
Elisa tidak mau berlama-lama ada di rumah sakit. Dia ingin segera pulang dan tidak berada di tempat yang tidak dia sukai, yaitu rumah sakit.
Senyaman-nyamannya orang yang ada di rumah sakit, tentu saja masih terasa nyaman jika ada di rumah sendiri. Karena di rumah sakit, selain tidak terasa bebas, bau obat dan beberapa makanan yang tidak cocok di lidah, membuat orang-orang tidak betah berada di sana.
Elisa juga sama. Meskipun dia mendapat perawatan yang super khusus, karena ini adalah rumah sakit milik tuan besar Sangkoer Singh, ayah mertuanya itu, tapi dia tidak memanfaatkan keadaan. Dia yang memang tidak menyukai keadaan di rumah sakit, langsung minta pulang, begitu dia merasa sehat dan segar. Dia juga tidak ada keluhan sama sekali. Jadi, dokter kandungan juga tidak bisa menolak permintaannya Elisa untuk bisa pulang ke rumah.
Aji juga tidak bisa menolak permintaan istrinya itu. Apalagi, air susu Elisa juga sudah bisa diberikan pada anaknya. Lancar dan tidak ada kendala apa-apa. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tidak apa. Biar Elisa minta pulang. Jika terjadi sesuatu, dokter atau perawat bisa datang ke rumah."
Begitulah tuan besar Sangkoer, memanjakan menantunya itu. Apalagi sekarang ini, ada cucunya juga, yang akan meramaikan suasana rumah besarnya itu.
Tuan besar Sangkoer Singh, jadi tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana keadaan rumahnya nanti.
"Ini pasti akan menyenangkan. Aku bisa tidur dengan mendengar tangisan dan celotehnya setiap malam. Bisa mendengar tawa dan juga semua yang membahagiakan. Aku benar-benar merasa menjadi seorang kakek yang sedang berbahagia di dunia ini," kata tuan besar Sangkoer Singh, pada papa Gilang.
Dia juga berterima kasih pada papa Gilang, yang tidak memaksa Aji dan Elisa, untuk pulang ke Indonesia hanya untuk bisa melahirkan di sana.
"Tuan Gilang. Aku benar-benar berterima kasih kepada Kamu, dan juga istri Kamu itu. Pada semua keluarga Kamu, yang memberikan kesempatan pada diriku ini. Aku jadi bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ayah dan kakek. Meskipun bukan cucu kandung sendiri, tapi ini sudah cukup bagiku. Mungkin dewa mengirimkan Aji, saat kecelakaan pesawat terbang dulu, adalah rahasia ini yang ingin dia tunjukkan."
Papa Gilang, hanya mengangguk kemudian memeluk tuan besar Sangkoer Singh, ayah angkat anaknya, Aji.
Dia ikut merasa senang dan juga terharu, mendengar pengakuan tuan besar Sangkoer Singh yang begitu baik dan perhatian pada Aji dan juga Elisa. Apalagi sekarang ditambah lagi dengan kehadiran cucunya, Aji Saka Singh.
Nama yang diambil Aji dan Elisa, untuk anak mereka berdua. Aji Saka, diambil dari kakek buyutnya, ayah dari papa Gilang. Sedangkan Singh, diambil dari nama belakang ayah angkatnya, Sangkoer Singh.
Aji, tidak mungkin melupakan keluargaku papanya. Dia juga tidak mungkin mengabaikan begitu saja dengan ayah angkatnya itu. Akhirnya, dengan pemikiran yang matang dan pertimbangan serta persetujuan dari istrinya, nama itulah yang dia sebutkan, saat perdebatan terjadi, antara papa Gilang dan ayahnya Sangkoer Singh semalam, saat Elisa baru saja melahirkan.
Papa Gilang dan tuan besar Sangkoer Singh, juga merasa lega, di saat Aji menyebutkan nama bayinya. Mereka berdua, tersenyum senang karena Aji benar-benar menghormati keduanya, keluarganya yang tidak mungkin dia pandang sebelah mata.
"Ide yang bagus Sayang," kata Elisa memuji suaminya.
__ADS_1
Aji, mengangguk sambil tersenyum, berbasa Elisa memujinya. Dan ini adalah pujian dia kuat rasa makanan yang sering Elisa ucapkan.
Aji, mencium kening istrinya, kemudian berkata, "terima kasih atas semua kebahagiaan yang telah Kamu ciptakan Sayang. Bukan hanya untukku sendiri, tapi juga untuk mama, papa dan ayah. Kami semua sangat berbahagia dengan kelahiran anak kita ini."
Aji, memeluk Elisa erat. Menyalurkan rasa bahagia yang ada di dalam hatinya.
"Ehem. Masih libur Aji. Ingat, biar Elisa beristirahat untuk kesehatannya," kata papa Gilang, menegur anaknya, Aji. Dia sedang mengolok-olok anaknya itu, yang sekarang ini sudah menjadi seorang ayah.
"Tidak terasa ya Aji. Sekarang Kamu sudah menjadi suami dan juga seorang ayah. Dan Papa, sudah jadi opa bagi dua cucunya. Eh, sebentar lagi mau tiga. hahaha..."
Papa Gilang, tertawa terbahak-bahak, di saat ingat jika dia sudah akan memiliki tiga cucu. Satu dari Aji, dan dua dari Jeny. Meskipun satunya lagi masih ada di dalam perutnya Jeny.
"Kamu sungguh beruntung tuan Gilang. Bisa punya keluarga dan anak-anak yang bisa memberimu cucu juga." Tuan besar Sangkoer Singh, berkata dengan suara yang bergetar karena kesedihan yang dia tahan.
"Ayah, Aji ada Ayah. Tidak usah bersedih lagi ya, " kata Aji, menghibur ayah Sangkoer Singh yang sedang bersedih hati, dengan memeluknya juga.
Tuan besar Sangkoer Singh, mengusap air matanya yang menetes, meskipun dia sudah berusaha untuk menahannya. Tapi, Aji justru memintanya untuk tetap menangis, supaya hatinya merasa lega dan tidak terasa sesak lagi.
"Terima kasih Aji, anakku," ucap ayah Sangkoer Singh, mempererat pelukannya pada Aji.
"Wah, dia mau diperhatikan juga nih!" seru Elisa, di saat mendengar suara tangisan bayinya yang berada di dalam box bayi.
Aji dan tuan besar Sangkoer Singh, melepaskan mereka. Kini Aji berusaha untuk mengambil anaknya itu, dan menyerahnya pada kakeknya, tuan besar Sangkoer Singh.
"Kakek, ada Ka Singh di sini. Kakek jangan bersedih lagi ya," kata Aji, berperan sebagai anaknya itu.
Tuan besar Sangkoer Singh, menerima Ka Singh, dari gendongan Aji. Dia menimang-nimang Ka Singh dengan wajah yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kebahagiaan itu tampak nyata.
Tut... Tut... Tut
Handphone Aji memberikan notifikasi yang menunjuk jika ada panggilan masuk. Saat Aji melihat layar handphone tersebut, ada nama Jeny yang tertera.
__ADS_1
..."Halo Jen. Apa kabar?"...
..."Kakak. Ahhh... Kakak melupakan Aku! masak Aji junior lahir Aku tidak dikasih kabar."...
..."Hahaha... maaf. Kakak terlalu tegang saat menunggu sahabat Kamu ini melahirkan. Jadinya Kakak lupa segala hal. Apalagi saat bayi itu sudah lahir, Kakak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Handphone Kakak saja tidak terpegang dari semalam. Ini baru dipegang saat ada panggilan dari Kamu. Untungnya tidak kehabisan baterai. Hehehe..."...
..."Ihsss, jahatnya Kakak! oh iya Kak, namanya siapa?"...
..."Coba Kamu tanya sama Elisa sendiri ya?"...
..."Oh iya, mana dia. Huh, ingin aku jitak dia. Sok yes banget deh. Pakai rahasia-rahasia segala soal jenis kelamin dan apalah itu yang waktu lahiran."...
Aku memberikan handphone miliknya pada Elisa, agar Elisa bisa menjawab pertanyaan dari adiknya, Jeny. Dia juga mengalihkan panggilan telepon tersebut menjadi video call, supaya dia bisa melihat wajah adiknya, Jeny. Aji juga ingin, agar Jeny bisa melihat wajah Elisa dan anaknya itu.
Mama Cilla yang ada di dekat Elisa, ikut menggeser posisi duduknya supaya bisa melihat ke layar handphone tersebut. Dia juga ingin tahu keadaan anak perempuannya, Jeny, yang sekarang ini sedang hamil ke dua.
Akhirnya, mereka berbincang-bincang melalui video call. Sedangkan Aji, memerhatikan ayahnya, Sangkoer Singh, yang sedang meminang Ka Singh dengan hati-hati dan penuh perhatian. Papa Gilang juga sudah tidak sabar, untuk bisa berganti posisi menimang cucunya itu, Ka Singh.
*****
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebaikan, keburukan selalu berdampingan. Begitu juga dengan kebahagiaan di dunia ini, tidak bisa bertahan lama. Waktu akan selalu mendampingi kebahagiaan itu dengan sesuatu yang berlawanan. Entah apa yang terjadi dan tidak pernah disangka-sangka. Karena ini adalah duka, aib dan mungkin kesalahan yang tidak pernah kita sadari.
Sama seperti yang sedang dirasakan oleh mama Cilla dan juga papa Gilang. Kebahagiaan yang mereka rasakan saat kelahiran bayi anak Aji dan Elisa, berganti dengan kabar yang tidak menyenangkan. Dan itu dari salah satu anaknya yang lain. Biyan.
Beberapa hari kemudian, ada kabar dari Indonesia, jika Biyan tersandung kasus hukum. Dan ini ada kaitannya dengan kekasihnya yang sudah berumur dewasa. Yang dulu, pernah Biyan perkenalkan dengan mama Cilla, saat kepergian Aji dsn Elisa ke India.
Kabar tidak sedap ini mama Cilla terima dari anaknya yang satu lagi, yaitu kembaran Biyan, si Vero. Dari pesan yang dia kirim, Vero mengatakan jika Biyan di tangkap pihak yang berwajib saat berada di klub malam bersama dengan kekasihnya itu. Saat ini, Biyan di tahan di kantor polisi.
Tentu saja, pesan yang disampaikan oleh Vero membuat mama Cilla kaget dan menggeleng tidak percaya.
"Tidak mungkin. Apa yang sudah dia lakukan? Aku sudah berusaha mendidik dan memperhatikan semua anak-anak dengan baik. Kenapa ini bisa terjadi?"
__ADS_1
Mama Cilla menangis, setelah membaca pesan dari Vero. Untungnya, saat ini, dia sedang berada di dalam kamarnya sendiri. Jadi, tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang tahu juga, jika mama Cilla sedang menangis saat ini, termasuk papa Gilang dan Aji.
Mereka, Aji dan papa Gilang, sedang berada di ruang tengah, mendiskusikan tentang acara selamatan untuk Ka Singh. Di situ juga ada tuan besar Sangkoer Singh, yang tidak ikut campur dalam urusan kepercayaan anak angkatnya. Dia akan melakukan acara sendiri, sesuai dengan kepercayaan juga, setelah acara selamatan yang Aji rencana itu selesai.