk, dan berusaha untuk meyakinkan diri serta hatinya sendiri, agar bisa menerima semua kenyataan hidupnya, termasuk keberadaan Gilang saat ini.
*****
Aji yang sudah terbangun dari tidurnya mengeliat beberapa kali. Dia turun dari tempat tidur, kemudian pergi ke kamar mandi.
Saat keluar, Aji melihat jam di dinding, ternyata belum begitu siang. Tapi dia sudah merasa lapar. Akhirnya, Aji keluar dari dalam kamar, menuju ke dapur.
"Bibi sedang masak apa?" tanya Aji, saat melihat bibi pembantu sedang mengiris bawang.
"Eh, den Aji. Sudah bangun ya!"
__ADS_1
Aji mengangguk sebagai jawaban atasb pertanyaan bibi. Sebab pertanyaan itu sebenarnya tidak memerlukan jawaban lagi.
"Ini mau masak sayur. Den Aji mau di masakin apa?" tanya bibi lagi.
"Apa saja Bi. Aji tidak ada pantangan kok. Hehehe..."
"Eh, memang harus begitu. Semua makanan itu bagus lho Den, apalagi untuk anak-anak yang masih masa pertumbuhan. Harus makan apa saja biar tahu rasanya juga. Tidak usah pilih-pilih makanan, yang penting makananya sehat dan dan menyehatkan."
"Iya Bi. Tapi Aji sudah lapar," kata Aji memberitahu.
"Em, bagaimana kalau makan camilan dulu, biar tidak terlalu lapar. Nanti kalau masakan Bibi sudah selesai, Den Aji bisa makan lagi," kata bibi memberi usulan.
"Iya deh. Dari pada Aji lapar dan tidak bisa berpikir."
Akhirnya, Aji duduk di kursi sambil menunggu bibi menyiapkan camilan untuknya.
"Terima kasih Bi. Tidak usah, Aji bisa sendiri kok," kata Aji dengan tersenyum senang.
Aji menikmati camilan siangnya dengan hati yang riang. Dia berencana, untuk mencari keberadaan Eko Julianto setelah menghabiskan camilannya itu. Dia yakin jika ada sesuatu yang tidak beres di antara kedua orang di masa lalu papanya itu, Sekar Mayangsari dan juga suaminya, Eko Julianto.
Aji merasa tidak tenang jika Eko Julianto belum ditemukan. Meskipun statusnya dengan Sekar sudah berpisah dan tidak lagi menjadi suami istri, tapi sepertinya, Eko Julianto adalah otak dari semua kejahatan yang dilakukan oleh Sekar Mayangsari.
FBI menang sudah menangani kasus ini, tapi Aji tidak puas jika hanya menunggu. Dia ingin ikut serta dalam pencarian dan menguak kasus kejahatan yang mereka lakukan. Aji melakukan semua ini untuk kebaikan keluarganya, agar tidak lagi terhubung dengan semua kekacauan yang dibuat oleh mereka berdua, Sekar Mayangsari dan juga Eko Julianto.
Tak berapa lama, camilan dan jus jeruk yang disediakan oleh bibi pembantu, dihabiskan oleh Aji. "Bi. Sudah habis. Terima kasih ya, Aji sudah kenyang. Aji mau ke kamar dulu," pamit Aji pada pembantu rumah.
"Oh ya Den. Tapi jangan langsung tidur lagi ya!" Bibi pembantu memberikan pesannya pada Aji.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aji ingin tahu.
"Biar makanannya turun dulu ke perut. Tidak nyangkut hanya di tenggorokan. Nanti kalau batuk bisa tersedak dan muntah. Lagipula, lalu langsung tidur, perutnya bisa tambah gendut!"
"Hehehe... Begitu ya Bi? Baiklah, Aji tidak mau tidur lagi kok. Aji ada yang mau dikerjakan di kamar."
Bibi pembantu mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aji. Anak tuan muda Gilang itu, memang sudah menjadi buah bibir, di antara para pembantu rumah tangga, saat baru datang ke rumah besar ini. Sikapnya yang pendiam itu terkesan dingin dan misterius, tidak seperti layaknya anak-anak pada umumnya, yang selalu ramai dan aktif bergerak. Meskipun kadang Aji juga terlihat tersenyum, tapi itu jarang terlihat dan hanya sebentar saja. Hanya pada saat-saat tertentu dan jika ada keluarga inti saja, mami Rossa, tuan muda Gilang, dan mamanya, Cilla.
*****
Aji sudah kembali duduk di kursi sambil menatap layar laptopnya, yang terhubung dengan handphone miliknya. Kini dia akan mencari informasi tentang Eko Julianto, mantan suami Sekar Mayangsari.
Dari beberapa akun sosial media yang menjadi teman Siemoy, tidak terdapat nama Eko. Aji berpikir jika Eko mengunakan nama lain untuk akun sosial medianya.
Temen-temen akun Siemoy yang begitu banyak, Aji mencoba mencari tahu dengan perkiraan yang terdekat, yang biasa berkomentar, tapi ternyata tidak ada juga. Dari segi hubungan keluarga yang tertera juga tidak ada. Aji menjadi bingung dan mencoba cara lainnya.
Dari semua foto yang pernah di posting Sekar Mayangsari, dari akun Siemoy, ternyata ada beberapa yang sudah dihapus komentarnya. Itupun bukan foto lama dan dan dengan banyak orang. Aji tidak menemukan foto Sekar yang sedang berdua saja dengan mantan suaminya itu.
"Seperti apa sosok Eko Julianto?" tanya Aji ingin tahu.
Aji mencoba mencari profil lengkap pengusaha Amerika Serikat dengan nama Eko Julianto, tapi tidak ditemukan juga. Bahkan yang lebih mengherankan lagi, perusahaan perhiasan milik Sekar yang juga di dirikan bersama suaminya itu, dalam daftar resmi di pemerintahan Amerika tidak ada nama Eko Julianto di sana. Lalu kenapa di daftar perusahaan yang kemarin Aji temui ada nama Eko Julianto?
Kebingungan Aji semakin bertambah saat dia mencoba untuk mencari pemberitaan terbaru FBI terkait kasus Sekar. Di sana, Sekar Mayangsari menyebutkan, jika ada nama pengusaha Indonesia yang terlibat dengan semua urusannya itu. "Apa maksud dari pernyataan Sekar Mayangsari?" tanya Aji dalam hati.
Dalam kebingungannya, Aji menghela nafas panjang dan mencoba berpikir perlahan-lahan. Dia tidak mau terburu-buru untuk mencari tahu, apa maksudnya Sekar Mayangsari, bicara seperti itu di depan penyidik FBI.
Aji menyenderkan punggungnya untuk memikirkan langkah selanjutnya dalam pencariannya nanti.
__ADS_1