
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, keluarga Gilang, baru saja sampai di rumah. Mereka semua baru saja sampai, dari mengantar Aji, anak Cilla dan Gilang yang paling tua, ke bandara, karena keberangkatannya ke Jerman.
Tampak wajah-wajah lelah dan sedih, karena harus berpisah dengan Aji. Terutama Jeny. Dia langsung pergi ke kamarnya, tanpa mengatakan sepatah katapun.
Gilang juga, terus saja berjalan naik ke lantai atas, menuju ke kamarnya sendiri. Sedangkan mama Cilla, Oma Rossa, dan si kembar Biyan serta Vero, duduk meluruskan kakinya di sofa ruang tengah.
Kelelahan dan kesedihan mereka, tidak terasa lagi, tapi berganti dengan perasan yang lebih buruk lagi, saat televisi yang baru saja di nyalakan oleh Vero, memberitakan tentang kejadian kecelakaan, yang terjadi pada sebuah pesawat yang baru saja terbang dan di bajak oleh *******.
Berita terkait kecelakaan pesawat karena di bajak, membuat semua orang terkejut. Terlebih lagi dengan keluarga papa Gilang. Mereka semua baru saja pulang dari bandara beberapa jam yang lalu, dan kini mendapat berita kecelakaan itu.
Mama Cilla, pingsan seketika, saat mendengar berita tersebut. Sedangkan Oma Rossa terkena serangan jantung. Biyan dan Vero, yang berada di tempat duduk bersama mama Cilla dan Oma Rossa, segera berteriak memanggil papanya.
"Pa. Papa!"
"Papa... buruan!"
"Kak Jen. Kak Jeny!"
"Tolong!"
Jeny yang baru saja masuk ke dalam kamar, segera berlari ke luar. Dia merasa tidak enak hati, sedari tadi saat berada di bandara. Sekarang justru berita duka yang terdengar, ditambah lagi dengan keadaan mama dan omanya, yang tidak kuat menahan rasa kagetnya.
Gilang yang baru saja datang, segera meminta supir untuk menyiapkan mobil. Mereka semua bergerak cepat, untuk membawa Oma Rossa dan mama Cilla ke rumah sakit terdekat, agar bisa secepatnya mendapatkan pertolongan medis.
"Jen, Biyan, dan Kamu Vero. Tunggu di rumah sakit ini. Jaga mama dan oma. Papa sudah meminta pada dokter Dimas, agar segera datang dan ikut menangani masalah di sini. Papa, mau ke bandara dan meminta penjelasan lebih lanjut terkait dengan berita tadi. Semoga, ini bukan yang sebenarnya."
"Iya Pa."
"Jeny. Telpon Papa segera jika ada sesuatu yang terjadi!"
"Iya Pa," jawab Jeny, dengan tangisannya yang tersendat.
Papa Gilang, segera berputar badan, kembali ke tempat parkir dan meminta pak supir untuk menuju ke bandara internasional, tempat tadi mereka semua mengantar Aji.
Ternyata, di dalam bandara internasional itu, sudah penuh dengan banyak orang, dari keluarga korban. Kebanyakan dari mereka, ingin mendapatkan informasi yang lebih akurat secara langsung, mengenai berita yang baru saja mereka dengar.
__ADS_1
"Bagi keluarga penumpang pesawat menuju ke Jerman pagi ini, silahkan menunggu informasi di rumah. Kamu sedang mengumpulkan informasi yang lebih akurat. Jika kepanikan ini terjadi, kami juga tidak bisa membantu dengan informasi terkini. Semuanya akan kami informasikan secara bertahap."
Pengumuman dari pengeras suara di bandara internasional itu, membuat sebagian orang merasa gusar dan juga kecewa.
Mereka semua datang, untuk mengetahui kabar keluarga mereka yang ikut menjadi korban pesawat tersebut. Dan kini, malah diminta untuk pulang ke rumah masing-masing. Ini sungguh terlalu.
"Maaf. Apa berita itu hanya desas-desus atau di siarkan langsung dari kapten pesawat?" tanya Gilang, dengan suara keras, pada petugas yang sedang menenangkan kepanikan orang-orang yang sedang mengerumuninya.
"Kami menerima pesan dari kapten. Setelah itu terdengar suara ledakan dan kontak terputus. Kami sudah menghubungi pihak bandara terdekat, dan bantuan sudah terbang ke sana untuk evakuasi," jawab petugas tersebut menerangkan.
"Bagaimana para penumpang? Apakah mereka selamat Pak?"
"Ya. Bagaimana nasib anakku?"
"Bagaimana nasib adekku?"
"Bagaimana nasib pamanku?"
Banyak sekali orang-orang yang bertanya kepada petugas tersebut, tentang nasib dan keadaan keluarga mereka, yang terdaftar sebagai penumpang pesawat naas tersebut.
*****
Hari berganti hari. Minggu pun demikian, dia terus saja berjalan berganti dengan minggu berikut, kemudian berganti lagi dengan bulan yang lain.
Bulan pun sama. Dia terus saja berjalan dan tidak mau berhenti, berganti dan terus berganti, menjadi tahun yang terasa cepat.
Keluarga Gilang, seakan-akan kehilangan gairah dan semangat seperti biasanya.
Oma Rossa yang terkena serangan jantung, sekarang lumpuh dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.
Mami Rossa, tidak lagi ceria dan terkesan cuek, serta bersikap keras kepada anak-anaknya. Dia tidak lagi lembut seperti dulu. Dia mau, anak-anaknya, selalu menurut, apa yang dia inginkan, sama seperti Aji sewaktu dulu.
Papa Gilang, menjadi semakin sibuk dengan urusan kantor dan bertemu rekan bisnisnya. Dia seakan lupa, jika anak-anak yang lain juga membutuhkan waktu dan perhatian darinya.
Anjani. Dia kehilangan rasa. Jeny yang selalu bersikap manis dan patuh, rajin belajar dan tidak banyak main ke luar rumah, sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Kini, Jeny menjadi gadis remaja yang pembangkang. Dia juga suka main di luar rumah, bahkan Club malam.
Jeny, tidak lagi menghabiskan waktunya di dalam kamar, dengan belajar seperti dulu. Dia lebih sering nongkrong di kafe, tidur dan melamun.
Semua orang, yang ada di rumah ini sudah berbeda. Ini sangat dirasakan oleh semua pegawai rumah tangga, yang sudah lama berkerja di rumah Gilang.
"Kasihan nyonya besar. Sejak den Aji pergi dan tidak ditemukan, dia tidak ada semangat lagi. Tubuhnya semakin melemah."
"Iya. Kasihan ya," kata yang lain menyahut.
"Den Vero, sama den Biyan lebih parah. Mereka seakan tidak terkontrol dan sesuka hatinya!"
"Semoga saja, den Aji masih hidup. Dia akan pulang, dan membuat semua orang yang ada di rumah ini, kembali seperti dulu lagi."
"Aamiin..."
"Iya, aamiin. Meskipun selama ini, den Aji itu terkesan dingin dan misterius, tapi dia itu baik dan bisa menghidupkan suasana rumah ini sedari kecil."
"Iya benar itu. Seandainya, aku yang menemukan den Aji. Aku pasti sangat beruntung. Sudah cakep, baik, pinter lagi ya!"
"Aku sih berharap, jika sesuatu saat nanti, den Aji pulang dengan selamat dan bertambah ganteng..." sahut bibi yang paling muda.
"Hahaha... Ngehalu saja kamu. Dasar sukanya nonton Drakor ya gitu deh," cibir temannya yang lain.
"Yah... nasib seseorang siapa yang tahu," jawabnya dengan tersenyum miring.
"Sudah-sudah. Ayok, kita kembali kerja. Sebentar lagi semua orang kembali pulang. Ini sudah hampir sore."
*****
Di belahan dunia lain, tepatnya di negara India, ada seorang yang sedang berbaring di sebuah kamar rumah sakit. Dia sedang melakukan test darah dan kesehatan sel-sel kulitnya. Semua itu dilakukan untuk rencana operasi wajahnya yang rusak parah.
"Apa semuanya baik?" tanya seseorang yang menemaninya.
"Semuanya baik. Tinggal menunggu konfirmasi dari Dokter bedah, yang akan datang dari Korea. Dia akan segera memberikan jawabannya sore nanti," jawab orang yang tadi ditanya, dan memakai pakaian putih-putih serta kacamata laboratorium.
__ADS_1